
Senyummu bagaikan langit malam yang indah yang dihiasi bulan dan bintang. Tanpa kedua itu langit hitam nan kosong.
Seperi itulah perasaanku yang tidak melihat senyummu.
Gery Mahardika Putra
****
Malam harinya. Ghea terus saja uring-uringan tidak jelas di dalam kamarnya. Ia tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Sudah beberapa kali cewek itu turun dari ranjang lalu kembali lagi baringan sesekali menggigit kukunya. Sedangkan Pak Gery berada di lantai bawah tengah mengerjakan yang Ghea sendiri pun tidak tahu, karena sejak pulang dari sekolah cowok itu begitu sangat sibuk dengan laptopnya. Seakan tidak ada waktu untuk istirahat apalagi untuk menemani Ghea yang tengah dilanda kegalauan.
Kepala Ghea yang sibuk memikirkan perkataan Reza dan Tama sewaktu di kantin tadi siang. Selain itu Ghea pun merasa ada yang aneh dengan sikap Ocy yang diam tidak banyak bicara. Biasanya cewek itu akan selalu paling heboh jika Ghea sedang dalam kebingungan. Seperti saat ini contohnya, Ghea yang amat teramat penasaran, siapa pelaku penyebar foto itu?
Merasa hati dan pikirannya tidak baik, lantas Ghea turun dari ranjang lalu keluar kamar.
“Mas …” Ghea menghampiri Pak Gery yang ternyata ada di ruang tengah seraya memangku laptopnya.
Pak Gery menoleh. Menghentikan gerakan jari-jari lentiknya itu di atas keyboard. “Hey. Kok belum tidur? Kenapa?” Mengarahkan tangannya pada Ghea agar cewek itu duduk di sampingnya.
Ghea menerima uluran tangan Pak Gery. Namun bukan untuk duduk di sofa samping sang suami, melainkan duduk di atas karpet bulu berwarna marun. Tepatnya di bawah sofa.
Pak Gery membiarkannya saja. Apalagi ketika kepala Ghea bersandar di atas lututnya. Dengan gerakan pelan tangan Pak Gery mengusap kepala Ghea naik turun. Ia tidak menanyakan istrinya itu kenapa lagi. Hanya usapan di kepalanya saja seakan Pak Gery sudah tahu jika Ghea sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sedang pandangan Pak Gery tetap fokus pada layar di depannya yang tersimpan di atas meja kaca.
“Mas,” panggil Ghea masih tidak mengubah posisinya.
“Hem,” pun dengan Pak Gery yang hanya bergumam sebagai jawaban menanggapi panggilannya. Mata masih fokus pada layar sesekali tangannya menggeser kursor laptop. Ghea tidak mengerti apa yang sedang suaminya itu kerjakan. Atau sedang mengecek apa, Ghea tidak ingin tahu. Namun sepertinya bukan kerjaan di sekolah yang sedang Pak Gery urus itu.
“Menurut kamu siapa sih yang nyebarin foto - foto itu, Mas?”Dan Ghea dapat merasakan gerakkan tangan Pak Gery diatas kepalanya berhenti mengusap. Lalu ia mendongak karena itu. Menatap mata abu abu-abu yang masih fokus pada layar laptop.
“Mas.” Ditegurlah suaminya itu karena hanya diam saja.
Lalu Pak Gery menundukkan bulu matanya. Menatap Ghea dengan tatapan tak terbaca. “Kenapa tiba-tiba bahas itu lagi? Bukannya semuanya udah beres?”
“Mas, kamu tahu gak kalau Reza waktu itu gak sengaja ambil foto kita.”
“Terus?” Tangan kekar dan besar itu lalu mengusap sisi wajah Ghea dengan penuh kelembutan dan Ghea merasakan kasih sayang Pak Gery yang amat besar.
“Aku udah nuduh dia yang nyebarin foto-foto itu di mading,” ujarnya, kemudian menundukkan kembali bulu matanya. Seolah perasaan Ghea merasa bersalah karena sudah menuduh Reza.
Bukan maksud menuduh, tapi yang Ghea tahu hanya Reza yang punya foto-foto tersebut.
“Terus gimana sama feeling kamu?”
Menggelengkan kepalanya, Ghea mendongak. “Hati aku gak yakin kalau Reza pelakunya, Mas.”
Rambut Ghea dibiarkan tergerai. Dan Pak Gery merapikan anak rambut yang menempel di sisi wajahnya lalu menyelipkan ke belakang telinga. “Kalau hati kamu bilang bukan, ya berarti bukan. Coba percaya dan yakin dulu sama feeling kamu. Karena yang aku tahu feeling itu selalu kuat dan benar!”
“Tapi aku malah menyuruh Reza buat buktiin kalau dia bukan pelakunya, Mas. Aku keterlaluan gak sih udah gak percaya sama sahabat aku sendiri?”
Pak Gery menggelengkan kepalanya seraya menangkup sisi wajah cewek itu. “Nggak!”
**
Di tempat lain.
Adi dan Ilham sedang duduk di sebuah bar. Keduanya sama-sama sedang menikmati sebuah minuman berwarna merah keunguan. Lalu Adi tergelak saat Ilham menceritakan dirinya yang ditolak mentah-mentah oleh seorang cewek. Lebih tepatnya menertawak cowok itu.
“Lo sih, belum kenal lama juga udah main tembak-tembak aja. Untung tuh cewek kagak mati ditembak elu, Ham.” Adi mengangkat gelas kecil lalu menempelkan bibir gelas ke bibirnya. Meneguk minuman itu sedikit.
Ilham menggeleng saat merasakan minumannya melewati tenggorokannya.
“Dia beda banget soalnya, Di. Pertama gue lihat, gue udah tertarik sama tuh cewek. Penampilannya cool banget. Gue suka yang model begituan, Di.” Seraya mengangkat gelas kecil yang sudah kosong ke depan wajah Adi.
Adi berdecak. “Gue pikir lo suka sama si Dita, Ham?”
Ilham menggeleng. “Gak. Gue tuh cuma kasihan doang sama Dita.”
Ilham diam sebentar. Cowok dengan t-shirt hitam yang dibalut jaket parasut itu tidak langsung menjawab. Pandangannya kosong menatap gelas yang sudah disimpan di atas meja bar. “Gue kasihan sama nyokapnya,” katanya pelan. Dan Adi hanya menaik turunkan kepalanya. Paham dengan sifat karibnya yang satu ini.
“Eh, lu sama Indah gimana?” tanya Ilham. Tepatnya mengalihkan obrolan.
“Gue udah didesak buat married sama nyokap bokapnya.”
“Terus? Lo masih nunggu apaan? Lagian wajar lah nyokap bokap Indah ngedesak elu, kalian udah lama juga kan pacarannya? Masih nunggu apa lagi?”
Kepala Adi menunduk. Bukannya tidak ingin cepat-cepat, tetapi masih ada banyak hal yang harus cowok itu lakukan.
“Etdah … malah ngelamun. Kuda banget lo sumpah,” Ilham terkekeh seraya menuangkan lagi minuman dari botol ke dalam gelas Adi dan gelasnya.
“Gue masih punya tanggung jawab atas kebahagiaan Gery,” sahut Adi lirih.
“Dia udah bahagia, Men,” sahut Ilham menyimpan botol minuman ke atas meja. Kemudian meraih gelas kecil lalu mengangkatnya pada Adi.
Adi mengikuti gerakan Ilham sebelum ia meneguk minumannya sampai habis. Adi menggelengkan kepalanya. “Belum. Masih banyak rintangan yang belum selesai Gery dan Ghea hadapi, Ham,” kata Adi penuh dengan teka-teki. Membuat Ilham mengerutkan keningnya dalam. Bukan karena ia habis meneguk minumannya, namun karena ucapan sahabatnya itu.
“Apa lagi sih? Si Dita kan udah tobat. Udah gak neror hidup mereka lagi.”
“Pokoknya adalah. Pokoknya lo gak perlu tahu. Tapi kalau gue butuh bantuan lo, elo kudu siap bantu!” ujar Ilham masih penuh dengan misteri. “Chacha juga.” Maksud Adi adalah jika Chacha juga ikut dalam kasus yang satu ini.
“What? Chacha?”
“Yap.”
“Bangsat lo. Lo udah ngebahayain dia, bege.” Ilham merasa tidak terima. Ah atau jangan-jangan karena ini Chacha sudah menolaknya. Soalnya pas Ilham mengungkapkan perasaannya pada Chacha, cewek itu justru menolak karena hanya ingin fokus pada pekerjaannya saat ini.
“Santai kali. Dia udah profesional dalam hal apapun. Apalagi cuma hal kecil beginian doang.”
Ilham menggelengkan kepalanya. “Gak bisa! Gue mesti kasih si Gery pelajaran nih. Gara-gara dia gue udah ditolak cewek. Bangsat emang gue punya temen.” Nafas Ilham memburu. Sedangkan Adi tergelak di tempat duduknya. “Ah kagak. Tuh anak mesum bukan teman gua lagi,” ujarnya menggebu-gebu. Seolah Pak Gery sudah merampas sesuatu darinya.
Ya merampas cewek yang sebenarnya memang punya perasaan yang sama dengannya. Namun karena tugas yang Pak Gery berikan pada Chacha membuat cewek itu menolaknya.
Sial.
**
“Selamat malam.” Pak Gery memberikan kecupan selamat tidur di kening Ghea setelah menyelimuti tubuh cewek itu.
Ghea tersenyum tipis. “Temani aku sampai aku tidur ya, Mas!” pintanya yang langsung mendapat anggukan dari kepala Pak Gery. “Iya,” jawabnya seraya mengusap sisi wajah Ghea dengan penuh kasih sayang.
Sampai mana Pak Gery akan bisa melihat senyum tulus dari wajah cantik Ghea? Lalu apa mungkin senyum itu masih akan Pak Gery lihat setelah Ghea mengetahui siapa sebenarnya sang pelaku penyebar foto.
Tidak!
Pak Gery tidak akan pernah menghilangkan senyum indahnya. Karena tujuan Pak Gery hidup adalah melihat senyumnya.
Tangan Pak Gery kemudian turun pada bibir Ghea yang terkatup. Pandangannya mengikuti lengkung garis bibirnya lalu mengusap itu dengan jari panjangnya. “Aku ingin terus melihat bibir ini tersenyum untukku. Dan untuk dunia kita, sayang.” Dikecuplah bibir yang terkatup itu dengan bibirnya secara singkat.
“Aku sayang kamu.” Bisiknya pelan. Seolah tidak ada yang boleh mendengar itu selain dirinya.
TBC
Alhamdulillah kang ngetik amatiran bisa double up juga.
Terimakasih yang udah kasih semangat buat aku.
Terimakasih yang selalu menunggu dan selalu setia,
Aku bersyukur karena ternyata cerita sederhana dan amatir ini masih ada yang nunggu.
Maaf karena masih banyak kekurangannya.
Seizy
Kang ngetik amatiran yang baru makan dari pagi. hihii ILY for kamu yang sudah baca.