Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 22


Semua pemeriksaan sudah dijalani, ya, Bu Ghea. Kita tinggal menunggu hasilnya saja.


Jantung Ghea berdentam begitu kuat mengingat beberapa jam yang lalu jika ia sudah melakukan pemeriksaan lebih lanjut tentang kandungan dan rahimnya. Tanpa sepengetahuan suaminya tentu saja.


Dalam tiga hari ke depan hasilnya akan ke luar. Nanti pihak rumah sakit akan menghubungi anda. Atau tidak, hasilnya akan di antar ke rumah anda.


Sungguh, Ghea takut dengan hasil itu. Ketika dokter bertanya semua tentang keluhannya, dan setelah Ghea menjelaskan beberapa hal keluhan yang akhir-akhir ini sering ia rasakan. Dokter menyarankan dirinya untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi.


Alhasil wanita itu ke luar dari rumah sakit pukul dua siang untuk kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Bandung.


**


Suara klakson beberapa mobil dari belakang mobilnya begitu memekik telinga. Barulah Ghea sadar jika lampu merah di depannya sudah berubah hijau. Dengan terburu-buru bersama kepala yang berdenyut, ia pun menginjak pedal gas. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang melewati lampu merah.


Pukul tujuh Ghea sampai di Kota Kembang itu.


Dengan raga yang lelah dan bawah perut yang kembali merasakan pegal kesemutan, Ghea membelokkan mobilnya. Di depannya, gedung Hasan Sadikin terlihat menjulang. Mobil itu berhenti di portal. Ghea menurunkan jendela kaca mobil lalu menjulurkan tangan untuk menekan tombol. Begitu suara otomatis terdengar, sebuah kertas antrian parkir keluar. Ghea menarik itu lalu melajukan lagi mobilnya dengan pelan saat portal di depannya terbuka. Untuk kemudian ia mengedarkan pandangan. Mencari area parkir yang kosong.


Tidak langsung ke luar dari dalam mobil begitu kendara besi tersebut terparkir di samping mobil yang lain. Terlebih, Ghea menyandarkan belakang kepalanya sembari menghirup udara panjang dari paru-parunya. Pangkal hidungnya terasa berdenyut. Pun dengan bawah perutnya yang semakin terasa kesemutan. Juga pegal. Dan terkadang ada


rasa nyeri dibagian sana yang Ghea rasakan. Ia tidak bisa menjabarkan bagaimana rasa nyeri itu dengan sebuah kata-kata.


“Sayang …” ucap Ghea bergetar seraya mengelus perutnya. “Maafin Bunda, ya. Kamu pasti capek Bunda ajak jalan kamu jauh-jauh kayak gini,” gumamnya lagi tanpa berhenti mengelus perut yang sudah terlihat membuncit itu.


Hand phone Ghea bergetar saat punggungnya menjauh dari sandaran kursi kemudi. Dan nama Mama berkedip di layar.


“Iya, Ma?” jawab Ghea ketika hand phone itu sudah menempel di telinga.


“Kamu sudah sampai, sayang?”


Ditarik Ghea nafasnya. “Udah. Aku di parkiran sekarang, Ma. Ini mau masuk. Papa di ruang apa?” tanya Ghea seraya membuka seatbelt lalu meraih tas yang tersimpan di kursi sampingnya. Memasukan beberapa barang ke dalam tas. Sementara hand phonenya diapit di antara kepala dan bahu.


“Papa di ICU, Ghe.”


Pergerakan tangan Ghea berhenti seketika untuk membuka pintu mobil. Tubuhnya menegang. Bagian lutut sampai tumitnya mendadak lemas. Pun dengan jantungnya yang bergetar.


“ICU?” ulang Ghea. Suaranya lemah, pelan dan hampir tidak dapat terdengar oleh siapa pun.


“Iya, sayang.” Tapi tidak dengan Mama. Beliau mendengar suara Ghea yang lemah itu.


Membuka pintu mobil itu untuk kemudian Ghea menurunkan satu kakinya. Berdiri, meski lemah masih merayapi lutut wanita itu. “Ghea masuk sekarang, Ma. Mama tunggu Ghea, ya! Nanti Ghea minta bantuan petugas untuk antar Ghea ke ruang Papa. Mama jangan kemana-mana, ya, Ma!”


Panggilan itu Ghea putuskan. Dengan langkah tergesa, Ghea melangkah menuju pintu gedung rumah sakit. Melenyapkan rasa lemah di dalam dirinya. Ghea tidak boleh lemah. Ia harus kuat. Walau sadar jika ia tidak sekuat apa yang hatinya katakan. Tapi ini demi Mama.


Begitu Ghea sampai di bagian resepsionis rumah sakit, hand phone Ghea kembali bergetar. Ia sempatkan untuk melihat nama yang berkedip di layar. Namun, setelah itu Ghea abaikan. Gery yang memanggil dirinya.


Ah, ya. Ghea lupa untuk memberitahu suaminya jika dirinya sudah sampai. Tadi pun sewaktu Ghea di perjalanan, suaminya itu terus saja menghubungi nomornya dalam waktu sepuluh menit sekali. Namun, hanya beberapa panggilan saja yang ia jawab. Dan sekarang pun begitu. Ghea mengabaikan.


“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya bagian resepsionis rumah sakit ketika tubuh Ghea menjulang di balik meja panjang di depannya itu.


“Saya mau tanya, sus. Pasien atas nama Pak Jordan dari Jakarta yang tadi siang dialihkan ke ruang ICU—“


“Oh … Ibu mau jenguk? Tapi sebelumnya mohon maaf, ya, Bu. Waktu jenguk rumah sakit sudah habis. Dan untuk pasien atas nama Bapak Jordan tadi siang memang di alihkan ke ICU karena kondisi pasien menurun dengan kondisi darah yang kurang,” terang seorang wanita berseragam putih dan jilbab yang menutupi kepalanya begitu


ramah.


“Tapi saya bukan mau jenguk, sus. Saya anak dari pasien. Saya baru datang dari Jakarta dan saya ingin melihat kondisi Papa saya, sus.”


“Tapi sekali lagi mohon maaf, Bu. Tidak bisa. Apalagi pasien sekarang sedang perawatan intensif di ruang ICU yang mana tidak bisa sembarang orang masuk, karena di ruang ICU kondisi pasien dipantau 24 jam oleh Dokter yang bertugas.”


Sungguh, Ghea geram. Bagaimana bisa peraturan seperti itu digunakan oleh pihak rumah sakit? Ia bukan orang lain. Ia adalah anaknya. Tapi kenapa tidak bisa?


Ghea ingin melihat Papa dan Ghea harus melihatnya.


“Tapi saya bukan orang lain, Sus. Saya anaknya. Dan saya ingin melihat kondisi Papa saya. Salah? Dan di dalam—“ Ghea menoleh ke belakang punggungnya. Tepat di antara lorong-lorong rumah sakit itu. “—Mama saya sendiri. Saya tidak bisa membiarkan Mama saya sendiri menjaga Papa saya, Sus.”


Suster itu terdiam. Dia pun merasa tidak tega.


“Sebentar. Saya akan menghubungi dokter yang bertugas di ruang ICU lebih dulu. Jika dokter mengizinkannya, Ibu boleh masuk. Nanti petugas yang akan mengantarkan Ibu." Suster itu mengambil gagang telepon. Begitu suara suster itu terdengar, hand phone Ghea kembali bergetar. Masih dari nama pemanggil yang sama. Yang sebelumnya terus menghubungi nomor ponselnya.


Lagi-lagi ditarik Ghea nafasnya. Bersama jari jempol yang akan menggeser ikon hijau di layar ponsel, bersamaan dengan itu pula suster di balik meja itu bersuara.


“Baik, Bu. Dokter mengizinkan anda masuk,” katanya dengan seulas senyum. Saking senangnya, Ghea menurunkan tangannya. Tanpa sadar memasukan hand phone ke dalam tasnya lalu untuk yang kesekian kalinya mengabaikan panggilan telepon dari suaminya.


“Tapi mohon maaf, ya, Bu. Selama Ibu menemani pasien, hand phonenya harus dalam mode mati. Ini demi keamanan pasien yang sedang dalam masa perawatan di ruang ICU!”


Dianggukkan Ghea kepalanya. Ia merogoh hand phone lagi untuk kemudian mematikan benda tersebut.


Note seizy :


Untuk yang kesekian kalinya aku minta maaf karena belum bisa update rutin. Apalagi dengan kondisi fisik aku yang sekarang. Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyemangati dan mendoakan almarhum papa. Semoga kalian semua sehat dan diberi perlindungan Allah SWT. Amin


Ini mohon maaf ya kalau bab ini kurang ngefeel. Dan untuk bab ini, ini benar-benar cerita reel aku waktu kemarin Papa masuk rumah sakit. 3 hari 3 malam Papa dirawat di ruang inap. Dan setelah 3 hari itu kondisi Papa aku menurun. Dia drop. Dan dipindahkan ke ruang ICU. Di ICU papa aku hanya bertahan 2 hari satu malam. Dan waktu malam ke limanya Papa udah gak kuat.


Itu sedikit cerita dari aku. semoga kalian tetap diberi kesehatan jasmani dan rohaninya ya.


Banyakin komentarnya, nanti aku update lagi karena naskas sudah aku ketik.


Terimakasih. dan salam berdebar dari kang ngetik amatiran.


Seizy