
Ghea menggeliat lalu membuka matanya dengan kerjapan pelan. Di kasur yang empuk. Tubuh polos dan hanya terbungkus selimut tebal berbulu. Di kamar Gery—suaminya. Yang sekarang juga menjadi kamar miliknya.
Teringat akan dirinya yang bisa-bisanya menggoda Gery di meja makan.
Oh God.
Ia malu sendiri. Wajahnya merah dan tak bisa menahan untuk tidak menggigit bibir bawahnya. Itu terlalu menyenangkan. Dan menggemaskan. Menggoda bukan keahliannya. Tapi semalam … errr … Ghea tidak bisa membayangkannya lagi. Betapa, begitu nikmatnya sentuhan demi sentuhan yang Gery berikan.
Lalu Ghea terbangun. Menahan ujung selimut di dadanya. Indra penciumannya sangat tajam sehingga dengan cepat wajahnya menoleh ke meja nakas samping ranjang. Di sana sudah ada nampan lengkap dengan sarapan. Sebuah roti bakar berlapis keju dan segelas jus jeruk. Eum begitu nikmat dan menggoda perutnya. Sama menggodanya dengan yang membuat sarapan itu. Tentu, Ghea yakin jika Gery yang membuatnya. Sudah pasti dia.
Diturunkan Ghea kaki telanjang itu untuk kemudian mengambil bathrobe yang sepertinya juga sudah disediakan sang suami. Di sandaran sofa panjang. Yang mana sofa panjang itu diletakan di samping ranjang. Hanya berjarak beberapa langkah kaki saja.
Bibirnya gatal jika tidak tersenyum. Oh suaminya ini selain mempesona, dia adalah pria idamannya para wanita.
Mengingat itu, jelas saja Ghea cemberut. Tidak suka. Lalu bayangan saat Gery menarik pinggang seorang wanita lain membuat dirinya terbakar.
Sial.
Dilarikan matanya ke atas meja nakas. Di samping nampan hand phonenya berdering. Seraya melangkah, Ghea menyimpulkan tali bathrobe yang telah membukus tubuhnya dengan sempurna.
“Mas.”
“Gimana tidurnya?”
Ghea menggigit bibir secara sensual. Ingatannya kembali pada meja makan. “Nyenyak.” Bibir itu tersenyum. Tentu Ghea akan menjawab demikian. Memangnya dia punya jawaban lain lagi selain itu?
"Sarapannya udah dimakan belum?”
Ghea melirik nampan itu. “Belum. Aku baru bangun. Ini kamu yang bikin?” Didudukan Ghea tubuhnya di atas kasur dengan tanpa mata beralih dari nampan.
“Iya. Emangnya kamu ngarepin siapa yang bikin?”
“Kamu.” Ghea dapat mendengar tawa kecil nan geli di ujung sana. “kamu kenapa gak banguni aku? Malu loh aku bangun siang gini. Apa ntar kata Mama.”
“Mama bakalan ngerti kok kalau kamu abis kecapean tadi malam.”
Ah rupanya Ghea diingatkan lagi. Pipinya kali ini bukan panas, tetapi sudah terbakar. Lalu menggigit bibirnya kembali untuk menahan debar jantung yang semakin tidak tentram berdetaknya. Sial. Untung saja Gery tidak ada di sampingnya. Jika tidak, pasti ia akan menertawakannya.
Sudah lama ini kan kita bersama. Kenapa kamu selalu seperti ini aja sih?
Berdebar.
“Iya. Tapi kan tetep aja malu. Kalau di rumah sendiri kan gak papa mau gak bangun seharian juga.”
“Iya deh iya.”
“Ya udah, aku mau makan sarapan yang dibuat suami aku dulu. Dadah.”
“Oke. Gak cium aku dulu?”
Godaan yang nakal lagi. "Nggak!"
"Gak papa. Tadi pagi juga aku udah curi itu dari kamu."
Disentuh Ghea bibirnya. “Ih, Mas Gery.”
“Iya. Aku juga sayang sama kamu.”
Rasanya Ghea ingin mengumpat nakal pada lelakinya ini. “Dasar!” Kemudian di tatap layar yang sudah menggelap itu bersama senyum yang seakan tidak bisa Ghea hentikan.
**
Gery memutar kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit empuk itu dari menghadap kaca besar kembali berputar pada meja persegi panjang. Sebuah laptop bermerek, berwarna perak ada di hadapannya. Ia membuka benda canggih itu untuk kemudian dirinya larut dalam hitungan detik.
Dengan tarikan samar pada bibir yang tebal dan merah alami. Jari-jemari serta matanya tetap fokus pada satu titik. Layar di depannya.
Oh Ghea …
Nama itu selalu menggangu.
TOK TOK TOK
Seorang wanita masuk setelah ia mendorong pintu dari luar. Tubuhnya terlihat gugup. Rok span hitam di atas lutut. Kemeja planel lengan pendek dengan dua kancing teratas dibuka. Rambunya dikuncir dengan rapi. Menggenggam buku kecil berwarna hitam. Logo perusahaan di jilid depan buku itu dengan genggaman erat di atas perutnya. Kaki wanita itu melangkah tanpa suara.
Wajah Gery mendongak. Atensinya tentu beralih pada wanita yang berdiri gemetar di depan mejanya. “Ya, Arini. Bagaimana?” Gery bertanya. Menyimpan siku di atas meja kerja, kemudian membawa jari telunjuk untuk ia simpan di tengah bibirnya.
“Eum … itu, maaf, Mas—eh, Pak. Saya … disuruh Pak Adi untuk memberitahu jadwal anda beberapa jam ke depan,” katanya. Gugup. Gemetar. Dan … malu.
Jangan salah artikan malu yang Arini rasakan. Dia hanya malu karena ini adalah pengalaman pertamanya. Kerja di sebuah perusahaan besar. dan menjadi sekretaris tidak ada dalam khayalan hidupnya.
Sebelumnya Arini hanya bisa berpikir untuk bekerja dengan damai saja. Tanpa adanya gangguan dari para lelaki — ya katakan saja lelaki hidung belang. Yang seakan menjadikan dirinya mangsa lezat untuk mereka santap.
Arini tidak perlu menyalahkan para lelaki itu. Salahkan saja dirinya yang bekerja di tempat non-normal seperti klub malam untuk usia gadis seperti dirinya yang terbilang masih muda. Mungkin dua tahun lebih muda dari Gery.
Em sekarang Gery 30 tahun dan Arini 28 tahun.
Oke. Umur yang sebetulnya tidak muda. Tapi seperti lebih pada menggairahkan untuk dilihat oleh mata keranjang para lelaki. Apalagi dengan Arini yang memiliki tubuh profesional bak model catwalk. Ramping. Wajah lonjong yang cantik. Mata hitam bulat dan besar. rambut sepunggung hitam, indah, lurus dengan poni menutupi dahi. Perfect bukan?
Tapi Arini tahu, mencari kerja di kota besar seperti Jakarta ini terlalu sulit. Jadi dengan keadaan terpaksa dan mendesak, Arini menerima tawaran kerja sialan — bilang saja seperti itu karena Arini, jujur, tidak suka— dari salah satu temannya.
Dan sekarang Arini menjadi seorang sekretaris. Seperti mimpi memang. Jadi tidak salah jika dirinya sekarang ini merasakan kegugupan luar biasa dalam.
“Oke.” Gery tetap Gery. Seorang yang dingin, cuek dan eumm apa lagi sebutan yang pantas untuk dirinya itu. Pengecualian untuk Ghea tentunya yang selalu ia berikan sikap manis, nakal dan romantis.
Sikap itu tidak untuk orang lain. Apalagi untuk wanita lain.
Diturunkan Gery siku dari atas meja. Dengan tanpa melihat ke arah Arini —yang masih berdiri—
Gery melanjutkan lagi menarikan jari-jari panjangnya di atas keyboard laptop.
Arini mendesah. Diembuskan lebih dulu nafasnya itu dengan kasar lewat mulut. Ia membuka buku kecil hitam berlogo yang sebelumnya telah ia dapatkan dari Adi itu. Gery bukannya tidak tahu jika sosok wanita di depannya ini tengah gugup. Eum seperti takut salah. Tapi Gery mencoba acuh agar Arini tidak semakin kegugupan.
“Satu jam lagi anda ada wawancara khusus dari kampus Universitas Trisakti,” ujar Arini. Sekilas menatap Gery yang masih bergeming di balik bulu matanya.
“Oke.” Kepala itu mengangguk. “Apa lagi, Rin?”
Arini menggigit bibir bawahnya. “Em … tidak ada sepertinya, Pak. Mungkin untuk nanti malam saja jam delapan. Anda ada undangan dari Bu Novi.” Arini membaca catatan yang tertulis di buku hitam itu. “Guru SMA Garuda. Beliau mengadakan acara resepsi pernikahannya.” Diangkatlah Arini wajahnya setelah menutup buku catatan jadwalnya bosnya itu.
“Oke. Ada lagi, Arini?”
Kepala Arini menggeleng mesti Gery tidak melihat ke arahnya. “Tidak ada, Pak.”
Ah, sepertinya sekarang lidahnya lancar memanggil Gery dengan yang seharusnya. Tidak keseleo lagi.
“Hemm.” Ia hanya bergumam.
“Eumm … maaf, Pak,” kata Arini. Sedikit takut untuk mengungkapkan apa yang akan dia ungkapkan.
“Ya. Kenapa, Rin? Apa ada jadwal yang tertinggal yang belum kamu katakan?” Sekarang. Berbeda dengan tadi. Mata Gery menatap Arini yang seperti tengah gundah. Kedua siku cowok itu simpan di atas meja dengan kepalan tangan yang tersimpan di depan mulut. Dapat Gery lihat dari kedua mata wanita itu yang merah. Wajahnya suram
dan ada genangan yang mungkin sebentar lagi akan tumpah.
Gery melihatnya dengan iba. Tahu sebenarnya apa masalah yang Arini hadapi. Dan itulah alasan kenapa Gery menawarkan pekerjaan padanya sebagai sekretaris. Baiklah tidak perlu dikatakan saat ini. Karena belum waktunya.
“Dia …” terdengar ragu dari suara Arini.
Mulut Gery diam. Menanti dengan sabar tidak sabar apa yang akan dikatakan wanita ini selanjutnya. Tatapan cowok itu intens menatap wajah sendu di depannya. Iba dan kasihan.
“Dia ingin bertemu dengan saya. Dia tidak percaya apa yang saya bilang tempo hari.” Diembuskan Arini nafas itu berat dan kasar.
Gery terdiam. Berpikir. “Kapan?” Dan tanpa diduga ia bertanya demikian membuat Arini spontan memandangnya tidak percaya.
“Nanti sore. Jam lima. Di Raffles Hotel.”
TO BE CONTINUED ...
Note seizy ;
Tanpa note.