Married With Teacher

Married With Teacher
Ghea Pingsan


Bel tanda istirahat sudah berbunyi. Semua murid menutup buku catatan mereka lalu kembali memasukannya ke dalam tas.


Ocy yang saat itu masih duduk di kursinya sambil memainkan handphone setelah memasukan bukunya. Tak sengaja pandangannya mendapati Reza sang ketua OSIS masih duduk dengan wajah yang menunduk.


"Rez, tumben lo gak langsung keluar kelas?" Karena biasanya saat bel berbunyi, Reza akan langsung keluar kelas dengan tujuannya kantin.


"Lagi malas gue," jawab Reza masih dengan posisinya. Lalu Ocy menghampirinya dan duduk di kursi samping cowok itu.


Ia tatap wajah Reza yang lusuh dan tidak bersemangat itu. "Lo kenapa?" tanyanya penasaran. "Sakit?" Uh perhatian sekali Ocy ini pada Reza.


Tentu, karena sejujurnya cewek itu sudah mengagumi sosok sang ketua OSIS.


"Gak." Reza menjawab acuh. Lalu ia mengubah duduknya setengah miring menghadap Ocy. "Gue mau nanya sama lo," sahutnya, yang dijawab kernyitan heran dari Ocy. "Ghea," ujar Reza.


"Kenapa Ghea?" Ocy bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


Ragu untuk mengatakannya pada Ocy, Reza memicingkan kedua matanya dengan bibir yang mengerucut.


"Oy." Ocy menepuk bahu Reza, "Ghea kenapa?"


"Gue ... gue-"


"Rez, lapangan yok, anak IPS lagi main volly noh." Tiba-tiba teman Reza yang lain masuk ke dalam kelas. Membuat kedua pasang mata yang ada di sana menoleh padanya.


"Anak IPS?" Reza mengulang.


"Kelompok Ghea sama Yura," ujarnya penuh semangat. "Pasti seru, men. Ck, ayo lah buruan!" Sambil menarik kedua bahu Reza. Meninggalkan Ocy yang berdecak kesal pada teman Reza yang juga teman satu kelasnya itu


**


Benda berbentuk bulat itu melayang terus ke udara saat tangan dari tangan saling mengoper melempar. Posisi Ghea yang berada di depan membuat cewek itu benar-benar merasa tenaganya akan terkuras habis. Apalagi siang ini matahari begitu terik menyinari.


Berulang kali Ghea mengelap keringat yang mengucur di kening, pelipis sampai rahangnya dengan lengan baju pendeknya.


Kelas Yura yang siang ini menjadi lawan main team Ghea membuat Ghea lagi-lagi berdecak saat Yura berhasil mencetak poin.


Pak Gery yang siang ini mengganti guru olahraga yang tidak masuk hanya mengamati di sisi lapangan. Ia tidak mengganti pakaiannya. Kemeja abu muda dengan celana formal hitam semakin membuat wajah Pak Gery cerah. Apalagi saat cahaya sang surya nampak menyeroti wajahnya. Ia berdiri di sisi lapang dengan kedua tangan yang menyila di dada.


Ghea sampai dimarahi teman satu teamnya karena Ghea tidak bisa menahan bola dengan mengopernya.


Team Yura begitu sangat menjengkelkan bagi Ghea. Hingga saat lemparan bola itu berhasil Ghea cegah, dan saat itu pula team Ghea yang mencetak poin.


"Ck, lo jangan seneng dulu, Yur, gue tadi, tuh, sengaja ngalah dulu, biar tenaga lo semua terkuras," ujar Ghea nyeleneh dengan seringai di bibirnya. Tapi yang sejujurnya, tenaga Ghea lah yang sudah terkuras karena cuacanya siang ini. Rasanya ia ingin merendamkan tubuhnya di bathub saja dengan meresapi aroma lemon yang sangat menyegarkan baginya.


"Lo payah ya, payah aja, Ghe. Dasarnya kan lo begoo gak bisa main," balas Yura tak kalah tajam dari Ghea. Malah sangat tajam dari sebuah silet.


"Lo kalau ngefans sama gue jujur aja kali, Yur!"


Yura hanya melengkungkan bibirnya ke bawah seraya mencebik dengan meledek. Lalu Ghea tanpa persiapan di kedua tangannya, Yura yang saat itu melempar bola ke arah lawan dengan kuat, hingga bola itu terbang ke udara dengan sangat tinggi. Sampai bola tersebut mendarat dan mengenai wajah Ghea.


"Ghea!"


Kontan kepala Ghea langsung berdenyut merasakan nyeri di area pangkal hidungnya. Seketika itu Ghea terjatuh terlentang di lapangan.


Semua teman-temannya yang ada di sana langsung menghampiri Ghea yang sudah tidak sadarkan diri. Ghea pingsan.


Kemudian Pak Gery berlari. Ia menerobos kerumunan anak-anak yang mengelilingi Ghea. Panik dong Pak Gery, sampai-sampai rahangnya terbuka dengan bola mata yang membola. Tak banyak bicara, ia berjongkok dengan satu lutut bertumpu.


Namun saat tangan Pak Gery akan memangku Ghea, tangan lain juga ikut terulur untuk membopong cewek yang pingsan itu.


Reza yang saat itu baru sampai di lapangan Volly, kaget. Kenapa ada kerumunan gitu? Pikirnya. Lalu tercengang saat melihat Ghea lah yang terbaring di atas lapangan.


Kedua manik mata cowok itu saling menatap tidak suka. Mereka beradu pandang dengan sorot yang tajam.


"Pak, ayo bawa Ghea ke ruang kesehatan!" Teman yang menjadi satu team Ghea tadi menyadarkan tatapan Pak Gery dan Reza yang saling menghunus.


"Biar saya saja, Pak," ujar Reza menyimpan telapak tangan di belakang leher Ghea lalu menyimpan telapak tangan satunya lagi pada bawah lututnya. Reza mengangkat tubuh itu. Membanya menuju ruang kesekatan.


Pak Gery hanya melongo di tempat. Ia mengepalkan kedua tangannya yang tersimpan di sisi tubuhnya dengan rahang yang mengeras. Sedangkan anak-anka sudah tidak berkerumunan lagi.


TBC