
“Sayang—“ Suara itu serak dan terdengar putus asa. Gery membungkukan punggung. Memberi kecupan manis juga romantis di dahinya. Serta menggenggam tangan Ghea penuh kehati-hatian yang masih Gery rasakan denyut nadi di sana.
Ia hampir gila. Sesak oleh kenyataan yang sungguh tidak bisa Gery bayangkan akan bagaimana jika pikiran itu menjadi nyata. Membayangkannya saja Gery tidak sanggup. Apa lagi jika harus kehilangan sosok yang dicintainya itu.
Air bening Gery tumpah mengenai tulang pipi wanita yang terbaring di atas brankar ketika bibirnya berlabuh lama di dahinya.
Selang oksigen ikut serta menghiasi wajah Ghea. Jarum infus menancap di punggung tangan kirinya. Gery mengusap bagian itu penuh mesra saat sudah menegakkan wajah. Sementara punggungnya masih terbungkuk. Terlalu dekat dengan tubuh Ghea. Menatapi kelopak mata yang terpejam, tidak ingin sampai menyakiti permukaan kulit wanitanya. Seolah akan rapuh, tanpa mengangkat tangan Ghea yang berhias jarum infus, Gery mengecupnya.
Dadanya bergetar hebat oleh perasaan membuncah. Ia bahagia masih bisa diberikan kesempatan dapat menatap wajah cantik Ghea. Merasakan detak jantungnya yang seolah mentransfer detak jantung cowok itu.
“Aku sayang kamu." Bisiknya, mengecup pipi putih wanitanya. “Cinta kamu.” Kali ini lirih dan pelan. “Rindu kamu.” Wajah Gery semakin mendekat. Bahkan pula sekarang dahi Gery menyentuh bantalan kepala Ghea. “Kamu hampis saja membuat aku gila, sayang.” Bibir basah Gery kali ini menyentuh daun telinga Ghea. Membisikkan kalimat mesra itu tepat di telinganya. Seolah tidak boleh ada yang mendengar semua kalimat terucap dari mulutnya selain Ghea.
“Operasi pengangkatan rahim dan tumornya berhasil.” Sumpah demi semesata. Dokter itu tiba-tiba berucap. Membuat Gery, Mama Dian dan Papa jantungan saja. Kenapa tidak langsung menjawab ketika Gery melemparkan pertanyaan, sih?
Dokter Gita menghela nafas. Lagi. Satu tangannya membuka penutup kepala berwarna hijau. Digenggamnya kain hijau itu oleh kedua tangan kemudian.
Menyunggingkan senyum sebelum kedua bahunya mengedik. “Saya ini baru saja selesai mengoperasi. Dan saya perlu bernafas lebih dulu untuk mengembalikan stamina saya. Eh … Pak Gery ini sudah melemparkan sejuta pertanyaan saat saya baru membuka pintu.” Dokter Gita menghela nafas sembari terkekeh menggoda. “Ya, sudah. Mending saya diamkan saja untuk mengatur nafas.” Kekeh Dokter Gita, melipat kedua tangannya di dada. Santai.
Gery hampir saja menahan nafas tadi saat langkahnya mendekat ke brankar dan beruntung, bola mata abu yang berkilat-kilat putus asa itu masih merasakan nafas Ghea.
“Tenang, Pak Gery … Bu Ghea baik-baik saja. Ia akan sadar setelah beberapa jam.” Menyebalkan memang. Dokter Gita malah sempat-sempatnya meledek Gery dengan senyum menjengkelkan untuk cowok itu tatap.
“Astaga, dokter …" Disusul suara Mama Dian yang masih penuh ketegangan. Langkah kakinya masih gemetaran. Ikut pula Mama menghampiri brankar. Setelah tadi sebelumnya Mama tidak berani mendekat karena menyangka jika raga Ghea sudah tidak bernyawa. Sekarang malah ikut mengusap wajah cantik berkulit pucat itu. Namun, pandangan mengarah pada sang dokter sembari menggelengkan kepala tidak percaya.
“Bu Gheanya kami bawa ke ruang perawatan intensif dulu, ya, Pak Gery.” Dokter menjengkelkan itu terkekeh lagi, meminta izin dengan godaan. Meledek Gery dan membalikan tubuh. Berlalu dari sana dengan brankar Ghea mengikuti di belakang punggungnya.
**
Sudah hampir tiga jam Gery duduk di kursi yang sengaja ia letakkan di samping brankar Ghea. Tidak beranjak sama sekali, atau lebih tepatnya cowok itu tidak ingin meninggalkan Ghea meski hanya satu detik saja.
Menghela nafas lelah, bola mata abu berkilat itu terus tertuju pada wajah pucat di sana. Sesekali menjepit bibir kemudian mengerutkan kening. Tidak mengalihkan tatapan cinta darinya. Sementara indra pendengarannya terus fokus mendengarkan nafas Ghea. Tidak ingin kecolongan atau rasa takut terus menguasi sang batin.
“Cepet bangun, sayang! I'm here,” katanya. Genggaman di tangan Ghea yang polos tanpa jarum infus berubah menjadi sebuah jalinan manis. Satu tangan Gery yang lain pula perlahan bergerak, menyentuh perut Ghea.
Perut yang sekarang merata itu.
Lagi. Sesak menghujam jantung Gery kembali. Ditarik nafasnya kemudian, berupaya melepas semua rasa nyeri itu. Bersama kepala terus berputar. Berpikir akan sebuah konfirmasi.
Gery harus menjawab hati-hati ketika pertanyaan yang membuatnya takut itu terlontar dari mulut merekah Ghea. Lantas ia menggigit bibir bawah dalam.
“I'm sorry…” Entah sudah berapa kali bibirnya mengucapkan kata itu. Seakan menjadi sebuah mantra untuknya, Gery menguatkan batin serta raga. Ia harus menerima semua apa pun yang terjadi nanti di depan sana.
Siap atau tidak siap, jika nanti Ghea memilih akan meninggalkannya karena tidak bisa menepati janji. Gery harus siap. Berusaha siap lebih tepat.
Kemudian tatapan Gery naik dari melihat perut rata ke wajah pucat Ghea. Sedikit tersentak. Bercampur bahagia. Kedua sudut bibir terangkat sembari tubuh bergerak cepat mendekatinya. Mengusap dahi wanita itu kemudian. Ketika kedua kelopak mata Ghea bergerak-gerak meski kelopak indah itu masih memejam.
“Sayang?!" Panggilan suara Gery pelan. Memukau. Lembut. Penuh rasa dan mesra tentu saja.
Kelopak indah Ghea terbuka pelan lalu mengedip lambat setelah menyesuaikan dengan cahaya terang dari lampu gantung ruang perawatan itu.
“Hai.” Gery menyapa, bibirnya tersenyum, bangkit dari duduk kemudian mengecup dahi Ghea. Ia berdebar.
Bola mata Ghea bergoyang. Menyesuaikan semua ingatan. Dan gerakan pertama yang wanita itu lakukan adalah meraba perutnya.
“Mas…” Panggil Ghea, dadanya sesak luar biasa. Begitu juga dengan segala ketakutan yang entah mengapa membuatnya harus meneteskan cairan bening dari kelopak.
“Aku panggilin dokter, ya.”
“No!” pelan Ghea menjawab. Suaranya serak. Ternggorokan pun kering. Tapi Ghea tidak peduli soal tenggorokannya. Yang wanita itu pedulikan adalah ingatan terakhirnya.
“Atau … mau minum?” Gery sudah bergerak akan mengambilkan air minum untuknya sebelum lengan cowok itu ditahan Ghea.
“My baby?”
DEGH …
Dapat Ghea rasakan otot di pergelangan tangan Gery menegang. Tatap mata Ghea yang basah tertuju penuh harap akan sebuah jawaban. Harapan serta keyakinan.
“Mas,” panggil Ghea lagi. Suaranya masih belum berubah. Masih serak dan pelan. Bahkan bisa dibilang lemah. “Dia baik-baik aja, kan?”
Bukan hanya di otot pergelangan tangan saja Ghea dapat merasakan ketegangan. Namun, sekarang di mata Gery yang memancarkan kabut tebal.
“Eummm …” Cowok itu tidak bisa berkata-kata, malah bergumam. Apa yang harus Gery katakan? Sungguh pun, ia tidak akan bisa melihat raut kesakitan di wajahnya. Mengepalkan satu tangan yang menggantung di samping tubuh. Rahang mengetat dan digigit bibir dalamnya.
“Mas.” Ghea memanggil lagi. Panggilan yang lembut meski penuh kekhawatiran yang tersirat. Tangan Ghea yang memegang pergelangan tangan cowok itu naik untuk kemudian mengusapi pipi Gery.
Dinikmati Gery sentuhan lembutnya. Kasih sayang dapat Gery rasakan tersalur dari sana. Hatinya damai sampai kelopak matanya ikut terpejam. Menikmati usapan.
“Dia baik-baik aja, kan, Mas?” tanya Ghea lagi. Mengejar.
Ditarik Gery nafasnya. Walau bagai mana pun, Gery harus jujur. Meski jujur itu terkadang memang menyakitkan. Ia membuka kelopak mata kemudian. “Dia—“ Tangannya makin mengepal erat. Meluapkan emosi lewat itu. Sampai pula buku kukunya memutih.
“I know, hany.”
Gery mengerutkan kening sembari kepala bergerak samar.
Jari jempol Ghea bergerak lembut di bawah mata Gery. Tersenyum kemudian. Kedua netra saling bersitatap. Dan ada rindu yang berkilat di bola mata indah keduanya. Dengan Gery yang membalas senyum.
“Dari awal … aku gak yakin kalau kamu bakal memenuhi permintaan aku, Mas.”
DEGH …
Jantung Gery seakan ditikam kuat oleh runcingnya ujung pedang tajam. Tangan di samping tubuh itu mengepal lagi. Kali ini kepalannya lebih erat. Sampai pula kuku-kuku Gery menggerus telapak tangan. Walau sakit, akan tetapi Gery tidak merasakan itu. Seolah kesakitan itu sudah Gery kumpulkan dalam hati dan tidak bisa ia luapkan sebagai emosi.
Selain semua rasa itu, Gery turut mengencangkan rahang sebagai ekspresi menahan diri, agar tetap diam dan siap mendengarkan diksi apa yang akan wanitanya itu sampaikan.
Kemarahan?
Atau bahkan pula sebuah kata perpisahan?
TO BE CONTINUED
Note Seizy :
Apa kabar kamu untuk hari ini?
Aku harap kamu akan baik-baik saja.