Married With Teacher

Married With Teacher
Romantisnya Nonton Horor


...Biarkan aku berbeda dari orang lain. Karena sama itu tidak asyik....


...Gery Mahardika Putra...


...****...


Ghea sadar dengan jantungnya yang selalu berdebar ketika bersama dengan cowok yang satu ini. Seakan ini adalah hal pertama baginya. Namun memang benar adanya jika acara menonton ini adalah hal pertama untuk Ghea.


Mungkin Ghea sering menonton bersama Ocy dan kawan yang lainnya. Namun jika dengan Pak Gery …


Sebut saja ini kencan pertama mereka. Atau yang kedua? Ah entahlah. Yang jelas Ghea merasa bahagia. Ia perlu berucap syukur pada Tuhan dan berterima kasih pada Dita yang sudah mengajak Pak Gery untuk bertemu hingga sampai Ghea bisa terus berduaan sepuasnya seharian ini dengan Pak Gerynya.


Langit sudah mulai menunjukan indahnya hitam. Dan jarum jam yang terus berputar menunjukan pukul delapan malam seolah itu tidak masalah bagi keduanya. Ghea melihat Pak Gery berjalan ke arahnya. Menenteng popcorn rasa keju ukuran sedang dan dua minuman cola.


Tangan Ghea refleks terjulur merebut dua minuman cola yang dibawa oleh Pak Gery. “Ya ampun, Mas. Repot amat, sih?”


“Demi kamu loh aku ini,” ujar Pak Gery seraya menyerahkan dua cola tersebut.


“Nonton apa, nih kita jadinya?”


Keduanya berjalan melewati pintu bioskop yang sudah mulai ramai dengan pengunjung yang lain. Pak Gery lalu menyerahkan dua tiket film yang akan menjadi tontonan bagi keduanya.


“Horor.”


Kelihatannya Pak Gery bercanda. Pun dengan Ghea yang tidak percaya. Tertawa jahat dalam hati, Ghea bergumam. Masa iya Pak Gery mengajak Ghea menonton film horor? Gak mungkin ah kayaknya.


Iya gak mungkin. Karena seharusnya Pak Gery membeli tiket nonton film romantis kan? Seperti film Dylan misalnya biar sekalian cowok itu belajar kosa kata romantis pada Ghea biar gak kaku mulu.


Iya, pasti cowok itu lagi ngerjain Ghea.


“Siapa takut.” Ghea menantang. Oke menjadi cewek pemberani saja di depan cowok ini.


Dalam hati masih terus meyakinkan jika Pak Gery bercanda.


Setelah mendapatkan nomor kursinya, Pak Gery dan Ghea duduk di salah satu deretan kursi panjang tepat di barisan paling depan.


Pak Gery membuka popcorn lalu menyerahkannya pada cewek yang hanya memakai kaos polos berwarna tosca disampingnya itu.


Ghea menerima. Mulai memakan makanan ringan itu walau film di depan sana belum diputar. Ghea duduk dengan sangat tenang dan damai. Bersandar santai pada sandaran kursi seraya mulut yang tidak berhenti mengunyah. Sesekali Ghea menoleh pada Pak Gery yang mengapa justru malah sibuk dengan handphonenya?


Ghea mengerutkan bibirnya sambil mengunyah. Bodo amat lah. Mungkin Pak Gery lagi membalas pesan penting. Seharusnya Pak Gery ada pertemuan penting dengan klien tapi malah Ghea merajuk mengajaknya jalan kan?


Baiklah. Ghea tidak akan menyalahkan suami yang tampannya terlalu sial itu.


“Filmnya udah mau mulai, Mas.” Ghea mendekatkan dirinya, memberitahu pada pak Gery yang masih asyik saling berbalas pesan yang Ghea sendiri pun tidak tahu itu dari siapa.


Tersentak, Pak Gery dengan cepat menurunkan benda canggih itu lalu memasukkannya pada saku celana. “Oh iya.”


Adegan demi adegan di layar besar itu terus berputar. Awalnya memang adegan yang sangat romantis. Sepasang kekasih yang sedang bercumbu mesra di dalam sebuah kamar yang mungkin itu kamar hotel, membuat Ghea memelankan gerakan tangannya dari mengambil popcorn sampai untuk masuk ke dalam mulutnya saja mungkin membutuhkan waktu beberapa detik.


Ghea meneguk ludahnya sendiri saat di film itu ada adegan dimana seorang pria membuka semua pakaian sang wanita dengan cepat hingga mungkin di bawah selimut itu tubuh keduanya sudah sama-sama polos.


Omegattt …


Apa pak Gery tidak salah mengajak dirinya menonton film dewasa macam ini?


Otak Ghea mulai panas.


Oh tidak! Bukan hanya otaknya saja tetapi juga dengan wajah dan seluruh tubuhnya.


Menoleh sesaat pada cewek disampingnya, Pak Gery terkekeh ketika mendengar nafas Ghea yang berantakan. Padahal suara film itu bervolume tinggi hingga rasanya tidak mungkin siapa saja mendengar suara yang lain. Apalagi suara nafas seseorang. Iya kan?


Tangan Pak Gery tergerak ke belakang pundak Ghea. Tidak menyentuhnya namun terlihat jika Pak Gery seperti sedang mendekapnya. “Kenapa? Nervous?” bisiknya. "Nanti setelah sampai rumah tinggal praktek saja.” Pak Gery terkekeh di dekat telinga Ghea.


“Auwhhh …” pekiknya memegang paha yang dicubit Ghea sangat keras.


“Jangan ngaco!”


Film itu terus berputar sampai durasi sudah menunjukan beberapa menit lamanya. Sampai di pertengahan adegan. Perempuan yang bercumbu dengan seorang pria itu kenapa berubah menjadi sangat menyeramkan?


Wajahnya yang pucat. Lingkaran bola matanya hitam pekat. Rambut panjangnya terurai sebatas panggul lalu ia memakai pakaian putih yang panjang hampir menutupi kakinya. Lalu berjalan mengambang sampai dengan gerakan perlahan terbang mengejar seorang cowok yang ternyata sudah bercumbu dengannya setelah itu mati dibunuh dengan cara yang sangat mengenaskan.


Dimulai adegan itu, jantung Ghea semakin berdebar kencang. Lalu menjerit seraya menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Pak Gery yang selalu terbuka untuknya. Ternyata saat itu Ghea melihat adegan dimana punggung pemeran wanitanya bolong dengan suara cekikikan yang amat sangat menyeramkan saat Ghea mendengarnya. Sampai-sampai cewek itu menutupi telinganya kuat.


pak Gery sialan. Ternyata cowok itu tidak berbohong mengajak Ghea menonton film horor.


“Sumpah. Kamu udah gak waras, Mas. Gak lucu tau gak. Ngapain kamu ngajakin aku nonton horor kaya gini? Biar apa, Mas? Biar apa?” sembur Ghea dengan kalimat yang penuh makna kekesalan dan ketakutan itu pada Pak Gery ketika sudah berada di parkiran.


“Biar romantis,” jawab Pak Gery enteng. Tanpa rasa beban dan seakan tidak merasa berdosa sudah membuat Ghea ketakutan.


Sumpah sampai kini Ghea duduk di kursi mobil pun, rasanya suara cekikikan itu masih sangat jelas terdengar di pendengarannya.


“Romantis apaan, Mas? Yang ada jantung aku mau keluar nih.” Uh rupanya Ghea masih kesal.


“Romantis lah.” Pak Gery terkekeh gemas. Menutup pintu mobil kemudi. “Biar aku bisa dipeluk kamu juga, kan.” Lanjutnya kemudian.


“Gak waras!” umpat Ghea pada suaminya itu. Sumpah Ghea itu tidak bermaksud mengatakan hal kasar padanya. Tapi rasa takut itu kentara terasa.


“Yaudah maaf.” ungkap Pak Gery. Kali ini suaranya terdengar serius. Pak Gery lalu menggapai tangan Ghea. Mengecup lama punggung tangannya sebelum membawa kepala Ghea bersandar ke dadanya. “Yang ini lebih romantis gak?”


“Tau ah,” sahut Ghea memukul pelan dada pak Gery yang tidak berasa apa-apa pada cowok itu.


Pak Gery terkekeh geli. “Maaf deh. Lain kali gak bakal ngajak kamu nonton horor lagi.” Diusaplah punggung Ghea naik turun. “Abisnya aku bingung mau pilih film romantis yang mana. Akunya, tuh, takut baper juga entar. Terus gak bisa tahan.”


Di dalam dekapan Pak Gery, wajah Ghea tidak dapat terlihat mengerut keheranan.


Gak bisa tahan?


“Gak bisa tahan buat memagut bibir kamu. Malu kan kalau nanti ada yang lihat.” Seakan peka dengan apa yang ingin ditanyakan cewek itu, Pak Gery memberikan jawabannya yang sungguh jujur.


Dan lagi-lagi itu membuat wajah Ghea terbakar.


Handphone Pak Gery berdering. “Bentar. Aku angkat telepon dulu,” katanya merogoh handphone itu di dalam saku celana setelah pak Gery melepaskan dekapannya dari Ghea lebih dulu.


“Ya.” Saat cowok itu menempelkan benda canggihnya ke daun telinga pada orang di seberang sana.


...TBC...


Ya ampun ini maaf ya kalau garing atau gak berasa bapernya. Tapi aku mau tetep ucapin terimakasih untuk kamu siapa pun itu yang sudah meluangkan waktunya untuk nyasar ke cerita aku ini.


Terimakasih juga yang udah komen dan likenya. Aku tayang kamu semuanya. Tanpa akhir. ILY


Semoga selalu suka dengan apa yang aku halukan lalu aku tuangkan menjadi sebuah tulisan yang memang masih jauh dari kata bagus apalagi sempurna.


Seizy


Si tukang ngetik amatir yang ingin kamu semua terus sehat dan dalam lindungan Tuhan. Aminnnn