Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 41


"Bos, anda sudah tertipu oleh Airin. Ternyata Gery Mahardika sudah menikah.”


Mendengar kalimat di seberang sana, membuat lelaki yang tengah duduk di kursi hitam berbahan kulit yang nyaman. Kedua kaki dengan sengaja diangkat ke atas meja persegi panjang. Lalu jemarinya mencengkram hand phone yang menempel di telinga kanan. Menggerus benda itu sampai urat di punggung tangannya terlihat menyembul. Menonjol. Bersama geraman kentara di wajah tampannya. Kedua rahang mengetat. Dan tatapan mata tajam itu seolah mampu menggoyangkan bingkai-bingkai lukisan yang terpajang elegan di dinding.


“Terus awasi saja mereka. Jangan dulu mengambil tindakan tanpa seizin saya!” Perintah yang tidak dapat terbantahkan. Lalu lelaki itu menurunkan tangan bersama hand phone yang berada dalam genggaman. Memutar-mutar benda canggih itu menggunakan satu tangan. Wajah menggeramnya berubah menjadi seringai menakutkan.


“Airin… Kamu tidak akan pernah lepas dari saya. Kamu harus membayar semua kebohongan kamu.”


**


“Mas, Airin bakal masuk gak, ya, hari ini?” Ini bukan pertama kali Ghea bertanya seperti itu pada Gery sejak beberapa menit lalu dirinya berada di dalam ruang sang Direktur.


Menggosok kedua telapak tangan untuk kemudian ia berbalik menghampiri Gery—yang duduk di kursi kebesaran berwarna putih. Kepala menunduk dengan sebuah dokumen yang terbuka. Lalu setelah membaca isi dari dokumen tersebut, tangannya bergoyang membubuhkan tanda tangan.


“Harusnya sih masuk,” katanya cuek. Dan tatapannya tidak lepas dari semua kertas-kertas yang ada di atas meja. Sesekali pula cowok itu mengganti membuka dokumen yang lain dirasanya dokumen sebelumnya siap dieksekusikan.


Ditarik Nafas Ghea gugup. Ia lalu duduk di sofa panjang. “Tapi kok belum ada di meja kerjanya, sih?” turut memilin jari-jemari.


Dialihkan Gery atensi dari dokumen pada wanita yang duduk menatapnya. Ia menyimpan balpoin di atas meja untuk kemudian bangkit hingga kursi itu setengah berputar.


“Kamu gak harus repot-repot ketemu dia cuma hanya untuk minta maaf.” Ditumpukan kedua telapak tangan besar itu di atas sandaran sofa single depan Ghea. “Kamu gak ada salah, sayang.”


“Tapi aku udah berperasangka buruk sama Airin, Mas. Gak enak dong kalau aku gak minta maaf.”


“It’s okay,” kata Gery sembari mendekat, duduk di samping wanitanya kemudian. “Terserah kamu aja.” Ditangkup Gery satu sisi wajah Ghea. Saling menatap, mendalami rasa masing-masing yang semakin terasa penuh di benak. “Jika itu hal yang membuat kamu bahagia.” Lalu, tangan yang menangkup sisi wajah itu merayap pada tengkuk Ghea. Menyematkan jari-jari ke dalam rambut indah panjangnya. menariknya mendekat untuk Gery berikan kecupan di dahi seputih susu itu.


Lama pula bibir Gery berada di atas dahi Ghea sampai suara ketukan pintu tidak terdengar keduanya. Mungkinkah, saluran kasih dan cinta yang menutup pendengaran mereka?


“Ekhem… Maaf, Pak.” Kemudian disusul pintu yang terbuka sekaligus suara deheman berasal dari seorang wanita yang memeluk maf biru sembari wajah yang berpaling ke arah lain. Tidak bisa melihat kemesraan yang membuat hatinya merasa pedih karena sungguh Airin tidak bisa memiliki keberuntungan seperti yang Ghea miliki tentu saja.


Gery menjauhkan bibir bersama putaran di bola mata abu. Dalam benak sudah berancang-ancang untuk memberikan kecupan di area wajah Ghea dengan mesra dan kelembutan. Lalu, bibir Gery akan berakhir di atas bibir Ghea untuk melumaatnya.


Namun, angan Gery hanya berakhir di dalam mulut yang mendesaah pelan.


Pun dengan Ghea yang tentu saja wajah wanita itu merona karena tertangkap basah oleh sekretaris suaminya sendiri. Ia merasa malu sendiri. Padahal yang Gery lakukan hanya mengecup dahi. Nah, bagaimana jadinya jika Gery melakukan hal yang lebih?


Diselipkan Ghea rambut panjangnya ke belakang telinga. Menjepit bibir untuk menahan senyum.


“Kenapa, Rin?" tanya Gery. Suara tegas dan besar cowok itu entah mengapa selalu menggetarkan dada Airin.


Kaki Airin maju dua langkah lebih dekat pada sang atasan yang masih duduk di sofa. “Dokumen proyek di Bogor yang Bapak minta sudah siap.” Sembari tangan wanita itu mengulur untuk menyimpan maf yang ia peluk ke atas meja kaca sofa.


“Okay.”


Hanya itu saja yang Airin dengar. Tidak ada kalimat atau apa pun lagi yang ia harapkan keluar dari mulut cowok itu setelahnya.


Memangnya, apa yang harus Airin harapkan dari seorang lelaki yang di sampingnya seorang wanita cantik dan anggun menemani. Bahkan pula Airin menatap pada lengan kokoh Gery yang dikait oleh lengan wanitanya.


Dengan anggukan kecil di kepala, Airin tersenyum. “Permisi, Pak,” katanya sambil menatap wajah Ghea dan


memberikan senyum sebagai sapaan pada wanita yang duduk di samping Gery. Yang dibalas gumaman Gery dan senyum menawan dari Ghea.


Ketukan dari hak sepatu yang dikenakan Airin memecah sunyi ruang kantor Gery. Sampai pintu barulah Airin mendengar suara lain yang memanggilnya.


Suara lembut nan elegan.


“Airin!”


Dibalikan Airin tubuh. Dilihatnya Ghea sudah berdiri dari duduk. Sedang Gery, cowok itu masih setia di atas sofa. Namun, kali ini dengan dokumen terbuka di tangan dan ia tatap.


“Iya." Kecanggungan terdengar dari suara Airin yang sedikit gemetar.


Jantung Airin berpacu dua kali lipat. Benaknya bertanya-tanya ‘ada apa?’


Dilihatnya Airin kaki jenjang indah Ghea melangkah mendekat padanya. Berhenti dari jarak dua langkah dengan Airin.


“Saya mau minta maaf sama kamu.”


Kening Airin mengerut. “Untuk apa, ya, Bu?”


“Kamu masih ingat waktu saya berdiri di depan rumah kamu?”


Dianggukkan Airin kepala itu samar. Bersama kedua tangan terkepal di samping tubuh.


“Saya mendengar semuanya. Termasuk saat Ibu kamu menunjukan tespek dan bertanya itu milik siapa?”


Untuk kalimat yang satu ini Airin ingin menyesali. Ibu yang sampai saat ini masih kecewa padanya. Begitu pula dengan pengabaian yang Airin dapatkan dari Ibu membuatnya hilang semangat untuk hidup.


“Tidak apa-apa," katanya lirih.


Sedang dengan Gery. Kefokusan cowok itu sudah tidak pada dokumen. Namun, pada dua wanita yang berdiri di hadapannya.


“Saya minta maaf bukan karena itu,” ucap Ghea. “Saya minta maaf karena saya sudah mengira anak yang kamu kandung karena suami saya.”


Kelopak Airin terbuka lebar sampai pupil itu terasa ingin keluar. Ditelan ludahnya begitu kelat. Dadanya bergemuruh hebat. Selain karena kalimat Ghea yang menyentil hati, bayangan berengsek malam dimana ia berhubungan badan dengan Nandan kembali terngiang. Terkepal erat pula kedua tangannya itu.


Entah dimana saat itu Airin menyimpan otaknya sehingga harus terjebak oleh rayuan gila dan mulut iblis Nandan? Demi Tuhan, Airin tahu akan Nandan yang selalu menyakiti selain fisiknya namun juga naluri dirinya sebagai seorang wanita yang seharusnya patut untuk dimanja.


Tapi, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Bahkan pula, bubur itu sudah mencair dan tidak bisa kembali menjadi apa yang diharapkan. Sekarang hanya penyesalan saja yang menghantui Airin dengan janin di dalam rahim.


“Saya yakin kamu orang baik, Airin. Mas Gery juga udah jelasin semuanya sama saya kenapa sampai Mas Gery ingin membantu kamu. Saya yakin, orang baik seperti kamu tidak akan menyakiti orang lain.” Ghea mengatakan itu dengan lembut tapi begitu terdengar begitu dominan. Sampai pula menusuk pada dada Airin. "Iya, kan, Airin?"


Diamnya Airin membenarkan kalimat Ghea. Orang baik pasti akan berkumpul dengan orang baik pula. Tapi dirinya... Airin tidak membenarkan bahwa ia adalah wanita yang baik. Buktinya saja Airin sampai pula menaruh kagum pada lelaki yang masih duduk di sana.


Ghea menarik bibir mengukir senyum. “Semoga ayah dari anak yang kamu kandung segera sadar, ya, Airin.”


Kata-kata Ghea membuat Airin semakin menekan garis bibirnya geram. Andai kalimat Ghea menjadi do'a yang dikabul. Seorang Nandan Lesmana tidak akan pernah sadar. Cowok itu terlalu berengsek untuk kenal kata sadar.


“Terimakasih," ungkap Airin mencoba menarik sudut bibirnya.


Walau Ghea tidak tahu hati orang seperti apa pada dirinya. Namun, Ghea yakin. Bahkan sangat. Jika yang berniat buruk padanya tidak harus dibalas dengan keburukan pula. Mereka yang berniat berbuat demikian nantinya juga akan mendapat balasan.


Deringan hand phone Gery di sakunya menyadarkan Airin dan Ghea yang saling tatap.


Ghea menoleh pada suaminya lalu Airin keluar setelah mengucapkan ‘permisi’ pada Ghea. Meninggalkan bekas yang melilit di naluri Airin karena semua kalimat Ghea yang mendominasi. Meski memang itu benar faktanya.


“Ya, Ma?” suara itu milik Gery. Wajahnya berubah pasi sembari terus mendengarkan suara Mama Dian di ujung sana.


Ghea mendekat kemudian. “Ada apa, Mas?” Karena jujur, perasaan Ghea mendadak tidak nyaman.


To be continued …


Aduh Ghe, apalagi sih ini?


Bikin akak mamen penasaran aja tahu gak. hihiii


salam sayang.


follow ig seizyll_koerniawan untuk tahu cerita kang ngetik amatiran yang lainnya.


Maaf ye kalau ada salah-salah kata.