
Ghea merasa sangat bosan harus berdiam diri setiap hari di rumah. Ia ingin pergi ke luar. Seenggaknya bertemu dengan seseorang yang bisa membuat moodnya merasa lebih baik dari sekarang. Atau tidak, berbelanja juga tidak masalah. Yang penting ke luar rumah. Menyegarkan otaknya yang terasa mumet.
Selain keinginannya yang itu, Ghea juga ingin menjelajahi makanan yang membuat air liurnya mengalir untuk sekedar dibayangkan.
Ia berfikir sejenak, kira-kira jika ia pergi sendiri, suaminya itu akan marah atau nggak, ya?
Sepertinya tidak akan jika Ghea memberitahunya lebih dulu. Meminta izin lebih tepatnya.
Diraihlah benda persegi di atas meja nakas samping tempat tidur. Mendial nomos sang suami untuk kemudian ia panggil. Satu panggilan tidak dijawab. Ghea mendengkus kesal. Kemudian ditekan lagi nomor itu. Dicoba untuk memanggil suaminya kembali. Namun, setelah sekian kali Ghea mencoba memanggil, Gery di seberang sana tidak
juga menjawabnya.
“Iihh … kemana, sih, Mas Gery?” kesal Ghea membantingkan handphone ke atas tempat tidur samping tubuhnya.
Sudah dikatakan jika mood wanita itu sedang tidak baik, bukan? Maka dari itu ia mengumpat. Memajukan bibir dengan manja seolah tengah merajuk pada sang suami tercinta. Padahal Ghea tahu sendiri jika suaminya itu tidak berada di sana untuk melihat, mendengar rajukannya.
Ujung matanya melirik handphone yang terbalik di atas tempat tidur. Diraihnya kembali benda canggih itu dengan gerakan kasar. Tidak menyerah, Ghea mendial nomor Gery lagi.
Masih tetap sama. Hanya nada dering saja yang terdengar menyahut panggilan Ghea. Ia semakin kesal. Rasanya ingin marah. Lalu dilempari lagi handphone itu ke atas tempat tidur.
Kepala Ghea menunduk, kedua tangannya mengusap perut. “Sayang, Ayah kamu kok gitu banget sama Bunda?” Matanya sudah berkaca-kaca mengadu pada sang bayi yang belum mengerti apa-apa. “Masa telepon Bunda gak ada dijawab sama sekali sama Ayah," adunya lagi sambil memajukan bibir bawahnya. Persis seperti anak kecil yang tidak kebagian mainan baru.
Di saat fokusnya sedang pada perut yang masih rata itu, handphone Ghea bergetar. Pertanda jika sebuah pesan masuk. Buru-buru kepalanya menoleh pada benda canggih itu. Senyumnya refleks terpancar. Ghea yakin jika itu pasti dari suaminya.
Namun, senyum itu sirna seketika saat Ghea membuka pesan masuk tersebut. Bukan dari Gery, melainkan dari Mama mertuanya yang mengingatkan Ghea untuk jangan telat makan.
Ck. Menyebalkan gak, sih?
“Mas Gery …, kamu kemana, sih?” sahut Ghea dengan suara manja sembari menghentakan kedua kakinya ke atas karpet bulu berwarna coklat yang terpasang menutupi lantai kamar.
Baiklah. Jangan salahkan Ghea jika ia ke luar dari rumah tanpa seizin suaminya.
Bukan seperti itu, tapi Ghea sudah berusaha menghubungi Gery, kan, untuk meminta izin? Salahkan saja cowok itu yang tidak menjawab telepon darinya.
Berdoa’a saja jika nanti Ghea tidak akan mendapat kemarahan dari Gery atau yang lebih parah, semoga Ghea tidak dilaknat sampai ia kembali ke dalam rumah oleh malaikat.
Uh serem juga, ya.
Ghea bergidik ngeri membayangkan itu. Menjadi ragu untuk pergi ke luar rumah tanpa izin dari suaminya itu.
Tapi, gimana lagi dong, Ghea bosen. Ia hanya ingin ke luar.
Ghea duduk gelisah di atas tempat tidur. Menggerakan satu demi satu jarinya seperti sedang menghitung. “Pergi nggak … pergi nggak … pergi nggak,” ucapnya. Dan tepat kata ‘pergi’ berhenti di jari kelingking, Ghea tersenyum.
“Oke. Jadi, pergi nih?" tanya Ghea tidak lebih pada dirinya sendiri sambil mengangkat jari kelingking ke atas wajah.
“Maafin istrimu ini, ya, Mas. Tapi aku janji deh sebelum pergi belanja, aku mampir dulu ke kantor kamu.”
Dengan penuh semangat, Ghea bangkit dari duduk. Membuka lemari lalu meraih satu celana jeans dari tumpukan. Setelahnya membuka lemari tengah, mengambil sebuah tunik yang menggantung di hanger. Senyum Ghea terpatri begitu indah sambil melangkah ke kamar mandi untuk mengganti daster rumahan yang melekat di tubuh.
**
“Iya. Gue gak lupa kok ada janji buat makan siang sama klien Papa,” jawab Gery sambil mengapit handphone di telinga. Kedua kakinya melangkah cepat lalu masuk ke dalam lift.
“Lo sendiri udah di tempat apa belum?” tanya Gery pada Adi yang berada di seberang sana.
Gery mendesah seraya memutarkan kedua bola mata jengah tatkala Adi mengatakan jika dirinya masih di dalam ruang kerja.
“Dasar! Ya, udah lah gue tunggu lo di lobi,” sahutnya sebelum ia memutuskan sambungan seluler. Sebelum menenggelamkan handphone ke dalam saku jas, kening Gery sempat mengerut melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari istrinya tentu saja.
“Ghea ada apa, ya? Tumben banget neleponin sampai berulang begini?” Menekan nomor sang istri, Gery kembali menempelkan handphone ke telinga. Gery merasa khawatir pada wanitanya, karena tidak biasanya Ghea menghubunginya sampai berkali-kali seperti ini.
Embusan nafas Gery menjadi lebih berat saat panggilannya tidak terjawab. Kedua kakinya melangkah cepat ketika pintu lift terbuka sambil terus mencoba menghubungi Ghea.
Dengan perasaan yang tidak karuan, Gery berdiri di sofa sudut lobi. Menunggu Adi sembari terus menghubungi Gheanya.
Gestur tubuh Gery yang tidak diam membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang di lobi itu merasa ada keanehan dari bosnya. Meliriknya diam-diam kemudian saling berbisik pelan. Saling bertanya ada apa pada sesama teman kerjanya.
Tidak mendapatkan jawaban juga dari Ghea, lelaki itu mencoba mengirimnya pesan. Menanyakan apa Ghea baik-baik saja atau tidak?
Gery mendongakkan wajah setelah menenggelamkan handphone ke dalam saku jas. Satu alisnya terangkat, menatap setiap pekerja yang tengah mengarahkan mata padanya. “Kenapa?" Tegur cowok itu dengan suara dingin dan berat.
Kepala mereka menggeleng seolah Gery dapat melihat satu persatu dari mereka. Lalu para pegawai itu berjalan cepat untuk menghindar amukan dari sang bos.
Tidak bisa diam saja karena Ghea tidak juga membalas pesan dan menjawab panggilannya, Gery berniat untuk pulang saja. Mencari tahu kondisi Ghea lebih baik dibanding acara makan siang bersama klien dari Papa Dika.
Toh ini hanya acara makan siang biasa, kan. Bukan acara penting untuk membahas pekerjaan atau tanda tangan kontrak?
Dengan langkah tergesa kakinya melangkah. Namun, sebelum itu, tangan Gery refleks menahan pinggang seorang wanita yang hendak terjelembab jatuh ke atas lantai, tidak sengaja menabraknya. Atau mungkin ia yang menabrak wanita itu saking terburu-buru?
“Maaf,” cicit Gery sembari menarik pinggang Airin agar tubuhnya kembali berdiri tegak.
Sesaat Airin terpaku dengan pergerakan tangan Gery yang menyentuh pinggangnya. Mata cewek itu tidak lepas memandang wajah dan kedua bola mata abu-abu Gery yang bagaikan mempunyai sihir.
Airin membawa rambut ke belakang telinga, tersipu malu mendengar suara berat cowok di hadapannya ini. "Tidak apa-apa,” jawab Airin sambil menggeleng pelan.
“Mas—eum … maksud saya anda mau ke mana? Kok terlihat buru-buru?” Rasanya lidah Airin gatal jika tidak bertanya. Wajahnya menunduk namun diam-diam matanya mendongak hanya sekedar ingin melihat bola mata abu-abu itu.
“Saya—“
“Ger!” Teguran dari suara Adi yang tiba-tiba muncul membuat kedua orang itu menoleh. Suami Indah itu sudah memasang wajah menantang pada Gery. Juga memasang wajah enegnya pada Airin. “Cih.” Decihnya memalingkan wajah kemudian berjalan ke arah Gery dan Airin yang diam di tempat dengan tubuh bagaikan terpaku.
“Bukannya kamu sudah pulang dari sepuluh menit yang lalu? Kenapa masih ada di sini? Saya sudah bilang jika kamu bisa mulai bekerja besok, kan?” Tatapan Adi begitu mendominasi. Dan Gery baru kali ini melihat Adi yang seperti terbakar emosi.
Ah, salah paham lagi pasti nih cowok.
Gumam Gery dalam hati merotasikan kedua bola matanya malas.
Kalimat Airin terpotong karena Adi menyelanya. “Kamu boleh pulang sekarang!”
Airin mengangguk. Ia tidak dapat membuka suara lagi saat melihat tatapan Adi padanya meski hanya sekilas. “Saya permisi,” pamit Airin kemudian sambil berlalu.
“Heeeh,” helaan nafas Gery terdengar malas bersama kedua tangan yang sedari tadi tenggelam di dalam saku celana formal berbahan kain yang membungkus kaki jenjangnya.
“Asal lo tahu, ya, gue kepaksa nerima tuh cewek buat kerja di Putra Grup,” ujar Adi tiba-tiba untuk kemudian melangkah pergi lebih dulu meninggalkan Gery yang mendesah frustasi di tempat. Adi sedang kesal dengan sepupunya ini, jika ingin tahu.
Namun, langkah kaki Adi berhenti mendadak ketika sampai di pintu berbahan kaca itu. Ia berjengjit kaget sambil memegangi dada penuh dramatis.
“Ghea!”
Ghea menghiraukan sapaan Adi. Bersama wajah yang memberenggut masam, Ghea menghampiri suaminya untuk kemudian ia pukul bahu tegap cowok itu menggunakan tas mahal miliknya.
"Jahat banget, sih, kamu, Mas."
Tentu saja Adi dengan cepat membalikan tubuh, sedikit melangkah menghampiri kedua suami istri itu. Mendengar kalimat yang Ghea lontarkan, Adi yakin jika Ghea akan murka karena tadi melihat Gery dengan Airin yang ...
Oh astaga, lidah Adi saja terasa jijik untuk mengucapkannya.
"Ghe, kamu gak papa? Tadi kenapa aku telponin balik gak--"
"Kamu jahat!" ujar Ghea semakin merajuk. Ia melupakan jika sekarang dirinya berada di dalam kantor sang suami.
Ah bodo amat.
Pun, dengan Ghea yang mengacuhkan setiap pasang mata yang melihat aneh ke arahnya.
"Ghe ...," Gery memegang kedua bahu Ghea. Sedikit merematnya sambil mengedarkan pandangan pada orang-orang yang mulai menyunggingkan senyum geli ke arahnya. Apalagi setiap pasang mata itu semakin banyak karena ini yang sudah masuk jam istirahat kantor.
"Malu ih dilihatin banya orang." Lanjut Gery kemudian.
Pandangan Ghea mengedar. Benar saja, sudah banyak orang yang menyaksikan drama yang dibuatnya. Tapi Ghea tetap bodo amat. Lalu wajahnya kembali menghadap Gery untuk menatap tajam cowok itu. Dengan ekspresi wajah yang merajuk.
"Bodo amat! Kamu tadi sama cewek. Main pegang-pegangan pinggangnya segala lagi," sahut Ghea mencebikkan bibir. Bukannya kaget Ghea tahu, Gery malah menghembuskan nafas pelan. Lalu mengajak Ghea duduk di sudut sofa yang terletak di lobi.
Cewek itu menurut. Sedangkan Adi yang sudah tahu akan bagaimana, buru-buru menghindar supaya tidak terkena imbas amukan dari Ghea.
Gery ikut duduk di samping Ghea. Tangan cowok itu tidak melepaskan dekapan di bahunya. Seolah sedang menenagkan cewek berbadan dua itu agar amarahnya tidak semakin menggebu.
"Kita ke ruangan aku aja dulu, yuk!" Tentu Gery mengajaknya karena sudah sangat malu menjadi tontonan para pegawai serta stap-stap di kantornya.
"Gak mau!" Ghea menggerakan bahu. Menyingkirkan tangan kekar Gery yang tadi mendekapnya hingga jatuh ke belakang punggung Ghea.
"Ghe, sayang." Mencoba membujuk istrinya itu lagi dengan cara kembali merengkuh bahunya. Namun, Ghea lagi-lagi menyingkirkan tangan Gery dengan cara menggeserkan duduk. Memberikan jarak antara dirinya dan Gery.
"Cewek yang tadi kamu peluk itu siapa dulu?" Ghea mendelikan pandangan ke arahnya. "Kamu selingkuh dari aku, Mas?" tuduh Ghea. Kedua matanya sudah berkaca-kaca. "Jahat kamu, Mas!"
Gery memijat pangkal hidung. Embusan nafasnya terdengar berat. "Nggak, sayang. Mana ada aku selingkuh, sih?" kata cowok itu menggerakan tangan untuk meraih tangan Ghea.
Ghea tentu saja menolak. Ia menepis kasar tangan yang terdapat lingkaran cincin di jari manisnya. "Bohong!"
Wajah Gery terlihat sudah mulai frustasi. "Kita ke ruangan aku dulu aja, ya! Aku jelasin di sana."
"Kamu kenapa sih tega banget sama aku, Mas? Apa karena aku udah gak cantik lagi? Padahal aku sekarang lagi hamil, Mas. Kalau aku jelek, ini juga karena kamu yang hamili aku kayak gini."
Mata Gery terbuka sempurna. Ia mengedarkan pandangannya sambil meraup tengkuk dengan siku yang bertumpu pada paha. Malu. Karena suara Ghea yang keras dan pasti itu membuat orang-orang yang hanya sekedar lewat saja dapat mendengar.
"Kenapa, Mas? Bener, ya, aku sekarang jelek?"
Wajah Gery menoleh. Ia memaksakan senyum terukir di bibir. "Nggak, sayang," lagi. Gery menyahut pasrah. "Kita ke ruangan aku, yuk!" Karena sudah dapat dipastikan jika wajah Gery saat ini sedang menahan malu.
"Kalau tahu akhirnya kayak gini, aku gak mau dihamilin sama kamu, Mas."
Astaga!
Rasanya saat ini Gery ingin menenggelamkan dirinya saja ke dasar perut bumi. Demi Tuhan, baru kali ini ia merasa malu yang luar biasa. Karena kalimat yang Ghea ucapkan seolah-olah adalah hal biasa-biasa saja. Padahal jika difikir, hal ini harusnya dibicarakan di dalam kamar karena terlalu sensitif.
Urusan ranjang loh ini.
Ya salam.
Lagi juga siapa yang maksa, sih?
Ghea lupa ingatan kali, ya, kalau setiap Gery mencoba menanamkan benih cintanya itu Ghea selalu terpekik nikmat.
Oh, ya ampun.
TO BE CONTINUED ...
Note seizy :
Cuma mau bilang selamat malam aja. Dan jangan lupa jaga kesehatan ya mamen.
Anw, aku ingatkan lagi jika di cerita yang aku buat ini gak akan ada yang namanya pelakor. So, enjoy aja mamen.
betewe yang punya akun watt-pad ramein juga cerita aku di sana dong. hihiii cari nama pena aku ya. Dan jangan lupa buat follow.
DM aku juga kalau mau tanya-tanya dan deket sama aku di akun seizyll_koerniawan. Jangan lupa di follow.
ILY
Seizy si kang ngetik amatiran yang lagi ingin kue putu ....