
Siang itu Ghea keluar dari kelas. Tak lupa tasnya pun tersampir di bahu. Karena ini sudah waktunya pulang. Saat semua murid sudah berhambur menuju parkiran. Ghea justru masih berjalan seorang diri di koridor sekolah. Pikirannya menerawang. Masalah darurat apa yang disampaikan Adi pada Pak Gery? Sedari tadi kepala Ghea dipenuhi dengan pertanyaan itu.
Ini terlanjur buat Ghea penasaran. Gak biasanya juga, sih. Baru kali ini Ghea benar-benar kepo. Sungguh, Ghea itu tipikal cewek yang masa bodo, sekarang ia justru sedang dilanda penasaran.
"Ck, menyebalkan." Ghea menendang batu kerikil yang ada di depannya. Dan tanpa sadar itu mengenai orang.
"Aw." Sampai orang itu meringis.
Ghea mendongakan kepalanya. Celingukan sana sini. Mencari suara orang yang meringis tadi.
"Lo gak punya mata atau sengaja? Heuh?" Sungut orang itu berapi-api. Ghea langsung menghampiri orang yang sedang berdiri tidak jauh dari mobil yang Ghea parkir. "Lo gak papa? Sorry, gue gak sengaja," katanya, saat sudah ada di hadapan cewek itu.
Cewek yang sudah terkena timpukan kerikil dari Ghea.
Cewek itu mendongak. Mempertemukan wajahnya dengan wajah Ghea. "Loh kamu? Kita ketemu lagi. Ya ampun jodoh banget, sih, kita tuh?"
Najis banget. Gue udah nikah oy. Lagi pula gue cewek normal. Kagak mau punya jodoh yang cewek juga. Kata Ghea dalam hati.
"Hehehe …" Ghea hanya terkikik. "Lo yang waktu di restoran kemarin kan?" Kemudian bertanya.
Cewek itu mengangguk. "Iya. Eh sekarang ingat, ya? Aku kira bakal lupa lagi," sahutnya polos.
"Kok kita bisa ketemu lagi, sih? Udah tiga kali loh," ujarnya. Kemudian mengingatkan Ghea jika pertama pertemuannya itu saat di rumah sakit.
"Iya." Ghea menjawab seadanya saja. Gak tau juga harus menanggapinya bagaimana.
"Sudah tiga kali ketemu tapi kita belum kenalan, ya," katanya. "Aku Dita," ujarnya sambil mengulurkan tangan kanannya pada Ghea. Mengajak Ghea untuk berkenalan.
"Ghea." Menerima uluran tangan cewek yang bernama Dita itu.
"Oya, ngomong-ngomong cowok yang waktu sama kamu itu suami kamu, ya?"
Eh kok si Dita ini malah kepo, sih?
"Em … itu, dia."
"Jujur aja gak papa kali!"
Ghea gak terlalu suka jika ada orang asing yang bertanya sifat pribadi padanya. Ghea selain tipikal cewek yang masa bodo ia juga bukan tipikal cewek yang gampang akrab dengan orang asing. Lagian nih cewek siapa sih? Dari pertama ketemu udah so kenal so akrab banget.
Ghea tersenyum lagi.
"Ngomong-ngomong dia tampan loh. Mirip banget sama-"
"Udah banyak kok yang bilang gitu." Ghea menyela. Walau belum tahu apa yang akan dikatakan Si Dita itu, tapi Ghea udah yakin kalau suaminya itu bakal dibilang mirip Kai EXO. Masalahnya juga udah banyak yang bilang gitu.
"Eh." Ghea cengengesan. Ghea kira Si Dita bakal bilang mirip Kai EXO, ternyata salah, ya?
Tapi, apa tadi katanya?
Pacar aku?
"Pacar kamu? Masa, sih?" Ghea mengernyitkan keningnya dalam. Dipikir cewek ini ada hubungannya sama Pak Gery. Namun, sedetik kemudian Ghea tepis prasangka itu. Gak mungkin. Pikirnya.
"Iya. Makanya pas ketemu di rumah sakit aku kaget. Kok pacar aku sama cewek lain ya? Aku kira kamu itu pelakor!"
Deg
Jantung Ghea rasanya perih banget saat Si Dita bilang Ghea pelakor. Nggak ditujukan ke Ghea, sih. Tapi kok dari tatapan matanya Ghea merasa Dita ngomong gitu ngena banget, ya? Seakan benar apa yang Dita katakan tadi itu tertuju untuk Ghea. Apalagi dengan tatapan Dita yang tajam. Membuat perasaan Ghea tidak menentu. Seperti ada yang salah dalam dirinya. Tapi apa? Pun Ghea tidak mengerti.
Jauh dari arah yang berbeda. Pak Gery melihat interaksi Ghea dan Dita. Pak Gery refleks berlari. Melihat itu membuat jantungnya seakan terpompa cepat.
Berbeda dengan Ghea yang tidak melihat Pak Gery. Dita, yang tidak sengaja melihat Pak Gery berlari ke arahnya. Ia tersenyum licik. Namun sedetik kemudian langsung pamit ke Ghea.
"Kalau gitu aku duluan, ya," pamit Dita sambil menepuk bahu Ghea. "Aku yakin kita akan bertemu lagi di lain hari. Dan pertemuan selanjutnya aku pastikan akan lebih menyenangkan." Dita berujar demikian entah apa maksudnya. Seringai pun tercetak samar di wajahnya.
Ghea tidak mengerti apa maksud kalimat yang diucapkan Dita. Namun ia tidak ingin ambil pusing. Kemudian hanya tersenyum saja untuk menanggapi Dita.
"Ghea," panggil Pak Gery. "Kamu gak papa?" tanyanya seraya menyentuh kedua bahu Ghea. Menilik semua tubuh Ghea. Membolak balikan tubuhnya, melihat apa ada yang terluka atau tidak.
"Aku gak papa. Emang kenapa, Mas?" Ghea mengerutkan dahinya. Heran. Ada apa dengan Mas Gerynya ini?
Pandangan Pak Gery berlarian ke segala arah. Mencari sosok cewek yang tadi bersama Ghea. Sembari dalam hati mengumpat kasar. Menggeram dengan gigi yang gemeretak. Ghea semakin heran dengan raut wajah suaminya ini.
"Mas!" Lalu Ghea menegur takala Pak Gery tidak menjawab pertanyaannya.
Pak Gery terhenyak, kemudian pandangannya menunduk menatap wajah Ghea. "Ya. Gimana?" Seraya tangan itu tidak lepas dari menyentuh kedua bahu Ghea.
Ghea berdecak. "Malah balik nanya. Kamu kenapa? Kok aneh?"
"Heuh?" Pak Gery refleks salah tingkah. Bola matanya bergoyang. Berpaling ke sana sini. Kemana aja asal tidak bertemu dengan mata Ghea.
Ghea semakin heran. Seolah dari gelagatnya ada yang Pak Gery sembunyikan.
"Aneh gimana maksud kamu?" Pak Gery bertanya tanpa menatap Ghea. Dan Ghea menyadari itu.
"Ya aneh. Tapi ya udahlah. Yuk pulang!" Ada rasa curiga di hati Ghea. Namun Pak Gery beruntung Ghea tidak bertanya lanjut.
TBC