
"Sumpah. Gila banget. Udah gak waras suami elo, Ghe."
Tama baru saja selesai dengan hukumannya. Push-up 100 kali. Cowok itu berjalan terengah menuju kantin. Dan sesampainya di sana, Tama langsung meneguk air mineral punya Cindy.
"Punya gu--" ujar Cindy ingin menahan Tama. Namun telat karena cowok itu yang tiba-tiba meneguknya hingga habis. Hingga jakun mungilnya naik turun bersama keringat yang mengucur di dahi melewati sisi wajahnya. Rambutnya basah dan seragam yang menempel pada kulit tubuhnya.
Ghea mendelik tidak suka tentu saja. Suaminya dibilang gila. Yang benar saja? "Udah bagus Pak Gery kasih elo hukuman cuma push-up 100 kali. Kalau serebu kali bagemana?"
"Lo bilang cuma, Ghe?" decak Tama menggelengkan kepala. "Sebelas dua belas emang nih suami istri yang satu ini."
"Yalah. Kan harus sehati," sahut Ghea santai lalu menyedot jus alpukatnya. Seakan cewek itu tidak merasa berdosa sama sekali.
"Ck. Kampret emang lu, Ghe." decak Gama.
"Bodo amat!"
Lalu Tama mendelikkan pandangannya ke arah Cindy yang tengah menunduk. "Eh bon cabe, ngapaen elu duduk bareng Ghea?" tanyanya sinis. Merasa tidak suka dengan keberadaannya.
Cindy mendongak. "Gue--"
"Kenapa? Kagak suka lu, Tam?" itu Ghea yang bersuara. Karena merasa tidak enak pada Cindy yang dari awal masuk lagi selalu jadi bahan sinisan orang.
Tama duduk di samping Ghea. Tepat di depan Cindy. "Harus elu tanya itu lagi ke gue? Lu mau tahu jawabannya? Nggak! Gue kagak suka sama mulut bon cabe ini," jawab Tama menggebu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Ghea mengedikkan kedua bahu sambil menyedot minumannya. "Awas. Jangan terlalu berlebihan elo gak sukanya. Nanti suka mampuus baru tahu rasa lo, Tam."
Jika air muka Tama berubah tidak suka. Berbeda dengan Cindy yang menunduk. Jika kalian tahu, Cindy tengah menyembunyikan wajah merahnya. Ia malu. Entah kenapa, Cindy pun tidak tahu.
"Hahaha ..." Tama tertawa awkward. "Gue," kemudian menunjuk wajahnya sendiri. "suka sama cewek yang punya mulut bon cabe kaya nih cewek?" Lalu tergelak kosong. "Gak - mung - kin!" tekannya seraya sedikit mencondongkan wajahnya pada Cindy. Seolah, Tama sedang menekankan itu padanya.
Ghea bersikap santai. Tanpa Cindy ataupun Tama sadari, cewek itu tengah memperhatikan wajah wajah keduanya bergantian. Ghea merasakan jika Cindy tidak nyaman dengan perkataan Tama. Sedangkan saat melihat wajah Tama, Ghea merasa jika ada sesuatu di bola matanya.
"Setahu gue mulut bon cabe itu, walau mulutnya pedas tapi hatinya manis, Tam," ujar Ghea menyadarkan Tama dari menatap Cindy yang masih menekuk pandangannya.
Bersamaan dengan Tama yang ingin membalas ucapan Ghea, Reza dan Ocy menghampiri.
"Tam, tadi kenape lo push-up sendirian?" Itu bukan pertanyaan. Melainkan sebuah ledekan dari seorang Reza - sang ketua OSIS Garuda.
Refleks wajah Cindy mendongak. Namun tidak dengan Ghea. Cewek itu masih asyik memainkan sedotan di bibirnya. Pun sesekali menggigitnya.
"Apa? Mau ngeledek gue juga lo, Za?" kata Tama kemudian berdecak. "Sadis!"
"Lagu kali ah, sadis," ujar Ocy sembari duduk di samping Ghea. Jadi posisi Ghea sekarang sedang dihimpit oleh Tama dan Ocy. "Ya gak, Ghe?" Ditanyalah cewek itu oleh sahabatnya dengan tangan sambil mencomot biskuit yang ada di dekat gelas Ghea. Ocy yakin sendiri jika biskuit itu milik Ghea.
"Hem. Kenapa, Cy?" tanya Ghea dengan air muka yang sedikit berubah. Mungkin karena kedatangan Reza yang tiba-tiba atau ... entahlah karena apa.
"Lwo kwenapa swih? Kwusut bwanget mwukanya?" ucap Ocy yang sedikit tidak dimengerti oleh Ghea. Karena mulut cewek itu sedang mengunyah biskuit.
"Ngomong paan dah elu, Cy?" tanya Tama.
Sebelum mengatakan sesuatu, lebih dulu Ocy menelan biskuitnya lalu dengan begitu saja mengambil gelas minum Ghea. Meneguknya hingga hampir habis.
"Nggak. Ini Si Ghea kenapa mukanya kusut banget?"
Dan detik itu pula semua mata yang ada di meja itu berpaling menatap wajah Ghea dengan tanda tanya.
"Kenapa, Ghe? Lo sakit?" tanya Reza sedikit ... khawatir. Membuat Ocy yang duduk di sampingnya mendongakan pandangan menatap Reza. Ada rasa yang berbeda saat Reza bertanya kepeduliannya pada Ghea.
Kepala Ghea menggeleng. "Nggak. Yaudah gue ke toilet dulu, lo semua lanjut aja." Seraya berdiri, Ghea permisi pada Tama yang menghalangi jalannya.
Saat Ghea melewati punggung Reza, cowok itu refleks menahan tangannya. "Ghe, lo masih marah sama gue?" tanya cowok itu berbalik. Hingga kini keduanya saling berhadapan.
Jangan tanyakan bagaimana keadaan sekarang di meja kantin itu. Tama menghela tidak tenang. Ocy memandang keduanya dengan sedikit tidak suka. Dan Cindy, cewek itu hanya mengerjapkan matanya canggung.
Jika Ghea bisa memberikan kesempatan pada orang lain. Lalu kenapa pada Reza kesempatan itu seolah sangat berat Ghea berikan.
Mungkin Ghea kecewa karena Reza adalah temannya sejak kecil. Lalu dengan begitu saja mengkhianatinya. Yang masih Ghea tahu Reza sang pelaku penyebar foto itu.
"Gue tahu tatapan lo ke gue itu sekarang beda, Ghe. Lo masih marah sama gue. Tapi kan udah gue bilang, bukan gue yang udah nyebarin foto - foto itu. Lo gak percaya sama gue, Ghe?"
"Ghe," Tama berdiri dari duduknya seraya menyangga telapak tangan di atas meja. "Lo sendiri kan yang bilang, jika semua orang berhak mendapat kesempatan. Terus sekarang kenapa lo gak kasih si Reza kesempatan buat ngebuktiin kalau bukan dia pelakunya? Lo sama dia udah kenal lama. Dari kecil malah. Beda sama lo yang kenal gue dan Ocy. Gue yakin sih, lo lebih mengenal Si anak kuda ini dari kita semua."
Lalu Reza mendelik ketika Tama menyebutnya 'si anak kuda'. "Sialan lo ngatain gue anak kuda," ujarnya tidak terima.
Ghea masih diam. Ia tidak tahu kenapa rasanya sulit sekali untuk bicara saat ini. Dalam diam, Ghea juga percaya kalau bukan Reza si pelaku itu. Tapi di sisi lain, yang Ghea tahu cuma Reza lah yang punya foto - foto itu.
Ah, jika dipikir - pikir, Ghea itu begitu sangat merumitkan.
Apa sih yang cewek itu mau?
Lagi pula jika iya pun Reza yang melakukan, mau apa? Mau diapain lagi? Semuanya sudah terlanjur. Lagi juga semua keadaan sudah baik - baik saja bukan? Tidak ada yang mencemoohnya lagi jika bukan si Tama sialan yang terus saja meledeknya.
"Oke." Ghea menghela. "Gue kasih lo kesempatan buat buktiin jika bukan lo pelakunya. Tapi kalau itu benar, gue gak akan pernah maafin elo, Za. Lo tahu sendiri kan kalau gue gak suka dibohongi."
So, apa karena alasan itu, kesempatan tidak diberikan pada Reza? Atau karena hal lain?
"Gue pasti buktiin itu ke elo, Ghe," ujar Reza
"Dan gue bakal bantu elo, anak kuda, buat buktiin sama sohib elo yang satu ini nih." Tama memberikan kepalan tangannya pada bahu Reza dengan pelan. Tanda jika cowok itu akan mendukung dan mempertahankan persahabatannya.
Lalu Cindy. Cewek itu bangkit dari duduknya. Dengan gerakan pelan mengangkat pandangannya. "Kalau kalian izinin. Gue juga mau bantu elo buat mengungkap kasus ini."
Reza tertohok. Sedangkan Tama refleks berkata, "gak usah! Makasih aja ye, kita gak butuh caper elu."
"Siapa yang caper? Gue mau bantu juga bukan karena elu. Gue lakuin ini buat Ghea. Karena udah banyak bantuin gue," sahut Cindy. Sepertinya kali ini cewek itu tidak akan menjadi manusia diam kalau si Tama mencecarnya.
"Terserah elu. Tapi kalau elu buat masalah lagi sama si anak kampret ini," tunjuk Tama pada Ghea. "Lu gak bakal lolos dari serangan masa, bon cabe!"
"Iya. Janji gue gak bakal buat Ghea kecewa." Cindy menjawab. "Tapi elu, Tam, bisa gak, gak usah panggil gue bon cabe?"
"Kagak bisa!" tekan Tama memalingkan muka.
Lalu Ocy?
"Cy, kok elo diem aja? Gak bakal bantu si anak kuda ini?" tanya Tama pada Ocy yang diam seribu bahasa. "Elu kan pacarnya, elahhh ..."
Ocy berdiri, "Bantu dong. Masa pacar sendiri kagak gue bantuin. Ya gak, yang?" Lalu Ocy mengedipkan matanya pada Reza, yang dibalas senyum tipis cowok itu.
Tanpa mereka sadari, seseorang di meja belakang mereka yang sedang memunggunginya, berdecak tidak suka. Lalu mengepalkan kedua tangannya. Geram.
...TBC...
Maaf gak update kemarin.
Maaf yang nungguin.
Maaf juga kalau ada yang gak nyambung.
Maaf pokoknya maaf.
Tolong katakan satu kata buat Ocy !!!
Seizy
Si kang ngetik yang ....