Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 57


Segera ditarik Gery tubuhnya menjauh dari Ghea yang malah wanita itu memejamkan kelopak mata erat-erat. Sudah malu sendiri disaat suara kaget tadi terdengar menggema.


Yang lebih parahnya, ada semburat merah menghiasi wajah tampan bak Dewa Yunani tersebut. Gery mengusap tengkuk yang mengejan karena kaget kemudian. Dengan satu tangan ditenggelamkan Gery dalam saku celana formal. Menyembunyikan rasa keterkejutan dan malunya tentu saja.


Sial.


Suara deheman canggung terdengar. “Dokter Gita,” panggilnya, melangkah untuk menghampiri. Meski rona merah masih terpancar di wajah itu, tetap saja ekspresi dingin tidak menghilang darinya. Juga, kesan profeksionis dari tubuh serta ekspresinya, dengan sangat bisa Gery menyembunyikan rasa malunya.


“Ekhem … Khem." Dokter Gita malah ikut berdehem pula. Menggaruk pelipis yang tidak gatal saat melihat langkah elegan Gery padanya. Bukan hanya mereka saja yang malu karena kepergok. Malu serta canggung dokter Gita merasakannya malah lebih dari mereka yang melakukan.


Ditenggelamkan dokter Gita kedua tangannya ke dalam saku jas putih kedokteran. “Ah … ternyata Bu Ghea sudah sadar,” katanya berbasa basi untuk menghilangkan atmosfer di ruang berdominasi putih itu.


Ghea tersenyum sebagai bentuk jawaban. Rasa malu itu masih mengelilingi diri Ghea, sehingga Ghea hanya memberikan itu untuk Dokter Gita. Sungguh pun dengan lidahnya yang malah digigit pelan.


“Saya akan periksa anda nanti, ya. Setelah saya bicara dengan Pak Gery,” ujar sang dokter kemudian. Ghea tersenyum kembali. Kali ini Ghea patut bersyukur karena kepalanya bisa mengangguk dengan mantap. Tidak kaku atau pun canggung.


Demi semesta! Baru kali ini Ghea merasakan hal demikian.


Alih-alih mengajak bicara Gery di dekat Ghea, dokter Gita malah mengajak Gery untuk menjauh darinya. Keduanya berdiri di dekat jendela ruangan. Dan Ghea tentu tidak bisa mendengar apa yang dokter Gita bicarakan pada suaminya. Gerakan dari mulutnya pun tidak dapat Ghea pahami.


Hanya saja, dari samping Ghea bisa melihat ekspresi wajah Gery yang tengah saling berhadapan dengan Dokter Gita.


Ekspresi Gery yang memancarkan rona bahagia karena kedutan di bibirnya. Sesekali pula Gery melengkungkan kedua sudut bibir. Tersenyum. Namun, sedetik kemudian wajah itu berubah lagi. Masam. Bahkan ada keterkejutan di sana. Bola mata abunya berkilat penuh kabut tebal. Lagi.


Dan, Ghea tidak bisa membaca ekspresi itu semua. Mengartikannya pun Ghea tidak mampu.


Ditarik dokter Gita nafasnya pelan. “Saya kira perawat dan keluarga anda sudah memberitahunya," ucap Dokter wanita itu. “Saya dan pihak rumah sakit mohon maaf atas kesalahan yang sudah kami buat, Pak Gery.” Lanjut sang dokter. Menundukan kepala sesaat sebagai bentuk rasa menyesalnya.


**


Tubuh Airin masih terbaring lemah di atas brankar ruang bersalin. Sedang bayinya sudah berada di dalam inkubator karena terlahir secara prematur.


Selang oksigen dipasang di hidung Airin. Setelah proses menyakitkan saat melahirkan itu, Airin menjadi sulit untuk bernafas. Sungguh pun, karena faktor tekanan darahnya yang sempat meninggi ketika proses itu, Airin mengalami pendarahan postpartum.


Pendarahan tersebut termasuk hilangnya otot pada otot uterus, gangguan pendarahan, atau plasenta gagal keluar sepenuhnya atau robek.


Adi dan Indah masih berada di dalam ruang tersebut. Sebab Airin yang memohon pada dokter agar mereka tetap di sana. Menemaninya.


“Dok, sekarang tekanan darah pasien menurun.” Salah satu perawat yang membantu memberitahu.


Dokter menarik nafas-nafas panjang. Meski dalam keadaan panik, akan tetapi sang dokter tidak menunjukan hal itu.


Mendengar yang disampaikan perawat, Adi dan Indah saling melempar pandang. Mengerutkan dahi sebagai refleksi diri. Saling memberi keyakinan dalam tautan jari serta tatapan bahwa Airin akan baik-baik saja.


“Lakukan transfusi darah secepatnya!” ujar Dokter mengintruksi. Agar perawat yang lain secepatnya melakukan pencarian darah yang akan di donorkan pada Airin.


Perawat itu mengangguk. Berjalan memutari brankar Airin untuk kemudian mengambil berkas di salah satu meja. “Golongan darahnya AB, Dok.” Raut kecemasan sudah tercetak jelas di raut sang perawat setelah membuka data diri Airin.


“AB?” Dokter bahkan mengulang. Wajahnya berubah cemas, begitu kentara.


Digigit oleh dokter bibirnya sembari kepala terus berputar. Berfikir mencari cara lain.


“Coba konfirmasikan ini ke BDRS!” Berharap ada stock darah langka tersebut di sana.


“Baik, Dok,” ujar perawat itu. Meraih interkom dengan cepat menyambungkan itu ke pihak BDRS kemudian.


Di saat-saat menegangkan seperti ini, dokter sempat-sempatnya masih melihat kelopak Airin. Yang sekarang justru mengedip lemah. Kelopak itu seakan ingin memejam.


“Bu Airin." Panggil Dokter sembari menghampiri sisi wajah Airin. “Bu Airin masih bisa mendengar suara saya?” tanya Dokter mengejar. Ditepuk pipi Airin pelan oleh tangan yang masih terbungkus sarung tangan karet itu.


“Tambahkan dosis oksitosin-nya, Sus!” Beritahu Dokter pada perawat lain yang ada di sana.


Dokter menjepit bibir. Menepuk pipi wanita dengan keadaan semakin lemah itu. Dan pula, terus memanggilnya. Berharap panggilan itu dapat mengembalikan lebih banyak kesadaran Airin.


Ditarik Airin sisa-sisa nafas dari dalam paru. Mulutnya bahkan sampai terbuka dengan keadaan yang sulit untuk bernafas. Bahkan terasa sesak di dada. Kelopak itu terbuka seakan mendengar suara panggilan. Meski kedipan itu bergerak slow motion.


“Dok—ter.” Bahkan. Memanggil saja Airin perlu menjeda untuk menarik nafas. Suara itu lemah, parau, dan sesak.


“Anda fokus untuk mendengar suara saya, ya, Bu! Jangan stres. Dan fokus pada diri anda sendiri! Anda harus kuat demi Bayi cantik Anda. Saya yakin, Anda bukan orang yang gampang putus asa.” Dokter memberi motivasi untuknya.


“Apa Pak Adi dan Bu Indah masih ada di sini?” Airin malah bertanya. Mengkesampingkan keadaan dirinya. Seakan tidak peduli soal itu.


Dikerutkan dokter itu dahinya sembari kepala mengedik. Sungguh pun, ada rasa takut di dalam relung hati sang Dokter.


“Persediaan darah AB di BDRS tidak ada, Dok.” Tiba-tiba, setelah perawat tadi yang diminta dokter untuk mengkonfirmasikan darah tersebut menghampiri dokter. Mengkonfirmasikan lagi stock darah yang ternyata tidak ada.


Airin mengulas senyum mendengar itu. Pasrah oleh keadaan yang mungkin harus menyebabkan ketiadaan.


Adi dan Indah yang berdiri di balik gordeng tertutup—agak jauh beberapa langkah—saling melempar tatapan sayu lagi. Pun dengan jari Indah yang mengetat di dalam tautan.


Ditarik dokter nafas. Mengeluarkannya lewat mulut dari dalam paru-paru. Seolah tahu, harapan Airin bisa selamat adalah kemungkinan sangat kecil bahkan tipis.


“Dok,” panggil Airin. Suaranya bahkan sudah hampir tidak terdengar.


Dokter menghampiri langsung. “Ya, Bu Airin.”


“Saya ingin bertemu Pak Adi dan Bu Indah.”


Karena suara Airin yang hampir tidak terdengar itu, bahkan dokter harus mendekatkan wajahnya. Kepala bertutup kain berwarna hijau itu mengangguk.


Di saat-saat seperti ini lah, dokter serta perawat-perawat yang membantu merasakan luar biasa sesak. Mengetahui kondisi pasien yang ditanganinya lemah, ada rasa telah gagal dalam hati mereka. Namun, mau dikata apa lagi. Semuanya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetap Tuhan yang mempunya kendali atas hidup dan mati seseorang.


“Gimana keadaan Bu Ghea dan bayinya?” Malah menanyakan soal orang lain. Alih-alih tetap mendirikan fokus pada keadaannya sendiri.


Embusan Indah keluar kasar. Mendekat, meraih lalu menggenggam tangan Airin kemudian. Bibirnya mengulas senyum. “Tadi Gery chat. Katanya Ghea sudah sadar. Operasinya berhasil," ujar Indah menjawab. “Kamu harus kuat, ya, Airin!” Tatap Indah pada netra Airin serius. Meyakinkan jika ia akan baik-baik saja. “Kamu harus rawat baby kamu dengan baik, ya!”


Lalu, Airin yang kali ini mengulas senyum. Yang dibalas Indah dengan tersenyum pula.


“Justru itu. Tolong jaga anak saya, Bu. Berikan dia kasih sayang seorang Ibu, yang mungkin saya tidak dapat memberikan itu padanya.” Air mata Airin berhasil melewati pipinya.


“Kenapa kamu bicara seperti itu?” Suara itu milik Adi. Tegas dan seperti biasa, kesan dingin saat bicara pada Airin tetaplah kentara. “Kami akan membantu kamu memberikan kehidupan untuk bayi kamu. Tapi, tetap kamu yang akan menjaga, mengurus dan memberikan kasih sayang itu.”


Mendengar itu Airin tersenyum. Ditambah isak tangis yang membuat dadanya sesak.


Ia menarik nafas. “Tolong sampaikan maaf saya pada Bu Ghea!” Sesak di dadanya bertambah berkali-kali lipat. “Dan jika diizinkan, boleh jika saya ingin bertemu dan bicara dengan Pak Gery?!" Bukan sebuah pertanyaan. Justru itu adalah permintaan.


**


“Eihh … kata Dokter Gita kamu jangan dulu banyak gerak, sayang. Luka di perut kamu masih basah.”  Sepertinya sifat posesif lelaki itu sudah sepenuhnya kembali. Ghea sampai mengerutkan kening ketika keduanya bahunya ditahan untuk tidak bergerak. Wanita itu kan hanya ingin merubah tubuhnya dari terlentang untuk miring. “Kamu mau apa? Mau duduk atau gimana? Hem?” Tangan lelaki itu sudah merengkuh Ghea. Meletakkan satu tangan di belakang tengkuk wanitanya.


“Kamu mau apa?" tanya Ghea dengan alis menukik. Heran.


“Mau bantu kamu," jawab sang wajah tampan bak Dewa Yunani itu.


Demi apa! Ghea tidak tahu penyebabnya. Sungguh pula, melihat ekspresi Gery yang cepat sekali berubah. Seakan kejadian selepas Ghea sadar pun tidak pernah terjadi. Lewat begitu saja.


Apa secepat  itu Gery melupakan jika Bayi mereka baru saja tiada? Jika sesak itu sudah tidak Gery rasa?


Seusainya Gery bicara dengan Dokter Gita, keposesifan lelaki itu kembali. Dalam hati, Ghea terus mengulang tanya ‘ada apa’ pada dirinya yang entah siapa akan memberikan jawaban itu.


“Aku Cuma mau berubah miring aja, sih, Mas. Kata Dokter Gita juga gak papa, kan?! Gak perlu dibantu ini kok. Malah bagus katanya bergerak sedikit-sedikit biar otot-ototnya gak kaku juga.”


Well. Dokter Gita menyarankan seperti itu saat tadi mengontrol kondisi Ghea yang bersyukur dalam keadaan baik. Setelah membicarakan beberapa hal dengan Gery tadi.


“Iya. Tapi pelan-pelan bisa, kan?!”


Oh Lord …


Ghea bahkan memutar bola matanya. Malas.


“Kamu memutar bola mata kamu? Hem?” kejar Gery sambil memandang tetap ke dalam bola mata hitam Ghea. Menyeringai dengan satu alis naik.


“Lagi juga, kamu kenapa, sih? Kok aneh gitu?”


Sekarang malah Gery mengerutkan wajah. Menjepit bibir. Dan tatapannya tidak lepas dari wajah wanita itu. Tatapan posesif serta rindu. Ada kilat yang bersinar di bola mata abu Gery. Alih-alih menjawab pertanyaa Ghea, justru bibir yang sedang dijepit itu mengkuluum senyum.


“Kenapa?” Ghea bertanya. Menggigit bibir dalamnya kemudian.


“Kenapa apanya?" Sial. Lelaki di dekatnya—yang tengah menatapnya—Bahkan Ghea dapat merasakan embusan nafas dari mulut Gery yang sedikit terbuka membelai wajah Ghea.


“Kamu … lihatinnya gitu banget,” ujar Ghea, malah menggoyangkan bola mata. Menghindari retina lelaki ini yang terus memesrai wajah Ghea dengan tatapan berbinar.


“Kalau punya istri cantik …, ya harus diliatin, lah.”


Oh … Demi apa pun sekarang! Jantung Ghea sempat-sempatnya berdebar. Membuncah oleh rasa yang dalam.


Lelaki ini ... lelaki di dekatnya ini selalu paling bisa membuat jantung Ghea merasakan dentuman keras. Hingga dadanya sesak.


“Mas,” gumam Ghea sambil menyentuh dadanya.


“Hem …”


“Dada aku kok sakit, ya.” Lalu, satu tangan Ghea meraih tangan besar Gery untuk kemudian membawa tangan itu untuk pula menyentuh dadanya yang katanya sakit itu. “Kamu bisa rasain ini gak?” tanyanya. Dan sumpah, wajah Ghea sekarang sudah terbakar. Seakan ini adalah pertama kalinya untuk Ghea jatuh cinta.


Bahkan lelaki ini selalu saja bisa membuat Ghea merasa demikian setiap saat.


Gery tidak menjawab. Malah menatap Ghea semakin dalam. Tangan yang tersimpan di atas dada Ghea—yang berdebar kencang itu— ia tarik sembari membawa tangan Ghea. Menyentuhkan pula di atas dada cowok itu.


“Apa sakit di dada yang kamu rasa itu sama dengan sakit di dada aku sekarang? Hem?” Gery lebih menekankan lagi telapak tangan Ghea yang berada di atas dadanya yang bidang itu. Seolah Ghea harus merasakan debaran yang sama hebatnya di sana.


Ghea menjepit bibir dengan kedua sudutnya tertarik membentuk senyum indah yang selalu membawa Gery lebih hidup lagi. “Iya. Sama.”


TING …


Satu pesan yang masuk ke hand phone Gery menghentikan semua keromantisan yang tengah mereka rasakan. Namun, tidak dengan debaran yang tercipta di jantung keduanya.


“Mau, ikut aku?" tanya Gery sesaat setelah membaca pesan yang masuk itu. Ia bicara sambil memasukan benda canggih ke dalam saku celana.


“Kemana?” Bertanya balik, Ghea mengerutkan dahi.


“Ke suatu tempat yang aku jamin kamu bakal suka. Dan aku juga menjamin kamu bakal ngucapin terimakasih untuk aku. Bahkan sesuatu di sana, kamu bisa memilikinya, jika itu pun kamu mau ikut.”


.


.


TO BE CONTINUED …


Note Seizy :


Kalau ada salah-salah jangan ragu buat konfirmasi ke kang ngetiknya ya akak. Semoga suka dan salam cintahhhh