
Sebesar apa pun masalah yang sering mereka hadapi. Atau sepelik apa pun itu. Keduanya selalu berakhir di atas ranjang. Bercinta. Seolah itu bisa meredam emosi di dalam kepala. Mungkin benar kata orang kebanyakan, jika kamar. Ranjang dan bercinta bisa mengakhiri setiap masalah di dalam rumah tangga. Seperti halnya Ghea yang
berakhir telanjaang dengan Gery yang berbaring miring di samping Ghea. Tubuh keduanya hanya terbalut selimut tebal kamar hotel.
Gery bangun lebih dulu darinya. Ia beringsut. Duduk sambil matanya tidak lepas memandang wajah Ghea yang masih tertidur menghadapnya.
Ia pandangi wajah itu lama sebelum menyentuh dahi menggunakan ujung jari telunjung lalu turun mengikuti garis hidung Ghea dan berakhir di bibir cewek itu. “Sayang kamu, Ghe. Maaf,” ucapnya pelan kemudian Gery merendahkan wajah hanya untuk mengecup bibir wanita itu.
Disibak Gery selimut yang menutupi tubuh polos itu. Ia turun dari ranjang berniat untuk mandi. Namun, sebelumnya cowok itu mengambil handphone. Melihat notif pesan yang masuk.
Airin
Selamat pagi, Pak. Maaf mengganggu pagi anda. Saya hanya ingin mengingatkan jika pagi ini, jam 11, Bapak ada meeting dengan menejer dan beberapa stap perusahaan. Saya tidak bisa menemani. Karena hari ini ada jadwal untuk mengecek lokasi tanah di Bogor bersama Pak Adi.
Gery mendesahkan nafasnya. Mengabaikan pesan dari Airin itu lalu melangkah ke pintu kamar mandi dengan sebelumnya Gery menyimpan hand phone di atas bantal samping kepala Ghea.
Tidak lama setelah itu, Gery keluar dari sana dengan dada polos dan tubuh bagian bawah yang hanya terlilit handuk putih hotel saja. Cowok itu sedikit tersentak mendapatkan Ghea yang sudah bangun. Duduk di tempat tidur. Cewek itu memegang hand phone Gery dan satu tangan yang menahan selimut tetap di dada agar tidak merosot.
Ghea melayangkan tatapan padanya kemudian beralih pada hand phone cowok itu lalu kembali menatap Gery lagi.
Gery merasa merinding ditatap Ghea seperti itu. Dialihkan Gery tatapannya dari Ghea. Cowok itu menghidar tidak ingin bertemu dengan sorot mata tajam Ghea. Ia tidak ingin pagi ini dimulai lagi dengan pertengkaran. Apalagi semalam keduanya sudah mulai berdamai, bukan?
Gery mendekat ke arah sofa panjang yang terletak di ujung ranjang. Ia meraih celana panjang untuk kemudian memakainya. Di depan Ghea. Tanpa ada rasa malu sedikit pun.
Buat apa juga malu? Toh Ghea sudah melihat semua yang ada pada lelaki itu, kan?
Sementara itu, Ghea masih membayangi Gery dengan tatapannya sebelum kemudian cewek itu bersuara. “Siapa Airin?” tanyanya dengan suara ketus khas Ghea yang lagi ngambek.
Sesaat Gery menghentikan gerakan tangan kanannya yang akan memasukan kemeja. Didongakkan Gery kepalanya untuk ia tatap cewek yang sedang berusaha meraih bathrobe yang terlipat rapi di atas nakas. “Oh itu,” kata Gery terlalu santai. Ia melanjutkan untuk memakai kemejanya. Mengancingkan itu lalu saat ia akan mengaitkan kancing terakhirnya ia mendengar Ghea yang meringis seraya menahan bawah perut dengan satu tangan.
“Kenapa? Masih sakit perutnya?” Gery berjalan. Mendekati sisi ranjang. Tangannya mengambilkan bathrobe untuk Ghea. “Dia sekretaris baru aku.” Dijawab Gery pertanyaan Ghea yang tadi itu.
Ghea menggigit bibirnya dalam-dalam bersama kerutan di dahi. Perutnya terasa sakit. Seperti ada yang menusuk-nusuk. Namun, ia tahan. Sebisa mungkin tidak ingin membuat Gery khawatir.
Uh cewek ini. Masih saja memikirkan kekhawatiran cowok itu setelah apa yang dilakukannya padanya. Lalu diturunkan Ghea kedua kakinya seraya menerima bathrobe dari tangan Gery. “Aku kok baru tahu, ya, kalau kamu punya sekretaris baru selain Mas Adi.” Ia mendongak. Menatap Gery dengan datar.
Cowok itu menarik nafas. Seraya menghembuskannya, tangannya bergerak meraih belakang kepala Ghea lalu menariknya untuk ia kecup dahi cewek itu dengan tubuh Gery yang masih menjulang di depan Ghea.
“Kerjanya cuma baru beberapa hari doang.”
“Tapi dia kok berani banget bawain bekal makan siang buat kamu?” tanya Ghea seraya berdiri. Melepaskan selimut dari tubuh lalu menggantinya dengan bathrobe. “Emang apa yang udah kamu dan dia lakuin sehingga dia ngasih bekal itu sebagai permintaan maaf dan terimakasihnya?” tanya Ghea seraya melangkah menuju kamar mandi. Tidak menggubris Gery yang akan menjelaskannya dengan Ghea tahu cowok itu tadi sudah akan menggerakan bibirnya.
Biar tahu rasa emang dia.
“Sialll …” Gery meraup wajah dengan frustasi. Mengambil hand phone yang sebelumnya sudah Ghea simpan kembali di atas bantal, tempat semula. Jari panjangnya membuka aplikasi pesan lalu membacanya.
Ketika Ghea sudah membuka pintu kamar mandi, ia berbalik. Bersuara. “Papa aku sakit. Jadi setelah aku kontrol kandungan aku, aku mau ke Bandung. Jengukin Papa dan Mama.”
“Ia.” Ghea masuk ke dalam kamar mandi. Gery berdecak keras. Ghea mau ke Bandung? Kok gak ada bilang sama sekali? “Kok mendadak gitu?” Cowok itu masih memusatkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang sebelumnya sudah ditutup Ghea dari dalam. Cewek itu tidak mengidahkan pertanyaan suaminya itu. Lalu tiba-tiba
kembali terbuka dengan kepala Ghea yang muncul di celah pintu. “Kamu gak lupa sama janji kamu kan, Mas?" Wajah Gery mengerut seolah cowok itu sedang berfikir keras.
Janji yang mana, ya?
“Jam 11 cek kandungan!” Ghea menekan kalimatnya sebelum kepalanya menghilang dari celah pintu dan menutupnya dengan hentakan keras.
Bukannya tadi Ghea udah bilang ada jadwal cek up, ya? Dasar gak peka!
Saat ini Gery ingin sekali membanting sesuatu untuk melepaskan emosinya. Untuk itu ia memilih benda canggih yang ada di tangannya. Membantingkan itu ke atas tempat tidur.
Gery pikir Ghea sudah mereda dengan segala luapannya semalam. Namun, ternyata cewek itu masih saja kesal. Malah sekarang ia akan pergi ke Bandung tanpa bilang lebih dulu padanya. Juga dengan jadwalnya siang ini yang bersinggungan dengan cek kandungan Ghea dan meeting.
Double sial.
**
“Semoga Pak Gery suka dengan makanan yang aku buat,” ucap Airin tersenyum sambil meletakkan box makanan di meja kerjanya. Tidak ada maksud apa-apa, Airin membuatkan itu hanya sebagai permintaan maafnya saja pada Gery seperti yang dituliskan cewek itu lewat pesan untuknya.
Dengan bibir bawah yang ia gigit dan tarikan di kedua sudut bibir itu, Airin tersentak. Memutar tubuhnya dan menemukan Adi yang berdiri di pintu. “Ngapain kamu?
Arini gugup. “Eum ... saya— saya—“
“Ngapain kamu ada di ruangan ini sepagian?” Melangkahkan kakinya, Adi mendekat. Melewati tubuh Airin yang terpaku gugup di tempat. Mata cowok itu menemukan box makanan berwarna biru muda di meja kerja Gery. Adi mendengus untuk kemudian menatap Airin dari samping. “Ini apa maksudnya, ya?” tanya Adi sambil menunjukan box kecil persegi biru muda itu pada Airin setelah sebelumnya ia ambil dari meja kerja Gery.
“Eum … itu—“ belum juga Airin menjelaskan, Adi sudah membuka benda itu lebih dulu. Kemudian wangi aroma makanan menguar dari sana. “Nasi goreng seafood?” Dikerutkan Adi dahinya sambil menatap Airin dibalik bulu mata cowok itu. “Buat Gery?”
Airin mendongakkan kepala. Kedua tangan cewek itu berada di balik punggungnya. Menjalin jari-jemari dengan keringan dingin sudah dirasakan cewek itu.
“Ngapain repot-repot?” Adi menutup box makanan itu kembali. “Udah ada yang memperhatikan makanan dia ini kok.” Lalu dilangkahkan Adi kakinya ke sebelah kiri ruangan. Tepat di samping pintu kamar mandi ruangan Gery. “Gak usah repot-repot.” Tanpa diduga Airin, Adi menjatuhkan box makanan itu pada tempat sampah. Sengaja. "Lagi juga Gery gak akan suka masakan cewek lain selain istrinya.” Ia menekan kata istri berharap Airin dapat memahami.
Note seizy;
Aku updatenya dikit-dikit aja dulu ya gak papa kan? Ini diketik 1. 1400 kata lebihan dikit. hihiii
Dan selalu aku ucapkan terimakasih aku untuk kamu yang masih mau baca. Jangan lupa tetap jaga kesehatan dan selalu berfikir positif ya.
Seperti halnya dalam cerita ini. Jangan berpikir jika aku akan menghadirkan pelakor di cerita Ghea dan gery ini.
Seperti yang sebelumnya sudah aku katakan jika itu gak akan ada. Ini hanya sebagai konflik kecil aja untuk nanti menuju ending yang lebih baik.
Salam sejuta sayang dari aku. ILY