
“Bener kamu mau ke Paris? Ya udah, sih, ya … kalau bener aku bakal suruh Adi buat—“
“Bercanda, Mas. Aku gak seserius itu.” Ghea menyela cepat. Disentuh lagi pipi Gery gemas oleh tangan berjari lentik Ghea. “Aku Cuma gak mau kamu sakit. Udah. Itu aja.”
Gery berdecak sembari menolehkan wajah ke satu sisi sambil berucap, “padahal nih, ya, itung-itung kita pergi bulan madu. Kita kan belum pernah, ya?”
“Siapa yang bilang kita belum pernah bulan madu?”
“Ini orangnya," kata Gery sambil mengarahkan ujung jari telunjuk pada hidungnya.
Ghea tertawa. “Lah… Bukannya tiap malem kita bulan madu terus?”
“Gak tiap malam juga kali, sayang.”
“Ya, sama aja lah.” Ghea tidak mau kalah rupanya. “Udah, nih, kamu makan nasi gorengnya dulu napa, sih, Mas? Malah bahas yang kaya begituan juga. Ck!” Diambil Ghea sendok itu lagi untuk kemudian menyendokkan nasi. Mengarahkannya pada mulut Gery.
“Kan cari tempat baru, yang. Bosen kalau di kamar terus.”
Demi apa! Ghea tidak habis pikir dengan suaminya ini. Lancang sekali rupanya, membicarakan hal privat di tempat bahkan di depan umum seperti sekarang ini.
Lalu, yang Ghea lakukan selanjutnya untuk membungkam mulut Gery adalah dengan jari jempol dan jari telunjuk Ghea diarahkan ke dagu menawan cowok itu. Menariknya ke bahwa agar mulut itu terbuka. Sekaligus memasukkan sendok ke dalam mulut seksi itu.
“Hekkk …” Nafas Gery tertahan dengan mulut yang penuh.
“Makan!” kata Ghea. Kali ini perintah itu tidak dapat Gery bantah. Sekalinya cowok itu akan membuka mulut untuk bicara dan menolak, Ghea justru kembali memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut yang selalu membuat kedua bibir Ghea bengkak itu, karena sebuah lumaatan dari mulut seksi Gery.
Sedangkan dengan Airin yang masih berdiri bagai terpaku di tempatnya, membalikkan tubuh bersama kedua tangan terkepal. lebih baik bukan, jika ia tidak melihat keromantisan cowok yang ia puja itu? Membuat cowok berkaca mata hitam bertambah menyeringai. Mengambil foto punggung Airin dari jarak jauh untuk kemudian mengirimkan gambar punggung itu pada seseorang yang selalu dipanggil Bos.
**
“Nanti malam aku ada undangan untuk menghadiri pameran lukisan. Kamu ikut, ya!” Sebenarnya pertanyaan itu bukan suatu ajakan. Melainkan suatu tekanan agar Ghea memang ikut dengannya ke acara tersebut.
Keduanya sudah selesai dengan acara drama lunch mereka. Dengan telapak tangan Gery yang menempel di atas bokong Ghea, keduanya berjalan bersama ke luar dari restoran. Menyeberangi jalan dan masuk ke dalam gedung bertingkat perusahaan Putra Grup.
“Undangannya untuk kamu aja atau—“ Ghea menjeda. Mendongakkan wajah untuk melihat reaksi cowok yang berjalan melindungi di sampingnya. Bak seorang pengawal yang menjaga sang putri.
“Beberapa staf penting perusahaan juga di undang, sayang.” Ditekan Gery tombol lift lalu keduanya masuk ke dalam ruang kecil setelah pintu berwarna silver itu terbuka. Di dalam sana, telapak tangan Gery masih saja ditekankan pada atas bokong Ghea posesif. Seolah telapak tangan besar itu sudah diolesi lem olehnya hingga tidak ingin terlepas.
“Airin?” Maksud Ghea, wanita itu juga apa mendapatkan undangan.
“Ohhh… come on!" Gery mendesaah frustasi. Meraup wajah menggunakan satu tangan yang bebas sembari membuang wajah tampan itu ke arah samping, dimana Ghea tidak berdiri di samping itu. Membuat wanita berambut panjang hitam menoleh kan wajah untuk mendongak. Menatap Gery yang terlihat tidak suka.
Jelas saja. Walau Airin—wanita yang sudah mendapat pertolongannya itu pernah menyebabkan Ghea cemburu sampai salah paham. Seriously, Ghea is still asking the question about it?
“Ayolah, sayang … kamu gak seharusnya mikirin dia kok!” Karena gemas, ditangkup Gery kedua pipi Ghea. Sedikit cowok itu menundukan wajah. Bertemu tatap dengan netra hitam pekat yang tetap memandangnya teduh sekaligus mendamaikan hati Gery. “Okay?!”
Ghea menghela nafas berat. “Aku cuma kasihan aja sama Airin, Mas. Dia kalau terus diem di rumahnya, pasti bakal kepikiran terus sama Ibu Nana, kan, Mas.” Lift itu sudah terbuka. Sepasang suami istri yang sekarang sedang bermain drama itu ke luar dari sana. Udara bebas langsung Ghea hirup dalam-dalam.
“Ya … meski sebenarnya gak boleh juga, sih, melupakan seorang Ibu. Tapi … aku ngerasain sakitnya merasa kehilangan.” Dihentikan langkah Ghea di lorong panjang dengan kaca-kaca tebal sepanjang lorong itu. “Aku beruntung karena aku punya kamu, Mas. Sedangkan Airin… Dia gak punya siapa-siapa lagi setelah kepergian Ibunya. Hem…” Kelopak mata Ghea berkedip pelan. Dibalik bulu mata lentik itu Ghea tatap bola mata abu-abu jernih milik Gery.
Tidak ada lagi yang bersuara setelahnya. Keheningan tercipta dengan kedua tangan besar Gery yang berada di dalam kantung celana kini di keluarkan. Bergerak menyentuh kedua bahu Ghea lembut. Cowok itu menghela nafas pelan. Menjilatii bibir untuk memberikan lembab pada area yang mendadak kering itu.
“Okay! Aku akan mengirim pesan pada Airin agar dia juga bisa menghadiri acara nanti malam," kata Gery mengerti keinginan dari Ghea yang tidak perlu wanita itu ungkapkan. “Aku melakukan ini demi kamu, ya, yang. Kalau nanti Adi protes—“
“—Hem.” Tentu saja Ghea segera menyela karena yang Ghea tahu Adi begitu tidak suka pada Airin. “Terimakasih,” ungkap Ghea tulus bersama senyum merekah yang lagi-lagi menggetarkan naluri kelaki-lakian Gery.
Dahi seputih susu itu mengerut. Kepalanya miring ke satu sisi. “Kenapa emang?” Kemudian pertanyaan polos itu lolos dari mulut manisnya Ghea.
“Gak tahan aku lihatnya. Pengen gigit.” Cowok itu bicara dengan melakukan apa yang tadi diungkapkan setelahnya. Menggigit bibir bawah Ghea.
“Isshh … kenapa malah gigit?” Ghea protes setelah Gery melepas gigitan di bibir. Memegangi bibir Ghea menggunakan jari jempol dan jari telunjuk lentik.
“Udah dibilang pengen, kan, tadi?!”
“Tapi gak beneran juga. Sakit, nih.”
“Uluh-uluh … masa? Enak kali yang ada.” Demi semesta! Gery malah meledek Ghea. Lalu, mengecup singkat bibir merekah itu lagi setelahnya.
Well. Ghea menjadi berdebar. Sungguh pun dengan tidak tahu tempat, suami yang super Ghea sayang ini malah melumaat bibir bawah Ghea.
Inginnya Ghea mendorong dada bidang berotot itu. Menghentikan aksi erotis suaminya sekarang juga. Tetapi, justru Ghea tidak bisa karena kedua tangannya malah dipegang oleh tangan Gery. Sedangkan tangan cowok itu yang lain menempel di bahu kiri Ghea. mendorong pelan tubuh dengan perut besarnya untuk kemudian disandarkan pada dinding lorong.
Oh demi dunia!
Ghea menikmati cumbuan dari bibir seksi nan tebal itu. Namun, kedua bola mata hitam pekat malah bergoyang. Mengitari seluruh arah. Takut-takut ada staf Gery yang melihat. Sungguh! Ghea waspada akan hal tersebut.
Tidak seperti Gery yang malah menikmatinya. Sangat malahan. Melumaat. Menggigit. Menekan bahkan lidahnya sampai menerobos, mengusik langit-langit mulut Ghea.
Dirasa oksigen di paru-paru Ghea hampir menipis, barulah mulut buas Gery menghentikan aksinya mencumbu mulut Ghea.
“Heuh … heuh ... heuh …” Keduanya terengah. Ditempelkan Gery kening itu di bahu Ghea yang naik turun. Mulutnya tertawa pelan. Sampai kedua bahu lebar Gery bergetar. Tidak percaya pada dirinya yang mampu melakukan hal se-privat itu pada Ghea.
Oh Tuhan … Demi kenikmatan surgawi, wajah Gery merah setelahnya. Namun, mampu cowok itu sembunyikan di balik dahi yang menempel di sana.
“Isshh… Kamu itu, Mas.” Dipukul Ghea bahu Gery yang membungkuk pelan. “Gimana kalau ada yang lewat terus lihat kelakuan nakal kamu ini? Apa nanti yang bakal mereka pikirkan tentang kamu? Hem?”
“Bentar, yang, marah-marahnya. Aku nafas dulu ini,” ujar Gery yang masih menempelkan dahi di satu bahu Ghea sambil kedua telapak tangan menempel pada dinding. Mengurung kepala Ghea oleh tangan berotot miliknya. Gery terkekeh. Sesekali juga mulut itu mengeluarkan suara tawa.
“Idih, Mas… Malah bercanda. Aku serius ini. Oh astaga.” Kedua bola mata Ghea berputar jengah.
“Aku lebih serius, yang. Bentar! Kamu gak ngerasain apa sesuatu di bawah aku menegang?”
“Mas Geryyyy!!!”
“Makanya aku nunduk dan nempel udah kayak cicak gini ke kamu, buat nyembunyiin agar gak ada orang lain yang lihat kalau-kalau nanti mereka lewat.”
Karena demi apa! Bukannya Ghea tidak bisa merasakan ereksi cowok itu yang menegang menempel pada satu pahanya. Ada pun, Ghea merasa tubuhnya bagaikan jelly. Wajah wanita itu terbakar oleh gairah Gery yang menempel di sana. Di pahanya.
.
.
.
To be continued
Mas Ger Ger kagak tahu tempat emang. Parah parah parah...
Follow Ig seizyll_koerniawan untuk info cerita yang lainnya.