Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 17


Ghea sama sekali tidak mendengar suara pintu itu tertutup. Ia terlalu terpukau. Terpesona dengan keindahan nuansa di dalam kamar hotel itu. Warna putih mendominasi ruangan. Sepre yang terpasang rapi menutupi kasur pun berwarna senada, hingga selimutnya.


Kamar hotel itu tepat menghadap sebelah timur. Sehingga saat pagi datang, Ghea dapat melihat indahnya matahari terbit. Malam ini pun ia dapat melihat keindahan langit hitam dari dalam kamar karena jendela yang tidak tertutup tirai.


Suasana kamar masih temaram. Gery sengaja membiarkan lampu utama tetap mati. Hanya cahaya bulan saja yang memenuhi ruangan. Ia berjalan pelan tanpa suara. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di sepanjang pinggang Ghea setelah ia berada tepat di belakangnya.


Gery dapat merasakan punggung Ghea menegang saat ia melakukan itu. Ia menyukai reaksi tubuh wanitanya itu. Tidak menolak.


Disibakkan Gery rambut panjang yang terurai itu ke satu sisi bahu Ghea. Untuk kemudian dengan gerakan lambat, tangan kirinya menyentuh punggung polos Ghea. Naik sampai menyentuh kancing gaun perak yang terkait di tengkuk leher Ghea. Melepaskannya. Lalu menurunkan lagi lengannya dari menyentuh kancing gaun perak. Gery hanya melepaskan saja, tidak menurunkan gaunnya. Apalagi meloloskan gaun perak itu dari tubuh Ghea.


Oh ini belum saatnya.


Ghea harus mendapatkan rasa frustasi lebih dulu akibat perbuatannya yang membiarkan cowok lain menyentuh tubuhnya.


“Mas.” Nafas Ghea tercekat. Untung saja Gery berdiri di belakangnya. Karena saat ini wajah Ghea sudah memerah. Panas. Terbakar. Bahkan ia menelan salivanya berulang kali dengan susah payah. Menahan gelombang besar yang sudah menguasai dirinya. Nafsunya. Karena sentuhan tangan nakal yang dilakukan cowok itu.


“Ya.” Dengan sengaja pula Gery menekan bibirnya pada cuping telinga Ghea. Membuat wanitanya itu harus merapatkan kedua pahanya. Menahan desiran yang sudah tidak tertahankan bersama sesuatu di dalam sana yang tiba-tiba berkedut.


“Aku—“ suara wanita itu tertahan di kerongkongan. Ghea tidak dapat melanjutkan karena Gery yang lebih dulu membalikan tubuhnya untuk kemudian Ghea bertemu dengan netra Gery—yang tajam. Namun, penuh dengan tatapan cinta. Wanita itu mendadak gugup.


Diambil Gery cluth dari tangan wanitanya lalu ia berjalan mendekat ke arah meja samping tempat tidur dan menyimpannya di sana. bersamaan dengan itu pula tubuh Ghea berbalik. Menatap punggung Gery yang setengah membukuk dengan nanar.


Diembuskan Ghea nafas kasar. Ingin rasanya saat ini ia memuntahkan semua rasa kesal pada suaminya. Kemudian, enteh mendapat keberanian dari mana, Ghea mendekat. Menghampiri.


“Kamu kenapa, sih, marah-marah gak jelas gitu sama aku?” ucap Ghea berdiri di belakang Gery—yang sedetik kemudian membalikan tubuhnya menghadap Ghea.


Ouh sungguh berani sekali dia. Membuat hurup v kecil tercetak di dahi cowok itu.


“Harusnya aku yang marah sama kamu tahu gak?” Ghea tidak memberikan kesempatan pada Gery untuk mengeluarkan suaranya ketika bibir cowok itu bergerak. Sepertinya cowok itu akan menjawabnya. Namun, kembali terkatup karena Ghea kembali bersuara.


“Aku nunggu kamu lama.” Dipukul Ghea dada cowok itu dengan keras. “Tapi kamu malah lama datang. Kamu biarin aku masuk sendiri. Kamu pikir aku suka?” Ghea menahan kalimatnya. Menarik nafasnya lalu ia embuskan secara kasar.


“Aku gak suka, Mas. Dan kamu tahu itu!” Tangan berjari lentik itu menekan dada Gery. “Dan yang paling aku gak suka—“ Ghea menahan kalimatnya lagi. Kali ini dapat Gery dengar ada suara isak yang keluar dari bibir merah itu. “—sikap kamu, Mas.” Ia tatap bola mata abu itu.


Gery diam. Balik menatap wajah Ghea yang sudah basah oleh air mata.


“Kamu selalu seenaknya.” Ghea menjeda. Diusap Ghea pipi basah itu menggunakan punggung tangan.


Naluri Gery seakan teremat kuat melihat Gheanya menangis. Dan itu karena dirinya.


Kali ini Ghea benar-benar memuntahkan semua emosi. Rasa kesal yang mendominasi. “Kamu selalu curiga kalau aku dekat sama Reza. Dan itu—“ Ghea menahan isakan. “Kamu seakan gak percaya sama aku, Mas.” Lalu ditatap Ghea wajah Gery dengan rahang mengerasnya.


“Cemburu kamu itu gak beralasan, Mas.” Ia melanjutkan.


“Ghe—“


“Kamu pikir aku suka sama sikap kamu yang selalu acuh sama orang lain? Kamu, tuh, kayak gak bisa ngehargain orang loh, Mas. Kamu gak suka kalau ada cowok lain yang pegang-pegang aku, kan? Terus apa kabar dengan sikap kamu sama cewek yang katanya kamu tolong di lobby kantor itu?”


Oh ****. Ghea membahas soal itu lagi. Gery membuang muka untuk kemudian ia raup wajahnya secara kasar.


“Aku selalu percaya sama kamu.” Meski kenyataannya tidak dapat Ghea pungkiri jika ia takut suaminya akan berpaling darinya. Seperti apa yang temannya itu katakan. “Tapi kamu nggak, Mas.”


“Kamu ngomong apa, sih, Ghe? Kapan aku gak percaya sama kamu? Ghe—” Gery mencoba menyentuh bahu Ghea yang langsung ditepis oleh cewek itu.


“Kenyataannya nggak, Mas. Kamu gak percaya sama aku. Buktinya tadi—“ Gery mengernyitkan dahi. “Dengan seenaknya kamu nggak dengerin aku dulu, kamu tarik-tarik tangan aku." Ghea melangkah. Mendekat ke sisi tempat tidur lalu duduk di sana. Ditekan olehnya sisi kasur itu menggunakan kedua telapak tangan.


“Di depan teman-teman aku. Di depan semua orang.”


Lalu diangkat Ghea wajahnya. “Kamu pikir aku gak malu? Malu, mas," ucapnya lirih. Sampai dengusan malas pun terdengar oleh Gery. Wajah wanitanya itu berpaling seraya berdecak keras.


“Kalau bukan Reza yang nahan pinggang aku— yang kata kamu Reza pegang-pegang aku itu, mungkin sekarang aku gak akan ada di kamar ini.” Ghea kembali bersuara setelah diam beberapa saat. “Reza nolongin aku. Kepala aku tadi, tuh, mendadak pusing. Harusnya kamu berterimaksih sama Reza, bukan malam acuh kayak tadi. Dan ngatain Reza cowok sialan!”


Ya dan sialnya Gery tahu itu.


Tahu jika di atas panggung pelaminan tadi tubuh Ghea oleng. Gery terkejut. Kakinya melangkah dengan gerakan refleks. Tetapi, bersamaan dengan itu pula justru Reza yang menahan pinggang Ghe. Sejak dulu Gery tidak suka pada cowok itu. Karena Gery tahu jika Reza mempunyai perasaan pada Ghea. Dulu. Dan sekarang, siapa yang tahu coba jika perasaan Reza itu masih ada, bukan?


“Harusnya ka—“


Bibir merah yang sedari tadi mengeluarkan suara kesalnya itu langsung terdiam ketika tubuh Gery membungkuk dengan kedua tangan berada di kedua sisi wajah Ghea. Ia meraup bibir Ghea dengan bibirnya. Menenangkannya.


****!


Gery tidak bisa menahannya. Bibir itu terlalu sering bicara. Oke. Gery akui ia salah. Kepalanya terlalu diisi dengan rasa cemburu yang seperti Ghea katakan ‘tidak beralasan’. Dan sebuah ketakutan sama yang dulu pernah Gery rasakan sebelum ia memikat Ghea.


Harusnya malam ini menjadi malam yang melenakan. Katakan saja Gery ingin melakukan bulan madu keduanya di tempat yang berbeda dan suasana yang berbeda pula. Bukan malah menjadi malam yang penuh dengan argumen yang nantinya akan menyulut api di dalam rumah tangganya.


Debar itu semakin melanda ketika Gery menekan untuk kemudian menggigit bibir bawahnya. Dengan sekali sentak Ghea terlentang di atas kasur. Kedua kaki masih jatuh. Menggantung di atas lantai.


Gery merangkak. Membayangi Ghea dengan tubuhnya. Kedua tangannya ia simpan di sisi wajah wanita itu. "Kita selesaikan masalah ini sekarang, Ghe," katanya. Diusap Gery pipi basah Ghea menggunakan ibu jari. "Sorry!" ucapnya bersungguh-sungguh.


"Aku tahu aku salah. Aku udah nyakitin kamu. Hati kamu. Perasaan kamu." Ditatap Gery wanita yang sekarang berada di dalam kuasanya. Ia kecup kening Ghea kemudian turun pada pangkal hidungnya.


Note seizy:


ya pokoknya gitu aja lah. Di skip aja udah anunya. Eh


terimakasih ya buat kamu yang masih rela menunggu cerita ini up. Maaf kalau jarang dan lama. Soalnya aku masih agak sibuk ngurusin tahlilan sampai 40 harinya. Ini juga aku curi-curi waktu aja. Wkwkwkwkkkk


Jangan bosen dulu ya gengsss sama cerita ini. Hihiii aku harapnya gitu sih. Meski lama update dan sedikit eummm ... mungkin di antara kamu ada yang udah bosen juga. Karena lama dan pada akhirnya kamu menunggu.


But it's okay. Gak papa. tapi aku tetep berterimakasih. selalu jaga kesehatan ya buat kamu. Jaga makan dan minum air putih yang banyak. Hihiiii


Seizy kang ngetik amatiran


yang sayang kalian tanpa batas. ILY so much


Untuk yang mau deket sama aku bisa chat aku di Ig @seizyll_koerniawan. Atau cari nama pena aku aja. Tapi maaf kalau agak telat balasnya. Hihiii pokoknya kamu bisa temuin aku di sana. Atau nggak di fb aku seizy kurniawan yang pp nya doraemon. Makasih sekali lagi.