
Gery hampir saja mengeluarkan suara tawanya ketika ia membaca pesan singkat dari istrinya itu.
Oh shit!
Ditarik garis bibirnya samar untuk kemudian ia gigit pipi dalamnya kuat-kuat, sambil menyimpan lagi hand phone di atas meja persegi panjang dengan delapan kursi di setiap sisi panjang meja tersebut.
Tentu saja saat ini cowok itu sedang mengadakan meeting dengan beberapa stap kerjanya. Mendiskusikan peroyek yang akan berjalan selanjutnya.
Owh Ghea. Dia sangat berbahaya bagi kesehatan jantung Gery. Wajahnya menyeringai, memikirkan apa yang akan dilakukannya ketika ia dan Ghea berada di dalam satu ruangan yang Ghea bilang jika ia ‘tidak akan tahan’ itu.
Diraihlah hand phone itu lagi di atas meja samping map yang terbuka. Diam sesaat untuk kemudian Gery menarikan kedua jempolnya di atas layar. Mengetikan satu kalimat singkat lalu menekan send pada nomor yang tadi mengirim pesan, yang membuat jantungnya meletup luar biasa.
Gery
Well, aku akan menantikan itu, sayang. Malam ini kita akan bermain dengan puas. Di tempat yang berbeda. Yang akan aku pastikan jika keesokan harinya kamu tidak akan bisa duduk.
Disimpan Gery kedua tangannya di tangan kursi. Tangan kanan ia angkat dengan siku bertumpu pada tangan kursi itu lalu menyimpan jari telunjuk di atas bibir dan empat jari yang lain menutupi dagu. Adi yang melihat gerakan itu yakin jika Gery sedang menahan senyum atau tawa. Adi yang duduk di kursi dekatnya tidak dapat memastikan. Suami dari Indah itu hanya memutarkan kedua matanya. Jengah. Malas. Atau apa lagi sebutannya. Karena memang Adi terlalu pusing memikirkan sepupu sekaligus bos-nya ini.
“Jadi bagaimana, Pak Gery?” tanya salah satu stap perempuan Gery. Tersenyum.
“Ekhem.” Cowok dengan segala kesempurnaan di wajahnya itu berdehem singkat sambil menegakkan punggung. Menjauhkan itu dari sandaran kursi putar berwarna hitam. “Okey. Nanti Adi dan Arini yang akan melihat-lihat lahannya lebih dulu.”
“What?” pekik Adi dengan suara yang berlebihan. “Eum … saya fikir, saya—“ Adi menatap ke arah Gery sebelum beralih menatap Arini yang duduk di seberangnya. “Okay, Mr. Mahardika Putra!” final. Karena Adi melihat mata Gery yang melotot tajam padanya. Seakan memberikan keputusan final.
“Kamu siap, Arini? Mengecek lahan yang akan dijadikan pembangunan vila dengan Adi?” tanya Gery menatap wanita itu.
“Eum … saya …”
“Siap tidak siap, kamu harus siap!”
Perkataannya itu tidak bisa dibantah. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya bagaikan sebuah perintah yang tidak bisa ditolak lalu perintah itu sebagai bentuk penutup dari meeting sore ini. Untuk kemudian semua orang yang ikut meeting dengannya sore ini keluar dari dalam ruangan setelah memberikan senyum sopan pada Gery—sang Direktur Utama.
“Heh!” Ditutup Adi map yang menjadi materi pembahasan meeting itu di atas meja dengan hentakan. Membuat Arini yang masih membereskan barang-barangnya terperanjak. Kaget. Bahunya pun sedikit naik.
“Gue gak bisa pergi ke Bogor untuk melihat lahan, taik!” Oh Adi dengan segala bentuk keberaniannya pada sang big bos. “Gak untuk besok juga berangkatnya.” Lalu sepupu Gery itu melemparkan punggung pada sandaran kursi secara kasar. Kemudian menatap Arini dengan pandangan tajam dan tidak sukanya.
Arini yang menyadari hal itu menundukkan kepala. Melipat kedua bibir dengan dalam karena merasa selalu terintimidasi dengan tatapan cowok di hadapannya ini—Adi.
Gery memutar mata. Meraih hand phone lalu garis bibirnya itu melengkung ketika ia membuka pesan nakal yang Ghea tulis untuknya. Oh no! Cowok itu seperti sedang dilanda sebuah gelombang yang bernama kasmaran lagi. He's crazy for love.
“Ger! Oy?” Teriak Adi di atas tubuhnya yang duduk.
“Arini, kita berangkat sekarang!”
Astaga. Dia tidak mendengarkan ocehan Adi dan malah mengajak Arini untuk pergi setelah melihat jam mewah di pergelangan tangan lalu memasukan hand phone ke dalam saku jas.
Adi menganga tidak percaya. Dengan kedua tangan mengepal di atas meja, Diraih Adi hand phone di atas meja itu untuk kemudian dia memanggil nomor seseorang yang ada di dalam kontaknya. Setelah kepergian Gery dan Arini
dari ruang meeting itu tentu saja.
“Ikutin dia!” Kata Adi singkat pada orang di seberang sana dengan pandangan geram dan rahang yang terkatup rapat.
Dia melihat hand phone yang masih digenggamnya lalu membuka pesang singkat dari …, eum siapa lagi jika bukan bos sekaligus sepupunya yang maha menyebalkan itu.
Gery
Jangan lupa jemput Ghea jam 7.30
Sial. Adi menggeram. “Harus banget gue yang jemput? Ini suami Ghea siapa, sih, sebenarnya? Oh My God!” Adi bangkit dari duduk sambil menyambar map di atas meja dengan kasar. Haruskah Adi melempar Gery pada
samudera yang paling dalam? Atau bila perlu menguburnya saja ke dasar bumi yang terdalam? Menyebalkan.
**
“Jadi, di mana dia ingin bertemu, Rin?” tanya Gery yang sudah duduk di balik kemudi. Dengan Arini yang duduk di sampingnya sudah tentu.
Hah … bukankah Arini kemarin sudah mengatakannya ketika cowok itu bertanya? Dan sekarang malah bertanya lagi. Dasar pelupa! Pekik Arini yang hanya ia gumamkan dalam hati. Mana berani wanita itu mengatakannya secara
spontan dan langsung.
Dikerutkan Gery dahi menawannya itu. Sesaat cowok itu terdiam di balik kedua tangannya yang sedang bergerak memasang sabuk pengaman pada dada yang terlapis jas mengkilapnya itu.
“Eum … kenapa?” Dengan takut dan hati-hati, Arini memberanikan diri menolehkan wajahnya untuk melihat reaksi wajah Gery di balik bulu mata yang lentik. Mengerjap pelan dengan perasaan yang takut dan …, ya Arini tidak bisa menjabarkannya.
“Mungkin jika anda ragu …, sebaiknya jangan! Jangan membantu saya!” Ia gigit ujung lidahnya itu. “Karena anda sudah terlalu banyak membantu saya dan—“
“It's okay. Tidak masalah!” Karena ini sudah terlanjur. Dan Gery tidak ingin membantu orang dengan setengah-setengah.
Well. Tidak masalah juga karena Gery akan sekalin memberikan kejutan pada istri bermulut nakalnya itu. Selain hotel yang ia dan Arini tuju, hotel itu juga adalah tempat di mana diadakannya acara resepsi pernikahan salah satu guru sekolah miliknya. Menakjubkan! Pikirnya.
Dijalankan Gery kendara besi mewah tersebut menuju tujuan yang sama dengan tempat acara malam ini. Cowok dengan kesempurnaan penampilannya itu tidak perlu untuk mengganti pakaian yang melekat pada tubuhnya karena tidak akan mengubah penampilan dan wanginya.
**
Gery membuka pintu mobilnya lalu ke luar dari dalam sana. Menutupnya lagi kemudian tangannya secara refleks mengaitkan kancing jas yang tadi sengaja ia biarkan terbuka. Uh rasanya sangat aneh sekali ia harus mengemudi untuk wanita lain.
“Coba kamu hubungi dia lagi, Rin. Tanyain tempat pertemuannya di mana! Biar kita tidak lama untuk menyelesaikan masalah kamu ini,” katanya. Tenang. Dingin dan tetap mempesona.
Arini menganggukan kepala. Ia merogoh tas untuk mengambil hand phone lalu menghubungi orang yang dimaksudnya itu.
“Restoran,” kata Arini menoleh pada Gery seraya menutup panggilan selulernya.
“Oke. Segera selesaikan urusannya, Rin!” karena Gery sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri bermulut nakalnya untuk menyerangnya dengan sejuta sentuhan dan kecupan. Dan Gery sudah tidak sabar melihat Ghea dengan gaun perak yang menutupi tubuhnya. Namun, tidak dengan punggung mulusnya itu. Membayangkannya membuat tubuh Gery gemetar. Seolah aliran listrik di sekujur tubuhnya menyerang secara tiba-tiba dan emosional.
Arini mengangguk lagi untuk kemudian keduanya berjalan meninggalkan parkiran dan menuju lobby hotel untuk Gery memesan salah satu kamar jenis president suite di hotel Raffles ini. Tidak! Jangan salah paham! Ini
bukan untuk dirinya dan wanita yang sedang pergi bersamanya ini. Ini adalah kejutan untuk seseorang yang sudah mengirimnya pesan nakal itu. Oh mengesankan!
“Eum … maaf, Pak—“ Oke. Arini sekarang sudah terbiasa dengan sapaan itu. “Anda memesan kamar tidak untuk—“
“No!” Gery tertawa renyah. “Untuk saya dan istri saya yang sebenarnya acara resepsi itu digelar di hotel yang sama ini.”
Wajah Arini tentu saja memerah. Tidak, dia tidak geer untuk dirinya sendiri. Hanya saja…, menggigit bibirnya, Arini menekuk wajah. Lalu dengan bantuan salah satu pegawai hotel, Gery dan Arini ditunjukan jalan menuju restoran hotel Raffles itu.
“Dia udah stay di tempat kan, Rin? Jangan sampai kita yang nunggu.”
Diedarkan pandangan Arini ke setiap kursi restoran yang beberapa sudah terisi. “Sepertinya dia sudah stay,” sahut Arini kemudian melangkahkan kaki dengan wajah yang merah padam. Dengan Gery mengikuti langkah wanita itu tentu saja. Ke satu meja yang sudah duduk seorang pria muda dengan setelah rapi di sana.
**
Kamar Gery. Jam 7.05
Ia menatap dirinya dalam pantulan cermin besar di kamar itu. memiringkan tubuh. Melihat dirinya dari samping kanan lalu beralih ke kiri. Wanita itu menunjukan giginya yang putih dan rapi. Bagaimana bisa Gery membelikan gaun berwarna perak dengan model seperti ini untuk Ghea? Hem, tidak biasanya lelakinya ini membelikan baju, gaun atau sejenis pakaian yang menunjukan lekuk tubuh indah dengan bagian punggung yang terbuka?
Bawah gaun itu hanya sebatas lutut. Tanpa lengan panjang dan bagian depan dadanya dipasang pernak-pernik berwarna menyala, yang akan menyilaukan setiap mata yang melihat. Dibagian belakang pinggang berkaret sehingga perutnya tidak merasa sesak. Lalu kedua tangannya menyentuh bagian yang masih terlihat rata itu. Ya …, sesungguhnya sekarang tidak terlalu rata. Ghea sudah dapat melihat sedikit perutnya yang menonjol. Hanya sedikit saja, sehingga walau sekarang Ghea memakai gaun perak itu pun tubuhnya masih terlihat oke. Meski dengan pinggang yang tidak ramping lagi.
Diayunkan Ghea satu tangannya untuk menyentuh tatanan rambutnya yang di biarkan tergerai. Ia sengaja karena ingin menutupi punggungnya biar tidak terlalu terekspos. “Oke. Cukup sempurna!” gumamnya masih dengan senyuman. “Gue yakin Mas Gery pasti tidak akan bisa mengedipkan matanya.” Percaya pada diri sendiri lebih baik. Itu yang saat ini dilakukan Ghea meski tidak dapat dipungkiri jika jantungnya berdebar. Deg-degan tidak karuan dan …, eum, seperti akan turun ke dasar perut.
Digigit Ghea sudut bibirnya dengan hati berdebar sebelum kemudian pintu diketuk dari luar. “Ya, masuk!” Tanpa mengalihkan dirinya dari cermin.
“Maaf, Non. Saya disuruh Nyonya untuk memanggil karena Den Adi sudah ada di bawah untuk menjemput, katanya.” Oh ternyata pembantu rumah Mama Dian.
“Oke. Bentar lagi saya turun kok,” jawabnya, sambil beralih menatap sang asisten rumah tangga itu.
Diraih Ghea cluth yang sama dengan warna gaun yang ia kenakan saat ini di atas kasur lalu memasukan hand phone ke dalam sana. Hem ... sepertinya suaminya ini memang sengaja sudah menyiapkan semuanya. Hingga Ghea terlihat sempurna dengan semua barang mahal yang melekat pada dirinya. Hanya saja satu yang kurang. Sepatu hak tinggi.
Ghea berdecak tidak suka. Rasanya kurang pas jika ia harus memakai flat shoes untuk membungkus ketelanjangan kakinya. Dibungkukkan pandangannya untuk melihat kaki yang menginjak di atas kramik marmer. Mendengus dengan gelengan tidak percaya. “Oke, Ghea. it's okay. Demi bayi lo, kan? Dari pada nanti lo malu harus dapat omelan dari suami lo di depan semua orang." Memutar bola matanya, dewi dalam batin Ghea menertawakan atas penampilannya yang tidak sempurna. Menurutnya.
Bayangkan saja, gaun pesta, cluth, dan tanpa sepatu hak tinggi. Uuhhh … tidak!