Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 16


Dibuka Airin pintu rumah berwarna coklat tua itu untuk kemudian dirinya masuk ke dalam. Menghela nafasnya lalu ia duduk di kursi yang terbuat dari rotan. Airin tidak tahu apa yang membuat dirinya kesal saat ini. Kemudian ia meraih hand phone di dalam tasnya. Satu pesan masuk.


Pak Adi


Besok jangan telat! Kita harus mensurvei lokasi pembangunan di Bogor!


Bersamaan dengan kedua bahunya yang turun, wanita paruh baya dengan syal melingkar di sepanjang lehernya menghampiri Airin. Segelas teh ada di tangannya.


“Baru pulang?" tanya wanita paruh baya itu sambil menyimpan gelas di atas meja. Di depan Airin. Kemudian Ibu duduk di kursi kosong tepat di sebelah kursi yang Airin duduki.


Airin mengangguk dalam senyuman yang lepas dari garis bibirnya.


“Ibu belum tidur?" Gadis itu bertanya. Dibungkukkan Airin tubuhnya untuk meraih gelas lalu menyesap teh hangat yang tadi Ibunya suguhkan padanya.


“Belum,” jawabnya. Usapan lembut pun Ibu berikan di bahu Airin.


Gadis itu tersenyum lagi. “Ibu udah makan?”


“Udah.”


Untuk sedetik waktu yang berjalan, dikerutkan Airin dahinya itu sembari menoleh pada Ibu. “Loh, Ibu masak?”


Ibu hanya menganggukkan kepalanya.


“Ck. Bu, aku kan udah bilang.” Tangan yang sudah keriput itu diraih Airin untuk digenggam. “Ibu jangan capek-capek! Ibu hanya perlu istirahat aja. Biar nanti aku yang lakuin semua pekerjaan rumah. Ya!”


“Ibu bosen, sayang, kalau harus baringan terus di kasur.”


“Kalau bosan, kan Ibu bisa pindah. Duduk di kursi. Hem.” Airin selalu mencoba memberikan senyuman untuk Ibunya. Ingin sekali gadis itu memberikan kebahagiaan yang lebih. Tapi ia belum bisa. Airin belum mampu.


Apalagi dengan kondisi Ibu yang sekarang. Bukan hanya kebahagiaan saja, namun,Airin selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Ibu.


Semakin digenggam erat Airin tangan Ibu dengan kedua mata yang sudah merah. Memanas. Berkaca-kaca. Siap, cairan itu lolos dari sana. Begitu juga dengan Ibu.


Diusap Ibu pipi Airin dengan jari-jarinya. “Maaf. Ibu selalu meropatkan kamu, Rin,” katanya yang tidak bisa menahan laju air mata untuk lolos melewati pipi Ibu.


Kepala Airin menggeleng. Menyentuh tangan keriput Ibu yang masih menangkup satu sisi wajahnya. “Ibu jangan ngomong gitu. Ini udah kewajiban Airin bahagiain Ibu.” Dikecup Airin punggung tangan Ibu. Lama. “Airin hanya ingin Ibu selalu sehat,” katanya. Dadanya sesak. Ia ingin menjerit. Sekali saja. Meski begitu, ia tidak bisa. Tidak ingin memperlihatkan pada Ibu jika sejujurnya ia lemah. Lelah.


Dijauhkan Ibu tangannya dari wajah Airin seraya mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Menghadap ke depan dengan pandangan kosong. Menerawang pada masa silam. “Jika saja Ayah kamu …,” mendadak suara Ibu tercekat. Air matanya tidak bisa lagi Ibu tahan. Luruh begitu saja menganak sungai melewati pipi. “Tidak membohongi Ibu." Wajahnya menoleh. Menatap Airin yang juga tengah menahan suara isak tangisnya agar tidak keluar. Agar Ibu tidak mendengar apa yang sebenarnya Airin tengah rasakan. Kehancuran dan kebencian menjadi satu-satunya yang mendominasi perasaan gadis itu saat ini.


“Mungkin kamu tidak akan hidup seperti saat ini, Sayang.” Diembuskan Ibu nafasnya pelan. “Ibu sudah egois, Rin. Jika saja waktu itu Ibu tidak ngotot untuk membawa kamu hidup bersama Ibu, mungkin sekarang kamu—“


“Bu—“


“Ayah kamu benar. Ibu tidak akan bisa membesarkan kamu. Memberikan kamu kebahagiaan yang seharusnya kamu dapat. Ibu tidak bisa memberikan itu semua. Ibu hanya bisa memberikan kamu kesusahan, Rin.”


“Nggak, Bu—“ kepala itu menggeleng.


“Untuk itu, Rin—" Ibu menarik nafas lalu menatap matanya dengan lamat. Sungguh-sungguh. “Kamu harus menemui Ayah kamu! Ibu yakin, jika bukan hanya Ayah saja yang menginginkan kamu. Tapi juga kamu. Ibu yakin jika sesungguhnya kamu rindu sama Ayah, kan?”


“Maafin Ibu yang suka larang-larang kamu buat ketemu sama Ayah.” Ibu kembali terisak.


“Ibu …” Lalu Airin tidak bisa jika tidak mendekap tubuh yang bergetar itu. Untuk kemudian melingkarkan kedua tangannya  di seluruh tubuh Ibu. Dikecup Airin puncak kepala Ibu. Lama. Menyalurkan semua rasa sayang dan kekuatan pada Ibu tentu saja. Meski jujur, dirinya juga butuh seseorang untuk menguatkannya.


Mas Gery.


Entah mengapa dalam hati Airin menggumamkan nama itu.


Ah, ia jadi kembali teringat dengan sikapnya Gery yang berubah. Dari dingin semakin seperti es balok yang tersimpan di dalam freezer. Membeku.


Tidak, Airin!


Jangan punya perasaan apa pun padanya. Dia udah begitu baik ingin membantumu. Menyelesaikan masalahmu!


**


Di sisi lain.


Lengan Ghea ditarik Gery ketika sampai di lantai 21 hotel Rafles. Di lorong yang sepi. Langkahnya yang cepat membuat Ghea tidak bisa menyeimbangkannya dan kemudian wanita hamil itu terpaksa harus mengikutinya dengan cepat. Ah bukan itu. Maksudnya adalah Ghea yang berjalan seperti sedang digusur. Cepat dan dia seperti tidak memperdulikan dengan kondisi Ghea yang sedang berbadan dua. Untung saja sepatu yang Ghea kenakan begitu tipis. Tidak terbayangkan jika telapak kakinya terbungkus sepatu hak tinggi yang pasti itu akan membuat jari-jari kecil kakinya merasa sakit. Bahkan bisa jadi memerah. Lecet.


“Mas!” Entah sudah berapa kali Ghea memanggil dari keluar lift. Tapi tidak didengar. Gery mendadak menjadi pria tuli.


Ditekan Gery garis bibirnya kuat. Rahang cowok itu membentuk sebuah garis. Bola mata abu-abu yang selalu teduh kini sirna. Tidak ada. Sekarang bola mata itu dingin. Api amarah siap Gery semburkan dari matanya itu.


“Aduh, duh …” Ghea meringis. “Mas, jalannya pelan-pelan! Jangan tarik-tarik aku terus! Perut aku sakit.”


Barulah cowok itu menghentikan langkahnya. Menarik nafas dalam sebelum ia embuskan secara kasar Gery berbalik. Menatap Ghea yang tengah menggigit dalam bibir bawahnya. Dilepaskan Gery tangan Ghea untuk kemudian cowok itu meraup wajah dengan kasar.


Cowok itu diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun lewat mulutnya. Hanya menatap Ghea dengan pandangan nanar.


Dirotasikan Ghea matanya. Jengah. Untuk kemudian ia bertanya. “Kamu mau bawa aku ke mana, sih, Mas? Bukannya tadi kamu bilang akan pulang?” Bersama suaranya yang malas.


Gery memutar bola mata. Tidak sadar kah Ghea jika dirinya masih berada dalam gedung hotel. Lantai 21? Tentu saja cowok itu belum bisa membawanya pulang. Ke luar dari dalam gedung sebelum Gery memberi pelajaran pada wanitanya ini.


“Oh siht!” Umpat cowok itu lagi saat matanya turun. Melihat pinggang Ghea lalu ingatan saat pinggang itu dirangkul oleh tangan cowok lain membuat darahnya kembali mendidih. Sesaat ia memejamkan mata itu. Erat. Dan berusaha meredam semua kecemburuan dan kemarahannya di lorong gedung hotel lantai 21 itu.


“Kamu mau ikut jalan sama aku atau tinggal di sini?” maksud Gery adalah, jika Ghea tidak akan ikut dengannya, ia akan meninggalkan Ghea di lorong sepi itu.


“Kenapa kita gak langsung pulang aja?” tanya wanita itu setengah takut.


Sumpah. Saat ini Gery tidak menunjukan sikap ramahnya. Sikap romantisnya. Sikap hangatnya. Sikap yang selalu Gery berikan pada Ghea biasanya.


Gery menekan garis bibirnya lalu melipat itu ke dalam. Tidak bicara lagi. Justru cowok itu menarik kembali tangan Ghea. Namun, kali ini tidak kasar seperti tadi. Ia meraih pinggang Ghea lalu merangkulnya. Berjalan berdampingan.


Sedikit perasaan Ghea tenang. Meski jujur dalam hati yang dalam Ghea masih merasa takut.


Dalam artian bukan takut pada suaminya ini. Tetapi, takut dengan apa yang akan Gery lakukan padanya. Ghea gugup.


Dikerutkan Ghea dahi itu saat keduanya berdiri di depan pintu kamar yang berada di ujung lorong. “Mas, ngapain?” Bibir itu mengerut. Ghea bertanya. Dan Gery tidak menjawab. Cowok itu sibuk membuka akses pintu kunci menggunakan ID card yang sebelumnya sudah Gery dapatkan dari resepsionis ketika ia memesan kamar.


Daun pintu berwarna coklat itu dibuka oleh Gery. Hanya setengah saja pintu itu terbuka. Lalu Ghea? Wanita itu bertanya pada Gery lewat sorot matanya. Untuk kemudian Gery menyuruh Ghea masuk dengan gestur wajahnya. Seolah cowok itu pun paham arti tatapan teduh dari Gheanya.


Wanita Gery itu menurut. Jantungnya berdebar merasakan suasana kamar hotel yang temaram, dan wewangian aroma terapi langsung masuk ke indra penciuman saat kaki jenjang Ghea melangkah, lebih masuk ke dalam.


Digigit Ghea dalam bawah bibirnya. Ia berpikir. Kira-kira hukuman apa yang akan didapatkan Ghea dari suami pecemburu. Posesif. Dan orang sering bilang sombong itu?


Kesenangan?


Kenikmatan?


Atau …


Kesengsaraan?


Atau juga …


Ketiganya?


Oh God! Jantung Ghea serasa dipecut kuat oleh sebuah cambuk kuda. Ia berdebar. Lagi. Dan kali ini debaran itu um … menggila. Semakin menggila. Tidak dapat terkontrol dengan cara apa pun. Sekalinya tarikan nafas yang Ghea embuskan membuat dirinya merinding di sekujur tengkuk leher. Kemudian turun pada pangkal lengal. Dan


semakin turun, memacu adrenalin cewek itu.


Begitu juga dengan perut Ghea bergejolak. Pergelangan kakinya seakan berubah menjadi jelly. Tidak dapat bergerak. Ia butuh sesuatu untuk dicengkeramnya. Untuk itu Ghea memilih cluth yang masih ada di tangan untuk ia remat. Untuk ia cengkram. Kuat dan semakin kuat, saat Ghea merasakan kedua tangan besar milik seseorang melikar di sepanjang pinggangnya.


Punggung Ghea menegang.


Note Seizy:


Hai ... maaf telat lagi updatenya. Dan terima kasih untuk kamu yang sudah menunggu. Meluangkan waktu untuk membaca cerita sederhana yang aku ketik ini.


Semoga harimu selalu menyenangkan. Diberi kebahagiaan yang berlimpah. Dan tentu selain itu semoga selalu diberikan kesehatan yang memang tak ternilai harganya.


Jangan lupa untuk selalu minum dan makan yang banyak biar tubuh kita terjaga. Apa lagi dengan cuaca dan kondisi bumi saat ini.


Jika yang punya akun Instagram boleh follow akun aku. @seizyll_Koerniawan. Atau gak, cari nama Seizy kurniawan aja. Sebelumnya terimakasih.


Love Seizy


Kang ngetik amatiran yang lagi rindu