Married With Teacher

Married With Teacher
Menemukanmu


"Lo mau ngapain, Cy?" tanya Alvin setengah panik ketika Ocy mendorong bahu Ghea dengan sangat kasar sampai tubuh cewek itu terduduk di atas kursi rotan.


Tatapan Ghea mendongak. Ia tersentak. Kaget tentu saja karena tidak percaya Ocy - sahabatnya bisa berbuat hal demikian padanya. Ghea ingin menangis. Bukan karena takut, melainkan hatinya kecewa.


Ocy mengelilingi tubuh Ghea yang terduduk. Lalu menarik kedua tangannya ke belakang. Mengikat tangan itu dengan sangat kencang. Ghea mengeluarkan ringisan.


"Eh kita perjanjiannya cuma mau nakut-nakuti Ghea doang, ya? Kenapa lo malah jadi ikat dia kayak gitu?" sahut Alvin kembali.


Ocy yang sedang mengikat kedua tangan Ghea - yang tidak bisa berontak apalagi melawan. Keterkejutannyalah yang membuat Ghea diam. Matanya mendongak, menatap Alvin yang sedang membuka rahangnya.


"Lo, nih Vin, kalau kagak mau ikut-ikutan --" Ocy melarikan mata menatap Alvin dengan sangat tajam seraya mengikat kedua tangan Ghea. "Sono aja lo pergi! Gue gak butuh lo sih sebenarnya -- Aww." saat Ocy semakin kencang menarik ikat tali di tangan Ghea, cewek itu kembali meringis. "Lo cuma gue jadiin bahan doang di permainan ini. Paham kan lo?" kata-kata Ocy begitu menusuk pada Alvin. Namun cowok itu tidak terkejut sama sekali, karena dia juga sudah punya feeling akan hal ini.


Dari pertama kali Ocy yang memanggilnya di lorong sekolah setelah cowok itu keluar dari kantin lalu mengajaknya untuk mengobrol. Sebelumnya, Alvin heran karena tiba-tiba seorang cewek ketua OSIS memanggil dirinya. Lalu dengan tiba-tiba Ocy berkata jika Ghea adalah istri dari orang yang paling dia benci.


Sebelum itu, dengan sengaja Ocy mencari tahu tentang Alvin.


Bagai puzzle yang terselesaikan, Ghea paham. Ia merosotkan kedua bahunya. "Jadi, apa lo juga yang nyebarin foto-foto gue di mading?" tanya Ghea menatap lurus tepat pada mata Ocy yang sudah berdiri di hadapannya.


"Iya." Ocy menjawab dengan seringai di bibirnya.


Dulu Ghea hanya menemukan senyuman di wajah yang menjadi sahabatnya itu. Namun sekarang, wajah itu hanya bisa menunjukan sebuah tatapan permusuhan padanya.


Ghea tidak lagi membuka suara. Ia diam seribu bahasa. Hanya saja dalam hatinya ia terus memanggil nama Pak Gery. Berharap cowok itu dapat menemukan keberadaannya.


"Kenapa? Lo kaget?" Ocy bertanya sambil mencengkeram kedua rahang Ghea. Hingga wajahnya mendongak sebelum menatap Ocy dengan tatapan nyalang kemudian . "Atau lo butuh istirahat dulu sebelum kita bermain-main?" Dan dihentakkannyalah wajah Ghea ke samping.


Seraya menyeringai dan bersedekap, Ocy berjalan ke belakang punggung Ghea. Ocy menarik rambutnya yang tersanggul dengan kasar, membuat wajah Ghea mendongak. Tidak ada ringisan, Ghea mencoba menahan rasa sakit di kulit kepalanya. Sebisa mungkin cewek itu tidak mengeluarkan air mata yang sudah menggenang di sudutnya. Lalu Ocy membungkukan punggungnya. Mendekatkan bibirnya pada telinga Ghea. "Gak! Sudah cukup lo istirahatnya selama ini, Ghe." Ocy melepaskan rambut Ghea. "Sudah cukup sabar banget gue selama ini nunggu Reza suka sama gue." Lalu melangkahkan kakinya ke depan Ghea sebelum Ocy membuka lipatan pisau yang sedari tadi ada di tangannya. "Apa, sih, yang ngebuat Reza suka banget sama elo?" Ocy sedikit merendahkan wajahnya. Mensejajarkannya dengan wajah Ghea.


Ghea tidak menjawab. Untuk apa? Karena itu sangat percuma juga, kan? Emosi Ocy sedang berada di level paling tinggi. Jika Ghea menjawab apalagi menyadarkannya, tentu Ocy hanya akan semakin menyakitinya.


Ngomong-ngomong soal Alvin, cowok itu sudah tidak ada. Karena ia masih bisa berfikir waras untuk tidak berurusan dengan pihak berwajib. Dipikir Alvin, Pak Gery tidak akan tinggal diam jika tahu istrinya tidak ada. Apalagi dengan cowok itu yang menyewakan seorang bodyguard untuk Ghea.


...**...


"Cha, kamu yakin ini tempatnya?" Pak Gery menatap gedung tua di sebelah kirinya.


"Yakin, Pak. Teman saya tidak mungkin salah memberikan informasi." Lalu Chacha yang berada di balik kemudi pun menjawab.


"Ya, udah, turun, Cha! Tapi ingat, ya, tetap waspada!" katanya cowok itu sambil membuka pintu mobil setelah lebih dulu membuka seatbeltnya.


"Anjir gak sih, gue berasa sedang syuting film action." Suara siapa lagi itu coba kalau bukan suara Ilham - yang tadi menyusulnya dengan Adi.


"Cha, lo mending tunggu di mobil aja lah! Biar kita nih para cowok-cowok aja yang masuk ceki-ceki Ghea ke -- Adohhh. Sakit be go!" pekiknya sembari mengusap belakang kepalanya yang mendapat pukulan dari tangan Adi.


"Kampret emang dasar. Lo lupa kalau Chacha tuh jago berantem? Gak kayak lo. Harusnya tuh elo yang diem di sini! Jaga aja nih mobil! Siapa tahu nanti ada maling kan, ya?"


"Lo berdua bisa diem gak?" Pak Gery mendelikan kedua matanya. Cowok itu mulai serius. "Cha, ayo!" Lalu mengajak Chacha untuk seger masuk. Melihat Ghea. Apa dia ada di dalam sana.


Chacha mengangguk tidak kalah serius. Tidak ada sedikit pun rasa takut yang menghampirinya. Mungkin ini memang sudah biasa bagi cewek itu.


Keempat orang itu berjalan saling berdampingan. Pak Gery mengedarkan pandangannya ke segala arah. Takut jika ada hal yang lebih mencurigakan. Tapi sepertinya tidak ada karena memang di luar gedung itu tidak ada siapa pun orang yang menjaganya dari luar.


Mendorong pintu yang sudah usang itu, Pak Gery memberi intruksi kepada ketiga orang yang ada di belakangnya untuk masuk.


"Ghe--"


"Sstt ..." Pak Gery menyimpan jari telunjuknya di depan bibir ketika Ilham yang malah memanggil nama Ghea. Lalu kembali lagi cowok itu mengedarkan pandangannya di ruang lantai dasar yang gelap.


"Elah ... cuma manggil doang diributin. Ya siapa tahu kan --"


"Jangan, Cy!"


Pak Gery tersentak ketika mendengar suara itu. "Itu suara Ghea," katanya. Ia ingin berlari mencari keberadaan istrinya.


"Tunggu dulu, Pak!" Namun Chacha menahannya. "Kita tidak bisa gegabah! Jangan sampai tindakan kita yang terburu-buru nantinya akan membuat Ghea semakin dalam bahaya."


Lalu Chacha berjalan lebih dulu yang diikuti Pak Gery di belakangnya. Kemudian Ilham dan Adi berjalan berdampingan di belakang Pak Gery.


"Elu jangan liatin tuh cewek kek gitu banget, jirrr! Mata lo sampai mau keluar noh!" Adi berujar dengan candaannya pada Ilham. Agar situasi ini tidak lebih menegang.


"Serah! Mata-mata gue. Bodo amat!" Lalu Ilham menjawab dengan gaya yang sangat nyeleneh. Yang begitu menyebalkan di mata Adi. Tidak lupa seraya kedua tangannya terlipat di dada.


...**...


Saat sampai di lantai atas, dimana Ghea berada, mata Pak Gery membulat dengan sempurna. Seakan mata itu akan keluar dari tempatnya. Begitu juga dengan Chacha dan dua cowok di belakangnya. Mereka semua kaget. Tentu. Tindakan Ocy yang sedang mengarahkan sebuah pisau lipat tepat ke wajah Ghea.


"Ghea!" Refleks wajah Ghea menoleh pada asal suara yang mana suara itu adalah suara orang yang dari tadi Ghea panggil namanya. Ternyata tidak sia-sia Ghea terus berdoa. Menyebut nama Pak Gery berulang kali dalam hati.


"Mas." suara itu seakan tercekat tidak bisa keluar. Melihat rahang suaminya yang sudah mengeras membuat Ghea ingin menangis. Namun, jangan. Ghea harus menahan cairan sialan itu untuk keluar.


"Wow ..." seraya menegakkan punggungnya, Ocy menaikan kedua alisnya dengan wajah yang seolah terkejut. "Selamat malam Pak Gery?" ujarnya dengan suara yang begitu lembut. Tidak ada rasa takut sama sekali. Padahal Ocy hanya sendiri saja dibanding dengan Pak Gery dan ketiga orang di sampingnya.


Dengan menampilkan ekspresi yang sangat menyebalkan untuk Pak Gery lihat, Ocy melipat kedua tangannya di dada. "Mau jemput Ghea, ya, Pak?" tanyanya dengan santai.


"Lepasin Ghea!" hardik Pak Gery mengepalkan kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya. Ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ghea. Namun, baru saja kaki kiri itu melangkah, dengan cepat Ocy mengarahkan ujung pisau lipat pada pipi Ghea. Hanya mengarahkannya saja tidak menyentuh pipi Ghea yang mulus itu. "Eittt ... jangan maju, kalau gak ingin wajah cantik Ghea ini saya gores dengan ujung pisau!"


Kaki Pak Gery refleks berhenti karena tidak ingin Ghea disakiti.


"Mas," panggil cewek yang duduk terikat itu dengan lirih. Menatap Pak Gery dengan tatapan yang sendu.


"Kamu lepasin Ghea, Cy! Kalau ada masalah, kita selesaikan baik-baik! Gak perlu seperti ini," kata Pak Gery mencoba tenang walau hatinya tidak demikian. "Tindakan kamu sudah termasuk tindakan kriminal. Saya bisa saja laporin kamu ke polisi sekarang juga."


Ocy menangtang. "Laporin aja, Pak!"


Tidak harus berfikir lama, Pak Gery merogoh handphone yang ia kantongi. Mendial nomor pihak kepolisian yang ada di kontaknya.


"Oke, Pak. Oke. Saya akan lepasin Ghea." Seraya menjauh, Ocy mengangkat kedua tangannya ke depan. Pertanda jika ia menyerah. Kemudian cewek itu berlalu meninggalkan Ghea dan yang lainnya.


Setelah kepergian Ocy, Pak Gery berlari ke arah Ghea. Berlutut di depan cewek itu lalu membuka kedua tangannya yang terikat. Sedangkan Chacha, Ilham dan Adi berlalu lebih dulu untuk menunggu di dalam mobil saja. Memberikan Pak Gery waktu untuk menolong istrinya sendiri. "Kamu gak papa? Tangannya sakit gak?"


Air mata Ghea sudah tidak bisa ia tahan lagi, seketika luruh di dalam pelukan Pak Gery. "Mas." Ghea terisak sampai jas Pak Gery pun basah karena air mata Ghea yang membanjir.


"Gak papa. Jangan nangis! Udah ada aku kan. Kita pergi sekarang dari sini, ya!" Pak Gery mengusap kedua pipi Ghea dengan jari jempolnya sebelum kemudian membantu Ghea untuk berdiri lalu secepat mungkin pergi dari tempat itu.


Pak Gery membuka jasnya. Menyampirkan jas itu pada tubuh Ghea yang menggigil. Membiarkan dirinya hanya memakai t-shirt polos berwarna biru. Kemudian kedua tangannya mendekap pundak Ghea. Memberikan kehangatan pada tubuh cewek itu sebelum kedua mata Ghea menyaksikan tubuh Pak Gery yang berguling-guling di tangga lalu tergeletak di atas lantai dasar dengan darah yang keluar dari pelipis dan belakang kepalanya. Ghea membelalakan mata tidak percaya dengan rahangnya yang terbuka.


......TBC......


Man teman maaf telat update. Tadinya mau kemarin, cuma di daerah akunya mati lampu. huhuu terus pas pagi mau update ini naskah kek kurang ngefeel terus. Pengen nangis aku tuh gengsss. huhuuuu Maaf juga kalau ini kurang greget ya.


Seizy


Kang ngetik rengginang yang tiba-tiba kepengen siomay.