Married With Teacher

Married With Teacher
Awal Mula


Awal mulanya, saat itu Pak Gery duduk di kela 8 di salah satu sekolah di Jakarta. Dia yang dari kecil mempunyai pahatan wajah yang rupawan. Sudah banyak yang mengagumi dirinya sejak saat itu. Walau begitu sikapnya yang acuh dan selalu dingin membuat beberapa cewek dari teman sekelasnya bahkan kakak kelasnya pun patah hati. Ia tidak pernah dekat dengan cewek manapun. Karena sudah ada satu wanita yang telah mencuri hatinya. dan perhatiannya.


Bukan hanya dari ketampanannya saja mereka mengagumi sosok Gery Mahardika, namun juga Pak Gery yang selalu menjadi kebanggaan sekolahnya. Memenangkan juara setiap lomba sudah hal biasa ia raih. banyak piala yang sudah didapatkannya. Itulah mengapa ia menjadi idola kaum hawa.


Begitu juga dengan sosok cewek manis berkacamata bulat yang juga sering kali diam-diam memperhatikan Pak Gery. Dia adalah Dita. ya, bukan hanya sering memperhatikannya saja, namun Dita juga sering membelikan cemilan dan minuman untuknya. Bahkan kerap kali Dita juga membawakan sarapan. Sejak cowok yang bernama Gery Mahardika itu menolongnya dari pembulian yang sering dilakukan anak-anak lain pada dirinya hanya karena penampilannya yang anak jaman sekarang sering menyebutnya dengan kata culun. Di saat itu Dita menganggap Gery adalah penolongnya. Penyelamatnya.


“Gak perlu!” Itu adalah yang kesekian kalinya Pak Gery menolak makanan yang Dita belikan untuknya. Namun cewek berkacamata bulat itu selalu memaksa.


“Tapi Dita seneng kok selalu beliin cemilan buat kamu,” ujar Dita seraya menaikkan kacamatanya yang merosot.


“Tapi gak perlu!” tolaknya lagi. Namun, Dita tetap saja memaksa. Dita menarik tangan cowok itu untuk menerima beberapa cemilan yang ada di dalam kantong kresek berwarna putih. Kemudian berlalu setelahnya. Namun diam-diam Dita selalu mengintip Pak Gery yang setelah kepergiannya memakan cemilan pemberiannya bersama teman-temannya. Dita sangat bahagia, tentu saja karena Dita pikir cowok itu juga menyukainya namun hanya gengsi saja untuk mengakuinya. Itu yang ada di dalam pemikiran Dita.


Sampai pada mereka masuk SMA. Pun Dita diam-diam mencari tahu Pak Gery masuk ke SMA mana supaya ia juga bisa kembali satu sekolah dengannya. Terus bersamanya menatap dirinya walau dari jarak yang tidak dekat.


Dita merubah penampilannya. Melepaskan kacamata bulatnya. Dipikir Dita cowok itu akan suka dan menganggapnya ada. Namun sayang, hanya harapan saja yang terpupuk semakin dalam. Justru cowok yang bernama Gery itu tidak mengenalinya.


**


“Ghea!” Pak Gery terus memanggil nama itu. Menggeram tertahan dalam hati yang hancur berkeping bagaikan sebuah pecahan kaca tatkala mendengar kalimat terakhir Ghea sebelum ia berlalu dengan taxinya.


“Ger.” Adi menepuk bahunya. Memberikan kekuatan pada sang sepupu yang begitu terlihat hancur.


“Gue harus susulin Ghea. Dia gak boleh pergi dari gue,” ujarnya berbalik dengan wajah yang sangat panik. “Kunci mobil.”


Kemudian Chacha maju ke arahnya. Merogoh saku jeansnya. Mengeluarkan kunci mobil dari sana dengan ragu, yang langsung disambar oleh tangan Pak Gery.


Cowok itu berjalan dengan memegang kepalanya yang semakin tak terkendali. Perasaannya tak menentu. Yang saat ini Pak Gery pikirkan hanya menyusul Ghea saja yang Pak Gery yakini jika istrinya itu pulang ke rumahnya. Ya, rumahnya. Ghea tidak mungkin pulang ke rumah orang tuanya dengan keadaan hati yang sangat kacau.


“Ger …, Ger, lo gak bisa nyetir dengan keadaan kayak gini. Biar gue yang bawa mobilnya.” Adi benar. pak Gery tidak bisa menyetir dengan keadaan yang setengah sadar. Itu bisa saja mengakibatkan dirinya masuk ke dalam ruang UGD rumah sakit bukan sampai ke rumah untuk menemui Ghea. Memberinya penjelasan dan menahannya agar tidak meminta talak darinya.


Oh tidak. Pak Gery tidak ingin itu sampai terjadi.


Pak Gery mengangguk menyetujui.


**


Ghea baru saja turun dari taxi. Ia berlari setelah menutup pintu taxi itu. Mengambil kunci rumahnya yang selalu disimpan di bawah keset yang terletak di bagian depan pintu.


Berlari menahan sebuah isak tangis yang membuat jantungnya bagai terhimpit. Dadanya sesak. Ke arah sebuah ruangan. Tempat yang menjadi saksi bisu dirinya memadu kasih bersama orang yang dicintainya. Dan yang kini orang itu juga lah yang telah mematahkan perasaannya. Membuatnya hancur berkeping-keping.


Menarik sebuah koper besar dari dalam lemari lalu membuka resletingnya. Memasukan semua baju-bajunya ke dalam sana bersama air matanya yang terus merembes jatuh melewati tulang pipi.


selesai dengan semua baju-baju itu, Ghea beranjak dari tempatnya, lalu meraih semua barangnya satu persatu sebelum ia masukan ke dalam koper. Saat Ghea mengambil sebuah buku catatan di atas nakas, pandangannya kembali mendapati segumpal kertas yang Ghea simpan di balik bantal. Ghea mengambilnya lalu berdecih. “Pembohong!” katanya sebelum ia terkekeh pilu. Membuang gumpalan kertas itu pada tong sampah yang ada di sudut kamar.


Ghea tidak menyisakan barang-barangnya di kamar itu. Hampir semuanya masuk ke dalam koper besar yang sudah ditutup resletingnya. Ghea menurunkannya dari atas kasur lalu menarik gagang koper. Menyeretnya keluar dari dalam kamar itu bersama rasa sesak yang masih melingkupi dirinya.


“Ghea.” Pertama hal yang Pak Gery lihat saat membuka pintu rumahnya, Ghea yang menuruni anak tangga bersama koper besar di tangannya. secepat mungkin ia berlari. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya yang masih tersisa. Lalu menarik koper besar itu. “Kamu gak boleh pergi! Gak boleh ninggalin aku, sayang!” Memohon dengan wajah yang memelas. Pun dengan suara yang bergetar.


“Nggak!” Pak Gery menyembunyikan koper itu di belakang tubuhnya. “Kamu gak boleh pergi! Ini rumah kamu. rumah kita, Ghe.”


“Balikin, Mas!” Ghea memutari tubuh Pak Gery hanya untuk merebut kopernya.


“Nggak, Ghe. Aku gak akan biarin kamu pergi. Gak akan!”


Ghea menarik nafas dalam bersama pejaman di kedua matanya erat. Lalu terdengar embusan nafas Ghea yang mencoba menyembunyikan sesak di dalam sana, walau itu sangat mustahil karena Pak Gery dapat melihat itu. Melihat kilatan sorot mata Ghea yang terluka saat ia membuka mata.


“Terserah kamu, Mas. Aku bakal tetep pergi dari sini.” Ghea terkekeh dengan air mata sialan yang harus kembali terjatuh. “Buat apa aku masih disini bersama seorang pembohong kayak kamu?” Kemudian digelengkannya kepala itu seolah tidak habis pikir pada dirinya yang begitu bodoh menginginkan seorang Gery Mahardika yang ternyata hanya seorang pembohong di matanya.


Pak gery menggeleng lagi. Menatap Ghea dengan penuh permohonan. “Kamu dengar penje--”


“Penjelasan apa lagi? Heuh? Semuanya udah jelas, Mas. Kamu--” Ghea memalingkan pandangannya. Lidahnya terasa kelu untuk mengungkapkan lagi apa yang tadi dilihatnya.


“Dia Dita--”


“Ya. Dan dia selingkuhan kamu--”


“Bukan, sayang. Tadi aku sama Dita--”


“Cuma pelukan di lorong toilet dan kamu membiarkannya.” Ghea beralih menatap iris abu-abu itu. Mengepalkan kedua tangannya yang menggantung di sisi tubuhnya. “Atau mungkin kamu menikmatinya?”


“Gak gitu, sayang.”


Cih sayang. Rasanya Ghea muak mendengar kata itu.


“Terserah!” Ghea menarik koper besar di samping tubuh Pak Gery saat cowok itu melepaskan tangannya dari gagang koper. Kemudian melangkah menyeret koper yang kembali Pak Gery rebut.


“Balikin, Mas. Aku mohon sama kamu ...” Ghea mengatupkan kedua tangannya di bawah dagunya yang lancip itu. “Biarin aku pulang ke rumah orang tua aku!”


Mana bisa Pak Gery membiarkannya. Namun saat sorot mata itu memohonnya dengan tatapan sayu, sudut kecil Pak Gery terasa sakit. Ia sudah melukainya. Membiarkan air mata keluar dari mata beningnya yang kini terlihat memerah.


“Aku janji gak akan bilang hal ini sama mereka juga sama orang tua kamu.”


“Bilang apa, sih, Ghe?”


Ghea menggeleng samar. Ia tidak menggubris lagi dan tidak ingin lebih lama berada di tempat yang sama bersama dengannya. Selanjutnya Ghea memutar tubuh. Berlalu dari sana. Meninggalkan Pak Gery bersama ketidak sanggupannya kehilangan Gheanya. Dan Ghea, ia masa bodo dengan barang-barang yang ada di dalam kopernya. Toh di rumah orang tuanya juga masih ada baju-bajunya.


TBC


Aku gak terlalu berharap banyak guys, cuma aku berdoa aja semoga aku bisa nyenengin akak akak semua dengan cerita yang aku halukan ini. hihiii


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi galau gara-gara baca salah satu novel yang bikin nyesek. aje gileee gak tuh. hihii