Married With Teacher

Married With Teacher
Kerasukan Setan Romantis


Jika mungkin orang lain akan memandang sebuah kesalahan dari masa lalu. Berbeda hal dengan Ghea yang tidak ingin larut dalam masalah yang sama. Apalagi itu sebuah masa lalu dari orang masa depannya.


Mengertilah jika semua orang pernah punya masa lalu dan sebuah masalah. Lantas apa kita harus selalu hidup dari masa lalu itu terus menerus?


Tentu tidak bukan?


“Jadi Alvin itu adiknya Fara?”


Ghea mengangguk dalam pelukan Pak Gery.


“Pantesan aja aku kaya pernah lihat dia gitu pas nyamperin ke UKS saat kamu pingsan.”


Ngomong-ngomong Pak Gery dan Ghea masih berada di tempat yang sama. Namun bedanya, jika tadi Pak Gery dan Ghea melihat pemandangan indah di atas bukit sisi kota. Sekarang keduanya tengah saling berpelukan di dalam mobil. Bukan melakukan hal yang ‘itu’. Hanya saling pelukan saja untuk mengganti malam kemarin yang hilang.


Dan soal Fara, Pak Gery sudah menjelaskannya pada Ghea. Jika dia adalah gadis cantik dan pintar di sekolahnya. Temannya saat SMA. Namun, sayang nyawanya harus melayang disaat usianya masih muda. Dia harus merasakan sakit saat dirinya melayang dari atas rooftop dan harus berakhir tergeletak di lapangan basket dengan darah yang mengalir dari belakang kepalanya.


“Kasihan loh Alvin, Mas.” Ghea semakin mengeratkan lingkaran tangannya pada perut Pak Gery. Sedikit mendongak agar dapat melihat reaksi wajah tampan itu.


“Kamu jangan terlalu deket deh, ya, sama Alvin!”


Ghea mengurai pelukan sebelum kemudian pandangannya saling bertemu dengan mata abu-abu itu. “Kenapa?” Mengarahkan jari telunjuknya pada wajah yang kini sedang menatapnya dalam kening yang berkerut. Ghea tersenyum. “Cie cie yang cemburu,” ledeknya.


Pak Gery menarik kepalanya ke belakang. “Siapa yang cemburu?” Kemudian memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Ghea.


“Cie cie … cemburu niye …” Dan jari telunjuk itu turun menyentuh perutnya yang keras dan berotot.


“Paan sih. Gak ya.” Pak Gery mengelak.


“Uluh-uluh, ternyata suaminya Ghea bisa cemburu juga ya.” Kemudian Ghea mencoba menggelitik perut Pak Gery walau tidak terasa apa-apa oleh sang pemiliknya.


“Nggak! Mana ada coba?” Pak Gery menahan kedua tangan Ghea lalu menggenggamnya. “Aku - gak - cemburu,” tekannya.


  


“Masa?” Sepertinya Ghea tidak ingin berhenti untuk meledeknya.


“Iya.”


“Oh oke.” Mengalah seraya mengangguk-nganggukkan kepalanya bersama senyum geli disana. “Dingin, Mas.”


Pak Gery sedikit menunduk. “Mau diangetin gak?”


“Mau.”


“Yaudah sini. Deketan duduknya!”


“Ini udah deket, Mas. Mau deket gimana lagi?” Mata Ghea menunduk sebagai penjelasan bahwa dirinya dan Pak Gery sudah mengikis jarak. Bahkan paha keduanya saling bersentuhan hanya terhalang kain yang mereka kenakan saja.


“Ya belum deket, Ghe. Kan itu masih terhalang sama rok kamu dan baju.”


Ghea membelalak tidak percaya. “Maksud kamu …, kamu nyuruh aku telanjang gitu? Mana ada jadi anget, Mas? Yang ada aku masuk angin kali.”


Saat itu juga Pak Gery tidak bisa menahan gelak tawanya. Maka yang ia lakukan adalah menertawakan kepolosan istrinya itu.


Ghea memukul bahu Pak Gery pelan. “Ih Mas kok malah ketawa, sih? Lucu emang?”


Mana bisa Pak Gery tidak tertawa. Ghea itu tidak peka banget sih.


“Yaudah, pulang aja kalau gitu. Angetinnya nanti kalau udah sampai kamar.”


“Heuh? Kok kamu jadi mesum gini sih, Mas?” Barangkali Ghea sudah paham apa yang dimaksud suaminya itu.


“Mesum sama istri sendiri ini kok.”


“Ih nyebelin banget tau gak.”


Kemudian dipeluk lah perut rata Ghea itu. “Tapi sayang kan?”


“Ihhh … Mas Gery … apaan sih? Gak usah diomongin juga kan bisa!”


**


Malam itu Pak Gery dan Ghea pulang ke rumah Papa Jordan, karena Ghea yang memintanya. Dan pagi ini kedua insan itu masih bergumul di dalam selimut bersama tubuh keduanya yang sama-sama polos. Setelah sampai kamar Pak Gery benar-benar membuat tubuh Ghea hangat. Bukan hanya hangat saja, bahkan sampai berpeluh.


Namun mimpi keduanya harus terganggu disaat alarm dari handphone Ghea berbunyi nyaring.


“Eummhhh, Mas bangun udah siang!” Setelah mematikan alarm yang mengganggunya itu, lantas Ghea beringsut. Duduk bersandar pada hearboad seraya menarik selimut sampai sebatas dadanya guna untuk menutupi tubuh polos itu.


“Mas …” Ghea mengusap kening sang suami.


“Ih jangan ditarik selimutnya, Mas. Bangun yuk!”


“Masih ngantuk, Ghe. Bentar lagi, ya! Hari minggu ini.”


Ghea menurunkan kedua kakinya setelah meraih bathrobe yang ada di ujung kasur dengan kakinya kemudian memakaikan itu untuk melindungi tubuh polosnya.


“Terserah, Mas deh. Aku mau mandi.”


“Barengan, Ghe!” sahutnya cepat. Turun dari tempat tidur kemudian menggendong Ghea seraya berlari ke kamar mandi.


Ghea terkekeh geli. “Astaga, Mas, apaan sih kamu tuh. Aku gak mau mandi bareng kamu.” Karena mungkin bukan hanya mandi saja yang dilakukan pak Gery. Tetapi sesuatu yang membuat Ghea capek lagi. Bergumul di bathtub misalnya.


Uh membayangkannya saja, Ghea sudah capek duluan.


**


“Pelan-pelan makannya, Ghe,” kata Pak Gery mengingatkan. Kemudian mengarahkan tangannya untuk membersihkan sisa nasi yang di sudut bibirnya.


Ghea tersenyum dalam mulut penuh makanan. “Abisnya aku lapar banget, Mas.”


Karena ini memang bukan jamnya sarapan. Lebih tepatnya makan siang. Bayangkan saja apa yang sudah mereka lakukan di dalam kamar mandi sampai keluar dari sana jam satu siang. Ya apalagi kalau bukan saling bergumul.


“Kamu kok udah aja makannya, Mas?” Saat melihat Pak Gery yang menggeserkan piringnya ke samping. Padahal piring itu masih tersisa.


“Udah kenyang,” jawabnya seraya memiringkan kepalanya kemudian menyanggahnya dengan tangan. Dengan siku yang bertumpu pada meja makan. “Manis banget sih kalau lagi makan lahap kaya gitu.” Menarik kedua sudut bibirnya mengembangkan senyumnya.


Sesaat Ghea berhenti mengunyah sebelum ia melipat kedua bibirnya agar tidak tersenyum. Pun dengan pipi yang mengembung karena mulut itu masih terisi makanan.


“Kenapa?” Jari jempol Pak Gery kembali membersihkan bibirnya. “Suka banget kalau makan berantakan kaya gini sih? bocah banget deh.” Kembali menyangga kepalanya dengan telapak tangan seperti tadi.


“Terus kenapa kamu nikahi bocah ini, Om?”


Mungkin jika Ghea sedang tidak makan ia akan tergelak saat melihat ekspresi wajah Pak Gery yang auto menegakkan wajahnya bersama bibir yang memberengut. Gak suka sepertinya dibilang ‘Om’.


“Karena kamu manis.”


Eh.


Ghea kira Pak Gery akan membalasnya tapi justru malah memujinya.


Tunggu!


Ini Pak Gery lagi kesambet apa kerasukan setan romantis yang mana, sih?


Ghea mengerutkan keningnya karena bingung. Sumpah demi langit dan bumi, ini bukan suaminya banget.


"Eh mau kemana kamu?" Pak Gery bingung dengan tingkah Ghea yang mendadak berdiri lalu berlari kecil dan bersembunyi di dinding pembatas antara dapur dan ruang tengah rumahnya. Ghea bersandar di dinding itu.


"Kabur, Mas," jawabnya seraya menyembulkan kepalanya sedikit.


"Kenapa kabur?" Pak Gery tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.


"Malu." Ghea terkekeh bersama tubuhnya yang bersandar.


"Kenapa sekarang kamu banyak malunya?"


Eh.


Ghea tersentak. Kaget. Karena tiba-tiba suami yang tadi ia katakan Om-Om itu sudah ada di depannya seraya bersedekap.


"Hehe … kalau gitu, kamu mau gak jalan sama Ghea si pemalu ini?"


TBC


Ihhh geremet aku tuh sama diri sendiri yang kalau otak udah konslet gak bisa ngapa-ngapain. Huhuuu


...Maaf ya kalau kurang gereget. Heheee...


...Betewe follow Ig aku biar kalian tahu aku updatenya kapan. Biar gak nungguin. hihiii...


...@seizyll_koerniawan...


Seizy


Si penulis amatiran yang lagi ngelamun gimana cara masak air... Hihii