Married With Teacher

Married With Teacher
16


.


.


.


Hari itu, seminggu setelah kejadian mereka semua kini sedang menghadapi ujian semester yang begitu menegangkan.


Melisa sangat siap saat menghadapi ujian. Dan saat ia menerima soal ia berdoa kemudian membuka soal dan dengan senyuman ia merasa ini adalah ujian yang menurutnya termudah seumur hidupnya. Karna ia sudah mati-matian mempersiapkan itu semua dan juga Keland yang dengan sabar mengajarinya hingga ia mengerti. Ia sangat senang memiliki Keland, suaminya sangat jenius dan ia bahagia karna ia tau ia mencintai Keland saat ini.


Melisa mengerjakan ujian dengan begitu tenang hingga selesai, satu hari itu mereka menghadapi 3 mata pelajaran untuk di ujikan dan hari pertama Melisa merasa ia lolos dan ia sangat bahagia.


Setelah selesai pulang sekolah, seperti biasa Melisa akan menunggu Keland di simpang. Dan Rara yang kebetulan lewat dari sana bersama Ardy kekasihnya melihat Melisa menaiki mobil Keland yang sudah datang. Rara menggelangkan kepalanya melihat kedua manusia itu. Jadi begitu mereka selama ini agar hubungannya tak terbongkar? Dasar Melisa.... fikirnya.


☀☀☀


Setelah mengahapi ujian selama seminggu dan masa remedial seminggu bagi yang remedial kini semua siswa-siswi di kumpulkan di aula sekolah mereka yang begitu besar itu untuk membagikan pengumuman peringkat setiap kelas perolehan 3 besar akan di panggil ke depan dan akan menerima tanda penghargaan berupa piala dan sertifikat. 


Semua tampak tegang saat ini, apalagi setiap orang yang sudah terbiasa menerimanya setiap semester, pasti lebih deg-deg an berfikir apakah ia masuk lagi 3 besar kali ini? Apakah nilainya menurun atau naik? Pasti mereka saat ini sangat gugup. Dan pembacaan dimulai dari kelas terendah yaitu para adik kelas mereka, junior-junior yang baru akan pertama kali memperoleh penghargaan itu nanti.


Melisa sendiri tidak begitu yakin jika dirinya akan masuk dalam 3 besar tapi ia yakin masuk 5 besar, ia sangat yakin itu.


Dan setelah beberapa saat lamanya pembacaan nominasi untuk kedua tingkat adik kelas mereka telah selesai. Yang begitu banyak mempertujukan kebahagiaan serta air mata sekaligus, bagi yang tiba-tiba memperoleh dan ada yang terjatuh.


Simulai dari kelas IPS 1-8 lalu IPA 1-8 dan Melisa ada di kelas IPA 4. Baru saja pembacaan di kelas IPA3 terlaksana kini giliran kelas mereka. Tampak sekarang ketegangan luar biasa dari peringkat kelas mereka yang sudah terbiasa dari dari awal mereka masuk sampai sekarang belum pernah berganti. 


"Peringkat ketiga jatuh kepada Hesti dengan perolehan nilai rata-rata 2983" ucap sang guru yang membacakan membuat Hesti yang biasanya menerima peringkat ke 2 itu menegang di tempat. Ia tidak percaya ini, nilainya tidak menurun dari tahun lalu tapi bagaimana mungkin ia jatuh ke peringakat 3? Lalu apakah Julinda yang biasa memperoleh peringkat ke 3 nilainya meningkat? Astaga.... dia tidak terima itu, bisa-bisanya ia di geser dari posisi. Rencananya ingin menyingkirkan Erlando malah ia yang tergeser dan itu sangat menyakitkan mengingat selama ini ia sudah berusaha belajar dengan giat.


"Silahkan kepada Hesti untuk maju" ucap sang guru dan Hesti pun melangkahkan kakinya malas. Sungguh ia kesal sekarang. Teman sekasnya tampak bergosip-gosip sekarang. Mereka yakin Julindalah yang berhasil menggulingkan posisi Hesty. Dan saat ini wajah Julinda tampak sumringah. Telah lama ia menantikan ini, melihat Hesti terjatuh kebawahnya. Sementera Melisa yang sedari tadi sibuk mencari keberadaan Keland tampak tak perduli itu. Baginya persaingan nilai itu sangat menjijikkan. Baginya meningkatkan nilai menjadi 5 besar untuk menyenangkan Keland saja sudah cukup. Dan ia tampak mencari guru tersayangnya itu sekarang karna hanya dia yang tak tampak disana.


"Peringat ke dua jatuh ke tangan Melisa dengan perolehan nilai rata-rata 2983,5" ucap sang guru berhasil membuat semua penghuni kelas mereka melotot sempurna. Ini sangat diluar ekspektasi mereka, bagaimana bisa? Setau mereka Melisa tak pernah jauh-jauh dari peringkat 23 lalu sekarang ia memperoleh peringakat 2 itu sebuah lelucon menurut mereka. Tidak mungkin. Dan yang lebih terkejut luar biasa disitu adalah ke 3 temannya yang kini menatapnya seakan mata mereka mau keluar. Melisa yang sama sekali tidak mendengarkan karna sedang asyik mencari Keland itu kini menatap mereka semua heran. Mengapa semua teman-temannya melotot padanya terutama Julinda yang kini menatapnya tajam? 


"Melisa silahkan maju ke depan" ucap sang guru dan itu berhasil di dengar oleh Melisa. Ia berfikir apakah guru nya tersebut sedang rabun makanya salah membacakan nama? Mengapa namanya yang di panggil?


"Melisa maju cepat... kau peringkat 2 sekarang" ucap Chaca yang tampak sangat girang berhasil membuat Melisa melotot kaget. Hah? 2? Ia tak pernah membayangkan itu. Bermimpi indah begitupun ia tak pernah, ataukah ini mimpinya? Tapi jelas ini serasa nyata. 


"Melisa cepat..." kini Rara yang angkat bicara karna Melisa masih terdiam di tempat sedari tadi. Dan karna kesal Rara pun menarik rambutnya agar ia tersadar dan mendorongnya maju ke depan. Dengan terpaksa Melisa pun melangkahkan kakinya dengan gugup serta gemetar kesana. Apakah guru itu salah membaca? Lalu nanti setelah ia sadar maka akan memalukan bagi Melisa untuk kembali lagi tapi apakah ia harus kembali sekarang ke tempat semula? Ya dia harus kembali.


Baru saja ia akan melangkahkan kakinya kembali kebelakang namun ekor matanya menangkap siluet yang sedari tadi sudah dicarinya, Keland. Keland mengangguk padanya seperti ingin mengatakan majulah. Melisa pun mengangguk menjawab Keland. Dan dengan senyuman penuh percaya diri pun Melisa kembali melangkahkan langkah nya maju. Entah mengapa jika Keland sudah yakin padanya, ia pun menjadi yakin dengan dirinya sendiri. 


Dan disana kini Hesti, Melisa, dan Erlando telah berdiri berjejer sebagai peringkat dari kelas mereka, kini mereka memperoleh penghargaan dan juga sertifikat. Senyum Melisa kini menatap ke arah Keland yang berdiri di belakang para siswa. Menyadari tatapan Melisa, Rara menolehkan kepalanya ke belakang dan ia bisa menemukan Keland disana yang kini tersenyum pada Melisa. Rara sangat yakin jika ini semua terjadi karna Keland. Melisa bisa tiba-tiba mendapat nilai sempurna itu pasti karna Keland telah mati-matian mengajarinya. Aishhhh betapa beruntungnya Melisa.


Berbanding terbalik dengan Melisa yang kini tampak bahagia, Hesti menatapnya Horror. Ia masih tak menyangka jika yang mengalahkannya itu Melisa si peringkat jebol. Jika yang mengalahkannya Julinda tadi setidaknya ia masih bisa agak terima tapi ini Melisa. Ia tak bisa terima, ia yakin Melisa telah berbuat curang. Melisa pasti sudah menyogok para guru. Licik sekali diaa.... setidaknya itulah pemikiran Hesti pada Melisa. Fix mulai hari ini ia membenci Melisa.


....