Married With Teacher

Married With Teacher
Pingsan


“Tama, apa kamu tahu kenapa Ghea tidak masuk hari ini?”


setelah selesai mengajar, untuk lebih menghilangkan rasa penasarannya, walau Pak Gery tahu sendiri kenapa Ghea tidak masuk kelas hari ini. Ia bertanya pada sang ketua kelas. Tanpa melihat orang yang diajak bicara, tangan kekar itu membereskan setumpuk buku-buku tugas dari para muridnya. Seolah dirinya sibuk.


“Saya kurang tahu, Pak.” Tama menjawab seadanya. Walau sejujurnya Tama penasaran kenapa guru killer itu selalu menanyakan sesuatu hal padanya tentang Ghea. Padahal jika ada murid yang lain yang tidak masuk, Pak Gery tidak pernah menanyakannya ‘kenapa’. Tidak pernah guru itu sekepo ini.


“Gak ada chat atau hubungi kamu gitu?” Kemudian mata abu-abunya mendongak. Menatap Tama dengan penuh intimidasi. Dan menenteng satu buku tebal di tangannya.


“Gak ada, Pak.”


“Hem.” Pak Gery mengangguk, pasrah. Tidak bertanya lagi pada Tama. atau nanti cowok itu akan semakin curiga.


“Gak ada lagi yang mau ditanyain, Pak? Kalau gak ada--”


“ya, kamu boleh keluar!”


“Permisi, Pak.”


Seraya berlalu, Tama mengutuki sang guru killer itu dalam hati. Namun, ia lupa mengatakan jika saat Tama mengecek handphonenya ada dua panggilan tak terjawab dari Ghea tadi. Tama ingin kembali lagi pada pak Gery, mengatakannya. Namun, saat Tama memutar tubuhnya, ia melihat Pak Gery keluar dari kelas dengan terburu-buru seraya mengapit handphonenya. Tama mengedik santai. Tidak jadi. Kemudian langkahnya terus berjalan menuju kantin.


**


“Cha, kamu yakin Ghea gak ada hubungi kamu?” tanya Pak Gery pada Chacha di dalam sambungan seluler. Wajahnya terlihat lebih gusar lagi. “Yaudah, kamu pokoknya cari Ghea ke rumahnya, kemana aja kek, ya, pokoknya sampai ketemu, Cha!”


“Sial!” umpatnya penuh dengan kekesalan yang ektra. Kemudian diraup lah wajahnya yang frustasi itu. Ia kembali menatap handphone yang layarnya sudah retak namun menampilkan wajah wanita cantik dengan senyum lebar dan mata yang mengedip satu. Gambar Ghea yang ia jadikan foto wallpaper di layar itu. Walau tak terlihat jelas lagi, Pak Gery masih dapat melihat senyum di bibirnya.


“Kamu kemana, sayang? Jangan bikin aku tambah bersalah sama kamu, Ghe!”


Pak Gery menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya. Pandangannya sama sekali tak lepas menatap pantulan wajah Ghea di layar handphonenya.


Kenapa Pak Gery gak coba menghubungi nomornya saja? Kenapa dia malah diam tanpa melakukan apa pun?


Sedetik kemudian ia menscroll kontak, mencari nama pookie disana. Menghubungi nomor itu. Setengah ragu, ia mengapit handphonenya.


Sedangkan dengan Ghea.


cewek itu masih terkurung di dalam ruang yang sama. Cahaya ruang itu semakin temaram karena senter di handphonenya juga semakin meredup. Baterai handphonenya tinggal beberapa persen lagi. Atau mungkin saat Ghea mengedipkan matanya dalam satu kedipan, handphone itu akan mati.


“Please jangan mati dulu dong. Minimal sampai gue keluar dari sini kek.”


Dan pada saat Ghea melihat nama inisial G berkedip di layar benda pipih itu, jarinya buru-buru menggeser ikon hijau lalu menempelkannya di telinga. “Halo, Mas …, Mas, tolongin aku! Aku terkurung di ruang kosong sekolah. Mas, hallo … hallo, Mas?”


Ghea berdecak. “Sial.” Ternyata handphone itu sudah kehabisan daya. Dan auto membuat ruangan itu kembali gelap total. Nafas Ghea yang sudah sesak semakin bertambah sesak. Lalu samar-samar ia mendengar suara yang mengobrol di luar sana.


Ghea bangkit dari duduk bersandar pada daun pintu. Tangannya mengepal kemudian menggedor daun pintu tersebut dengan keras agar mereka yang melewati ruangan itu dapat mendengarnya.


“Oyyy … siapa aja yang ada di luar tolongin gue! Gue terkurung di dalam, oyyy!” Berharap saja pada keajaiban agar mereka mendengar suara keras Ghea yang sudah mulai serak itu.


**


Di dalam ruangannya Pak Gery berdecak kesal. Memukul meja persegi di depannya saat nomor yang ia hubungi tidak aktif.


“Ghe … ya ampun, kenapa malah kamu matiin handphonenya sih? Sampai segitu kecewanya kah kamu gak mau dengerin penjelasan dari aku? Please, sayang! Aku gak sanggup kalau kamu giniin aku!”


Saat matanya berkaca-kaca dan merasa putus asa. Handphonenya bergetar. Tangannya refleks menggeser ikon hijau itu. “Gimana, Cha?” sambar Pak Gery saat Chacha menghubunginya.


Dan lagi-lagi Pak Gery harus menelan pil kecewa saat Chacha mengatakan jika ia tidak menemukan Ghea. Namun harapan Pak Gery kembali muncul saat chacha mengatakan jika Ghea pagi ini memang masuk sekolah. Chacha mencari tahu ke rumah cewek itu.


Dengan cepat, Pak Gery keluar dari ruangannya. Ia harus mencarinya. Ghea memang tidak masuk ke kelas pagi ini, tapi kemungkinan Ghea bersembunyi di tempat lain. Oke, Pak Gery akan mencari Ghea ke rooftop lebih dulu. Semoga istrinya itu ada di sana.


Kedua tangannya refleks mengangkat tubuh cewek yang sedang tergeletak di atas pangkuan seseorang. Matanya tertutup dan ia tidak sadarkan diri, jelas saja. Wajahnya memucat bersama keringat dingin yang menghiasi dahi sampai rahangnya.


sontak tindakan Pak Gery yang tiba-tiba itu memicu pertanyaan di dalam kepala anak-anak yang berkerumun tadi. Mereka hanya membuka rahangnya tidak percaya. apalagi dengan cewek-cewek yang ada disana. Merasa iri tentu saja.


“Lah, Za, itu Ghea kenapa digendong gitu sama Pak Gery?” ujar Ocy yang sedang berjalan di samping Reza.


Pun Reza yang sedang memainkan handphonenya refleks wajahnya menoleh ke arah Pak Gery yang tengah menggendong tubuh cewek yang tidak sadarkan diri itu menuju UKS.


“Ya. Kenapa, ya? Kita susulin aja yuk!”


Mungkin saat ini tidak ada pasang mata yang tidak menatap ke arah Pak Gery dan Ghea. Yang awalnya sedang di kelas aja malah mendadak keluar hanya untuk melihat pemandangan tersebut. Berbeda halnya dengan Yura. Di tempatnya ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Yura tidak suka. Sama sekali tidak suka melihat pandangan yang membuat matanya sakit. Oh tidak, bukan matanya saja, namun bisa juga dengan hatinya.


Bukan masalah Yura punya rasa pada Gery. Bukan. Hanya saja kenapa cewek yang ia kurung itu bisa keluar dari ruang itu? Dan siapa yang sudah berani membuka kuncinya?


“Sial!” Geram Yura lalu berlalu dari tempatnya sekarang.


**


“Ghe, bangun, hey!” Pak Gery menepuk-nepuk kedua pipi Ghea saat tubuh itu sudah terbaring di atas bed UKS.


Mata memang tidak bisa berbohong. Dan itu sangat terlihat di bola mata abu-abu cowok itu. Mungkin siapa saja yang melihat tingkah dan tatapan Pak Gery pada Ghea saat ini akan menyimpulkan bahwa mereka ada hubungan.


Dan itu benar.


“Pak, Ghea kenapa? Kok bisa pingsan?”


Reza dan Ocy masuk ke dalam ruangan UKS.


Pak Gery mendongak. Ia meluruskan tulang punggungnya. “Kalian?” Lalu pandangannya mengedar. Ternyata bukan hanya ada Reza dan Ocy saja di sana. Ada banyak murid yang mengintip dari kaca UKS dan ada juga beberapa yang berdiri di pintu. Seolah mereka sedang menyaksikan drama saja. Untung tadi mulut Pak Gery tidak keceplosan memanggil Ghea sayang.


“Kayaknya ada yang sengaja mengurungnya dia di dalam ruangan deh.”


Belum juga Pak gery menjawab tidak tahu. Seseorang masuk tanpa permisi dan memberi jawaban atas pertanyaan Reza.


Sontak Pak Gery, Reza dan Ocy menoleh ke arah suara itu.


“Lo siapa?”  tanya Reza. Karena ia merasa tidak kenal pada sosok pahlawan yang sudah membukakan kunci pintunya. Reza baru melihat sosok itu.


“Gue Alvin.” Ia menjeda suaranya. “Murid baru di kelas Fisika,” katanya lagi saat melihat kerutan di dahi Reza. Lalu melirik Pak Gery dengan ujung matanya.


“Oh … lo yang udah bukain kuncinya? Thanks kalau gitu udah nolongin temen gue.” Ucapan itu keluar dari mulut Ocy.


Ingin berhenti menatap cowok yang bernama Alvin itu, namun mengapa tidak bisa. Seolah Pak Gery pernah melihat cowok itu. Tapi dimana?


Dan Alvin hanya tersenyum diam berdiri di belakang Ocy, tepat di sampingnya Pak Gery dengan kedua tangan Alvin yang masuk ke dalam kantong celana.


“Ghe, lo sadar?”


Barulah atensi Pak Gery beralih pada wajah Ghea yang mulai mengerjapkan matanya.


TBC


Yuhuuuu Pak Gery balek lagi nih. Di bab bab berikutnya bakal selalu ada kejutan yang tidak terduga yes. Yok spam di kolom komentar I love pak Gery biar aku updatenya cepetan lagi. Udah banyak nabung babnya lohhh. wkwkk


Seizy


Si penulis amatiran yang hari minggu cuma tiduran doang. Gak ada yang ngajak jalan gitu?