Married With Teacher

Married With Teacher
Calon Pengantin


"Btw, serius gue. Ngapain lo ngedadak minta nikah sama Om Dika?" Kali ini Adi bertanya serius. Gurat wajahnya membuktikan itu.


"Reza." Ada helaan nafas kasar yang keluar dari mulut Pak Gery. Ia yang awalnya ikut berbaring di samping Adi, kini beringsut. Duduk dengan satu kaki yang selonjoran dan satu kaki ia tekuk. Kemudian ia simpan siku tangan di atas lutut yang tertekuk. Pak Gery menyandarkan punggung pada hearboad minimalis yang berwarna hitam dengan bahan busa di dalamnya.


"Siapa Reza?" tanya Adi bingung. Jiwa kepo cowok rese itu jadi meronta-ronta. Adi bangkit. Lalu duduk menyila di atas kasur menghadap Pak Gery.


"Lo beneran kepo, ya, kaya mak-emak. Heran gue," sahut Pak Gery dengan lirikan matanya yang setajam silet.


"Ck, wajar, lah, gue kepo. Lo kalau ngomong suka setengah-setengah soalnya. Gak langsung jebred aja gitu. Awas kalau lo sama Ghea malam pertamanya setengah-setengah. Gak bakal enak gue jamin." Kelakar Adi mencoba mencairkan suasana saat itu karena jika Adi sudah melihat raut wajah Pak Gery dengan garis rahang yang mengetat dan kedua mata yang terpancar tanjam. Itu artinya doi sedang berada dalam fase dimana ia bagaikan harimau yang bertemu mangsanya.


"Tahu banget lo sama malam pertama. Ck," ucap Pak Gery geleng-geleng kepala. Ia mematikan aplikasi play musik.


"Ini, nih, yang bikin gue mau muntah sama lo, Ger. Lo itu lama kuliah di luar negeri. Kemana aja, sih, lo gak tahu yang gitu-gituan? Cewek bule di sana, tuh, beuh ... gak usah gue jabarin kali, ya, gimana seksinya." Adi mulai so tahu. Pak Gery merubah ekspresi wajahnya. Ia tersenyum miring. Mulai asyik kayanya Pak Gery meladeni ocehan-ocehan unfaedah sang sepupu. "Gak nyoba lo sama bule-bule di sana?" tanya Adi sudah mulai ngaco.


Adi ini begitu berbeda dari yang lain. Aneh juga kenapa Papa Dika bisa menjadikan Adi sebagai orang kepercayaan perusahaan dengan sikap dan sifatnya yang nyeleneh macam ini. Oh, ya ampun, untung saja perusahaan Papa Dika tidak bangkrut.


"Sering gue nyobain, Bro," jawab Pak Gery mulai terpancing. Yang sejujurnya, mana pernah dia ngelakuin hal aneh macam itu. Kalau ada cewek bule yang ngedeketin belum apa-apa juga sudah terpental duluan lihat wajah dan mata Pak Gery yang bagaikan ingin membunuh itu.


"Busetttt ... gimana rasanya? Dadanya gimana, Ger? Gede gak, tuh, kaya di film-film blue yang suka gue-" Tiba-tiba Adi memutuskan kalimatnya saat tahu sedang bicara dengan siapa. Ia hampir saja keceplosan. Bersama kedua matanya yang celingukan menghindari tatapan memicing Pak Gery.


"Ohhh ... jadi lo sering nonton yang begituan, Di? Ck-ck ... gue aduin bokap juga lo," ancam Pak Gery. "Wahhh jangan-jangan di kantor lo gak kerja, ya, tapi malah nonton film bule adu senjata, ya?" tebak Pak Gery. Kini kedua matanya menilik ekspresi wajah Adi yang refleks menegang.


Adi blingsatan, "eng-nggak. Gue-gue-gue-"


"Gue aduin bokap lo. Biar cepet lo dinikahin sama Indah."


"Gak, Ger. Sumpah, deh, ya. Gue gak pernah nonton film blue. Tapi-" Adi menjeda. Cowok itu mulai dengan siaga satu. Turun dari ranjang. Membuat Pak Gery mengerutkan keningnya heran. "Tapi gue suka." Lalu setengah berlari saat tangan Pak Gery auto melemparkan bantal pada Adi.


"Nanti gue kasih film-nya pas lo mau malam pertama sama Ghea. Biar lo gak amatiran-amatiran banget pas masukinnya." Adi berdiri di depan pintu kamar. Tangannya sudah stay di handle pintu. "Biar ereksi lo juga cepet nyembur," celoteh Adi yang dibalas wajah macan Pak Gery.


"ADIIIII ... sialan, lo. Balik sini berengsek," jerit Pak Gery. Secepat Pak Gery menjerit dengan suara seksinya, secepat itu pula Adi kabur dari kamar macan tanpa tutul itu.


Setelahnya keluar dari kamar Pak Gery. Adi pun masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh dari letak kamar Pak Gery.


"Lo tenang aja, Ger. Gak akan ada yang bisa rebut Ghea dari lo. Termasuk cowok bernama Reza itu. Gue bakal cari tahu sendiri seperti apa cowok yang bernama Reza," ujar Reza dengan wajah yang berubah serius. "Seperti janji gue sama nyokap bokap gue. Kalau gue bakalan selalu ada di belakang lo. Karena kalau gak ada lo sama Om dan Tante. Hidup gue mungkin gak akan kaya sekarang ini." Lalu sekelebat bayangan Mama dan papanya Adi kembali terngiang di kepalanya. Dimana sebelum mereka meninggal Adi harus berjanji satu hal pada mereka untuk membalas kebaikan keluarga Papa Dika dengan cara apa pun.


"Gue juga janji. Pelan-pelan gue akan ngejauhin lo dari cewek itu," ucap Adi penuh dengan keyakinan bersama sorot matanya yang berubah tajam.


**


Pagi itu matahari sudah menampakan cahaya sinarnya. Pun dengan Ghea yang sudah siap berangkat ke sekolah.


Ia menuruni anak tangga dengan kaki yang melangkah malas. Menarik kursi makan lalu ia hempaskan bokongnya di sana.


Semalam Ghea pun sama halnya dengan Pak Gery yang tidak bisa tidur. Ia larut dalam lamunan. Mengingat saat Pak Gery menciumnya dengan begitu panas di dalam mobil. Pun ia membiarkan deringan di handphonenya. Mengacuhkan panggilan dari cowok yang akan menjadi suaminya itu.


"Pagi, calon pengantin," sapa Mama Sora dengan wajah sumringahnya.


"Siapa calon pengantin, Ma?" tanya Ghea polos bersama wajah malasnya. Ia ambil dua buah roti tawar yang ada di piring. Lalu mengolesinya dengan nuttela.


"Kamu!" Papa Jordan yang bersuara setelah menyesap kopinya.


UHUK UHUK UHUK


Baru saja Ghea mengunyah rotinya itu. Auto tersedak ketika Papa berkata 'kamu' pada Ghea.


"Gak papa, Ghe? Biasa aja terkejutnya. Jangan luar biasa kaya gitu," celoteh Mama bersama bibirnya yang melengkung ke bawah. Tanda jika Mama sedang mengejek putri tunggalnya. "Minum dulu susunya, sebelum nanti susu punya kamu yang akan diminum Gery setiap pagi," kelakar Mama Sora. Auto kembali tersedak. Kali ini bukan tersedak karena roti. Namun karena susu yang sedang Ghea minum.


Oh, ucapan mamanya ini sangat nyeleneh sekali. Membuat Ghea merasakan wajahnya memanas. Dan mungkin pagi ini otak Ghea sedang kongslet, auto membayangkan hal-hal yang tidak wajar bagi cewek seusianya yang seharusnya belum sampai ke tahap itu.


Tolong garis bawahi kata 'itu'.


"Ya, ampun, Ghe, belum juga dimasukin Gery udah huek-huek aja." Celoteh Mama Sora lagi.


Papa Jordan hanya menggeleng pelan. Seolah ia juga merasa senang Mama meledek Ghea.


"Mama apaan, sih, Ma? Jijik aku bayanginnya." Kelakar Ghea polos.


Auto Papa dan Mama tergelak kencang.


"Ya, ampun ... kamu bayangin apa, sih, Ghe?" tawa Mama masih terdengar di ujung kalimatnya.


"Ih, Mama ... tadi Mama ngomong apaan? Maksud Mama apa sebelum susu aku diminum Pak Gery? Terus Papa juga ngatain aku calon pengantin?" tanya berondong Ghea pada kedua orang tuanya dengan ekspresi wajah yang masih bergidik jijik.


"Jadi gini, Ghe. Barusan Om Dika telepon. Katanya nanti malam mau ke rumah," ujar Papa. "Ngapain?"


"Mau bicarain soal pernikahan kamu sama Gery."


Auto tersentak. Ghea kaget dengan rahang yang terbuka lebar. "Hah? Pernikahan gimana maksud Papa?"


"Ya, pokoknya nanti kamu dengerin aja penjelasan Om Dika sama Nak Gery. Karena ini ngedadak. Nak Gery yang ingin melangsungkan pernikahannya dengan kamu. Secepatnya."


"Pak Gery mau nikahin aku secepatnya? Pa, aku masih sekolah? Lagi pula kan perjanjiannya nanti kalau aku udah lulus. Gimana, sih, gak konsisten banget Pak Gery ini?"


"Mungkin udah gak sabar kali dia itu, Ghe," ucap Mama Sora dengan kekehan kecil.


"Gak sabar gimana, sih, Ma? Aku masih sekolah. Entar kalau temen-temen aku tahu gimana? Bisa dicincang habis aku sama Pak Gery, Ma," kata Ghea tanpa sadar.


"Dicincang gimana maksud kamu, Ghe?" tanya Mama Sora memicingkan matanya curiga.


Eh gila, kenapa gue keceplosan, sih? Jangan sampai Mama tahu surat perjanjian sialan itu.


Ghea memutar bola matanya. Seolah ia sedang mencari jawaban atas kecurigaan Mama.


"Ya, udahlah, pokoknya nanti pulang sekolah kamu gak boleh keluyuran. Langsung pulang ke rumah. Ya!" titah Papa Jordan. Ghea mengangguk patuh.


"Minum lagi susunya, Ghe!" sindir Mama lagi.


"Ih, Mama. Gak, ah, keburu jijik aku."


"Jijik kenapa?"


"Ya, jijik. Tadi Mama bilangnya susu aku yang akan diminum Pak Gery tiap pagi," sahut Ghea polos dengan wajah tanpa dosa. Ia bangkit siap untuk pergi ke sekolah.


"Ya, ampun, Ghe. Kamu bayangin apaan, sih? Otak kamu harus dikucek dulu di mesin cuci kayanya, Ghe. Biar bersih. Maksud Mama tiap pagi kan kamu suka minum susu. Ya harus diminum sebelum susu punya kamu yang nanti direbut Gery terus diminum olehnya. Emang kamu mikir apa? Heuh?" Jelas Mama Sora seraya menggelengkan kepalanya.


"Kayanya, nih, Ma, Ghea juga udah gak sabar, tuh, susunya diminum Gery. Sampai-sampai otaknya bayangin hal nggak-nggak." Kelakar Papa Jordan. Yang dimengerti oleh Mama. Auto kembali tergelak.


"Ish ... Papa, tuh. Jangan ngomong yang macam-macam! Nanti otak Ghea tambah kongslet, lagi."


"Biar ngerti dia, Ma. Kalau udah nikah harus layani suaminya. Apalagi kalau minta minum susu tiap pagi."


"Oke, stop!" Ghea mengangkat kedua tangannya tanda jika Ghea sudah pusing nendengar celotehan Mama sama Papa. Auto Mama dan Papa langsung mingkem. "Ghea pamit sekolah. Assalamu'alaikum!" pamitnya seraya mencium punggung tangan Mama Papa.


"Bisa gila gue denger ocehan Mama sama Papa. Gak tahu apa gue masih di bawah umur kaya gini. Mana pake ngomongin minum susu segala lagi. Oh ya Tuhan ..." Jerit Ghea tertahan bersama kakinya yang terus melangkah. Namun saat tangannya menarik handle pintu. Matanya refleks membola dengan rahang yang terbuka lebar.


"Kamu."


TBC


Main teka teki aja lagi ya. Biar otaknya encer. Biar gak kaya Ghea yang dipenuhi hal hal ajaib. wkwkaaa