
Pagi harinya.
Ghea bangun lebih dulu. Membuka mata bersama kerjapan pelan. Ia pikir ini hanya mimpi. Semalam selepas mereka melakukan malam pertama dan mencapai kenikmatan surga dunianya, keduanya tidak melakukan apa-apa lagi. Hanya tidur sambil berpelukan sampai pagi ini Ghea terbangun.
Menarik kedua sudut bibirnya. Ghea menguluum senyum. Menjepit bibirnya ke dalam, Ghea mengumpat senang dalam hati. Lalu memandangi wajah Pak Gery lekat dan lama. Ternyata Pak Gery jika sedang tidur wajahnya semakin tampan. Rasanya Ghea tidak ingin membagi wajah bak dewa ini dengan orang lain.
Menyentuh mata yang terpejam itu dengan jari telunjuknya. Ghea terkekeh lucu saat melihat gerakan kepala Pak Gery. Sepertinya Pak Gery merasakan sentuhan itu. Tak lama cowok itu kembali damai dalam tidurnya.
Tak berhenti menyentuh matanya saja, jari Ghea turun mengusap keningnya. Yang Ghea yakini di dalamnya tercipta otak yang sangat brilian. Lalu turun pada hidung mancungnya. Rasanya Ghea ingin menggigit hidung itu. Kemudian setengah bangun, menyimpan telapak tangan pada pelipisnya dengan siku sebagai penyanggah. Ghea amati lekat wajah yang sedang menghadapnya itu.
Ia tersenyum lagi, jari telunjuknya kembali menyentuh rahangnya yang kokoh. Garis rahang yang Tuhan ciptakan begitu sempurna. Ghea kecup singkat bagian itu.
Bibirnya, oh …, garis bibir yang sempurna. Ia ingat saat Pak Gery tersenyum padanya semalam. Tepat saat di atas tubuhnya. Ghea usap. Jarinya mengikuti bentuk bibir tebal Pak Gery. Merah, Ghea yakini jika suaminya ini bukan tipikal cowok yang suka merokok.
Suami?
Ah, rasanya ia masih tidak percaya. Di umurnya yang baru 17 tahun, Ghea sudah menikah. Tapi tak apa. Karena cowok yang menikah dengannya adalah idamannya. Dan Ghea yakin. Jika cewek-cewek satu sekolah tahu, mereka yang mengidolakan Pak Gery bakal mati berdiri.
Ishhh … mata Ghea tak lepas mengamati dan jarinya pun tak lepas menyentuh setiap inci dari wajah bagaikan turunan dewa tersebut. Uh, Pak Gery, Ghea sangat beruntung. Karena tidak tahan, Ghea curi kiss morning Pak Gery.
Pak Gery kembali menggerakan kepalanya. Sepertinya ia terganggu dalam tidurnya. Dan ketika Ghea melihat ada pergerakan di matanya yang masih terpejam. Buru-buru Ghea menjatuhkan kepalanya ke bantal. Ia pura-pura terpejam.
Mata Pak Gery terbuka. Hal yang pertama ia lihat dari setiap pagi yang sebelumnya adalah wajah cantik sang istri yang masih terlelap. Gak tau aja jika Ghea hanya pura-pura.
"Pagi," sapanya. Walau tahu mata Ghea masih tidur. Tapi Pak Gery mencoba membangunkannya. Lalu mendekatkan wajah tampan itu pada wajah Ghea - yang miring menghadapnya. Kemudian ia gesekan hidungnya ke hidung Ghea. Seraya mengumbar senyum di bibir indahnya.
"Gak mau bangun?" sahutnya lagi sembari menyentil hidung sang istri.
"Baiklah." Pak Gery menyerah ketika tidak ada reaksi apa-apa dari cewek itu. Ghea seperti aktris film saja bisa memainkan drama tidurnya dengan sangat baik.
"Ternyata istri aku ini susah bangun, ya."
Saat mengucapkan kalimat itu rasanya Ghea ingin tertawa. Tapi ia menahannya.
"Tadinya aku mau ngajak kamu mandi bareng. Tapi gak papa, aku duluan. Kamu tidur aja sampai puas. Hari ini aku udah minta izin sama kepala sekolah," ujarnya. Lalu mengecup kening Ghea sayang. Setelah itu Pak Gery menyibakan selimut. Ia pergi ke kamar mandi dengan tubuh yang polos. Bathrobenya tidak ia kenakan. Malah ia sampirkan pada bahu kiri.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Begitu juga suara gemercik air dari shower, Ghea baru membuka matanya. Menarik selimut cepat sampai menutup kepalanya. Di dalam selimut Ghea senyum-senyum sendiri seperti orang gak waras.
Ah, bukannya iya. Pagi ini Ghea mendadak gila mendengar suaminya itu mengucapkan selamat pagi. Tak lupa kalimat manis lainnya. Uh, jantung Ghea seperti ingin keluar dari tempatnya.
"Gue masih kaya mimpi. Gue kira dia gak bisa manis. Ya, ampun ternyata …" Lalu terkekehlah lagi cewek itu.
TBC
Btw setengah part aku hapus ya karena ngerasa panas banget. Beruntung kalian yang udah baca lebih awal. wkwkwkkaaaa