
“Gimana, Ger—“ Papa Dika duduk di kursi utama meja panjang dengan delapan kursi di setiap sisi. Mengelilingi meja panjang berwarna coklat tua berbahan kayu jati, sepertinya. Disandarkan Papa Dika punggungnya pada sandaran kursi dengan santai. Menatap sang anak yang duduk di kursi seberang sana.
“Gimana apanya, Pa?" tanya Gery dengan tatapan yang tidak lepas dari sang Papa. Bersama kedua tangan yang ia simpan di atas meja. Saling tertaut.
“Pak Wira Adiguna.”
Gery terdiam sejenak. Untuk mencari diksi yang sesuai dengan nama yang disebutkan Papanya itu. “Eum ..” cowok itu terlihat berpikir. “Mengagumkan.” Ya satu kata yang pantas untuk Pak Wira Adiguna.
Papa Dika mengernyitkan dahi. Memiringkan kepala pada satu sisi.
“Sosok yang bisa diajak kerja sama. Maybe.”
“Tentu saja." Ditegakkan Papa Dika punggungnya. Menyimpan kedua siku di atas meja dengan jari telunjuk di atas dagu. Mengusapnya.
“Papa sudah kenal lama dengan Om Wira?” tanya Gery. Sedikit penasaran. Karena cowok itu sama sekali tidak tahu dengan orang itu. Hanya saja wajahnya … oh seperti siapa dia?
Otak Gery seakan tak mampu untuk mengingatnya.
“Dua tahun," jawabnya sedikit tidak yakin. “Dia tinggal di Jerman sekarang ini.”
Digerakkan Gery kepalanya naik turun. “Ya. Beliau juga bilang seperti itu.”
“Perusahaannya juga diurus sama putranya.” Papa Dika melanjutkan.
“Nandan Lesmana?”
Papa Dika mengangguk. Mengiyakan. “Kamu kenal?”
Gery menggelengkan kepala. Tentu tidak. “Nggak. Om Wira kemarin yang bilang.”
Ini adalah obrolan random dirinya dan sang Papa yang memang jarang sekali untuk meluangkan waktu seperti saat ini. Dirinya mau pun Papa sama-sama orang sibuk.
So busy forgetting the situation.
“Eum, katanya Om Wira punya anak perempuan. Papa tahu?”
“Ya. Tapi dia ikut dengan Ibunya. Kalau Papa gak salah dengar, Pak Wira sama mantan istrinya itu sudah berpisah waktu putrinya umur 15 tahunan.”
“Terus, Nandan? Apa dia putra dari istri baru Om Wira? Atau masih dari mantan istrinya itu?”
“Ya. Nandan putra Pak Wira dari istri keduanya.”
Sulit untuk Gery cerna semua ini. Hatinya seakan berperang. Ingin lebih tahu tentang ini. Ah bukan itu maksudnya. Salah jika saat kemarin Gery bilang masa bodo dan tidak ingin tahu soal Pak Wira. Tapi, nyatanya tidak. Nalurinya seakan ingin lebih mencari tahu sosok itu dan keluarganya. Dewa dalam batinnya seperti berperang dengan dirinya sendiri. Sialan. Baru kali ini ia merasa kepo dengan kehidupan orang lain.
“Terus kenapa sekarang Om Wira tidak tinggal di Jakarta, Pa?”
Tentu saja Papa Dika mengerutkan dahinya. Kali ini kerutan itu terlihat sangat dalam. “Kamu lagi cari info soal Pak Wira? Ada apa?” Nah akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Papa.
Tubuh Gery menegang dalam duduk. Ia gelisah. Tapi dia juga tidak bisa berbohong dengan Papanya ini. Satu hal yang Gery hindari dari hidupnya. Ya, katakan saja sebuah frinsip. Bohong pada orang tua sama saja dengan dirinya menggali kematiannya sendiri.
Kalau dengan Ghea?
Oh, cowok itu pernah berbohong tentunya. Dan berakhir dengan kekacauan. Ancaman Ghea ingin meninggalkannya.
Lalu untuk saat ini bagaimana?
Gery frustasi. Ia ingin jujur tentu saja. Tapi—
Oh My God. Setan mana yang sekarang sedang menguasai dirinya ini?
Oh Ghea, i'm sorry for hiding something from you.
Geram Gery dalam hati.
Papa mengangkat kedua bahunya. Pertanda jika Papa juga tidak tahu. “It's a personal thing, Gery.”
**
Kurang lebih 30 menit Gery berada dalam ruang meeting itu. Bersama dengan sang Papa dan hanya saling bertukar kalimat. Tanpa adanya obrolan serius dengan bahasan pekerjaan.
Dipercepat langkah Gery menuju ruang kerjanya. Kepala cowok itu ditundukan, melihat hand phone untuk kemudian ia mengirim pesan.
Gery
Sayang, malam ini, jam delapan ada undangan acara resepsi pernikahan Bu Novi. Salah satu guru SMA Garuda. Jam tujuh kamu sudah harus siap. Nanti Adi yang akan jemput.
Dibukanya Gery pintu ruang kerja bersamaan dengan satu pesan masuk ke nomornya. Ia sudah harus siap melakukan wawancara dengan mahasiswa Universitas Trasakti.
Ghea.
Kenapa harus Mas Adi yang jemput? Kenapa gak kamu?
Dengan perasaan yang merasa kecewa pada diri sendiri, ia duduk di kursi kerjanya. Kembali jari panjangnya itu mengetikan pesan di layar hand phone.
Gery
Ghea
Hemm
Gery mendesah. Sedikit frustasi karena hanya mendapat pesan gumaman saja dari istrinya ini. Ia tahu jika Ghea merasa kecewa.
Pintu di ketuk dan Arini masuk. Seperti biasa, Gery masih mendapati tubuh wanita itu gemetar ketika menghadap dirinya.
“Ya, Arini?” Gery menyimpan hand phone di meja samping kanan laptopnya.
“Maaf, Pak. Mahasiswa yang akan melakukan wawancara sudah sampai.”
“Ya. Persilahkan saja masuk!” Gery kemudian berdiri.
Arini menganggukkan kepala. Setelah itu tidak lama seorang wanita masuk. Sepertinya dia adalah mahasiswa Trasakti yang akan melakukan sebuah wawancara padanya untuk majalah kampus tentunya.
**
Ghea mendesah keras. Mengerucutkan bibirnya seraya melemparkan hand phone ke atas bantal. Lalu Ghea meraih remote di atas kasur samping tubuhnya untuk kemudian ia alihkan channel di sebuah layar besar di depannya—yang membosankan. Ah, tidak. Bukan chanel itu membosankan karena sedari tadi wanita itu menonton The Movie yang membuat dirinya terbakar dengan adegan-adegan di dalamnya. Moodnya berubah saat ia membaca pesan singkat dari suaminya itu. Pesan yang membuat perasaannya jengah.
“Kenapa apa-apa harus sama Mas Adi, sih? Emangnya gak bisa kalau dia yang ngerjain sendiri? Jemput gue di rumah. Bukan malah nyuruh orang lain. Ck.” Dialihkan Ghea lagi chanel itu dengan remot. “Lagi juga Mas Adi mau-maunya aja disuruh-suruh.”
Pintu kamar itu diketuk dari luar. Dibuka. “Sayang,” sapa Mama Dian seraya lebih masuk ke dalam kamar luas yang penuh dengan nuansa abu.
Ngomong-ngomong Ghea itu masih ada di rumah Mama Dian. Ia lagi malas untuk pulang ke rumah. Untuk apa juga, di rumahnya itu tidak ada siapa-siapa dan tentu akan sangat membosankan.
“Kenapa, Ma?" Ditegakkan Ghea tubuhnya, menjauh dari sandaran ranjang. Lalu mengambil bantal untuk kemudian ia simpan di atas pangkuan.
“Kamu belanja online?” tanya Mama Ghea. Duduk di atas kasur saling berhadapan dengannya.
Sesaat Ghea mengerutkan dahi. Menggoyangkan bola mata untuk mengingat. “Nggak, Ma. Emang kenapa?" Digelengkan Ghea kepalanya tentu saja. Karena seingatnya ia memang tidak belanja apa pun selain kemarin. Itu juga bukan dari online. Melainkan ia belanja sendiri.
“Ada kurir di bawah. Nganterin paket buat kamu.” Mama Dian lalu berdiri. Garis bibirnya tertarik. Membentuk senyuman. “Ya,udah. Samperin dulu aja kurir di depan, ya, sayang! Mam turun duluan.”
“Oke, Ma.”
Kurir?
Paket?
Diturunkan Ghea kakinya untuk kemudian ia keluar dari kamar. Menemui sang kurir yang ketika ia sampai di depan pintu, kurir itu berdiri dengan paket di tangannya.
“Dengan Ibu Ghea Virnafasya?” Kurir itu bertanya dengan sopan dan ramah. Sangat. Juga tersenyum. Ghea berdehem sebelum menganggukkan kepala. Ia sedikit terpengaruh dengan senyum sang kurir yang terlihat manis itu. owh … shit! No, Ghea. Jika Gery tahu ia suka dengan senyum lelaki lain, suami posesifnya itu pasti akan marah. Atau bisa jadi dia akan memukul Ghea dengan sebuah kenikmatan duniawi yang membuatnya lebih mengerang sebagai hukumannya.
“Ya.” Ghea sadar. Harus!
“Ada paket untuk anda, Bu,” kata kurir tampan itu lagi lalu mengangsurkan sebuah benda yang ada di tangannya pada Ghea, untuk kemudian wanita yang sedang berbadan dua itu menerima dengan canggung. Bukan tidak ingin. Tapi Ghea masih bingung dari siapa paket ini?
“Ngomong-ngomong dari siapa, ya, Mas?” Merasa akan penasaran jika Ghea tidak bertanya. Akhirnya ia mengeluarkan rasa penasaran itu lewat mulutnya.
“Direktur Utama Putra Grup, Bu.” Lagi. Kurir itu tersenyum lalu menatap Ghea sejenak sebelum ia meminta Ghea untuk membubuhkan tanda tangan sebagai tanda bukti penerima barang. “silahkan tanda tangan di sini, Bu Ghea!”
Dengan sedikit kesusahan karena paket di tangannya, Ghea menyimpan itu lebih dulu di bufet panjang yang di atasnya terpajang foto-foto Gery dan keluarganya. Di samping pintu sebelah kanan yang berjarak empat langkah saja dari pintu.
“Oke. Terimakasih, Mas,” kata Ghea setelah selesai jari-jari lentik itu memberikan sebuah tanda tangan yang kurir tadi minta.
Ghea lalu menutup pintu itu lagi setelah sang kurir yang eum …, sedikit tampan itu berlalu lalu menghilang di balik pagar rumah mertuanya dengan motornya.
Dikerutkan Ghea dahinya sambil menatap paket yang sudah beralih ke tangannya. Untuk kemudian ia kembali masuk ke dalam kamar. Membuka paket itu dan bola matanya terkesiap dengan isi di dalamnya.
Ghea tertawa pelan. Lengkungan bibir merahnya menjadi saksi akan luapan rasa bahagia di dalam dirinya. Memiringkan kepala ke satu sisi, Ghea mengambil kartu ucapan di atas benda yang ada di dalam kotak tersebut. Lalu membacanya dengan garis bibir yang belum berubah. Tersenyum.
Maafkan aku, sayang. Karena tidak bisa menjemputmu. Tapi aku janji akan tepat waktu datang ke gedung itu. Pakai gaun perak ini. Ini pasti akan sangat pas dan cantik melekat di dirimu.
Mahardika Putra - Direktur Utama Putra Grup.
Ghea menggigit bibir bawahnya. Jantungnya meletup-letup. Seperti akan ada sebuah gelombang besar yang akan menghantamnya. Lalu kemudian gelombang besar itu mengurungnya. Mendekapnya dengan sebuah alasan yang Ghea sendiri sadar akan gelomang itu.
Gelombang cinta yang Gery berikan untuknya yang Ghea tidak habis fikir, suaminya ini … oh harus menyebut apa Ghea pada suaminya ini?
Kata sempurna saja tidak cukup untuk menggambarkannya.
Diraihlah Ghea hand phone yang tersimpan di atas bantal. Lalu membuka aplikasi chat untuk kemudian mengetikan sesuatu kalimat manis yang Ghea sendiri yakin jika Gery pasti akan tersenyum saat membaca pesan singkat darinya itu. Dan tidak tahan untuk segera menemuinya. Memeluknya.
Ghea
Terima kasih untuk gaunnya, sayang. Ini sangat indah dan cantik. Aku akan memakainya untukmu. Dan setelah itu aku alan segera melepasnya lagi untukmu. Just for you. And, in a room that i'm sure you won't be able to bear to see my nakedness