Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 42


Satu hal lagi yang paling menyakitkan adalah mendengar saat orang yang kita cinta dalam keadaan kondisi tidak baik-baik saja. Bahkan bisa di kata buruk.


Tidak dapat menemukan kata tepat selain tersiksa.


Selain pukulan di jantung, sebuah hantaman batu besar tepat mengenai dada. Ghea merasa luar biasa sesak. Goresan luka kemarin saat dokter mendiagnosa saja belum pulih dan malah sering kali terpikir Ghea. Dan sekarang…


Oh Tuhan …


Sungguhpun, ini apa lagi?


Diusap Ghea air mata mengalir di pipi yang tidak dapat dihentikan menggunakan usapan tangan. Bak air terjun terus mengalir tak ada habisnya. Untuk kesekian kali dunia Ghea hancur.


Deru nafas cepat bercampur sesak sama seperti dengan deru suara mesin mobil yang berjalan. Cepat. Seakan kaki panjang berotot itu tidak pegal menginjak pedal gas di bawah sana.


Dapat dirasakan Ghea malah kecepatan itu seperti sedang mengemudi di arena balap internasional.


Jalan tol lurus ini pun seakan memberi izin Gery untuk mengemudi seenak yang dimau. Layaknya, Gery mempunyai nyawa cadangan saja.


Sejak Mama Dian memberi tahu kondisi Papa Jordan lewat telepon, rasa tidak nyaman benar-benar membuat Gery hampir gila. Apalagi melihat sang wanita yang duduk di sampingnya terlihat seperti seorang anjing liar yang tertabrak.


Ghea berantakan. Bahkan sangat.


Wajah Gery menoleh sekilas pada Ghea sebelum tatapannya kembali pada jalan di depan.


Hatinya hancur. Gery tentu pula dapat merasakan hal sama dengan Ghea. Karena Papa Jordan sudah ia anggap layaknya Papa kandung sendiri.


"Ghe…" panggilan lembut sekaligus lirih, Gery menyambar tangan Ghea yang berada dalam pangkuan. Melepaskan cengkraman di gaun sutra yang sudah terlihat tidak berbentuk lagi. Ia menggenggam untuk kemudian. Memberikan ketenangan sekaligus damai.


Namun, malah itu tidak berefek-efek apa-apa untuk Ghea. Justru dadanya merasa lebih sakit.


"Aku takut, Mas," ucap Ghea pelan. Getaran di bibir tidak dapat disembunyikan. Lalu, diusap Ghea air mata yang bandel tidak mau berhenti itu menggunakan punggung tangan lain yang tidak disentuh Gery.


Demi apa! Ghea sempat mendengar kalimat Mama Dian yang dapat menjungkir balikan hidupnya dalam sekejap. Jika, kondisi Papa semakin buruk. Malah dokter dengan seenaknya mengatakan Papa tidak dapat bertahan. Mereka harus mencabut semua alat yang terpasang.


"Papa bakal baik-baik aja, sayang. Kita berdoa, ya!"


Ya. Itu sedari tadi juga Ghea lakukan. Nurani tidak lepas untuk memohon pada sang pemilik kehidupan dan kesempatan. Jikanya, semoga Papa mendapatkan kedua hal itu lagi.


Kehidupan baru. Dan kesempatan untuk melihat cucu.


Pukul empat, mobil yang dikendarai Gery sampai di Bandung. Dan waktu itu seakan lama untuk Ghea rasa. Pukul empat tiga puluh, mobil sedan itu memasuki kawasan gedung bertingkat dengan warna putih mendominasi keseluruhan.


Bersama perasaan gelisah, mobil itu melewati portal. Lalu berhenti di area parkir yang kosong.


Belum juga Gery mematikan mesin, Ghea sudah membuka seatbelt dan membuka pintu lalu keluar.


"Ya ampun, Ghea!!!" Teriak Gery yang tidak ngeh. Melihat Ghea yang sudah berada di luar, bahkan langkahnya sudah jauh dari badan mobil. Sempat pula Gery melihat langkah Ghea berhenti. Punggung lemah itu membungkuk. Dan Gery tahu apa yang Ghea rasa.


Perutnya.


Bersama kekhawatiran dalam benak, Gery melepas seatbelt. Buru-buru membuka pintu menyusul Ghea yang sudah kembali melangkah tertatih. Sampai ia menekan tombol kunci mobil saat jaraknya sudah beberapa langkah dari kendara besi tersebut. Hampir saja cowok itu lupa.


"Ghea!" Panggilan itu benar-benar diacuhkan Ghea. Seperti menulikan pendengarannya, Ghea terus melanjutkan langkah.


Bahkan pula petugas yang bertanya padanya tidak didengarkan wanita itu.


Mungkin akibat kelengahan Ghea, ia sampai lupa dengan kondisi dirinya sendiri. Saking khawatir pada Papa dan keinginan Ghea untuk bertemu.


"Maafin Bunda, sayang." Bibir bawah itu Ghea gigit. Kenapa pula rasa nyeri harus muncul di saat seperti ini?


Lalu, rangkulan lembut Ghea rasakan di kedua pundak.


"Sshhh…" desaah Ghea menahan sakit. "Mas," ucap Ghea dikira kedua tangan yang merangkul itu adalah milik sang suami. Sembari wanita itu masih tetap dalam posisi punggung setengah membungkuk.


"Lo kenapa, Ghe?" Suara itu milik Alvin. Kekhawatiran terlalu kentara di mimik wajah cowok dengan tubuh terbalut jas putih khas kedokteran.


Ditolehkan wajah kusut sekaligus pucat Ghea ke sisi dimana Alvin berdiri setengah membungkuk di sana. Dengan kedua tangan masih merangkul kedua bahunya.


"Alvin?"


Tidak usah Alvin tebak Ghea kenapa, selain wajah yang dimiliki Ghea sekarang dapat memberitahunya, sekaligus pula dari nada suara gemetar itu Alvin dapat mengetahui. Lalu, untuk kemudian cowok itu berfikir. Mencari kosa kata apa yang tepat cara mengatakan semua hal tentang Pak Jordan padanya.


"Ghe…," Ditatap Ghea seperti ingin membunuhnya membuat Alvin ciut. "Gue…" Lidah Alvin tidak mampu bergerak. Semua kalimat seakan hilang ditelan ketidaktegaan.


"Gue kecewa sama lo, Vin." Dapat Alvil lihat mata Ghea merah juga basah. "Lo udah janji kan bakal jaga bokap gue?! Lo juga janji sama gue bakal sembuhkan Papa…" Jemari Ghea terkepal di sisi tubuh. Sekarang, wanita itu sudah berdiri tegak meski denyut nyeri masih terasa.


Berusaha mengesampingkan rasa itu, kepalan tangan Ghea memukul bahu Alvin sebagai pelampiasan.


"Sorry, Ghe," lirih Alvin berkata.


Wajah cowok dengan jas putih itu mengedar. Masih pula mengukir sudut bibir tatkala ada beberapa rekan kerja melewati lalu menyapa dengan tersenyum.


"Ghe, mending sekarang lo lihat Pak Jordan dulu, ya!" Atensi Alvin kembali padanya. Ia hanya mampu menatap lekat-lekat wajah sendu itu.


Perasaan tidak tenang, cemas, resah, gelisah. Semua itu beraduk di dalam sanubari. Sungguh pula akan kenyataan pahit harus Ghea terima. Namun, demi Tuhan, ia tidak siap. Benar-benar tidak siap.


"Bu Sora dan keluarga lo udah nunggu di sana."


"Papa masih di ruang ICU kan, Vin?" Pertanyaan Ghea yang tidak mampu Alvin jawab.


Cowok itu kembali terdiam. Hanya menghela nafas dengan rasa kasihan melanda.


Gue harus ngomong gimana sama lo, Ghe? Meski Pak Jordan masih di ruang ICU, tapi gue gak yakin jika lo akan sanggup melihat tubuhnya yang sudah kaku. Dan gue tahu lo bakal ngerasa gak kuat menerima semua kenyataan ini, Ghe.


"Vin?!"


Dianggukan Alvin kepalanya samar. "Hemm… Ya. Pak Jordan masih di ICU. Tapi, Ghe…" Alvin terdiam. Lagi. Sampai tidak tahu cowok itu harus ngomong apa.


Kemudian, ketukan dari suara sepatu pantofel bersama suara berat penuh geraman terdengar menggema. Suara itu menandakan kemarahan.


Ketika Ghea juga alvin menoleh, Gery berjalan mendekat dan tau-tau Ghea sudah merasakan tubuhnya dirangkul untuk kemudian ditarik Gery.


"Ngapain penjahat ini ada di sini?" Sengit Gery mengarahkan tatapan lekat pada Alvil yang diam terpaku di atas kakinya berdiri. Demi apa pula Gery merangkul sepanjang pundak Ghea dengan rematan kuat di pangkal lengan wanita itu.


To be continued ...


Siapa yang bakal sanggup coba nerima kenyataan sepahit itu? Aku aja masih kerasa banget lukanya.


Ini dikit dulu maaf ya. Abisnya ngetik di hp. Ternyata pegelnya tuh kerasa banget. Hihiii