
Dan malam ini, pernikahan itu benar-benar terjadi. Tidak ada acara pesta atau resepsi yang dibayangkan Ghea. Namun hanya ada ijab qobul dan foto bersama keluarga saja.
Ghea benar-benar merasa dirinya wanita paling tidak beruntung di dunia. Pernikahan yang ia impikan seperti pernikahan pada umumnya hanya akan menjadi angan belaka saja.
Kini di ruang tamu yang sudah di dekorasi sesimple itu hanya ada dua keluarga besar Ghea dan Pak Gery. Tak ada kerabat kerja apalagi teman karib dari dua mempelai.
Penghulu sudah duduk di meja yang akan dipakai untuk ijab qobul. Begitu juga dengan Pak Gery yang sudah siap mengucapkan ijab qobul duduk di sana menghadap Papa Jordan.
Ketampanan cowok itu semakin terpancar. Aura dari wajahnya yang putih dan bersih sangat terlihat bercahaya. Apalagi tubuhnya yang dibaluti jas berwarna putih semakin jelas menunjukan karismatika seorang Gery Mahardika Putra.
"Apa sudah siap untuk ijab qobulnya?" tanya seorang penghulu yang duduk di sebelah Papa Jordan pada Pak Gery tentunya.
"Ya. Tentu." Pak Gery menjawab yakin walau jantungnya kini sedang ketar ketir.
Rasanya ia seperti akan dijadikan hewan kurban saja. Keringat sebesar biji jagung mengucur dari pelipis ke rahangnya. Sudah berapa kali ia mengusap keringat itu dengan tissue? Mungkin satu pack tissue sudah Pak Gery habiskan untuk mengelap keringatnya.
"Kalau begitu panggilkan calon pengantin perempuannya!" suruh Pak penghulu lagi. Kemudian Indah yang berada dekat di meja akad, ia bergegas untuk memanggil sang calon pengantin wanita yang masih di dalam kamar rias.
Begitu Pak penghulu berkata demikian. Jantung Pak Gery mendadak ingin berhenti. Ia menarik nafas dalam lalu ia hembuskan dengan pelan.
"Rileks, Ger! Gerogi lo kelihatan banget." Adi yang saat itu tepat ada di belakang Pak Gery membungkuk bersama tepukan tangannya pada bahu cowok itu. Lalu ia kembali berbisik. "Sans, gue udah nyiapin film blue buat lo, biar sekalian lo nontonnya sama Ghea." Adi terkekeh geli sembari menutupi mulutnya agar tawanya itu tidak terlihat oleh siapa pun.
"Berengsek lo, Di. Awas, ya kalau lo nyimpen barang yang gak guna di kamar gue." Bisik Pak Gery dengan gerakan bibir yang samar. Kepalanya miring namun masih memandang ke depan.
"Ehkem ... calon bini lo, Ger." Beritahu Adi pada Pak Gery saat ia melihat Ghea keluar dari kamar rias yang digandeng oleh Mama Sora dan Mama Dian. "Gila ... cantik banget, Ger." Seru Adi heboh seraya menegakan tubuhnya dengan gerakan pelan.
"Istri gue, ya, itu." Pak Gery menjawab bersama kedua mata yang terus menatap Ghea dari bawah sampai atas.
Cantik dan pangling.
Dua kata itu keluar dari setiap bibir para saksi yang hadir di sana.
Ghea yang mengenakan kebaya panjang berwarna putih. Tataan make up yang natural dan rambut yang disanggul rapi dengan mahkota yang menjadi hiasan di kepalanya.
Mata Pak Gery tak berkedip barang sedikit pun. Pandangannya terus mengamati wajah Ghea sampai gadis itu duduk di sampingnya. "Ehkem." Dan barulah ia berdehem untuk menetralisir jantungnya yang berdegup semakin gila.
Setelah Mama Dian memakaikan penutup kepala pada dua mempelai, tangan Pak Gery menjabat tangan Papa Jordan.
Ghea yang saat itu tepat ada di samping Pak Gery hanya bisa menghela bersama kepalanya yang menunduk. Ia gugup.
Tentu saja, karena ini adalah acara sakral yang diimpikan walau acaranya jauh dari kata mewah. Namun Ghea berusaha menerima. Yang terpenting ia menikah dengan cowok idamannya.
Setelah lulus nanti barulah Ghea akan meminta acara resepsi pernikahan mewah pada suaminya itu. Bila perlu Ghea akan meminta acara pestanya tujuh hari tujuh malam biar puas.
Seuntai kalimat sakral Pak Gery ucapkan dalam satu kali tarikan nafas. Setelah kata 'sah' terlontar dari para saksi, barulah ia bernafas dengan lega. Perut yang tadinya tidak berhenti mules pun mendadak hilang bersamaan dengan tangan yang terlepas dari jabatan Papa Jordan.
Setitik air mata yang keluar dari sudut Papa Jordan menandakan jika ia sedih bercampur haru. Gadis cantik yang ia besarkan dengan dengan tangannya itu kini telah menjadi seorang istri.
Begitu juga dengan Mama Sora yang tidak berhenti meneteskan air matanya haru. Putri yang sembilan bulan ada di dalam perutnya ternyata kini sudah menjadi tanggung jawab orang lain.
Mama Dian merangkul Mama Sora. Lalu kedua wanita paruh baya itu saling berpelukan dalam tangis bahagia.
Setelah acara bertukar cincin pernikahan, lalu keduanya mendapatkan buku nikah yang akan menjadi saksi status dari keduanya yang telah berubah.
Ah rasanya Ghea masih tidak percaya. Benarkah ini? Atau ini hanya bunga tidurnya saja? Ghea sudah menjadi seorang istri dalam umurnya yang masih 17 tahun. Berbeda dengan Pak Gery dengan umurnya yang sudah cukup untuk menjadi seorang suami.
Namun bukankah umur tidak menjadi penghalang dalam sebuah ikatan suci pernikahan?
Acara itu selesai sekitar pukul sepuluh malam. Setelah acara foto, ucapan selamat dari keluarga besar dan makan-makan, semua keluarga besar Ghea maupun Pak Gery pamit pulang. Begitu juga dengan Adi dan Indah. Mama Sora dan orang tua yang lain masih menetap di rumah itu. Mereka berniat akan bermalam di sana.
Walau acaranya tidak mewah namun tetap saja sangat melelahkan bagi mereka.
**
Di dalam kamar.
Ghea yang pamit lebih dulu untuk masuk dan mengganti pakaiannya pada Pak Gery dan para orang tua setelah keluarga besar mereka meninggalkan kediaman Pak Gery. Bukan hanya lelah saja, tapi selama beberapa jam Ghea dibuat gerah oleh kebaya yang tidak biasa ia pakai itu. Lantas ia memutuskan untuk berganti baju dan membersihkan dirinya di kamar yang tadi dipakai untuk merias dirinya.
Berbeda dengan Pak Gery. Cowok itu justru masuk ke dalam kamar pengantin yang sebelumnya sudah didekorasi romantis oleh Indah. Namun saat Pak Gery membuka pintu kamar itu. Ia tidak melihat sosok wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu kembali menutup pintu kamar setelah mengingat jika kemungkinan Ghea masuk ke dalam kamar lain.
Benar saja.
Pak Gery membuka pintu kamar lain tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Refleks Ghea yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil terlonjat kaget.
"Ma-maaf," ujar Pak Gery canggung seraya pandangannya berpaling dari Ghea. Melihat Ghea yang hanya mengenakan bathrobe saja membuat Pak Gery merasa tidak enak dan menegang. Karena sebelumnya ia tidak pernah melihat wanita seperti itu.
"I-iya. Gak papa. Ada apa?" Bukan hanya Pak Gery saja yang merasakan hal itu. Ghea pun sama.
"Tidak. Hanya saja ini bukan kamar kita-" ah, apa kita yang dimaksud Pak Gery? Rasanya sangat aneh Ghea mendengarnya. "-maksudnya, kamu mau ganti baju kan?" ralat Pak Gery dengan cepat.
Ghea mengangguk.
"Semua barang kamu sudah ada di kamar atas. Termasuk pakaianmu." Beritahu Pak Gery.
Pantas saja di kamar itu tidak ada koper pakaian miliknya, karena sebenarnya dari tadi Ghea itu mencari koper pakaian yang tadi sore di bawa oleh Adi. Ternyata tersimpan di kamar atas.
"Tapi kenapa di kamar atas? Bukannya ini kamar aku?"
Tentu saja bukan.
Apa tadi kata Ghea 'kamar aku?'
Emang Ghea dan Pak Gery akan pisah kamar sekaligus ranjang gitu?
"Ini bukan kamar kamu! Sudah kebiasaan emang kamu banyak tanya?" ucap Pak Gery kesal. Karena ia sudah capek dan ingin cepat-cepat istiraha. "Terserah kamu aja. Kalau emang mau tidur di sini cuma pakai bathrobe doang." Biar gak susah juga buka-bukanya. Tambahnya dalam hati.
Setelah mengucapkan itu, pun Pak Gery keluar dari kamar. "Dasar anak kecil," umpatnya seraya terkekeh pelan. Berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
TBC
Man teman tuh nunggu apa di part 40? Nikah apa kawinnya? wo wo woooo