Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 19


Dengan wajah yang memberengut masam, Ghea menghentakkan kakinya seraya melangkah ke pintu. Lalu saat tangannya memegang handle, Gery menarik bahunya lembut untuk kemudian dia membalikan tubuh wanita itu.


“Aku minta maaf.”


Ck. Kalimat itu lagi. Ghea memutar bola matanya. Jengah. Malas. Sudah berapa kali setiap Ghea mengingatkan cowok itu ketika jadwal check up kandungan. Dan cowok itu selalu bermulut manis dengan mengatakan jika ia akan mengantarnya. Berjanji. Dan Ghea sama sekali tidak butuh janji palsu itu.


Ghea menatap Gery dengan wajah kecewa. Diembuskan Ghea nafasnya kasar sehingga Gery dapat merasakan dan mendengarnya.


“Aku gak perlu maaf dari kamu, Mas. Aku hanya perlu minta ditemani kamu buat check up. Tapi, kalau kamu gak bisa. Aku bisa apa, Mas?”


“Tapi mukanya jangan kayak gini dong!” Diangkat Gery dagunya untuk menemukan wajah wanitanya itu. “Aku jadi ngerasa bersalah banget sama kamu. Sama babynya juga,” ucap Gery benar-benar merasa demikian seraya mengusap perut Ghea dan pandangan keduanya yang saling bertatap.


Dilepaskan Ghea jari Gery yang berada di dagunya. “Ya terus aku mesti gimana? Pura-pura seneng aja, gitu?”


“Ya, gak gitu juga kali.” Gery menarik kepala Ghea untuk ia berikan kecupan di kening. Lalu punggung wanita itu ditarik Gery dan kemudian didekapnya. Beruntung Ghea tidak menolak. Ia lemah jika sudah seperti ini. Namun, tetap saja hati kecilnya merasakan kecewa. Karena ini bukan yang pertama Gery tidak menemani Ghea untuk check up kandungan.


“Gak papa kan sendiri dulu? Ntar kita barengan berangkat ke rumah sakitnya. Tapi aku Cuma bisa antar kamu sampai depan aja.”


**


Gery membuka pintu mobil untuknya lalu melajukan kendara besi itu setelah ia duduk di kursi kemudi. Tepat jam sembilan pagi keduanya check out dari hotel Raffles yang semalaman mereka tempati. Laju mobil itu memelan saat di portal. Bersamaan dengan itu pula mata Gery melihat seseorang di seberang jalan yang akan memasuki mobilnya. Cowok itu hanya berdecak dengan gelengan di kepalanya. Samar. Seorang cowok yang ditemuinya dengan Airin kemarin sore sebelum ia datang ke acara resepsi Bu Novi semalam.


“Cowok sialan," umpat Gery.


Ghea yang sedang berbalas pesan dengan Mamanya—yang kembali menanyakan dirinya jadi atau tidak ke Bandung itu menoleh. “Kamu bilang apa barusan, Mas? Cowok sialan? Siapa lagi, tuh?” Karena Ghea benar-benar tidak suka jika suaminya ini terus mengumpat tidak jelas. Lupakah jika Ghea sedang hamil. Dan kata orang jika seorang istri sedang hamil itu, bicaranya dan juga bicara suaminya harus baik-baik. Bukan malah mengumpat seperti Gery.


“Hum.” Ditolehkan kepala itu pada Ghea. “Bukan. Bukan siapa-siapa kok.” Lalu ia kembali memfokuskan konsentrasinya lagi pada jalan di depan.


“Kamu jadi ke Bandung?” tanya Gery. Mobil itu berhenti tepat di lampu merah pertama setelah keluar dari hotel.


“Jadi,” jawab Ghea sambil membalas pesan dari sang Mama. Gery menoleh. Berdecak dengan wajah tidak sukanya. Iya lah. Secara Gery akan ditinggal Ghea dan sialnya dia tidak bisa menemani.


Boro-boro menemani karena meeting sialan ini. “Besok aja lah, sayang. Biar aku bisa nemenin.” Oh rupanya cowok itu sedang merajuk. Lampu merah sudah berubah lalu mobil itu kembali melaju.


“Gak mau, Mas. Aku khawatir sama Papa.” Tolak Ghea lalu memasukan hand phone itu ke dalam cluthnya.


“Iya. Aku tahu, aku juga khawatir. Sama kek kamu. Tapi aku lebih khawatir kalau kamu pergi sendiri, sayang. Atau ntar sore aja deh perginya. Ya!”


Rupanya Mama Sora menghubungi nomor Gery saat cowok itu sedang di dalam kamar mandi pagi tadi. Karena hand phone Ghea yang disenyapkan auto tidak bisa menerima panggilan itu.


“Gak bisa, Mas.” Ghea menolak dengan keras.


“Kalau gitu kamu diantar sama Pak Rusdi aja, deh, ke Bandungnya? Jangan nyetir sendiri! Ya!”


Pak Rusdi adalah supir Mama Dian.


“Kasihan Mama ntar kalau kemana-mana gak ada yang antar.”


“Ntar bisa kok diantar sama supir Papa.”


“Kasihan Papa kalau gitu. Kalau mau kemana-mana harus nyetir sendiri,”


Gery tidak bisa menjawab lagi. Ternyata beradu argumen dengan wanita hamil memang tidak bisa dikalahkan. “Keras kepala.”


“Biarin.”


“Dasar batu.”


Ghea memukul bahu suaminya itu. Pelan. “Dari pada kamu. Tukang bohong.”


“Kapan aku bohong?" tantang Gery dengan seringai jahilnya. Mobil itu sudah memasuki gada-gada komplek perumahannya. Ternyata bisa semenyenangkan itu membuat wanitanya ini kesal. Membuat Gery betah berlama-lama ada di sisinya.


“Dih … kapan kamu bilang? Sering tahu gak.”


“Ah masa, sih? Perasaan aku gak pernah bohong deh sama kamu. Ya, selain waktu Dita. Itu juga dulu kan. Udah lama banget.” Mobil itu berhenti di depan gerbang rumahnya. “Bentar. Aku buka gerbangnya dulu.”


“Terus, soal cewek yang jadi sekretaris kamu? Siapa tuh namanya? Ah ya, Airin. Kamu gak ada cerita sama aku,” sahut Ghea sambil membuka seatbelt. Namun, agak susah ternyata. Untuk itu Gery memiringkan tubuhnya. Membuka seatbelt yang masih terpasang di dada Ghea dengan Gery yang sudah lebih dulu membuka sabuk pengaman itu dari dadanya.


“Itu bukan bohong, sayang. Aku belum ada waktu aja buat cerita.” Saat sabuk pengaman itu sudah terlepas dari Ghea, saat itu pula Gery mencuri ciuman di pipi wanitanya. Untuk kemudian cowok itu membuka pintu mobil dari dalam. “Silahkan tuan putri.”


“Apaan, sih?” kata Ghea. Diturunkan Ghea kakinya lalu keluar dari mobil.


Di dalam sana Gery terkekeh dan menyusul keluar. Ia setengah berlari mengejar langkah Ghea yang akan membuka pintu rumah. Dipeluk Gery tubuh yang hanya setinggi dadanya itu dari belakang. “Lepas, Mas!” pinta Ghea. Daun pintu berbahan jati dengan ukiran di tengahnya itu terbuka. Keduanya masuk dengan Gery yang masih mendekap Ghea di belakangnya. Dan tidak melepaskan punggung wanita itu sampai masuk ke dalam kamar.


“Aku mau ganti baju, Mas.” Ghea berusaha melepaskan kedua tangan besar yang melingkari pinggangnya.


“Di sini aja!”


“Apaan, sih. Jangan kayak anak kecil gini, deh. Jangan lupa. Aku masih ngambek.”


“Iya iya iya. Masih ngambek,” sahut Gery. tertawa. Kemudian terpaksa cowok itu melepaskan lingkaran kedua tangannya. “Ke Bandungnya ntar so—“


“Gak bisa, Mas." Ghea menyela. Menekan suaranya. Dilangkahkan Ghea kakinya menuju lemari. Mengambil


satu dress yang menggantung di sana kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Karena jika Ghea menggantinya di depan suaminya, bisa-bisa Ghea akan telat berangkat untuk check up.


Ghea perlu berterimakasih pada seseorang yang memanggil nomor suaminya itu. Jika tidak, mungkin perdebatan ini tidak akan ada ujungnya. Dengan mengabaikan suaminya yang sedang menjawab telepon, Ghea masuk ke dalam kamar mandi.


**


Di sisi lain.


“Hey kamu.” Adi memanggil Airin. “Ngapain duduk-duduk aja?” tanyanya. Seperti biasa Adi sselalu berkata jutek dan selalu menunjukan rasa tidak sukanya pada Airin.


Airin yang merasa lelah karena sedari tiba di lokasi pembangunan yang baru dipondasi, Adi tidak pernah berhenti untuk menyuruhnya ini dan itu. Dan yang tidak masuk di akalnya ketika Adi menyuruh Airin untuk membeli minuman. Padahal di mobilnya juga ada. Tapi dengan alasan tidak dingin, Airin terpaksa membelikan untuknya.


Airin berdiri dari duduknya di atas kursi pelastik yang diberikan seorang mandor seraya mengipasi dirinya dengan map yang ia pegang.


“Kamu mau kerja atau mau leha-leha? Nyantai banget. Ini tuh bukan di pantai kalau kamu lupa?”


Airin ingin sekali memutarkan bola matanya. Tapi, atas nama rasa hormatnya dia pada Adi, Airin tidak berani tentu saja. “Maaf, Pak.”


“Maaf aja terus sampai kata maaf kamu panjang kek rel kereta api.” Adi mendengus. “Lagi juga aneh banget si taik kuda. Bisa-bisanya ngerekrut sekretaris kek macam ini.” Adi memang memelankan suaranya saat mengatakan itu. Tapi tetap saja dapat di dengar oleh Airin.


Bukan hanya ingin memutar bola matanya kali ini. Tapi Airin ingin sekali manampol mulut Adi yang sudah kelewat batas itu. “Apa anda perlu sesuatu lagi, Pak?” terpaksa saja Airin bertanya demikian. Menawarkan itu untuk menghindari kekesalan hatinya.


“Tuh.” Adi menunjuk salah seorang kuli yang sedang mengaduk pasir dan semen dengan dagunya. Bersama kedua tangannya yang tenggelam dalam saku celana. “Tanyain. Terus kamu catet. Udah abis berapa sak semen yang dipakai.”


Sumpah demi nama Ibunya. Airin rasa benar, jika Adi sedang mengerjainya. Mana ada catatan seperti itu. Bukannya semua bahan bangunan sudah ada bagian tim yang mengerjakannya?“Tapi, Pak. Bukannya sudah ada tim yang mencatat bagian bahan-bahan bangunan itu, ya?”


Adi menoleh. Satu alisnya ia tarik. “Memang. Tapi salah kalau saya ingin kamu mencatat ulang?”


“Tapi—“


“Pak …” Dan Adi malah memanggil kepala mandor untuk mengindari kalimat Airin. Cowok itu kemudian pergi dari sana. Menghampiri kepala mandor dan Airin, cewek itu hanya menatap  Adi dengan kesal.


Dengan nafas yang berat dan kepalanya yang sedikit pening, Airin melangkahkan kakinya menuju tukang yang sedang mengaduk itu. Memenuhi permintaan tidak masuk akalnya dari Adi.


Airin menghalau sinar matahari yang mulai semakin bergerak ke tengah-tengah kepalanya dengan map yang


ada di tangannya. Entah dilangkah yang keberapa, Airin merasa kepalanya semakin pusing dan penglihatannya mulai rabun. Airin mengedip beberapa kali lalu mengucek matanya menggunakan punggung tangan. Tapi itu semakin membuat penglihatannya tidak jelas dan sedikit demi sedikit Airin mulai merasa kedua kakinya tidak bisa lagi menopang tubuhnya lalu Airin merasakan tubuhnya terjatuh di atas tanah yang keras sebelum penglihatannya mulai gelap dan kesadarannya hilang.


Airin pingsan.


Note seizy :


Tidak ada note kali ini. Hanya berpesan saja selalu jaga kesehatan dan hatur nuhun pisan buat yang udah baca cerita aku. ILY. Maaf ya tidak bisa balas komentar satu satu. Tapi yakin. Percaya atau nggak. Aku selalu berdebar setiap kali baca komentar kamu semua. Lucu-lucu komennya. terimakasih. Maaf selalu telat update.