Married With Teacher

Married With Teacher
Pergi ke Puncak Nirwana


Di cafe.


Reza dan Ocy kini sedang duduk saling berhadapan di salah satu meja cafe. Meja bundar yang menjadi pembatas tubuh mereka. Jika kemarin-kemarin selalu Ocy yang meminta, lain malam ini. Malam ini cowok itu yang tiba-tiba menghubungi dan memintanya untuk jalan ngopi bersama.


Awalnya Ocy heran. Ada apa? Kok Reza tumben? Namun Ocy juga tidak bisa menolak kan. Jarang-jarang loh Reza ngajakin dia jalan.


"Btw waktu itu lo mau ngomong apaan sama gue soal Ghea?" Setelah obrolan random, Ocy mengungkit hal waktu itu. Waktu Reza yang mau bilang kalau dia suka sama Ghea. Tapi keburu ada Tama datang. Dan masih di cafe ini. Cafe yang sama.


"Yang mana, ya? Lupa lagi gue." Yang aslinya pura-pura lupa. Masa mau nembak Ocy pake bahas cewek yang udah married, sih, gak keren rasanya.


"Oh. Yaudah. Kalau gitu bahas apa aja, nih?"


"Bahas kita aja gimana?"


"Heuh?" Hampir saja Ocy tersedak ludahnya sendiri. Untung ia gak lagi nyeruput kopinya. Reza bisa kena sembur kalau Ocy lagi nyeruput kopi di depannya itu. "Ma-maksud lo? Kita?"


"Gue mau lo jadi pacar gue."


Ish …, kok Reza gak kelihatan keren, ya, cara nembak Ocy tanpa ba bi bu gitu. Ck. Terus berasa bukan ungkapin perasaannya gitu. Namun seperti memaksa.


Uhuk uhuk uhuk


Kali ini Ocy benar-benar tersedak ludahnya sendiri. Gak salah dengar kan dia? Omegatttt.


**


Di sisi lain.


Di sebuah kamar. Suara indah saling sahut menyahut terdengar mendominasi kamar itu. Kamar yang beraroma maskulin dari bau keringat Pak Gery yang masih berada di atas Ghea.


Ini entah sudah menit ke berapa Pak Gery menghentakan kegagahannya di bawah sana. Dia belum juga mencapai kepuasannya. Sedangkan Ghea. Oh, entah sudah berapa kali dia merangkul bahu Pak Gery. Membawanya ke dalam dekapan cewek itu. Saling menempelkan kulit tubuh satu sama lain setiap rasa aneh itu datang lagi dan lagi.


Ghea tuh masih belum tahu apa nama dari rasa nikmat yang ia rasakan. Yang Ghea tahu hanya nikmat saja. Rasanya dia diajak terbang melayang ke atas puncak nirwana paling tinggi. Setiap rasa itu ia capai kepalanya juga mendadak ringan. Rasanya semua beban hilang.


Pak Gery semakin kuat berpacu. Mungkin dia akan mencapai ke puncak nirwananya. Kedua telapak tangannya ia simpan di sisi kepala Ghea. Dan saat rasa itu ingin ia capai. Kepalanya menengadah. Menatap langit-langit kamar lalu terpejam saat ia berhasil mengeluarkan semua cairan kental nan hangat. Ghea pun merasakan sebuah lahar panas menyembur pada dinding kewanitaannya.


Wajah Pak Gery kembali menunduk. Kali ini ia menatap Ghea yang juga tengah menatapnya sayu. Ghea capek mungkin abis keluar beberapa kali. "Makasih, ya. Besok-besok kalau mau kasih permen, permen rasa yang di bawah saja. Gak usah rasa ceri apalagi stroberi!" Ucap Pak Gery nyeleneh. Tapi wajahnya itu masih datar, gak ada senyuman yang tertarik dari bibir tebal, seksi dan merahnya.


Lalu mengeluarkan sesuatunya dari dalam Ghea. Pak Gery meraih tissue yang ada di atas nakas. Kemudian membersihkan alat tempurnya itu.


Bangkit dari atas Ghea, Pak Gery berguling ke samping polos tubuh sang istri. Sebelumnya Pak Gery menarik selimut lebih dulu. Kemudian menutupi tubuhnya dan tubuh polos Ghea.


Ghea masih bergeming. Diam walau Pak Gery menyelimuti tubuhnya juga. Wajahnya masih mengarah ke arah langit-langit kamar. Matanya hanya mengerjap pelan. Ghea sedang mencerna apa yang tadi dibilang suami seksinya itu.


Permen?


Apa maksud pak Gery permen rasa yang di bawah?


Otak Ghea terus saja berputar mencari jawaban. Dalam sekejap Ghea seperti seorang anak yang kehilangan ibunya. Diam tanpa kata dan yang pasti mendadak oon


Pak Gery yang akan memejamkan matanya. Tak sengaja menoleh. Dan malah mendapati Ghea masih bergeming bersama kerjapan matanya.


"Mas," panggil Ghea seraya wajahnya ia hadapkan pada suaminya itu.


"Hem? Kenapa? Ada yang sedang kamu pikirkan?"


"Banyak!" Ghea menjawab. Melipat bibir bawahnya ke atas. Uhh, Pak Gery yang melihat itu jadi gemas kan. Terus pengen mengemudi lagi jadinya.


"Salah satunya?" Suara Pak Gery terdengar berat. Bergetar seperti gak nahan. "Ekhem," kemudian berdehem untuk menetralisir rasanya. Lagi.


Tolong garis bawahi 'rasanya' itu rasa apa!


"Permen," sahut Ghea dengan tampang polosnya.


"Permen?" ulang Pak Gery menautkan alisnya. Pun Ghea mengangguk bersama bibirnya yang mengerucut.


Ah, bibirnya jangan digituin, Ghea. Pak Gery bisa turn on lagi.


"Iya. Maksud kamu, tuh, apa, sih, Mas. Permen rasa yang dibawah itu apa? Di bawah mana coba? Aku, tuh, gak ngerti. Nanti kalau mau beli, dimana belinya?"


Jadi dipikir Ghea itu permen rasa yang dibawah itu, permen beneran. Tapi maksud Pak Gery bukan itu. Aduh …, Pak Gery jadi bingung kan ngejelasinnya gimana? Ini lebih susah dari ngejelasin rumus matematika saat ia sedang mengajar.


Lagian kenapa, sih, Ghea pake nanya soal permen itu? Pak Gery kira tuh, Ghea akan ngerti. Oh astaga.


"Mas …" Ghea merengek saat dilihatnya Pak Gery hanya diam tidak menjawab.


"Ehkem. Udah, ya, mending istirahat aja! Udah malam juga! Nanti besok kesiangan loh. Gak capek apa kamu?" Karena Pak Gery gak tahu harus jelasin ke Ghea kaya gimana.


Ck, dasar ayam penyet. Ngapain juga tadi Pak Gery ngomong pake kode segala. Udah tahu Ghea gak bakal connect walau dikasih tahu juga kata sandinya.


"Ih, Mas. Aku penasaran. Aku juga mau coba rasa permen yang kamu bilang tadi. Rasanya gimana, sih, Mas? Penasaran aku, tuh. Sampai kamu bilang gak mau rasa permen ceri apalagi stroberi. Tambah penasaran kan aku jadinya." Ghea semakin ngaco dan justru malah merengek agar Pak Gery memberitahu permen rasa apa itu.


Pak Gery menarik nafas dalam-dalam. Lalu memijat kedua pelipisnya dengan satu tangan. Jari jempol memijat pelipis kanan dan tiga jari yang lain memijat pelipis kirinya. Pusing mendadak kepala Pak Gery itu.


"Permennya udah kamu rasain. Gak ada di warung. Dan gak di jual di toko mana pun. Udah, ya, tidur!" Jelas Pak Gery. Namun, sepertinya Ghea belum paham juga. Ia malah memutar bola matanya. Berpikir keras.


Kemudian Pak Gery buru-buru memejamkan mata sebelum Ghea kembali lagi bertanya soal permen rasa yang dibawah itu.


"Mas," panggil Ghea pelan. Tapi tak ada jawaban lagi dari cowok yang berbaring di sampingnya itu. "Mas!"


Lantas Ghea menoleh. "Ih, Mas, kok udah tidur aja, sih? Curang banget. Udah dapat enaknya malah ditinggal tidur. Dasar, Kai kawe!" Gerutu Ghea. Membalikan tubuhnya memunggungi Pak Gery sambil menarik selimut itu. Menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian terpaksa memejamkan kedua mata indahnya itu.


Pak Ghea membuka mata terasa saat ada pergerakan dari tubuh Ghea. Ia menoleh pada cewek itu. Melihat seluruh tubuh Ghea yang tertutup selimut. Pak Gery terkekeh dalam hati seraya melengkungkan bibirnya ke bawah. Tak lama ia menggerakan tubuhnya. Di ubahlah posisi tidurnya itu menjadi memeluk Ghea dari belakang. Menempelkan kulit tubuh depannya pada punggung polos Ghea. Kemudian matanya terpejam bersama tarikan di kedua sudut bibirnya.


Rasa capek setelah pergi ke puncak nirwana membuat rasa kantuk itu menyerangnya kuat-kuat.


TBC


Aku harap bab ini gak nyangkut guys. Sok nyesek ke akunya kalau lama lolos teh guys. Sok atuh Like dan komennya jangan di sepikan. Biar up nya banyak, gak bolong-bolong kaya sundel bolong.