
Dengan geraman yang terdengar samar, Gery melemparkan hand phonenya ke atas dashboard mobil. Beruntung, benda canggih itu tidak rusak dan pecah. Ia kesal. Ia marah. Entah pada Ghea yang tidak lagi menjawab panggilan teleponnya. Atau pada dirinya sendiri yang menyesal tidak menemani Ghea pergi ke Bandung?
Ia membenturkan belakang kepalanya pada sandaran kursi kemudi dengan keras. Cowok itu baru saja memarkirkan mobil di pekarangan rumahnya. Dan tidak sadar jika ada dua mobil sedan hitam yang terparkir di halaman yang sama.
Gery menurunkan kakinya begitu pintu mobil ia buka. Barulah kedua matanya itu menangkap kedua mobil tersebut. Dan Gery tahu kedua mobil itu milik siapa.
Siapa lagi jika bukan milik Adi—sang sepupu dan mobil Ilham—teman laknatnya itu.
“Mau ngapain mereka ke rumah gue?” gumamnya dengan kesal. Belum hilang kekesalannya karena Ghea tidak menjawab teleponnya dan sekarang pun nomornya itu malah tidak bisa dihubungi, kekesalan Gery bertambah saat melihat kedua mobil tersebut.
Ia berjalan sambil memasukan hand phone ke dalam saku celana. Setelahnya, cowok itu membuka jas lalu menenteng jas mahal itu di tangan kiri.
Dibuka Gery pintu rumah sebelum kemudian pandangannya mendapatkan beberapa orang yang duduk di sofa. Menunggunya.
“Ngapain loe semua ada di rumah gue?” Tidak yakin juga, sih, kenapa bisa mereka masuk. Sedang pintu rumahnya terkunci.
Ah, ya, Gery melupakan satu hal.
Adi.
Cowok itu sudah pasti tahu di mana biasanya Gery meletakkan kunci rumahnya jika ia mau pun Ghea sedang pergi ke luar.
“Ger, kita—“ suara Indah. Wanita itu berbicara. Namun, hanya seperkian detik saja kalimatnya sudah terganti dengan rahang yang terbuka lebar bersama kedua tangan yang membekap mulutnya yang menganga itu.
“Di—“ Geram Ilham. Cowok itu bangkit dari duduk dan menahan tangan Adi yang akan melayangkan kepalan tangan untuk yang kedua kalinya pada Gery—yang kini tubuhnya sudah tersungkur ke lantai marmer ruang tamu rumahnya.
Bukan hanya Indah saja yang tidak percaya. Tetapi juga dengan Dita yang shock melihat kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.
Adi menonjok rahang Gery?
Oh … rasanya itu sangat mustahil.
Karena, sebelumnya Adi tidak pernah sedemikian marahnya pada Gery. Justru Adi yang selalu membela Gery dengan secara mati-matian. Tidak penting jika pembelaan Adi itu membuat dirinya sendiri kesal atau pun marah.
Tapi, sekarang situasinya berbeda.
“Bangsatt lo, Ger—“ Adi mengarahkan jari telunjuknya pada wajah Gery—yang masih shock akan pukulan yang ia dapatkan. Gery mengangkat kepalanya dengan siku yang bertumpu pada lantai dan satu tangan yang lain mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. “—Gue udah muak sama semua yang elo lakuin di belakang Ghea.” Lalu Adi berdecih sambil memalingkan wajah. Seolah Adi jijik melihat Gery yang masih dalam posisinya.
“Tahan emosi, Bro! Jangan—“ peringatan dari Ilham. Cowok itu berdiri di antara Adi dan Gery. Sebagai pemisah di antara kedua sodara itu. Ilham mengarahkan tangan kanannya pada dada Adi. Takut jika Adi akan melakukan hal yang di luar kesadarannya lagi.
“Jangan apa begoo?” Namun, dengan cepat dan segala bentuk amarah yang tidak bisa Adi tahan, cowok itu menyela kalimat Ilham. Membuat Ilham menelan ludahnya sendiri dengan kelat.
“Jir, sumpah demi Nenek Moyang gue yang udah kagak ada, takut gue lihat elo kalau marah gini, Di.” Ilham menyingkir ke samping. Ditekuk Ilham wajahnya. “Sumpah. Kek bukan elo banget, ya? Kerasukan setan mana elo, Di?”
“Gue nyesel udah bantu elo dapetin Ghea waktu itu. Kalau gue tahu elo akan ngelakuin ini sama Ghea—“ Adi menyugar rambutnya. Mengabaikan ocehan tidak jelas Ilham. Ia tidak bisa lagi berkata-kata.
Kemudian tanpa ba bi bu. Adi mencondongkan tubuhnya. Nafasnya pun tersenggal. Amarah kembali menyuluti isi kepalanya. Untuk yang kedua kalinya, Adi melayangkan lagi tinjuan pada rahang Gery.
Tubuh Gery tersungkur lagi karena ketidak siapan dirinya akan pukulan yang diberikan Adi. Dan kali ini Adi tidak berhenti. Tidak ada jeda melayangkan kepalan tangannya pada wajah pria yang kini tidak berdaya di bawah kuasa Adi. Sementara satu tangan Adi yang lain mencengkram kerah kemeja Gery.
Wow, Gery melupakan satu hal yang lain lagi, jika ilmu beladiri Adi jauh lebih baik ketimbang ilmu bela dirinya sendiri.
Tubuh Gery benar-benar terkunci. Cowok itu tidak bisa berkutik. Lepas dari kungkungan kuasa Adi.
“Di, udah hentikan!” Jeritan suara Indah pun tidak dapat meredam emosi Adi.
“Masalah lo apa, sih, Di?” Di bawah kungkungan tubuh Adi, Gery bertanya bersama dengan wajah yang sudah terluka. Pun batuk karena sesak. Gery benar-benar tidak tahu. Apalagi harus mengerti kenapa Adi tiba-tiba memukul dirinya secara membabi buta seperti ini.
“Eh kampret, sepupu elo bisa mampuss kalau terus elo pukul, begoo.” Dengan sekuat tenaganya, Ilham berusaha menarik tubuh Adi yang membayangi tubuh Gery.
Gery terbatuk.
“Biarin aja! Biar cowok gak tahu diri ini mampuss sekalian!” geram Adi. Dan disaat seperti ini, disaat Gery menemukan Adi yang lengah, Gery mendorong dada Adi menggunakan kedua tangannya. Di saat tubuh Adi tersungkur, barulah Gery melayangkan tinjuan pada pipi Adi. Membalasnya. Sama membabi butanya.
“Masalah elo sama gue apa, heuh?” Sekarang giliran Adi yang berada di dalam kuasanya. Gery menarik kerah kemeja Adi hingga belakang kepala Adi menjauh dari lantai.
“Ger, udah, Ger!" Dari sekian lamanya, Dita baru bersuara. Meski itu dengan gemetar dan setengah takut.
“Kalian bicarain ini baik-baik! Jangan kayak anak kec—“
“Suami lo yang kayak anak kecil, In.” Potong Gery menolehkan wajah penuh memarnya itu pada Indah, tanpa melepaskan cengkraman di kerah kemeja Adi.
“Lo semua datang tanpa di undang.” Gery menghela nafas berat. “Dan dengan seenaknya masuk ke rumah gue tanpa ada izin dari gue.” Mata elang Gery kini menoleh pada Adi. “Dan dengan tanpa gue tahu apa masalah elo sama gue—“ Gery lagi-lagi menghela nafas beratnya. Dadanya yang kembang kempis mampu menunjukan jika amarah dirinya sama persis dengan amarah Adi. “Lo main nyerang gue gitu aja.” Dihempaskan kerah kemeja Adi olehnya secara kasar. Untuk kemudian Gery bangkit seraya menyeka sudut bibirnya yang berdarah itu.
Di saat Gery melangkah. Membelakangi tubuh Adi, sepupunya itu bersuara. Posisi Adi kini sudah duduk dengan satu kaki yang lurus dan kaki yang lain ia tekuk. Satu tangan Adi tepat berada di atas lututnya dan telapak tangan yang lain bertumpu pada lantai.
“Loe khianati Ghea. Lo selingkuh sama sekretaris baru itu.”
Langkah Gery berhenti refleks. Lalu tubuhnya berbalik. Menghadap Adi dengan satu alis hitamnya yang terangkat. Seakan ekspresi cowok itu bertanya 'apa maksudnya?'
“Dan lo tahu?” Adi mendeja. Kemudian decihan jijik ke luar dari bibirnya. “Sekarang sekretaris baru lo itu hamil.”
Mendengar kalimat apa yang ke luar dari mulut Adi, membuat jantung Gery mendadak berhenti. Ia menahan nafasnya. Dan kehidupannya sebentar lagi mungkin akan dipertaruhkan.
“Sial,” umpat Gery mengayunkan tumit. Cowok itu berjalan ke arah dinding yang menjadi sekat ruang tamu dan ruang keluarga. Entah sadar atau tidak, Gery mengayunkan kepalan tangannya untuk kemudian kepalan itu beradu keras dengan tembok dinding tebal.
“Jadi, benar kan?" Adi melangkah. Mendekatinya. Dan berdiri di belakang punggung tegap Gery. “Ini bukan hanya sekedar dugaan gue aja. Kalau ternyata selama ini elo main hati dengan sekretaris sialan itu, kan? Bener-bener berengsek lo, Ger.”
Gery membalikan tubuh. Bahunya menegang. Kedua kepalan tangannya tergantung di sisi tubuh. “Denger, Di!”
“Apa lagi yang musti gue denger? Heuh? Lo mau ngomong apa lagi? Mau ngebela diri lo bagaimana lagi? Lo udah khianati pernikahan elo dan Ghe, Ger. Lo udah buta mata karena melihat kecantikan cewek lain, Ger. Hati lo udah dibutain sama kepolosan cewek itu.”
“Lo—“
“Ger, jadi bener apa yang dikatakan Adi sama kami semua? Jika kamu selingkuh?” Dita tidak menyangka. Isteri dari Ilham itu menggeleng. Dita pikir jika kesetiaan Gery memang tidak bisa tergoyahkan. Namun, nyatanya tidak juga.
“Ta, kamu kenal aku, kan? Jika memang aku seperti itu, sudah dari dulu aku nerima kamu sewaktu kamu ngejar-ngejar aku,” kata Gery sambil melirik sinis pada Dita kemudian pada Adi dan beralih pada Ilham.
“Eh kampret, lo jangan bawa-bawa masa lalu dong.” Rupanya ada yang tidak bisa menerima akan ucapan Gery barusan. Ilham yang berada jauh dari Dita langsung mendekat pada isterinya lalu merangkul pinggangnya secara posesif.
“Lo gak usah bawa-bawa Dita, Ger. Kesalahan elo gak bisa gue maafin. Dan setelah Ghea pulang dari Bandung, gue bakal kasih tahu dia. Kalau elo—“ Telunjuk Adi mengarah tepat pada hidung Gery. “—udah khianatin pernikahannya sendiri. Lo selingkuh dengan sekretaris baru sampai ngebuat cewek itu hamil. Anak elo!” Tekan Adi.
Dalam waktu yang singkat, Gery sudah berada tepat di depan Adi. Mencengkram kerah kemeja Adi lalu menekan kalimatnya. “Denger! Gue gak ada hubungan apa pun sama Airin. Apalagi sampai ngebuat dia hamil. Itu—bukan—anak—gue.”
Note Seizy :
Selalu kata maaf yang akan lebih dulu aku ucapkan di sini. Maaf yang sudah menunggu lama. maaf karena belum bisa update secara rutin. dan maaf untuk segala sesuatu tulisan aku yang kurang ini. dan terimakasih karena masih di sini. membaca cerita aku. memberikan komentar dan jempolnya. Jangan bosan untuk menunggu ya. Hihii ILY
Kang ngetik amatiran