
Malam ini Pak Gery mendadak uring-uringan. Sedari tadi ia hanya gulang-guling di kasurnya saja. Sesekali juga ia bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang lalu kembali lagi untuk membaringkan tubuhnya dengan suara dengusan kecil.
"Kenapa gue jadi ngerasa bersalah gini, ya?" Ya. Tentu saja Pak Gery seperti itu karena Ghea. Cewek itu yang selalu membuat perasaannya tak menentu. Apalagi sejak Pak Gery mengantarkannya pulang dalam keadaan Ghea yang kesal. Cewek itu tidak berkata sepatah kata pun saat ingin turun dari mobil. Biasanya cewek itu sebelum meninggalkan Pak Gery akan mengoceh hal-hal yang tidak penting. Namun berbeda dengan tadi sore. Ghea benar-benar marah sepertinya. Gumamnya dalam hati.
Kemudian cowok itu turun dari ranjang. Ia membuka pintu kamar lalu berjalan menuruni setiap anak tangga rumahnya. Menghampiri Papa Dika dan Mama Dian yang sedang berada di ruang keluarga dengan layar datar menyala di depan sana.
"Pa, Ma, aku mau bicara," ujar Pak Gery seraya menghempaskan tubuhnya di sofa single depan Papa.
"Bicara aja, Ger!" Papa Dika yang selalu terlihat kalem itu menyesap tehnya yang cangkirnya ia ambil dari atas meja.
"Aku mau nikahin Ghea secepatnya dan gak mau nunggu lama lagi."
BYURRR
Tersentak kaget, Papa Dika sampai menyemburkan teh yang sedang ia sesap. Beruntung itu tidak mengenai Pak Gery yang ada di depannya. Sedangkan Mama Dian seperti sedang ketiban durian runtuh. Ia heboh sekali.
"Ah, serius kamu, Ger? Mama setuju." seru Mama Dian bersama senyumnya yang mengembang. "Bentar lagi Mama bakal punya cucu dong?" imbuhnya yang membuat Pak Gery tersedak udara.
Sedangkan di rumah Ghea yang sedang makan malam. Tiba-tiba cewek itu tersedak saat memasuki satu suap sendok nasi ke dalam mulutnya.
"Gak papa, Ghe?" Mama Sora menyodorkan air mineral padanya yang langsung ia terima. "Udah baikan?" tanyanya lagi. Ghea mengangguk. Mama Sora menghela. Lalu mereka melanjutkan makan malamnya lagi.
Kayanya ada yang lagi gibahin gue. Benak Ghea.
**
Sedangkan di tempat lain. Ocy dan Reza kini sedang berada di sebuah cafe. Yang sebelumnya tadi Ocy mengajak cowok itu untuk jalan.
"Btw tadi pas di kelas lo mau ngomong apa tentang Ghea?" tanya Ocy pada Reza sesaat setelah mereka mengobrol hal yang lain.
Menyedot jusnya, Reza mendongakan pandangannya ke arah Ocy. Lalu ia tersenyum setelah menyedot jus yang ada di atas meja.
"Ghea?" Reza mengernyit heran. Ia menyandarkan punggung pada sandaran kursi cafe. Bola matanya berputar seakan sedang mengingat apa yang akan tadi siang ia bilang pada Ocy.
Mengangguk pelan sambil menyedot minumannya, "iya. Tadi di sekolah lo katanya mau ngomong sesuatu tentang Ghea. Dia kenapa emang?"
Apa gue kasih tahu Ocy aja, ya, kalau Ghea ...
"Eum ... gue-"
"Hey? Lo berdua di sini juga?" tepukan tangan pada bahu Reza mengurungkan niatnya untuk berkata. Reza menoleh pada sosok yang menepuknya. "Tam? Lo di sini? Sama siapa? Ngedate lo?" Itu Ocy yang bertanya pada Tama.
"Haha ngedate dari mana gue? Gak ada muhrimnya gue," jawab Tama dengan kekehan seraya duduk di sana.
Awalnya Tama memang mau ngopi sendiri di cafe itu. Beruntung ia bertemu Ocy dan Reza. Jadinya ada teman kan.
"Gue gabung, ya?" Tama meminta izin.
"Udah mau balik kita mah, Tam." Ocy menjawab dengan candaan.
"Ngomong-ngomong yang lagi ngedate itu kalian, ya?" tebak Tama seraya memicingkan matanya. "Cie-cie ..." ledeknya bersama kekehan.
"Kalau Rezanya mau gue ajak ngedate, sih, ya gak papa," ujar Ocy setengah bercanda.
"Kode, tuh, Rez, kode!"
Reza tak menanggapi. Ia hanya menampilkan senyum miringnya saja. Jujur, Reza sudah curiga pada Ocy kalau dia punya felling padanya. Terlihat dari cara Ocy yang selalu perhatian padanya. Juga yang kadang selalu mengajaknya nongkrong di cafe. Namun Reza tepis semua itu, karena perasaannya masih lah pada Ghea.
Beberapa hari ini Reza menjadi seorang pendiam. Ia yang biasanya pecicilan, menjadi mendadak diam seribu bahasa itu karena Ghea. Biasanya ia akan selalu meledeki Ghea, sekarang sudah tidak lagi. Benar apa yang selalu dibicarakan orang. Awalnya benci lama-lama berubah jadi cinta.
Ya. Reza menyadari itu sejak awal masuk SMA. Menyadari jika Ghea begitu berbeda. Walau selebor dan kadang selalu melanggar peraturan. Tapi entah mengapa Reza baru menyadari jika Ghea begitu cantik dan apa adanya.
Tak lama coffee latte pesanan Tama datang. Ia langsung menyesapnya sedikit. Kemudian saat menyadari Ocy yang tengah menatap ke arah Reza yang sedang diam, ia menyenggol lengan Ocy sampai ia tersentak. "Jangan dipandang mulu. Kalau suka bilang aja!" Bisik Tama pada Ocy yang sontak mengubah rona di wajahnya. "Apaan, sih, lo?" Ya begitu, deh, kalau cewek. Malu-malu tapi mau.
Setelah minumannya habis. Dan tak lupa obrolan-obrolan kecil itu selesai. Ocy dan Tama pulang. Sedangkan Reza masih duduk terdiam di tempannya. Ia mengambil handphonennya di dalam saku celana lalu membuka satu aplikasi galery. Memandangi foto yang ia dapat tadi sore. "Apa gue terlambat, Ghe, jatuh cinta sama lo?" gumam Reza seraya menatap foto itu lalu beranjak. Ia keluar dari cafe itu. Namun saat di pintu cafe, tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang cewek yang sangat menjengkelkan bagi semua pria. Yura.
"Sorry, gue gak sengaja," ucap Reza meminta maaf pada cewek yang tersungkur jatuh di lantai cafe.
"Berengsek! Punya mata gak, sih, lo?" sungut Yura mendongak. "Reza?" tegur cewek itu.
"Eh, Yur. Sorry. Lo gak papa kan?" tanya Reza seraya membantu cewek itu berdiri.
"Gak papa. Lo ngapain di sini?" Suara lembut itu mampu saja membuat semua cowok meleleh. Namun berbeda dengan Reza. Hatinya seolah sudah tertutup oleh nama Ghea.
"Abis ngopi aja sama Tama tadi. Ya udah gue duluan!" Setelahnya Reza pamit. Ia segera berlalu dari sana. Namun saat Yura akan melangkah, tak sengaja kakinya menendang sesuatu. Lalu ia mengambil benda yang terjatuh di atas lantai cafe. Sepertinya itu milik Reza.
"Ini pasti punya Reza." gumam Yura. Dan betapa sangat terkejutnya ia, saat ponsel itu menyala. Menmpilkan satu foto yang membuatnya tercengang. "Ghea!"
**
"Kamu serius, Ger?" Papa Dika bertanya sekali lagi. Memastikan sang putra. Pasalnya dulu saat Papa Dika menawarkan langsung menikah saja, Pak Gery justru menolak untuk bertunangan dulu karena takut jika Ghea akan menolak itu.
"Serius, Pa," jawab Pak Gery mantab. Karena ia tidak mau Ghea sampai ada yang merebut darinya. Apalagi Pak Gery sudah beberapa kali melihat Reza yang berusaha menyatakan cinta pada Ghea. Bukan hanya itu saja. Saat Ghea kena hukum membersihkan kaca jendela sekolah lantai dua. Dan saat ia akan terjatuh. Pak Gery yang saat itu lewat tak sengaja melihat Reza yang tengah memeluk Ghea. Lalu seyelahnya Pak Gery menyaksikan Reza menarik tangan Ghea di toko perhiasan. Setelahnya Pak Gery melihat Reza datang ke rumah Ghea saat acara pertunangan akan di mulai dengan alasan ingin menjenguk calon istrinya. Dan tadi siang, ah, rasanya Pak Gery tidak bisa menahan cemburunya. Sampai-sampai ia menyakiti Ghea dengan cara menciumnya kasar.
"Beneran?" Papa Dika masih tidak yakin.
"Iya, Pa. Dan aku mau secepatnga. Bila perlu besok juga gak papa."
"Hah?"
TBC
Maafkeun tadinya semalam mau aku up. Cuma ketiduran aku teh. wkwkw.
Komen lagi ya. Sumpah kalau dapat komen banyak tuh bikin aku semangat ngetiknya. Btw jika suka dengan cerita ini, bantu share ya di akun sosmed man teman. Bantu rekomendasiin biar cerita ini makin rame. Makasih ):