
...Aku tahu tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Tapi bagiku kamu yang akan menyempurnakan kekuranganku....
...Ghea Virnafasya...
...****...
Dengan menghentakan kakinya seraya membuka pintu sebuah butik berbahan kaca tebal, Dita masuk yang langsung disapa oleh sang karyawan butik yang tengah membereskan beberapa gaun untuk dipajang di sebuah manekin. Mungkin karyawan itu menyangka jika Dita adalah salah satu customer.
Dita tak menggubris. Ia justru mengerlingkan kedua matanya jengah pada karyawan perempuan butik tersebut. Berjalan begitu saja menuju sebuah pintu ruangan yang bertuliskan direktur dengan ukiran yang indah di daun pintu.
Menyentak pintu hingga terbuka lebar, Dita melenggang duduk di sofa sudut yang bertepatan menghadap meja kerja sang direktur.
“Kalau lo mau buat onar, jangan di butik ini deh, ya. Mohon banget, nih, gue!” Sang direktur mendongak. Menghentikan gerakan tangan di keyboard laptopnya.
Dita berdecih, memutar bola matanya malas.
“Kenapa? Obat lo abis?” tanya Ilham bangkit dari duduknya. Mengitari meja kerjanya sebelum ia sandarkan dirinya di tepi meja tepat menghadap Dita. “Udahlah. Saran gue mending elo balik lagi ke rumah sakit deh ya.” Lalu melipat kedua tangannya dengan kaki yang disilangkan ke kaki yang lain.
“Gue gak mau. Jangan paksa-paksa terus bisa kan? Obat gue buat sembuh itu cuma Gery doang. Udah deh lo jangan memperburuk keadaan gue!”
Jika boleh jujur, Ilham adalah orang yang sangat peduli pada Dita. Berupaya terus mengingatkan cewek itu dari masa SMA dulu agar melupakan obsesinya pada Gery. Namun, semua kata-kata bahkan nasehatnya tidak sama sekali masuk ke dalam kepala Dita hingga cewek itu depresi berat karena dirinya yang selalu mendapat penolakan dari Gery sejak dulu.
Ilham berjalan ke arahnya lalu duduk di sana. Tepat di samping Dita dengan jarak. “Lo sadar gak sih kalau sebenarnya lo sendiri yang memperburuk keadaan dari dulu?” Tangan Ilham bersandar pada sandaran sofa.
Dita diam sebentar. Mungkin sekarang kepala cewek itu sedang sehat dan bisa berpikir secara benar. Jika tidak bisa saja saat Ilham bicara demikian emosinya meluap naik ke ubun-ubun. Membanting barang-barang yang ada di sana atau bisa juga mencekik leher Ilham hingga kehabisan nafas.
Namun tidak dengan sekarang ini. Dita justru tenang.
Wajah Ilham menoleh pada cewek yang duduk di sampingnya. “Kenapa diam? Benar kan apa yang gue omongin?” Ilham terkekeh mengambil teko kaca lalu menuangkan air putih ke dalam gelas yang ada di meja sofa.
Dita berdecak bersama bibirnya yang mengerut. “Terserah!” katanya. Menerima air dari dalam gelas dari tangan Ilham.
“Ta, gue tuh kasihan sama lo. Sama diri lo yang kaya gini. Bisa gak lo lupain aja obsesi lo ke Gery? Berobat. Biar lo bisa sembuh total dan mulai kehidupan yang baru sama keluarga lo?”
Dita dapat melihat sorot mata Ilham yang menyiratkan ketulusan juga kepedulian terhadapnya.
“Gak kangen apa sama nyokap lo? Gak ingin gitu ada kemauan lo agar bisa kumpul sama nyokap lo lagi? Kasihan dia loh, Ta, selalu nanyain keadaan lo mulu.”
Karena yang Ibunya Dita tahu jika putrinya tengah dirawat di rumah sakit. Ibu Dita tidak tahu jika dia kabur dari pengobatannya. Dan beliau selalu menanyakan kabarnya hanya pada Ilham saja karena beliau tidak sanggup melihat Dita dengan keadaannya yang terakhir kali Dita sampai di ikat karena Dita yang selalu mengamuk tidak bisa ditenangkan dan yang lebih menyayat hatinya Dita selalu menyebut nama Gery Gery Gery dan Gery.
Pun ibunya Dita yang tidak pernah menyalahkan siapa pun atas keadaan putrinya. Itulah hebatnya seorang Ibu yang sudah melahirkan Dita.
Tiba-tiba saja hati Dita terenyuh. Ujung matanya basah. Apa yang dikatakan oleh Ilham benar adanya. Mana ada anak yang tidak merindukan untuk bertemu dengan orang tuanya? Apalagi dengan sang Ibu.
Mungkin dari sekian persen otak dan emosi Dita yang tidak bisa dikendalikan masih tersisa sedikit akal kewarasannya jika Dita diajak bicara dari hati ke hati. Seperti yang dilakukan Ilham sekarang ini. Mungkin perasaan Dita peka jika Ilham tulus padanya. Dalam artian bukan tulus tentang sebuah rasa, melainkan tulus menyayanginya seperti saudaranya sendiri.
“Ta … ck, malah ngelamun. Jangan bengong! Nanti lo kumat lagi. Bahaya kalau lo kumat di kantor gue ini, bisa pada kabur entar pelanggan gue yang lagi pada order di luar.” Ilham mendorong bahu Dita dengan jari telunjuknya. Dita sedikit terhuyung. Cewek itu sedikit pun tidak tersinggung dengan perkataan Ilham.
“Ham?” gumam Dita lirih.
“Kenapa? Mau bilang makasih sama gue? Sama-sama, Ta.” Ilham terkekeh lagi. Entahlah, jika yang lainnya selalu bilang jika Dita adalah cewek yang bahaya, namun tidak dengan dirinya yang yakin jika dibalik keadaan Dita yang seperti ini masih ada sisi baik dan waras dari dalam dirinya yang mungkin saja tidak dirasakan oleh kawan-kawannya termasuk Gery sendiri.
“Bukan!” jawab Dita mengembalikan gelas yang ada di dalam genggamannya ke atas meja kaca.
“Terus?” Mata Ilham mengikuti gerakan tubuh Dita yang membungkuk lalu kembali duduk tegak menghadapnya. Dalam seperkian detik pandangan keduanya saling bertemu.
“Kenapa lo baik banget sama gue dari dulu?”
Disaat Adi yang selalu menghalangi perasaannya terhadap Gery, Ilham justru selalu ada untuknya. Untuk menyadarkannya jika Gery tidak akan pernah menerimanya. Karena Ilham tahu jika hati Gery sudah terisi oleh nama yang lain sejak dulu. Cowok itu sama seperti Adi dan Indah yang tahu akan perasaan Gery yang dilabuhkan hanya untuk Ghea.
“Karena lo yang sebenarnya juga cewek baik, Ta.”
“Cih.” Dita memutar bola matanya. “Dari mana lo tau gue baik?”
“Dari cerita nyokap lo.”
“Nyokap gue?” Dita sedikit terhenyak. Kaget. Sedekat apa sih Ibunya itu dengan cowok yang ada di sampingnya saat ini? Kenapa Dita tidak pernah tau?
“Iya. Nyokap lo yang selalu curhat sama gue tentang masa kecil lo. Katanya lo anaknya penurut.” ungkap Ilham mengingat saat dimana Ibunya Dita bercerita begitu saja tentang putrinya. Ketika itu Ilham mengunjungi rumahnya.
Ilham mengangguk. “Percaya.”
...**...
Ghea duduk di dalam mobil. Sedangkan suaminya itu tengah berada di seberang jalan. Ikut mengantri di samping gerobak bakso yang berjualan di taman kota.
Setelah bertemu dengan Dita di restoran tadi pagi, sampai-sampai Ghea harus izin tidak masuk sekolah pada Tama. Yang berakhir dengan ledekan dari sang ketua kelas sekaligus sahabatnya itu. Ghea justru mengajak jalan-jalan Pak Gery walau Pak Gery sendiri bilang jika dia ada pertemuan penting dengan klien untuk memenangkan sebuah tender.
Ghea memaksa. Menunjukkan sikap manjanya yang berakhir dengan Pak Gery tidak bisa menolaknya. Lalu, seperti biasa. Pak Gery akan menyuruh Adi yang menghandle semuanya. Memberikan kepercayaan penuh pada sang sepupu..
Ghea menurunkan handphonenya lalu menoleh saat mendengar suara ketukan dari kaca jendela. “Kenapa?” tanya Ghea pada Pak Gery yang sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum cowok itu menyembulkan kepalanya ke dalam melewati wajah Ghea yang tengah keheranan.
“Ini dompetnya ketinggalan,” sahutnya seraya meraih dompet yang ada di laci mobil.
Tumben?
Ghea ingin bertanya demikian. Namun lidahnya keluh hanya untuk mengeluarkan suara. Saat hidungnya mencium bau harum dari rambut Pak Gery yang menyapu indera penciumannya. Wanginya itu sangat menenangkannya tentu saja.
“Tunggu bentar ya aku kesana lagi. Mau bayar. Nanti balik lagi sama baksonya.”
Ghea mengerjap. “I-iya.”
Pak Gery tersenyum sambil mengusak puncak kepala Ghea. Cowok itu berjalan dengan gaya cool menuju penjual bakso untuk membawanya pada sang tuan putri yang sebelumnya meminta untuk makan di dalam mobil saja.
Entah sihir apa yang Pak Gery berikan pada Ghea sampai-sampai cewek itu terpaku diam tidak bisa berkata apa-apa sampai dengan Pak Gery kembali lagi ke mobil dengan dua mangkok bakso di tangannya.
“Buka pintu mobilnya!”
Lagi-lagi Ghea terhenyak mendengar Pak Gery bersuara. Duh, ini otak Ghea sedang traveling ke mana sih sampai gagal fokus begini?
Tuhan Ghea mendadak begoo kaya gini sih?
“Kenapa keluar?” tanya Pak Gery heran saat justru Ghea membuka pintu mobil penumpang dan dirinya yang malah keluar dari dalam.
“Eummm … makannya duduk diatas rumput aja. Kayaknya asyik deh.”
Ghea sadar, dirinya sedang gugup. Sedang tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Jadilah dia keluar dan meminta untuk makan bakso diatas rumput taman yang lebat dan hijau itu.
“Gak papa? Kita makan di tenda bakso aja kalau gitu!” ajak Pak Gery dengan kedua tangan yang kepanasan akibat memangku dua mangkok bakso.
Ghea menggeleng seraya berjalan menuju taman dengan Pak Gery mengikutinya dari belakang punggungnya. “Nggak ah, banyak orang yang makan di sana.” setelah sampai di taman tidak jauh dari letak mobilnya yang terparkir, Ghea berjongkok sebelum duduk diatas rumput tepat di bawah pohon besar dengan daun yang rindang.
“Gak asik. Gak romantis juga dan gak bisa suap-suapan sama kamu.” Lanjut Ghea kemudian seraya menerima mangkok berisi bakso dari tangan Pak Gery dengan kepulan asap yang berasal dari kuahnya.
“Bisa aja sih istri aku ini.” Pak Gery terkekeh. Mengikuti Ghea yang duduk diatas rumput, di bawah pohon, tepat di sampingnya.
Dan di siang menuju sore ini setelah pagi yang diawali sangat menjengkelkan karena bertemu Dita, Ghea dan Pak Gery menikmati semangkuk bakso di bawah pohon. MUngkin itu adalah hal yang tidak ada arti apa-apa. Namun berbeda jika kita menikmatinya bersama dengan orang terkasih. Hal sekecil dan tidak semenarik apa pun akan terasa romantis jika itu dilakukan dengan perasaan tulus dan bahagia tentunya. Apalagi di sisi kita ada orang yang begitu mendamba. Dengan Pak Gery yang menjadi suami sempurna bagi Ghea.
"Makasih, ya, Mas, kamu udah melengkapi hidup aku. Melengkapi kekurangan aku. Dan melengkapi hari-hariku. Mengubah semuanya menjadi lebih baik dari sebelumnya aku yang--"
"Sssttt ..." Pak Gery seakan tahu apa yang akan dikatakan oleh Gheanya itu. Lantas dia menyimpan telunjuknya di atas bibirnya.
Pak Gery menyimpan mangkuk bakso di atas rumput. Lalu ia setengah memutar tubuhnya hanya untuk menghadap Ghea. "Harusnya aku yang bilang makasih sama aku." Tangan Pak Gery tergerak untuk menggenggam kedua tangan Ghea yang sebelumnya sudah tidak ada mangkuk lagi di tangannya itu. "Makasih kamu udah mau balik sama aku yang penuh kekurangan ini. Makasih kamu udah mau nerima aku yang mungkin masih belum bisa jadi suami yang baik buat kamu. Makasih untuk semuanya." Dikecuplah kedua punggung tangan itu.
"Kita akan saling melengkapi dan saling menyempurnakan, ya. Kita sama-sama berusaha untuk berubah. Mengubah pribadi masing-masing menjadi lebih baik lagi. Ya!"
...TBC...
Maaf gengss kemarin aku absen. Soalnya mati lampu di sini mah gengsss. Sedih aku karena gak bisa nyenengin kamu. Hihiii
Terimakasih ya yang masih setia nunggu cerita MWT ini. Terimakasih udah mau baca juga. Dan terimakasih yang udah mau komen sama kasih likenya.
Seizy
Sipenulis rengginang yang pengen ketemu kamu ... yang lagi baca cerita ini. hihiiii ILY gengsssss.