Married With Teacher

Married With Teacher
Terkurung


Rupanya seseorang yang bernama Gery Mahardika Putra bukanlah orang yang mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi. Melainkan sebaliknya. Kesabarannya, jika sudah menyangkut dengan orang-orang yang dicintainya hanyalah sebatas ujung kuku saja. Apalagi ini menyangkut tentang Ghea. Cewek yang paling berarti dalam hidupnya.


Selepas kepergian Adi dari rumahnya, Pak Gery beranjak. Kini cowok itu tengah duduk di tepi kasur bersama sebuah kotak persegi berwarna gold di pangkuannya. Ia membuka tutup kotak itu sebelum tangannya mengambil beberapa lembar foto yang ada di dalamnya. Pak Gery menarik sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan indah. Jari telunjuknya mengusap wajah yang ada di dalam foto. Kemudian terkekeh saat lembar foto kedua ia lihat dan kembali mengusapnya dengan jari telunjuk. “Cantik banget, sih, kamu, sayang.”


Dan saat matanya tengah asyik menikmati wajah cantik di dalam foto itu, tiba-tiba handphonenya bergetar. Satu pesan masuk dengan nomor tanpa nama. Pak Gery dengan cepat meraih handphone yang tersimpan di sampingnya. Lalu tangannya mencengkram handphone itu dengan sangat erat ketika membaca apa isi dari pesan tersebut.


“Bangsatttttt …” Pak Gery geram lalu membanting handphone itu ke dinding kamar sehingga layar depannya menjadi retak.


**


Di sisi lain.


“Gimana? Udah?”


“Beres. Semuanya aman. Udah gue kunci tuh anak seperti apa yang lo mau.”


“Tapi aman kan? Gak ada anak-anak yang lihat lo ngunci dia kan?”


“Aman. Tenang aja. Beres kok semuanya. Sesuai apa yang lo katakan aja tadi.”


“Bagus deh kalau gitu.” Lalu seringai pun muncul dengan sendirinya dari bibirnya.


“Tapi betewe, kenapa lo lakuin itu sama Ghea?”


Yura menoleh bersama lipatan kedua tangannya di atas perut. “Bukan urusan lo!” Setelah mengatakan itu ia berlalu tanpa memberi penjelasan apapun pada seseorang yang tadi disuruh Yura untuk mengurung Ghea di ruangan gelap nan kosong itu.


Orang yang disuruh Yura itu hanya mengedik acuh saja tanpa peduli karena itu bukan urusannya. Yang penting dia mendapat duit yang lumayan banyak hanya dengan mengunci Ghea di ruangan tersebut.


Jika dipikir, entah apa kesalahan Ghea pada Yura hingga cewek itu begitu tidak menyukainya. Padahal selama Ghea tahu pun, ia tidak suka mencari ribut dengannya. Oke, sesekali Ghea memang suka melakukan kejahilan pada teman-teman sekelasnya. Bukan pada Yura. Tapi itu dulu juga kan, sebelum Ghea menikah. Dan setelah menikah, sedikit demi sedikit Ghea merubah sikap buruknya itu.


“Ya Tuhan … pleace buka! Siapa aja yang ada di luar, tolong gue!”


Tidak putus asa, Ghea terus menggedor daun pintu itu. Berusaha agar bisa secepatnya keluar dari sana. Sampai telapak tangannya merah. Juga wajahnya yang terus putih memucat. Sesak, Ghea hampir tidak kuat lagi walau sedikit penerang dari senter di handphonenya yang ia nyalakan.


Ghea sudah berusaha menghubungi Reza, Tama dan Ocy. Tapi entah ini sangat kebetulan atau bagaimana. Tak ada yang menjawab teleponnya. Mungkin sepertinya mereka sudah masuk ke kelas. Dan sekarang Ghea harus apa lagi agar bisa keluar?


“Lagian siapa sih, tuh orang iseng banget narik-narik gue. Ngunci gue pula.” Nafasnya terengah. Ia ingin menangis, menjerit. Tapi tidak, Ghea tidak boleh menangis hanya karena terkurung di dalam ruangan sialan itu. Cukup hanya karena jatuh cinta saja ia menangis. Maksudnya, cukup hanya karena Pak Gery saja yang membuatnya menangis.


Lelah terus berteriak hampir suaranya serak. Ghea menyandarkan punggungnya pada daun pintu tersebut. Lagian, percuma juga kan terus berteriak? Gak ada orang yang denger ini.


Ah sial.


Memejamkan matanya sesaat sebelum Ghea melihat jam yang ada di layar handphonenya. Kemudian tak terasa air mata itu kembali terjatuh. Sial.


Ghea menyeka air matanya yang jatuh melewati tulang pipi. Sekarang Ghea malah berandai. Ditarik nafasnya dalam sebelum Ghea embuskan pelan-pelan. Menekan sesak yang kembali datang menghimpit rongga dadanya.


“Aku gak tahu apa salah aku sama kamu, Mas?” Dipandanginya wallpaper layar itu yang menampilkan wajah Pak Gery yang tengah tersenyum manis. Lalu diusapnya iris mata abu-abu yang selalu membuat Ghea jatuh dalam pesonanya. Turun pada bibirnya yang tebal yang selalu menjadi candu. Ghea mengingat rasa manis saat bibir itu menyecapnya. Lalu terkekeh dalam sebuah isakan.


Sekarang di dalam ruangan itu Ghea hanya bisa berandai-andai.


Andai Pak Gery tidak melakukan sebuah pengkhianatan padanya, mungkin saat ini juga Ghea langsung mendial kontak nomor sang suami. Meneleponnya. Meminta bantuan padanya. Tapi sayang, semua itu hanya bisa Ghea bayangkan saja. Ia tidak ingin harga dirinya terjatuh. Lagi.


**


Sementara dengan orang yang sekarang sedang memenuhi isi kepala Ghea. Ia tengah terburu-buru untuk memasuki kelasnya. Sepuluh menit bukanlah waktu yang sedikit untuknya terlambat. Dan ini semua dikarenakan cewek sialan yang sudah memancing emosinya.


Pak Gery setengah berlari setelah menyangkutkan helmnya di kaca spion motor sebelah kanan. Ia terburu-buru ingin segera masuk ke kelas. Namun, bukan karena merasa bersalah pada murid-muridnya yang sudah telat. Itu bukan alasan utama. Melainkan, matanya hanya ingin cepat-cepat melihat istrinya. Menatap lamat dan dalam mata beningnya.


"Tama, tolong kamu lanjutkan, ya! Ibu mau ngecek anak kelas sebelah dulu," kata Bu Novi. Ia meminta tolong pada sang ketua kelas untuk melanjutkan mencatatnya di white board. Karena tidak ingin anak-anak ribut di kelas, pun Bu Novi berinisiatif untuk menggantikan Pak Gery sebelum guru dengan sejuta pesona itu datang.


"Iya, Bu." Tama menjawab seadanya sambil berdiri mengambil alih apa yang tadi dikerjakan sang guru jutek itu.


Selepasnya Bu Novi berlalu. Pak Gery muncul dengan nafas yang sedikit berantakan. Ia mengatur embusannya ketika sudah berada di pintu kelas. Menarik nafas dalam lalu menyembunyikan semua gurat resah di wajahnya.


"Maaf saya telat." Pak Gery melangkah sesantai mungkin bagai tidak punya kesalahan apapun.


Hal pertama yang Pak Gery tangkap dengan matanya saat masuk. Mata abu-abunya itu tidak mendapati orang yang sedang ia khawatirkan ada, duduk di bangkunya.


Bangkunya kosong.


Kemana dia?


Please jangan sampai dia kenapa-napa!


Lalu sejuta pertanyaan dan sejuta rasa khawatir, pun dengan rasa bersalahnya memenuhi kepalanya.


TBC


Masih banyak kejutan di cerita ini sayang. spam next nya dong babe.


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi sedih karena abis ...