Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 43


Jika tidak Ghea cegah, mungkin saja hantaman serta pukulan pasti Gery berikan kepada Alvin.


Berani sekali cowok berjas putih itu merangkul Ghea.


Kegeraman sudah terlihat kentara dari pertama penglihatan Gery mendapati tubuh Ghea disentuh oleh tangan laki-laki lain. Kemarahannya sama seperti ketika Ghea disentuh oleh Reza sewaktu acara resepsi dulu.


Dan beruntung ini bukan di tempat yang sama seperti waktu itu. Jika iya, kepalan tangan Gery pasti akan benar-benar menghajar wajah Alvin, sampai cowok itu mati sekalipun, Gery tidak peduli dan malah bersyukur mungkin.


Itu karena dulu Gery belum sempat memberikan pelajaran pada Alvin.


"Pak Gery, saya…" ucap Alvin kaku. Sembari menatap takut pada suami dari Ghea ini.


Tangan Gery yang bebas mengepal di samping tubuh. Ingin sekali cowok itu mematahkan tulang tangan Alvin sekarang juga. "Jangan sentuh istri saya!" Hardik Gery menekan bersama gigi bergemeletuk keras.


"Maaf, Pak. Tadi saya hanya membantu Ghea. Karena saya melihat Ghea yang--"


"Ghea tidak butuh bantuan dari orang yang dulu sudah membuatnya celaka." Demi Tuhan, Alvin tidak perlu diingatkan. "Apalagi dengan orang yang sudah menyebabkan dia koma." Gery menekan setiap kata yang terucap seraya menarik bahu Ghea dalam rangkulan.


Membuat hati Alvin teriris kuat. Ia tahu itu kesalahan yang sesungguhnya tidak bisa dimaafkan. Tapi, ia juga menyesal.


Tidak sengaja pandangan Ghea turun, melihat kedua tangan Alvin mengepal di samping tubuh. Lalu, diangkat Ghea tatapannya pada cowok yang diam mengatupkan bibir.


"Mas!"


"Kamu gak perlu bela penjahat ini, Ghe!" Tekan Gery menoleh untuk saling beradu tatap dengan wanita di sampingnya. Sengaja pula Gery mengeraskan suara. Membuat orang di sekitaran sana atau beberapa yang lewat mengerutkan dahi.


Ghea melepas tangan besar Gery. Menggerakkan tubuh untuk memberi jarak dengannya.


Wajah Gery bertambah berang. Menekan garis bibir agar Gery tidak meluncurkan kemarahan.


"Kalau kamu di sini hanya untuk membahas masa lalu," kata Ghea pelan. Suaranya serak. "Lebih baik kamu gak usah ada di sini, Mas!"


"Ghe--" Apa-apaan Ghea ini? Dia mengusir Gery maksudnya?


"Kamu akan semakin memperburuk keadaan aku aja."


"Jadi kamu bela dia?"


"Aku gak bela siapa-siapa."


Perdebatan itu pasti akan berlanjut jika hand phone Gery tidak bergetar. Cowok itu lalu merogohnya. Menempelkan benda tersebut pada telinga.


Ghea perlu berterima kasih pada sang penelpon itu. Sampai panggilan berakhir, dan Gery memberitahu jika itu Mama Dian yang memberitahu kalau Papa Jordan harus segera diurus.


Jantung Ghea kembali berpukul. Sekuat yang ia bisa melangkah meski dalam tungkai lunglai. Bak jelly yang kenyal dan tidak bertulang.


Dibuka Gery pintu ICU menggunakan satu tangan. Dengan tangan yang lain merangkul bahu Ghea. Memberikan kekuatan tersisa untuknya.


Air mata tidak sanggup untuk Ghea tahan ketika pertama kali dirinya masuk. Matanya menangkap tubuh Papa yang tidak berubah. Terlentang seperti terakhir kali Ghea lihat. Namun, bedanya sekarang, tubuh Papa sudah terbebas dari alat-alat menakutkan untuk Ghea lihat dan ia dengar.


Dan Mama yang membungkuk di samping kiri Papa. Memeluknya. Menyandarkan sisi wajah Mama ke dada Papa. Sembari sesekali Mama memanggil nama Papa dengan tangisan pilu. Juga tangan mengguncang-guncangkan tubuh Papa yang sudah kaku.


"Papa…" Ghea memanggil lirih. Bahkan sangat. Suaranya pun hampir hilang ditelan kepahitan. Bibirnya bergetar. Cairan kristal terus meluncur tidak tertahan. Sungguh! Demi apapun, ini mimpi buruk Ghea yang nyata.


Papa meninggalkannya.


Mama Sora yang melihat Ghea sudah berdiri di ujung kaki Papa pun menghampiri. Memeluk Ghea walau tidak mendapat balasan apa-apa darinya.


Mama Dian mengecup dahi Ghea. "Sabar, ya, sayang!" Kata Mama Dian mencoba menenangkan meski itu tidak berhasil.


Ditepuk bahu Gery oleh Papa Dika. Memberikan kekuatan penuh pada putranya. "Kuatin Ghea, Ger!"


Tentu saja. Tanpa disuruh pun Gery akan menjadi kekuatan untuk Ghea. Lalu, di anggukkan kepala itu samar sambil menatap Papa Dika yang berdiri di sisi lain Gery.


Sampai kemudian bola mata abu itu menyaksikan tubuh Ghea yang tiba-tiba merosot dipelukan Mama Dian.


"Ya ampun, Ghe…" suara Mama Dian panik. Wanita paruh itu menahan Ghea namun tidak berhasil. Sehingga Mama Dian duduk memangku kepala Ghea. Sampai kedua tangan besar memangku tubuhnya. Membawanya ke luar dari ICU untuk segera mendapat pertolongan dari dokter setempat.


Panik, cemas serta takut begitu kentara berbaur menjadi satu di wajah Gery. Ia membopong tubuh lemah itu. Gery terlihat kusut. Seuntai rambut menggantung di dahi. Ia biarkan walau ujung rambut itu mencolok matanya.


Pun dengan peluh dingin mencuat dari dalam pori-pori. Sampai tidak Gery rasa lagi peluh itu mengucur melewati pelipis. Ia benar-benar merasa ketakutan kali ini.


Melangkah sekuat yang Gery bisa untuk membawa Ghea ke ruang perawatan lain yang sebelumnya cowok itu meminta bantuan petugas mencarikannya. Dan Gery juga meminta petugas memanggil dokter kandungan rumah sakit itu agar memeriksa Ghea juga kandungannya. Tidak lupa pula Gery menceritakan kondisi Ghea ketika dokter sudah ada.


"Ghea mau hadiah apa dari Papa nanti pas ulang tahun?"


"Gak mau apa-apa. Ghea hanya mau Papa sembuh."


Laki-laki paruh baya yang bertanya pada Ghea itu tersenyum lebar sebelum menjawil hidung gadis kecil berumur tujuh tahun yang duduk di dalam pangkuan.


Ghea kecil tertawa. Ia menunjukan giginya yang putih. Rambut gadis kecil itu diikat di kedua sisi kepala. "Papa akan sembuh lagi kan, Pa?" Lalu bertanya dengan tatapan sendu. Memohon lewat tatap itu dengan sangat agar Papa menjawab ya.


"Papa akan sembuh untuk Ghea," katanya menarik tubuh Ghea kecil ke dalam pelukan kemudian.


"Papa janji?!" Dua kata yang terucap dari bibir mungil Ghea kecil itu seakan menuntut.


"Ya. Papa janji," jawab Papa Jordan tidak melepaskan kedua tangan besar dari mendekap tubuh mungil putrinya. Sampai Ghea merasa kain yang menutupi bahunya terasa basah dan bau anyir seketika tercium.


Ghea kecil melepaskan diri dari pelukan sang Papa. Lalu, menatap wajah Papa yang pucat. Demi apa pula, gadis kecil itu shock saat darah keluar dari kedua lubang hidung Papa.


Diusap darah itu oleh Ghea menggunakan jari-jari mungil. "Hidung Papa kok berdarah?" Sembari bertanya bersama wajah paniknya.


"Pa, kok darahnya gak mau berhenti, sih? Ghea takut, Pa." Lagi. Jari mungil Ghea terus menyusut cairan merah kental yang seakan tidak mau berhenti mengalir dari lubang hidung Papa.


Ghea menangis. Terisak pilu dengan tangan gemetar. Berusaha terus menghentikan aliran darah. Namun, itu semua sia-sia saja karena kepala Papa malah ambruk ke bahu kecil Ghea.


Tangannya mengguncang-guncang pangkal lengan Papa. "Papa…. Papa, bangun!" Berusaha keras agar tubuh Papa kembali duduk tegak. Membuka mata dan berbicara lagi padanya.


"Pa…. Papa, bangun. Jangan tinggalin Ghea!" Bibir mungil Ghea bergetar. Ketakutan merasuki dirinya. Ini seperti nyata. Namun juga, Ghea merasa dirinya ditarik dalam kesadaran.


Kepala itu bergerak ke kanan dan kiri. Dahi sudah dibanjiri oleh peluh. Tubuh pun terasa dihimpit batu besar. Dan kedua kelopak mata seakan sulit untuk membuka.


Sementara bibir terus merapalkan nama sang Papa.


"Jangan tinggalin aku, Pa!" Bibir itu berucap pahit bersama kepala yang terus bergerak.


Sedang telinga samar-samar menangkap suara merdu yang meneduhkan.


Ghea ingin membuka kelopak mata. Ingin kembali pada kehidupan nyata dan meninggalkan mimpi buruknya.


"Ghea…. Sayang, bangun! Hey!" Lalu, selain mendengar suara merdu, Ghea pun merasakan kedua pipinya ditepuk-tepuk tangan besar lembut.


"Jangan tinggalin aku, Pa!" Ucapnya lagi dalam pejaman mata.


"Sayang…. Ghe…." Gery memanggil. Mengusap peluh di dahi lalu mengecupnya kemudian. "Bangun, Ghe!"


"Papa!!!" Tubuh itu refleks terduduk. Kini kelopak mata Ghea terbuka sempurna. Nafas tersenggal dengan dada kembang kempis.


"Sayang," panggil Gery lembut. "Mimpi lagi?" Pertanyaan kesekian yang tidak pernah absen ketika Gery mendapati Gheanya demikian.


Dianggukkan Ghea kepalanya. Duduk bersama kedua tangan memeluk kedua lutut yang terlipat.


"Minum dulu!" Sahut Gery sembari memberikan segelas air yang sudah ia tuangkan sebelumnya pada Ghea.


Diteguk air itu. Namun tidak sampai habis. Sedang Gery mengusap sisa-sisa peluh di pelipis Ghea menggunakan telapak tangan besarnya.


Sudah empat bulan dari meninggalnya Papa mimpi buruk itu selalu datang menghantui tidur Ghea.


Selama itu pula, selain Ghea tidak bisa memejamkan mata kembali karena mimpi tersebut, perut Ghea yang sudah membesar pun membuatnya merasa sesak dan sakit di perutnya selalu Ghea rasakan setiap malam.


Sama halnya dengan sekarang. Meski begitu, Ghea tidak pernah mengeluh dan menunjukan rasa itu di depan Gery.


"Aku ke kamar mandi dulu," kata Ghea. Diturunkan kedua kaki menginjak lantai marmer kamar. Melangkah pelan menuju pintu lain yang ada di dalam kamar.


Ghea masuk lalu menutup pintu itu lagi kemudian. Menyalakan kran wastafel dan menangis di sana. Di depan cermin yang memantulkan wajah pucat serta perut besarnya. Mencengkram sisi wastafel untuk menghalau rasa nyerinya.


Ghea menarik nafas dalam. Mengusap perut buncit itu menggunakan satu tangan sambil bergumam. "Bunda rela menahan sakit ini asal kamu selamat sampai bisa menatap dunia, sayang." Sedangkan air terus mengalir dari kran.


Setiap malam selalu seperti itu. Jika denyut nyeri di perutnya telah kambuh. Ghea akan lari dan menangis di dalam kamar mandi. Sementara Gery, tanpa Ghea tahu sama sekali, cowok itu diam-diam menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Diam-diam pula Gery menangis merasakan pasti apa yang wanitanya itu rasa.


Gery turut sakit bahkan lebih dari kata itu melihat Ghea yang pura-pura baik-baik saja di depannya.


Kandungan Ghea sudah memasuki delapan bulan. Dan selama itu pula, Gery selalu berada di sampingnya untuk memberi Ghea kekuatan. Kebahagian dan berusaha menampilkan senyum di wajah cantiknya.


Meski Gery sadar, sejak kepergian Papa Jordan wajah cantik itu selalu murung.