
...Semua orang boleh percaya pada orang lain. Namun sebelum itu coba percayalah pada diri sendiri dulu....
...Gery Mahardika Putra...
...****...
“Ghe …” Pak Gery memanggil dengan suara lembutnya yang mampu menghipnotis Ghea untuk mendongakkan pandangannya sedikit. Kepala Ghea yang bersandar pada dada Pak Gery membuatnya tidak harus untuk memberikannya jarak. Karena itu mampu memberikan rasa nyaman yang amat teramat untuknya.
“Apa?”
Pun dengan Pak Gery menundukkan pandangannya sehingga mempertemukan empat mata itu dalam satu garis lurus. Pak Gery dapat melihat pantulan dirinya di bola mata indah Ghea.
Mengecup singkat rambutnya, Pak Gery kembali mengeratkan lagi pelukan.
Ngomong-ngomong keduanya sudah tidak berada di perjalanan lagi. Kini Ghea dan Pak Gery berada di sebuah tempat yang tidak asing. Saksi bisu sepanjang masa akan dirinya yang selalu memadu kasih bersama Ghea. Berbagi hangatnya sebuah pelukan, berbagi cerita dan obrolan.
“Kamu udah lama berteman sama Reza dan Ocy?” Pak Gery menarik sedikit selimutnya sampai ke pinggang Ghea.
“Udah. Dari aku SMP kalau sama Ocy.” Ghea menjawab. Menjauhkan kedua tangannya dari melingkari perut Pak Gery, cewek itu lalu memberikan jarak antara dirinya dan Pak Gery yang bersandar di hearboad. “Kenapa emang?” Karena Ghea merasa penasaran, kenapa Pak Gery tiba-tiba saja bertanya tentang pertemanannya dengan Ocy dan Reza.
“Kalau sama Reza?” Alih-alih menjawab pertanyaan Ghea, cowok itu justru kembali melempar pertanyaan. Kali ini dibarengi dengan jari Pak Gery yang menyelipkan rambut halus Ghea yang terurai ke belakang telinga.
“Dari kecil. Dari TK.” Ghea beringsut. Duduk menghadap Pak Gery dengan kaki yang bersila. “Kenapa, sih, emangnya, Mas? Tumben.”
“Kamu mau tau gak, alasan kenapa aku yang mau buru-buru nikahin kamu? Padahal perjanjiannya juga pas kamu lulus sekolah, kan?”
Entahlah, apa Pak Gery sedang mengalihkan penasaran Ghea atau memang benar niat obrolannya kesana.
Ghea menggeleng. “Kenapa?”
“Sini deh deketan lagi duduknya!” Tangan Pak Gery menarik tangan Ghea yang tersimpan di atas pangkuannya. Ghea menurut. Kembali duduk seperti semula. Pak Gery menarik kepala Ghea untuk bersandar lagi di dadanya.
Selanjutnya Ghea merasakan tangan kekar itu mengelus belakang kepalanya. Dan itu sangat menenangkan. “Karena aku cemburu dengan kedekatan kamu sama Reza. Apalagi saat tahu Reza pernah nembak kamu,” ungkap cowok itu tidak berhenti menggerakan telapak tangannya naik turun di belakang kepala Ghea.
Harusnya Ghea menertawakan Pak Gery saja atas kejujurannya itu. Atau tergelak sekencang mungkin.
Namun yang Ghea lakukan bukan itu. Justru terdiam dengan perasaan yang tidak menentu. Tepatnya tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.
Ghea jadi berpikir. Ingin bertanya. Sedalam apa sih perasaan Pak Gery itu untuknya?
“Aku gak nyuruh buat kamu untuk tidak berteman lagi dengannya. Tapi aku harap kamu peka dengan perasaannya!”
Pak Gery tidak melihat jika saat ini dahi Ghea berkerut sangat dalam hingga terlihat beberapa lapisan. Namun, cowok itu tahu apa yang sedang kepalanya itu pikirkan.
“Kamu paham kan maksud aku?”
Ghea tidak lagi merasakan elusan lembut di belakang kepalanya. Namun kini justru dagu Ghea yang merasakan sentuhan hangat oleh kedua jarinya sebelum dagu itu ditarik oleh sang pemilik jari yang mampu menghangatkannya. Agar wajahnya mendongak kemudian pandangan itu kembali saling bertemu dalam garis lurus.
Entah apa maksud tatapan dari sang pemilik bola mata abu-abu, Ghea tidak mampu mengartikannya.
“Ghe,”
Panggilan lembut itu menyadarkannya lagi dari lamunan. “Paham kan?”
Harusnya kepala Ghea menggeleng sebagai bentuk jawaban dari ketidak mengertiannya. Alih-alih demikian, kepala Ghea mengangguk. Tubuh dan hatinya saling mengkhianati satu sama lain. Lagi.
“Aku tidak harus memberitahu atau menjelaskannya sekarang kan, Ghe. Lambat laun kamu juga akan tahu dengan sendirinya.” Ghea melihat bibir Pak Gery yang tertarik. Memberikan senyuman terbaik untuknya. “Sekarang tidur, ya. Ini udah malam banget soalnya. Besok jangan sampai kesiangan masuk sekolah. Ada ulangan!”
...**...
Bohong jika Ghea tidak merasa penasaran dengan maksud obrolannya semalam. Juga penasaran dengan siapa Pak Gery menelepon saat keluar dari bioskop itu. Karena Ghea melihat ekspresi Pak Gery ketika menerima telepon tersebut. Matanya yang berubah dingin, dan sesekali Ghea melihat tangan Pak Gery yang mengepal sampai buku-buku kukunya memutih.
“Apa ini masalah Dita lagi?” gumamnya. Ghea berjalan lesu di koridor sekolah menuju kelasnya. Pagi ini Ghea tidak berangkat bersama Pak Gery atau pun dengan Chacha yang mengantarnya, karena Pak Gery bilang Chacha sedang ada pekerjaan lain darinya. Entahlah, Ghea tidak ingin tahu pekerjaan apa yang diberikan Pak Gery pada Chacha.
“Tapi kayaknya gak deh. Soalnya kan semalam Mas Gery tidak ada bahas lagi soal cewek itu.” Karena Ghea yakin, jika menyangkut soal Dita Pak Gery akan berterus terang padanya.
“Ah tau, ah. Malah kepikiran gini sih gue.” Di percepatlah langkah Ghea di koridor sekolah itu. Namun saat Ghea akan berbelok, tubuhnya malah terhunyung. Hampir saja Ghea tersungkur jika saja tidak ada tangan lain yang menarik tangannya.
“Sorry,” cicit Ghea dengan kekehan lucu. Merasa bodoh sampai Ghea tidak melihat ada orang lain di belokan itu.
“Iya. Sorry juga. Gue lagi buru-buru soalnya tadi.” ungkap sang pemilik tangan yang menarik tangan Ghea.
“Lo baru sampai?” tanya Alvin sedikit basa-basi.
Ghea mengangguk. “Iya.”
Selanjutnya tidak ada lagi yang bersuara karena Ghea memutuskan untuk segera masuk ke kelasnya.
Begitu juga dengan alvin yang niat awalnya ingin pergi ke toilet. Namun sebelum sampai, Alvin melihat Reza dan seseorang seperti sedang berbicara serius. Awalnya Alvin sama sekali tidak tertarik karena menurutnya itu bukan urusannya. Namun saat tidak sengaja mendengar obrolan mereka yang membahas soal sang pelaku penyebar foto itu, tubuh Alvin tiba-tiba menegang.
“Gak mungkin, Yur. Pasti lo salah."
“Gak mungkin gue salah, Rez.” Yura saling mencengkeram jari-jemarinya di depan perut. Seperti cewek itu sedang dalam ketakutan yang luar biasa. Dan Reza dapat melihat ekspresi di wajah Yura yang sangat kentara. Bola mata Yura bergoyang kesana-sini seolah ia sedang waspada jika nanti takut ada yang menguping pembicaraannya dengan reza.
“Gue udah tebak. Kalau lo gak bakal percaya sama gue.”
“Emang!” Reza menjawab pongah. Dan diam-diam Yura kembali merasakan sesak di dadanya saat Reza tidak mempercayainya.
Wajar, sih, jika cowok itu tidak percaya padanya. Karena sikap Yura pada Ghea selama ini lah yang membuatnya demikian.
“Kalau gitu, biar lo percaya. Gimana kalau kita cek di ruang CCTV?” tantangnya.
“CCTV?”
Bola mata Yura kembali bergoyang lagi. “Iya. Biar lo percaya. Gue udah janji kan bakal bantuin lo cari tahu siapa pelakunya.”
...TBC...
Hai aku update lagi. Hari ini agak sorean ya?
Sebelumnya maaf kalau aku sering telat update atau terkadang bolong.
Namun sebagaimana mestinya aku selalu ingin ucapin terimakasih buat yang sudah baca cerita ini.
Terimakasih karena sudah mau setia menunggu. Walau aku tahu menunggu itu memang gak enak.
Terimakasih juga sudah memberikan komentar yang semakin membuat aku semangat.
Terimakasih yang sudah tekan jempolnya walau aku tahu tidak semuanya dari yang sudah nyasar menekannya.
Aku selalu berdoa, semoga suka dengan cerita yang penuh teka-teki ini.
Tidak bosan karena itu yang aku harapkan.
Semoga kamu yang baca ini sehat selalu dan terus bahagia.
Maaf karena aku selalu menyapa di akhir cerita di bawah TBC ini. Jangan kesal ya karena aku sayang kamu yang sudah baca cerita ini.
Seizy
si tukang ngetik amatir yang baru selesai mandi dan langsung teringat kamu--yang suka baca. Hihiii