Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 30


“Ghea!” Kursi kerja empuk dan berlapis kulit diputar tubuh Gery sampai terdengar suara pekikan pelan, lalu bokong seorang wanita yang tadi masuk ke dalam ruang tanpa seizin dari cowok itu pun mendarat di pangkuannya, karena lutut Gery yang tidak sengaja menabrak kaki Airin dengan keras, sehingga membuat tubuh Airin oleng dan berakhir di pangkuan nyaman cowok berwajah bak Dewa Yunani itu.


Sesaat, Airin menikmati dirinya dalam pangkuan. Matanya tertuju dalam pada bola mata abu-abu yang sungguh begitu menghipnotis.


Jika bisa, Airin ingin menikmati sebentar lagi saja berada dalam pangkuan hangat Gery. Tangan Airin yang terkepal di atas pahanya terasa gatal ingin menyentuh rahang kokoh Gery, lalu memberikan usapan lembut di sana.


Bulu-bulu tipis di bawah hidungnya begitu memikat mata Airin. Ia ingin mengoleskan krem di sana lalu membersihkannya menggunakan alat cukur.


Ah, lagi-lagi pikiran kotor dan jahat itu bersemanyam. Dan Airin sadar ketika matanya menemukan garis-garis wajah Gery berubah keras. Bibir tebal dan seksi cowok itu terkatup rapat dengan tekanan kuat di garis bibirnya.


Airin tahu, Gery sedang murka padanya.


“Ma—ma—maaf, Pak." Segeralah tubuhnya dibangkitkan dari pangkuan hangat yang terasa nyaman tersebut. Kepalanya menunduk takut dan kedua tangannya saling tertaut di atas perut.


Airin mengitari meja besar Gery kemudian berdiri di hadapan cowok itu. Ia sama sekali tidak berani untuk mengangkat wajah. Malu bercampur emosi dan senang di waktu yang bersamaan.


“Ngapain kamu?" tanya Gery. Suaranya selalu tegas, dingin, dan sekarang Airin malah menemukan amarah di dalam nada suara berat itu.


Dikerjapkan bulu mata Airin beberapa kali. Tautan kedua tangannya mengencang. “Ma—maaf, Pak. Saya masuk tanpa izin dari Bapak. Dan malah—“


“Ada perlu apa?" Gery menyela dengan cepat. Ia tidak akan mendengarkan penjelasan yang menurutnya omong kosong.


Lagi juga, Gery marah pada wanita yang sedang berdiri di hadapannya ini.


Berani sekali dia mendekat dan duduk di atas pangkuannya.


“Saya—“


TOK TOK TOK …


“Permisi, Pak?!" Tiba-tiba penjaga keamanan yang selalu berjaga di depan pintu masuk perusahaan Gery mengetuk pintu. Membuat wajah Airin menoleh sekaligus menahan kalimat yang akan diutarakannya pada Gery.


Gery memiringkan kepala ke satu sisi sambil kedua tangan saling tertaut di atas meja. “Ada apa?”


Pria yang bersetelan seragam hitam itu masuk ke ruangan mewah tersebut. Melewati tubuh Airin yang tetap diam di sana kemudian memperlihatkan sesuatu yang ia bawa di tangannya. “Ada paket untuk Ibu Ghea yang dikirimkan ke sini, Pak,” ujarnya sambil mengulurkan tangan dengan Gery yang menerimanya kemudian.


Sebuah amplop putih, berlogo rumah sakit yang di bawahnya terdapat aksara ‘Hasil Pemeriksaan Laboratorium’.


Alis Gery menukik saat melihat hurup demi hurup di atas amplop putih tersebut. Ia penasaran. Hasil pemeriksaan apa yang sudah Ghea lakukan sampai ia sendiri tidak tahu soal itu?


Ia ingin membukanya. Pandangannya terangkat, kemudian diurungkan niat Gery saat sadar jika masih ada Airin berdiri di sana dan si pria penjaga keamanan.


“Ya. Terimakasih," ucap Gery sambil memasukan amplop tersebut ke dalam saku jasnya.


Si pria penjaga itu pergi kemudian. Setelahnya hanya tinggal ada Airin dan Gery di dalam ruangan.


Airin kembali menundukan wajah saat matanya bertemu dengan mata Gery yang mengarah tajam padanya.


Mendadak lupa apa yang tadi akan Airin sampaikan sebelum si penjaga itu masuk.


“Ada yang mau kamu sampaikan pada saya?”


Kemudian suara berat itu terdengar menggema lagi.


“Heuh?!” Kefokusan Airin sampai hilang mendengar suara berat namun terdengar seksi itu. Lalu ia mengerjap dan menggelengkan kepala.


“Ekhem …” Dan cewek yang berdiri kikuk itu berdehem pelan. Menelan salivanya lebih dulu untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering.


“Saya hanya ingin memberitahu Bapak, jika jam tiga sore nanti anda—“


“Batalkan saja! Atur kembali jadwal saya sore ini! Karena saya harus pergi Ke Bandung.” Gery menyela dengan cepat. Ia membereskan map-map yang terbuka di atas meja lalu menutup laptop.


“Kamu juga bisa pulang cepat!” Gery melanjutkan lagi.


Harusnya mendengar ‘pulang cepat’ Airin happy, bukan? Tapi kenapa hatinya mendadak kosong dan ... hampa?


“Anda mau ke Bandung, Pak?” ulang Airin sambil memberanikan diri mengangkat wajah, dan pandangannya mengarah pada Gery yang sedang sibuk sendiri di mejanya. Entah apa yang sedang cowok itu lakukan. Atau sedang mencari apakah cowok itu karena Airin melihat Gery yang membuka laci-laci meja.


Tubuh Gery merunduk miring dengan satu telapak tangan bertumpu pada meja, ia angkat sedikit wajahnya sambil menutup laci meja paling bawah. “Ya. Saya akan menyusul istri saya ke Bandung,” jawab Gery sambil menegakkan lagi tubuhnya. “Kenapa? Ada masalah?”


Ya. Ada. "Tentu saja tidak ada, Pak.” Airin tertawa pelan dan kikuk. Yang membuat Gery menarik satu alisnya.


“Kalau begitu saya permisi, Pak. Terimakasih karena sudah mengizinkan saya pulang lebih awal.”


“Hemm …”


Batinnya tersiksa. Kejadian beberapa detik yang lalu membuat pundaknya terasa berat seolah memikul beban yang baru lahir.


Diambilnya hand phone untuk kemudian cowok itu menempelkannya ke telinga, dengan satu tangan menumpukan beberapa map yang masih tersisa lalu menyatukannya dengan tumpukan lain di atas meja.


Ketika suara lain terdengar di seberang sana, Gery yang tengah mengotak-ngatik tab-nya, seketika jarinya berhenti menari di atas layar canggih itu. Kemudian menyandarkan punggungnya. Siku cowok itu menekuk dan menyentuh tangan kursi kebesarannya.


“Halo, Ma?" sapanya juga pada Mama sora yang berada jauh di sana. “Aku Cuma mau kasih tahu, kalau sore ini aku mau ke Bandung,” ujar Gery bersama wajah datarnya.


"Lohhhh ... Tapi, Ghea udah pamit sama Mama. Katanya mau pulang dulu ke Jakarta.”


Kepala yang selalu mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk sang Papa Dika pun dahinya terlipat. Mengerut dalam. Agak kaget sekaligus senang dalam waktu yang bersamaan. “Jam berapa Ghea dari Bandung, Ma?”


“Sekitar jam sebelasan. Mungkin sekarang mau masuk tol, Ger.”


Kemudian, dilirik Gery jam yang melingkari tangannya. Yang sudah menunjukan pukul dua sore lewat lima puluh. Itu artinya beberapa jam lagi Ghea sampai rumah.


“Oke, Ma. Kalau gitu aku bakal tunggu Ghea di rumah aja,” ujarnya seraya tubuh atletis itu bangkit dari duduk. Dengan hand phone yang masih menempel di telinga, Gery memasukan tab-nya ke dalam tas kerja menggunakan satu tangan yang lain.


“Papa gimana sekarang, Ma?” Ah, Gery sampai lupa untuk menanyakan kabar sang Papa saking terburu-burunya


dan saking tidak sabarnya untuk menunggu Ghea sampai untuk kemudian bertemu di rumah.


“Kata dokter, darah Papa masih belum stabil, Ger.”


Mendengar itu membuat dada Gery sesak. “Mama yang sabar, ya. Aku selalu berdo’a buat kesembuhan Papa." Wajah cowok itu berubah muram. “Nanti aku ke sana bareng sama Ghea, ya, Ma.”


**


Ke luarnya Gery dari dalam ruangan, bertepatan dengan Airin yang sedang memasukan beberapa barang pribadi ke dalam tasnya.


Kepala dengan rambut hitam, legam yang diurai itu mendongak. Lalu memasang senyum ramah serta sopan pada cowok dengan tubuh atletis menjulang di depannya. “Sudah mau pelang sekarang, Pak?” tanyanya. Ukiran di sudut bibirnya masih belum lepas. Ia mencari perhatian atau hanya sekedar basa basi saja. Entahlah.


Yang jelas Gery sama sekali mengacuhkannya dengan gumaman jelas ke luar dari bibirnya. “Hemm …”


Tubuh atletis itu melewati meja Airin. Dan baru beberapa langkah, suara benda jatuh melintasi pendengaran Gery. Saat cowok itu berbalik dengan gerakan refleks, Airin sudah terduduk di lantai, depan meja kerjanya. Tangan Airin bertumpu pada atas meja, berniat bangkit sendiri.


Inginnya Gery mengabaikan wanita itu. Pandangannya mengedar, berusaha mencari seseorang. Tapi, sayangnya di sana tidak ada siapa-siapa. Besar kemungkinan karena ini masih jam kerja.


Digelengkan Gery kepala bersama suara decakan malas ke luar dari bibir cowok itu. Kaki Gery melangkah untuk kemudian membantu Airin yang masih kekusahan untuk berdiri.


“Terimakasih, Pak,” sahut Airin saat sudah berdiri dengan bantuan Gery.


Gery terdiam. Saat ini cowok itu serba salah. Ingin tidak perduli, namun melihat wajah Airin yang pucat nalurinya merasa tidak tega.


“Kamu pulang naik apa?” tanyanya kemudian pada Airin.


“Angkot, Pak." Karena untuk membayar taxi, Airin merasa uangnya lumayan jika untuk kebutuhan yang lain. Taxi di Jakarta terlalu menguras menurutnya.


**


Mobil sedan hitam mencuat di antara deretan mobil yang lain ketika di lampu merah. Dengan tubuh yang sudah letih Ghea masih duduk di kursi kemudi. Kedua tangannya mencengkeram bundaran setir dengan elegan. Sesekali satu tangannya Ghea jauhkan dari sana untuk sekedar mengambil botol minum di kursi samping yang kosong.


Kelaksonnya berbunyi keras dan mobilnya berhenti mendadak, ketika Ghea ingin berbelok ke arah pernah perumahannya saat ada pengendara lain yang berasal dari arah jalan belokan itu. Bibir merah manisnya mengumpat refleks, karena mobil tersebut hampir menyentuh bodi mobil depannya.


“Astaga … Nyetir hati-hati kali!” Mengelus dadanya karena berdebar, Ghea menginjak kembali pedal gas itu.


Sekarang mobil itu sudah akan memasuki gada-gada perumahan. Mata Ghea memicing seketika, melihat mobil lain lebih dulu melewati gada-gada. Dan itu mobil suaminya.


“Ngomong-ngomong Mas Gery tahu gak, ya, aku balik?” gumamnya pada diri sendiri. Bibirnya berkedut. “Semoga aja belum,” ucapnya lagi. Karena Ghea lupa memberikan pesan pada Mama sebelum dirinya pulang untuk tidak memberitahu Gery jika cowok itu menelepon.


Lantas Ghea mengikuti dari belakang mobil sedan suaminya itu. Namun, alisnya menukik tajam saat mobil Gery yang justru melewati pagar rumahnya.


“Loh … Kok lurus? Mas Gery mau ke mana dulu?”


TO BE CONTINUE


Eh eh eh Mas mau ke mana dulu itu?


Jangan-jangan mau ke yang muda …


Bab yang ini drama banget, astaga ... maaf kang ngetik lagi pen ngedrama soalnya, mamen ...