Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 38


Seperti pagi yang sudah-sudah, rumah Gery hening. Di kamar yang berdominasi oleh kegelapan, tubuh capek masih terbaring miring bersama nafasnya yang teratur. Mulut sedikit terbuka. Namun, wajah itu masih tetap terlihat cantik seperti biasa.


Bola matanya bergoyang dalam kelopak mata terpejam ketika sebuah suara pintu terbuka samar-samar ia dengar. Masih dengan posisi yang miring, diangkat Ghea keplanya kemudian. Menatap daun pintu yang kembali ditutup oleh pemilik tangan besar dengan kelopak yang masih belum menyesuaikan. Dan satu siku yang bertumpu pada kasur, menopang beban berat tubuhnya untuk menolak keinginan dirinya kembali berbaring.


“Morning, sayang?!” Wangi khas seorang Gery Mahardika menyentak indra penciuman Ghea. Cowok itu berjalan mendekat ke arah ranjang. Banyak bulir-bulir peluh mendominasi wajah bak Dewa Yunani tersebut. Disentuhkan satu lutut Gery pada kasur lalu menarik tengkuk Ghea yang sudah duduk tegak untuk ia kecup keningnya.


Dahi seputih susu itu mengernyit. Garis bibir yang menipis membuat bibir Gery gatal ingin melumaat. “Dari mana?” tanya Ghea. Berhasil menghentikan keinginan bibir seksi cowok itu untuk menyentak bibirnya. Merasakan aroma mulut Ghea ketika bangun tidur.


Diembuskan Gery nafas dari dalam paru-paru lewat mulut. Begitu nafas itu ke luar, aroma mint dapat Ghea cium dari sana. Aroma yang begitu memabukan dan menyenangkan Ghea pagi ini.


Diturunkan Gery satu kaki yang berada di atas kasur itu menginjak lantai marmer. Berdiri tegak bersama satu tangan bergerak ke atas. Menarik kerah kaus belakang lalu meloloskan kaus itu melewati kepala. Tubuh depan berotot liat itu kini terekspos. “Abis lari-lari,” kata Gery sembari melemparkan kaus bekas ke dalam keranjang kotor.


Dirotasikan Ghea kedua bola mata berwarna hitam pekatnya. “Ketemu sama cewek-cewek pasti ini." Cibir wanita itu auto mendapat gelak tawa yang terdengar renyah keluar dari vita suara cowok seksi yang kini justru mendaratkan bokong di atas kasur. Duduk di depan Ghea.


Disentuh Gery satu nsisi wajah wanita itu untuk kemudian dibelai Gery pipinya lembut. Cowok itu bangkit setelah mencuri kecupan di bibir merekahnya. “Ketemu ibu-ibu, sih, iya,” ujarnya sembari menjawil handuk yang tersampir di tangan sofa. “Aku pergi mandi dulu.”


Embusan nafas terdengar kasar saat pintu kamar mandi ditutup dari dalam. Tubuh yang semalam polos itu kini sudah tertutup oleh kaus putih yang menenggelamkan tubuhnya. Terlalu besar untuk ukuran tubuh seperti Ghea ini. Siapa lagi jika bukan sang suami yang melakukan itu padanya.


Dilangkahkan Ghea kakinya menuju meja rias. Mengambil hand phone yang layarnya menggelap untuk ia nyalakan. Tidak ada notifikasi penting setelah layar itu terang. Hanya ada dua pesan masuk saja dan itu pun dari Mama Sora yang menanyakan kabarnya. Menanyakan apa Ghea akan kembali ke Bandung atau tidak?


**


Tatapan Ghea terpana ketika melihat ke atas meja makan. Dahinya pun mengerut sambil terus berjalan, menarik kursi makan dengan ukiran indah di sandarannya kemudian. Bibir merah Ghea ditarik lebar membentuk sebuah senyuman. Seraya mendaratkan bokongnya di sana, kepala itu menoleh ke lantai atas pintu kamarnya yang terbuka lebar, membuat rambut panjang yang dibiarkan terurai itu sedikit menyapu sisi wajah yang memerah. Merona.


Ghea terkekeh bahagia.


Ini kerjaan suaminya, sudah pasti.


Kemudian, tangan kiri itu terulur pada piring. Tidak tanggung-tanggung, tanpa sendok dan garpu Ghea sudah mengambil roti kering berlapis keju dan susu. Menggigit ujung roti tersebut dan rasa manis serta asin langsung mendominasi mulut.


Cara bahagia Ghea sesederhana itu.


Hatinya membuncah dengan cara Gery memperlakukan layaknya seorang putri mahkota yang siap dilayani.


Sambil terus menguyah, bibir merah itu tidak melepaskan senyum.


Tubuh Ghea setengah membungkuk ke depan tatkala tangan kanan ingin meraih segelas susu. Sialnya, Ghea harus berdiri karena tidak sampai. Gelas berisi susu putih itu terlalu jauh dari jangkauan tangan Ghea jika ia duduk.


Ck!


Ghea berdecak. Tubuhnya sudah berdiri untuk mengambil gelas itu. Namun, kembali duduk saat kedua bahunya ditekan dari belakang oleh kedua tangan besar.


“Biar aku yang ambil.” Suara serak begitu terdengar seksi menyahut dari belakang kursi makan Ghea. Wanita itu tidak usah menebak siapa sang pemilik suara seksi. Ia hanya tertawa kecil sampai tubuh tinggi terlihat menjulang di seberang kursi makan Ghea. Cowok bersama setelan formal yang sudah melekat rapi di tubuhnya, juga rambut mengkilat itu menyimpan gelas susu di samping piringnya kemudian. “Susu hamil kok ini.” Kelakar Gery mengundang kerutan di dahi Ghea.


Apa maksudnya, Ghea kan tidak bertanya.


Dasar. Si suami seksi penuh godaan.


Alih-alih menanggapi kelakaran tersebut, Ghea justru mengambil selapis roti yang masih utuh di piring. Mengolesinya dengan selai. Sedangkan pula dengan cowok di depannya ini malah duduk santai. Kedua siku saling bertumpu di atas meja makan lalu mengunci semua jemari di bawah dagunya.


Bukan hanya itu, pemilik bola mata abu itu juga mengunci wajah Ghea dengan tatapannya.


Roti itu selesai Ghea olesi dengan selai. Ia tentu tahu kesukaan suami seksinya ini. Lalu Ghea ... wanita itu menyimpan makanan berbahan gandum di atas piring.


“Roti selai kacang. Kesukaan kamu,” katanya sembari menebar senyum.


Seringai yang menyerupai pawang pencari mangsa.


Sekilas, Ghea mendapati Gery yang menatapnya begitu memuja. Sungguh pun, demi apa! Ghea malah ikut-ikutan memangku dagu dengan satu telapak tangan, mengikuti cara Gery yang memandang dirinya sedemikian cinta. Sedangkan tangannya yang lain terlipat di atas meja. Membiarkan roti berlapis susu dan keju itu tersisa di atas piring.


“Apa lihat-lihat?" Bibir merah merekah yang semalam mengerang, mendesaahkan nama Gery itu mengerut. Pura-pura tidak suka.


Ditarik Gery kedua sudut bibir sambil berdecak gemas. Ia melepaskan jalinan jemari lalu menurunkan tangan kanan. Sedang pula, tangan kiri cowok itu gunakan untuk memakan roti selai kacang buatan sang wanita terpuja.


“Cantik,” pujinya dengan mulut yang penuh.


“Cara kamu buat gombalin wanita itu klise banget, Mas. Udah gak jaman gombalin wanita kek gitu. Heeh…” Tentu saja cewek itu akan mencibir. Helaan nafas kasar pun Ghea keluarkan lewat mulut. Bagaimana tidak? Kemarin saja keduanya bertengkar hebat gara-gara salah paham dari seorang wanita. Lalu, dilanjutkan dengan keduanya yang berbeda pendapat. Berakhir di ranjang kemudian. Lalu, pagi ini…


Oh Tuhan!


Akankah pagi ini akan selalu Ghea rasakan terus?


Mengunci tatapannya pada wajah yang tengah tersenyum sambil mengunyah itu, Ghea mendadak dadanya sesak. Matanya tiba-tiba memanas. Dan cairan bening yang mendesak ingin turun, sebisa mungkin Ghea tahan.


Diturunkan tangan yang tadi memangku dagu itu, melipatnya di atas meja makan kemudian. Dan tatapan penuh cinta Ghea kunci tepat di bola mata berwarna abu yang memikat. Menghipnotis. Membakar bahkan pula menggoda. Menggundang hasrat dan gairahnya lagi.


Gery tidak sadar belahan jiwanya itu menatapnya sedemikian rupa. Justru sibuk menghabiskan roti selai kacang yang tinggal sedikit.


“Kamu mau ngantor kan ini, Mas?” Ghea bertanya saat Gery memasukan suapan roti terakhir ke mulut. Dianggukan Gery kepalanya kemudian sebagai jawaban.


Dilap mulut seksi yang menggundang hasrat itu dengan tisu. “Heemhh … Kenapa emangnya, sayang?" Mulut sambil terus mengunyah. Melembutkan roti yang sudah masuk ke dalam sana hingga tertelan melewati kerongkongannya. Dituangkan Gery jus jeruk di dalam teko kaca pada gelas lalu diteguknya kemudian.


Saat meneguk air berwarna oranye itu, jakun mungil Gery ikut bergerak naik turun. Dan itu sungguh tidak luput dari tatapan teduh Ghea.


Rasanya, Ghea ingin sekali merekam semua hal sekecil apa pun itu dari suaminya untuk ia ingat dan simpan di dalam memory kepala.


“Aku ikut," katanya. Mengejutkan Gery tentu saja.


Beruntungnya cowok itu sudah menelan air melewati kerongkongan dan pula gelasnya pun sudah menyentuh meja makan. Jika tidak, mungkin saja air berwarna oranye itu pasti menyembur. Keluar dari dalam mulut. Sebab apa?


Sebab Ghea yang tidak biasanya mengatakan itu.


Bukan Gery tidak senang Ghea ikut ke kantor.


Sungguh bukan!


“Untuk apa?” Mata abu itu bergoyang. “Eumm maksud aku, kok tumben banget? Biasanya kan kamu kalau aku ajak juga gak mau.”


Ghea bangkit hingga suara kaki kursi berdecit pun menjadi musik sekilas di ruang makan itu. Dilangkahkan Ghea kakinya. Mendekat pula menuju Gery.


Mata Gery mengikutinya. Sampai Ghea berdiri di belakang kursi makan yang ditempati Gery, barulah tatapan cowok itu lepas dan malah tertuju pada gelas kosong di meja makan sebagai pemandangan yang tidak mengasyikan.


Dikalungkan kedua tangan Ghea pada leher cowok itu dari belakang. Menyimpan dagu di sisi bahu cowok itu kemudian.


“Aku mau ketemu sama Airin.”


DEGH …


TO BE CONTINUED …