
“Ada apalagi, sih, Di, sama Gery?” tanya Indah seraya meletakkan minuman untuk sang pacar di atas meja. Lalu duduk di depan Adi dengan meja bundar sebagai pembatas. Kini keduanya sedang berada di taman rumah Indah.
Adi mendesah pelan. Ia menegakkan punggungnya untuk meraih gelas yang berisi kopi yang tadi indah bawakan. “Nyebelin gak, sih, dia, Indah? Masa dia nyuruh aku buat cariin bodyguard sekarang juga. Dan besok pagi harus udah ada di rumahnya. Gak mikir banget, deh, si Gery itu. ini kan udah mau malam. Gak sabaran banget. sumpah. Ya ampun!”
“Emang ada masalah apalagi, sih, sampai Gery mau sewa jasa bodyguard segala? Apa karena--” Indah menatap Adi dengan intens. Ia tahu masalah apa yang terjadi pada teman sekaligus sepupu pacarnya itu. Indah melipat kedua tangannya di atas meja bundar tersebut. Tubuhnya condong. Harap-harap cemas menanti jawaban dari Adi.
“Iya, karena itu. Tadi di rumah Om Dika si Gery sempat ngomong sama aku mau kasih Ghea bodyguard, tapi Ghea nolak. eh sekarang tiba-tiba malah minta lagi. Kayaknya, si 'dia' buat masalah lagi, deh, Ndah, sampai Gery kalut gitu. duh aku kok jadi khawatir berlebihan gini, ya, Ndah?” ucap Adi bersama tampang khawatir yang kentara di sana.
“Di, apa gak sebaiknya kita omongin ini sama Tante dan Om aja? Biar Om juga bantu Gery sama Ghea?” Indah memberi usul, yang langsung dijawab gelengan kepala dari Adi. “Jangan!”
Indah mengernyit.
Adi yang sempat meneguk kopinya hampir saja tersedak. Lalu dengan cepat ia menelan itu. Kemudian menyimpan cangkirnya kembali ke atas meja. “Maksud aku gini.” Adi mengikuti gaya Indah yang tubuhnya sedikit condong dan kedua tangan yang terlipat di atas meja. “Om sama Tante jangan dilibatkan dulu, takutnya mereka akan khawatir sama Gery nya. Ini yang aku tahu kayaknya belum sampai menjurus ke suatu yang bahaya banget. Nanti, deh, kalau udah genting kita kasih tahu Om dan Tante!”
Indah mengangguk paham.
Namun, Adi tidak tahu saja jika Ghea sudah mulai merasa ketakutan. Apalagi sejak ia menerima teror boneka beruang berdarah yang tertusuk tiga jarum tadi sore.
Sementara di tempat lain.
Pak Gery yang baru saja membaca pesan dari nomor tanpa nama, ia menggeram dalam hati. Menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok makhluk yang jelas Pak Gery tahu siapa itu. Namun, nihil. Walau pandangan Pak Gery mengedar ke sekitaran rumahnya, tidak ada sosok itu. Sosok yang sangat menyebalkan bagi Pak Gery, atau bahkan lebih dari kata menyebalkan.
Dirasa memang tidak menemukan sosok itu, Pak Gery melihat bungkusan plastik hitam di tangannya. sebungkus bakso yang Ghea tunggu, Lalu ia langkahkan kakinya menjauh dari mobil yang terparkir di carport. Masuk ke dalam rumah menuju ke dapur.
Dan sebuah kejutan pun Pak Gery dapatkan di sana. Tepat di halaman belakang yang bersisian dengan dapur. Pak Gery mendapatkan pecahan kaca yang berserakan di atas lantai. Pak Gery semakin menggeram. Mengepalkan tangannya dengan erat. Apalagi saat pandangannya mendongak dan melihat jendela di depan sana sudah tak berkaca.
“Sialan!” decak amarahnya yang sudah tidak tertahan lagi.
Oke, saat ini Pak Gery membiarkannya saja dulu pecahan-pecahan kaca itu. Nanti ia akan membereskannya setelah memberikan bakso yang sudah dingin pada Ghea.
Pak Gery melangkah dengan sangat hati-hati, melewati pecahan-pecahan kaca tersebut. Mendekat ke arah ranjang wastafel, Pak Gery mengambil panci kecil dari lemari kabinet. Menyimpan benda itu di atas tungku kompor lalu menghangatkan sebungkus baksonya.
**
Sedangkan di dalam kamar, Ghea kembali diam dengan pandangannya yang kosong. Ia hanya menatap ke arah luar jendela kamar yang terbuka. Lalu ia ingat pada kepalan kertas dengan seuntai kata yang mengatakan jika suaminya adalah seorang pembohong.
Ia menyingkap bantal sebelum kemudian ia ambil kertas yang sudah kusut itu. Ghea membukanya dengan jantung yang berdebar cepat.
“Apa maksud tulisan ini?” gumam Ghea pada dirinya sendiri. Ekspresi wajahnya mengerut dengan alis yang tertaut. Ia menatap nanar tulisan diatas kertas itu. Berpikir keras dengan semua kejadian yang sudah menimpanya hari ini.
“Siapa orang yang udah kirim teror itu ke gue? Aneh. Perasaan gue gak punya musuh, deh.”
Dan seketika itu Ghea teringat akan Pak Gery yang ingin menyewa jasa bodyguard untuk menjaganya. Ghea jadi berpikir, apa karena ini? Apa sebenarnya yang punya musuh itu Pak Gery? Ghea mulai berspekulasi dengan dirinya sendiri.
Ceklek …
Ghea tersadar saat suara pintu terbuka lalu mengalihkan pandangannya pada daun pintu. Dimana Pak Gery muncul dari luar bersama semangkok bakso di tangannya. Juga uap dari kuah bakso yang masih mengepul. Pak Gery tersenyum. Namun Ghea, cewek itu dengan cepat kembali menyembunyikan kertas di bawah bantalnya.
“Lama, ya?” Pak Gery bertanya sembari mendekat lalu duduk di kasur, tepat di samping Ghea yang duduk menyila.
“Ini tadi aku angetin lagi baksonya.”
“Oh.”
“Ya, udah kamu makan dulu, deh! Nanti keburu dingin lagi baksonya,” katanya pelan. “Atau mau aku suapin?”
“Boleh!”
Suap demi suap bakso yang Pak Gery masukan ke dalam mulutnya begitu sangat dinikmati oleh Ghea. Ternyata benar kata orang, makan dari tangan orang lain begitu enak dan nikmat. Apalagi dari tangan orang yang kita cintai. Sungguh, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?
“Laper banget, ya, kamu?” Pak Gery bertanya setengah bercanda saat suapan terakhir bakso yang Ghea habiskan.
“Ya, lah, Mas. Dari tadi siang aku, tuh, belum makan,” ujarnya Ghea setelah menelan bakso terakhirnya.
Pak Gery mengumbar senyum, mengusak kepala Ghea. Ia bangkit ingin menyimpan mangkuk bekas itu ke dapur. Namun, tangan Ghea menahannya.
“Kenapa?” Pak Gery bertanya. Ia urungkan langkahnya. Lalu kembali duduk di tempatnya semula dan malah menyimpan mangkuk tersebut di atas nakas.
“Aku mau tanya, Mas,” ucap Ghea yang dijawab anggukkan kepala dari Pak Gery.
“Mas …” Ghea seakan ragu untuk bertanya pada suaminya itu.
“Kenapa, sih? Kamu mau ngomong apa? Hem?” Dan Pak Gery menyimpan kedua tangannya yang tertaut di atas pahanya. Ia menatap Ghea dengan seksama. Membuat Ghea salah tingkah jadinya.
“Eummm, Mas, apa kamu punya musuh?”
DEGH!
DEGH DEGH DEGH
DEGH DEGH
TBC
maafkeun aku yang telat update. wkwk
Jangan lupa kasih dukungan buat cerita ini ya. Kasih vote juga biar makin cemangat akunya!
BTW baca juga cerita aku yang lain.
-My enemy is my love (Tamat)
-Zeasy (Tamat)
-Harta Tahta Alia (On going)