
“Eummm, Mas, apa kamu punya musuh?”
Seketika mata Pak Gery membulat sempurna. Pun dengan jantungnya yang memukul dengan sangat keras. Ia diam sesaat menatap manik Ghea yang menuntut jawaban atas pertanyaanya. Entah dia harus jujur pada Ghea tentang siapa musuhnya atau Pak Gery harus bagaimana? Ia gamang. Feelingnya saat ini benar-benar kacau. Otaknya tidak bisa bekerja dengan sangat baik.
“Iya.” Tanpa sadar bibirnya berucap demikian membuat Ghea mengerutkan wajahnya tidak mengerti.
“Ya?” Ghea menatap serius Pak Gery kedua alis yang bertaut. “Maksud kamu …, kamu punya musuh? Kok bisa, Mas?” Rasa penasaran Ghea benar-benar berada dalam puncaknya. Ia beringsut. Membenarkan duduknya. Mengambil satu bantal lalu ia simpan di atas pangkuannya. Melipat kedua tangannya di sana. Ghea lagi-lagi menatap Pak Gery dengan intens.
Ditatap seperti itu oleh Ghea auto mendadak Pak Gery salah tingkah. Ia berdehem sembari memalingkan muka ke arah jendela kamar yang terbuka. Melepaskan kedua tangan yang tertaut, Pak Gery mengusap belakang kepalanya. Mengurut tengkuknya sebentar dengan salah tingkah. Dan Ghea dapat melihat tingkah Pak Gery yang tiba-tiba aneh itu.
“Mas?”
“Ya.” Spontan Pak Gery menoleh pada Ghea seraya melepas tangan yang berada di tengkuknya.
“Jawab!”
“Jawab apa?”
Ck. Boleh bilang gak kalau Pak Gery itu sangat menyebalkan? Pura-pura gak tahu atau bagaimana, sih, dia ini?
Ghea menghela sabar. “Itu tadi yang aku tanyakan ke kamu. Kamu punya musuh?” tanya Ghea lagi. Kali ini lebih memastikannya.
“Enggak!”
Ghea berdecak malas lalu memukul pelan paha suaminya itu, “ihh kamu, tuh, tadi bilang iya, sekarang nggak. Mana, sih, yang benar? Jujur aja napa, sih, Mas, sama aku! Jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku, deh! Aku, tuh paling benci kalau udah dibohongi.”
Siapa, sih, yang mau dibohongi? Semua orang juga pasti gak bakalan mau. Apalagi kalau udah dibohongi sama orang yang dicintai. Sakit, kan pastinya?
Pelan, Pak Gery menggerakan tangannya lalu meraih tangan Ghea. Menggenggam tangan cewek itu dengan erat. Pak Gery menatap Ghea dengan tatapan serius. Ada rasa sesal di dalam dadanya saat ini. Karena Pak Gery hanya tidak ingin Ghea merasakan sakit nantinya. Tapi Pak Gery juga tidak mungkin kan menyembunyikan semuanya lebih lama lagi? Apalagi tadi Ghea bilang jika dirinya benci dibohongi. Lantas, apa ini waktunya Pak Gery untuk jujur?
“Ghe …” Terlihat Pak Gery embuskan nafasnya dengan kasar. “Kamu harus percaya, ya, sama aku kalau aku gak mungkin khianati pernikahan ini!” Pak Gery menatap bola mata coklat Ghea. “Jika ada orang yang bilang tentang aku, tentang apapun itu kamu jangan percaya! Kamu hanya butuh percaya aja sama aku! Hem.” Lalu satu tangan tergerak menyentuh pipi Ghea. Mengelusnya dengan jari telunjuk seraya menarik satu bibirnya. Terpaksa.
“Jadi benar, ada yang kamu sembunyikan dari aku, Mas? Kamu beneran punya musuh?”
Pak Gery menggeleng pelan. “Suatu saat nanti aku bilang sama kamu kok. Tapi gak sekarang.”
“Kenapa? Kenapa gak sekarang aja? Kenapa harus nanti?” Mata Ghea menyipit. “Atau … jangan-jangan kamu punya selingkuhan, ya?”
Kenapa sekarang Ghea terlihat memfitnah suaminya itu?
Refleks dong Pak Gery mengibaskan kedua tangannya bersama gelengan di kepalanya. Enak saja Ghea menuduhnya seperti itu. “Nggak.”
“Ya, udah, kalau gitu kamu bilang sama aku sekarang! Kamu nyembunyiin apa dari aku?” Karena Ghea merasa penasaran. Apalagi saat ia mendapati sepercik tulisan.
Pak Gery diam.
Ghea berdecak. Melipat kedua tangannya di depan dada seraya menjauh dari tempat Pak Gery duduk. “Tuh, kan, pasti benar, kamu punya selingkuhan. Ck, dasar cowok. Emangnya gak kurang apa jika punya satu istri? Satu juga gak bakalan habis ini kan?” Ghea menggerutu tanpa menatap wajah Pak Gery.
“Gak ada yang gak mungkin, Mas.”
“Kamu gak percaya sama aku?”
Ya. Dimulai saat Ghea mendapatkan tulisan itu.
Oke. Ghea gak akan memaksa Pak Gery untuk jujur padanya. Ghea akan mencari tahu sendiri. Dan Ghea akan pastikan jika dia akan mendapat jawabannya dengan cepat apa yang sedang disembunyikan suaminya itu. Dan siapa musuhnya sampai Ghea yang tidak tahu apa-apa yang harus mendapatkan terornya. Lantas Ghea tidak lagi menjawab Pak Gery. Ia memilih diam dan mengalah, untuk sementara waktu.
**
Pagi harinya. Saat Pak Gery akan membuang pecahan kaca yang baru selesai ia bereskan lalu akan membuangnya ke tempat sampah yang ada di dapur, bel rumahnya berbunyi. Ia mendengar itu, tapi sedang tanggung mengikat plastik sampah.
“Ghe, bukain pintunya dong!” Lantas Pak Gery menyuruh Ghea yang sedang mengambil roti dan selai di lemari kabinet tempat penyimpanan.
“Iya,” jawabnya seraya menyimpan menu sarapannya itu di atas meja makan.
Dengan langkah gontai, Ghea berjalan ke arah depan. Seragam sekolah sudah melekat di tubuhnya. Sedikit mengumpat. Karena ini masih terlalu pagi untuk seseorang bertamu ke rumahnya. Lagi juga siapa, sih, orang itu? Ganggu Ghea dan Pak Gery pagi-pagi seperti ini?
Membuka lebar daun pintu yang menjulang di hadapannya, Ghea mengerutkan wajah. Pasalnya Ghea merasa heran dan tidak mengenal siapa orang yang sekarang sedang berdiri menghadapnya. Bertamu ke rumahnya.
Seorang wanita cantik, tinggi dengan rambut yang diikat ekor kuda. Berdiri di depan Ghea seraya mengumbar senyuman. Ghea tidak dapat melihat matanya karena kacamata hitam bertengger manis disana.
“Siapa?” Ghea bertanya sopan.
Jangan sampai ini selingkuhan suami gue!
Ghea bergumam dalam hati. Menampilkan wajahnya yang masam bersama kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Ia memasang wajah angkuhnya. Pasalnya ini cewek Ghea gak kenal. Terus perfect banget lagi. Usianya juga paling beda satu, dua tahun dari Pak Gery.
“Maaf, benar ini rumahnya Pak Gery Mahardika Putra?”
Tuh kan benar, pasti ini cewek selingkuhannya Pak Gery.
Sejak semalam saat Pak Gery tidak ingin jujur padanya, Ghea jadi merasa was-was sendiri. Jadi wajar dong kalau ia beranggapan jika cewek yang bertamu pagi ini ke rumahnya selingkuhan suaminya? Apalagi cewek itu menanyakan ‘benar gaknya ini rumah Pak Ger’.
“Iya. Kamu siapa, ya? Mau apa ketemu sama suami saya?” Oh rasanya Ghea sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya. Ia menjawabnya dengan nada yang ketus. Sopan gak, sih, sama tamu kaya gitu?
Ah masa bodo.
“Apa Pak Gery nya ada?”
Eh ini cewek bukannya ngejawab malah nanyain Pak Gery lagi. Sial.
Ghea ingin menjawab. Namun, suara dari dalam rumah membuatnya menoleh. “Siapa, Ghe?”
TBC