
"Lah, lo nanya ini apa sama gue?" Ghea bertanya sambil mengangkat tangan yang tersemat cincin pernikahannya dengan Pak Gery.
"Hem."
"Lo gak tahu ini apa? Ini cincin, Tam. Ya, ampun, gak nyangka gue sama lo. Serius deh, ck-ck," ucap Ghea seraya menggelengkan kepalanya.
"Iya. Gue tahu itu cincin. Lagi pula lo gak nyangka apa sama gue?"
Ghea menggeser kursi yang ada di belakang dengan kakinya. Kemudian menyampirkan tas pada pundaknya.
Seperti biasa.
Siaga satu.
"Gue, tuh, gak nyangka. Ternyata gue punya temen begoo banget. Sampai cincin aja nanya sama gue."
Dan sebelum Tama menimpuknya. Ghea buru-buru lari keluar dari kelas. Di pintu, cewek itu menoleh lagi pada Tama yang sedang menunjukan ekspresi kesalnya.
Jelas kesal. Orang dikatain begoo.
"Wle-" Menjukurkan lidahnya mengejek Tama. Memang, ya, Ghea itu dari dulu gak pernah berubah kalau soal ngeles dan kabur dari pertanyaan yang menurutnya menjadi hal pribadi.
"Gheaaaa!" teriak Tama. "Gak begoo gue, ya, Ghe."
"Iya lo gak begoo. Tapi oon. Hahaha ... gue cabut. Bye."
Selepas Ghea menghilang dari pintu kelas. Tama bergumam. Iya yakin kalau itu bukan cincin biasa. Pasalnya, Tama seperti pernah melihat cincin yang persis sama seperti itu tersemat di jari manis seseorang. Tapi siapa?
**
Berjalan terburu-buru di koridor sekolah. Jantung Ghea seperti akan jatuh saja ke dasar perutnya. "Untung aja itu si Tama gak curiga. Dan gak banyak nanya lagi. Astaga, hari ini kenapa, sih, orang pada kepo mulu sama hidup gue dan Mas Gery? Gak Bu Novi, gak Tama. Ck, ngeselin."
Merogoh saku roknya, Ghea mengeluarkan handphone-nya dari sana. Melihat siapa si penelepon itu. "Hallo?" Menempelkan handphone itu ke telinganya. Ghea sekarang mulai berjalan santai. Gak seperti tadi yang nafasnya pun terengah-engah.
"Udah pulang?"
"Udah keluar dari kelas, sih. Kenapa, Mas?"
"Gak papa. Cuma nanya aja."
Lalu panggilan itu terputus. Pak Gery yang memutuskannya. Ghea berdecak sembari mengedikan kedua bahunya. "Dasar, nanya udah pulang atau belum aja pake neleponin gue segala," gerutunya seraya kembali memasukan handphone-nya.
Pak Gery masih terduduk di kursi kerja yang ada di ruangannya. Meja persegi dengan banyaknya buku yang bertumpuk dan beberapa dokumen-dokumen kantor yang selalu dikerjakannya juga di dalam ruangan itu. Tak lupa nampak laptop, elektronik canggih tempat biasa Pak Gery menyimpan data-data penting di dalamnya terbuka menyala di atas meja tepat di hadapan wajahnya. Kacamata antiradiasi yang jika ia sedang bekerja selalu bertengger manis di depan mata membuat kesan tampan dan karismatika seorang pemimpin yang tegas terpancar jelas dari auranya.
Sebelum menelepon Ghea tadi, lebih dulu Pak Gery mendapat pesan dari Adi. Jika 'dia', orang yang selalu menjadi bahayanya telah kabur dari tahanan rumah sakit jiwa. Entah bagaimana bisa? Pun Pak Gery tidak tahu. Padahal 'dia' di tempatkan di ruangan khusus. Penjagaannya pun sangat ketat. Dan Pak Gery tadi menelepon Ghea hanya memastikan kalau istrinya itu baik-baik saja.
"Shit. Kenapa dia bisa kabur, sih?"
Sekarang yang Pak Gery pikirkan bukan hanya bahaya untuk dirinya. Namun bahaya untuk Ghea juga. Sebelum terlambat, Pak Gery menegakan punggungnya dari bersandar. Melepaskan kacamata. Kemudian dengan gerakan tangan buru-buru, Pak Gery membereskan semua dokumen yang terbuka di atas mejanya. Menutup laptop. Lalu keluar dari ruangan setelah merampas kunci motor yang ia letakan di atas bufet pendek yang terletak di sudut ruangan. Pak Gery selalu menyimpan kunci di dalam guci yang ada di atas bufet itu. Ia harus menyusul Ghea. Istrinya itu gak boleh pulang sendiri.
Sampai di parkiran, Pak Gery sudah tidak menemukan mobilnya yang dibawa Ghea. Cewek itu pasti udah pulang.
Menaiki motornya, Pak Gery memakai helm. Menyalakan mesinnya lalu melajukan motor trail berwarna hijau melewati gerbang sekolah.
**
Sepertinya perut Ghea merasa lapar. Kini ia sedang menyetir mobil. Dan pas saat itu lampu merah juga menyala, auto menginjak pedal remnya. Berhenti sesaat sebelum lampunya berubah lagi jadi ijo. Begitu Ghea melihat handphone nya. Seulas senyum pun terbit di wajah cantiknya.
G is calling...
"Iya, Mas?"
"Hallo, Ghe. Aku tapet di belakang mobil kamu."
Ghea pun menolehkan kepalanya refleks. Tersenyum sambil handphone itu terus menempel di telinganya. Dan terlihat lah sebuah motor bersama si pengendaranya.
"Iya. Aku lihat."
"Jangan langsung pulang ke rumah dulu, ya. Abis lampu merah, di sebelah kiri, ada restoran seafood. Kita mampir dulu, ya!"
Kebetulan banget kan, Ghea juga lagi lapar. Kalau udah rezeki tuh bakalan gak kemana. Tadinya Ghea udah pusing aja gitu, pas pulang ke rumah, lapar. Mau makan apa coba? Gak ada makanan apa pun di dalam rumah itu kalau bukan cuma cemilan doang. Belum lagi harus beresin dan bersihin dapur.
"Oke, Mas. Ya, udah aku tutup, ya."
Ghea langsung mematikan telepon. Menoleh lagi ke belakang. Pak Gery masih berada di belakang mobil yang Ghea bawa. Perut laparnya sebentar lagi akan berakhir dengan tenang. Makan di restoran seafood adalah favoritnya.
Tak lama lampu merah pun sudah berganti lagi dengan warna hijau. Ghea menginjak pedal gas pelan saat mobil di depan sana sudah melaju. Menengok ke kaca spion tengah, Ghea melihat Pak Gery yang juga membuntutinya di belakang mobil. Senyum itu tidak Ghea lunturkan.
TBC
Selamat jantungan guys. Dengan kejutannya yang akan datang. Enjoy aja ya.