
Mungkin bukan hanya Ghea yang merasa rapuh di sini. Terlebih dengan Pak Gery. Ia lebih rapuh. Lebih sakit dan parahnya lebih menderita dari apa yang sedang terjadi di dalam rumah tangganya.
Rumah tangga yang hanya baru seumur jagung saja. Rumah tangga yang diharapkan akan lancar, mulus tanpa badai. Rumah tangga yang akan selalu terjalin adanya kebahagiaan. Tanpa benang kusut yang akan menghancurkan. Ternyata itu semua salah dan hanya sebuah harapan.
Saat ini, di tengah ruangan mewah dengan sofa-sofa yang diduduki setiap orang. Tepatnya di rumah orang tua Ghea. Papa Dika, Mama Dian, Papa Jordan dan Mama Sora. Begitu juga dengan wajah yang akan siap mereka sidang.
Ghea yang tadi pulang lebih awal. Itu pun dengan menolak Pak Gery yang akan mengantarnya. Ghea benar-benar menghindari cowok itu.
Ghea duduk di samping Mama Sora. Wajahnya menunduk. Pun dengan kesepuluh jarinya yang saling memilin. Sedangkan Pak Gery yang duduk di single sofa tepat berhadapan dengan Ghea, matanya tidak lepas memandang wajah Ghea yang menekuk. Ia merindukan wajah tengil itu. Terlebih merindukan senyumnya.
“Jadi … ada apa dengan kalian?”
Papa Dika bukan maksud ikut campur dengan rumah tangga sang putranya. Tetapi Papa Dika mendapat kabar dari Papa Jordan jika Ghea semalam pulang ke rumahnya dengan tanpa diantar oleh suaminya. Bagaimana para orang tua itu tidak curiga coba? Apalagi dengan Ghea yang ditanya hanya diam dan malah pergi secepatnya ke sekolah.
“Kenapa ditanya kalian malah diam?” Papa Dika bersuara lagi. Melirik Pak Gery lalu pada Ghea yang sama-sama terdiam. Seakan mereka enggan untuk menjawab.
Terlebih Ghea yang sudah berjanji tidak akan berkata apa pun pada para orang tua itu, bukan?
Sedang Pak Gery, tak tahu harus menjawab apa.
“Ger?”
Pak Gery mendongakan wajahnya saat suara Papa Dika kembali menggema. Lalu menatap sang Papa. “Ya, Pa?”
“Ada apa?”
“Sebenarnya ini hanya salah paham aja kok, Pa. Ghea terlalu cemburu sama aku. Ghea lagi ngambekan gitu gara-gara gak sengaja baca chat masuk ke ponsel aku dari temen SMA aku.”
Ghea yang awalnya hanya menunduk, kini mata itu bersama wajahnya mendongak. dan membuka rahangnya sampai rasanya ingin menyentuh lantai saja.
Pak Gery kemudian melirik Ghea dengan ujung matanya. Melipat kedua bibirnya saat melihat wajah cewek itu memberengut. Sepertinya Ghea kesal dengan jawaban yang Pak Gery berikan. “Mungkin Ghea terlalu waspada, Pa, Ma, agar gak kehilangan aku.” Pak Gery melihat bibir Ghea yang terbuka. sengaja banget cowok itu. Sial. “Ghea kan terlalu cinta sama aku.” Lalu Pak Gery melihat dada Ghea yang kembang kempis.
Sumpah, ini Pak Gery sengaja banget gak mau disalahin sama para orang tuanya. Berengsek! Ghea menggeram dalam hati bersama kedua tangannya yang mengepal kesal.
“Nggak, Pa. Bukan gitu. Aku … ini itu bukan salah aku. Tapi--”
“Tapi aku seneng karena sikapnya yang cemburu kaya gitu.” Pak Gery menyela seraya menatap mata Ghea. “Itu tandanya Ghea gak mau kehilangan aku. Ghea cinta banget sama aku.” Lalu bibir tebal seksi dan merah itu menyeringai. Membuat Ghea semakin hilang akal.
“Oh … jadi karena persoalan cemburu toohhh? Mama Kira kalian itu ada apa gitu. Mama sampai stres tahu pas Papa bilang kalau Ghea pulang ke rumah sendiri. Malam-malam lagi. Buat Mama jantungan aja kalian ini.” Mama Dian menyahut dengan kekehan kecil.
Pak Gery hanya tersenyum simpul. dalam hati berteriak girang. Semoga aja dengan alasan ini Ghea bisa pulang lagi ke rumah mereka.
“Yaudah, karena ini masalah kecil, Papa harap kamu pulang lagi ke rumah suami kamu, ya, Ghe!”
Benar saja. Baru juga Pak Gery berharap seperti itu. Ternyata Papa Jordan lebih peka dari siapapun. Yes. Rasanya saat ini kaki Pak Gery ingin menyentuh lantai lalu loncat-loncat.
“Gak bisa, Pa. Ghea masih mau di sini. Ghea masih kangen sama Mama.”
“Nggak, Mas. Aku masih mau di sini. Masih belum mau pulang ke rumah kamu.” Ghea menyela cepat.
“Rumah kita, Ghe.” Pak Gery meralat.
Ghea hanya diam.
“Kalau kamu disini, gimana sama suami kamu, Ghe? Kasihan loh gak ada yang urusin.” Mama Sora ikut menimpali.
“Ya bodo,” kata Ghea pelan. Hampir tidak ada yang mendengar. “Ya, pokoknya Ghea masih ingin tinggal di sini. Titik.” Tanpa mau diganggu gugat lagi. Ghea masih merasa kesal dan marah sama suaminya itu. Terlebih saat tadi Pak Gery mengatakan jika dirinya sangat pencemburu. Menyebalkan bukan? Rese, sialan.
Boleh gak sih ngatain suami kayak gitu?
“Yaudah kalau Ghea masih mau tinggal di sini gak papa.” Dan perkataan Papa Jordan membuat Ghea merasa senang. Ia menyeringai puas. Tersenyum penuh ejek pada Pak Gery. Lalu melipat kedua tangannya di bawah perut seraya menyandarkan bahunya pada tangan sofa.
“Nak Gery juga tinggal di sini aja, ya. Mungkin Ghea masih kangen sama Mamanya. maklumin aja, ya, Nak Gery, manjanya lagi kumat!”
“Siap, Pa. Aku bakal tinggal di sini sampai betahnya Ghea ilang dan setelahnya baru pulang lagi ke rumah.” Tentu saja Pak Gery tidak akan menolak.
Refleks Ghea membuka rahangnya lagi. Kedua tangannya terlepas bersama tulang punggungnya yang tegak. “Gak bisa, Pa. mas Gery kan gak bawa baju ganti. Besok ke sekolah kan kamu, Mas? Nanti--”
“Gak masalah kok. Nanti aku bisa balik dulu ke rumah sebelum ke sekolah.”
“Gak bisa! Pokoknya Mas pulang aja, deh!” Karena Ghea gak mau tidur satu kamar dulu dengannya apalagi satu ranjang tentu saja bisa gawat nanti. Bisa-bisa Ghea kembali terbuai dengan bualan cowok itu. Enak saja, sudah bohong juga.
“Kenapa gak bisa?” tanya Pak Gery seolah menantang Ghea.
“Ya … karena …” Selain memutar bola matanya, pun Ghea memutar otaknya untuk mencari alasan.
“Udah-udah, gak usah pake debat segala. Kalau alasan Gery gak bawa baju ganti, Papa bisa suruh Adi buat bawain baju ganti buat Gery. Jangan diperpanjang lagi!” Jika Papa Dika sudah membuat keputusan itu tandanya sudah final. “Ini sudah malam juga kan. kalau gitu Papa sama Mama pulang dulu, ya!” Lalu Papa Dika dan Mama Dian berdiri. Berpamitan pada sang besan kemudian pada Pak Gery dan Ghea.
“Nanti kalau Gery nakalin kamu bilang aja sama Mama, ya, Ghe. Biar Mama yang kasih hukuman. Kamunya juga jangan cemburu-cemburu, ya. Kamu harus yakin kalau Gery cuma punya kamu. Dia juga kan terlalu gak mau kehilangan kamu,” kata Mama Dian saat berpamitan pada Ghea seraya mengecup keningnya. “Percaya sama Mama kalau Gery gak mungkin menyakiti wanita yang begitu sangat dicintainya. Ya!” Lalu tangan yang sudah terlihat mengkerut itu mengusap satu wajah Ghea.
sebentar Ghea melirik pada Pak Gery sebelum ia menganggukan kepalanya pada Mama Dian.
Prettt … terlalu cinta apaan, kalau dari awal udah bohong pasti ada kemungkinan dilain waktu bohong juga kan?
TBC
Aku ingetin lagi ya. Di cerita ini bakal banyak kejutan-kejutan yang tak terduga. So, siapin aja debaran jantungnya. Hihii
...Spam next yu biar cepetan lagi updatenya. hihihiiii...
Seizy
Si penulis amatiran yang baru bangun karena semalam tidur jam 3 malam cuma gara-gara nonton film Dilan. Hihiii