
*Rasa untuk semakin memiliki dan selalu bersama denganmu semakin besar*.
Dan aku ingin selalu membuat senyummu terukir di wajah cantikmu.
Gery Mahardika Putra
***
Ghe pernah bilang belum sih kalau dia gak suka dengan Pak Gery yang jika ke sekolah harus memakai t-shirt polos yang dibalut jas dan celana jeans panjang yang ketat? Itu membuat Ghea cemburu karena Pak Gery akan terlihat lebih mempesona. Dan Ghea tidak ingin membagi itu dengan siapa pun.
Tolong catat. Siapa pun!
Saat akan berangkat bersama - karena Pak Gery yang memaksa - Ghea sempat mendebat cowok yang menjadi suaminya itu. Maka dari itu kini di dalam mobil Ghea hanya diam seraya memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Melihat pohon-pohon yang seperti bergerak mundur ketika kendara besi itu melaju.
“Mau diem-dieman aja nih? Gak mau ngobrol gitu?” Ketika itu Pak Gery menghentikan laju mobilnya tepat saat lampu merah menyala.
“Nggak!” Ghea menjawab acuh tentu saja. Uh kenapa sikap Ghea mendadak dingin seperti ini hanya karena masalah cara berpenampilan Pak Gery. Ck menyebalkan.
“Bener?” Lalu mobil itu perlahan melaju.
“Iya.”
“Kalau gak mau ngobrol, cium aja gimana?” sahut Pak gery seraya menoleh menatap Ghea. Mengabaikan jika dirinya sedang berkendara.
“Ih, Mas … apaan? Udah nyetir aja sih yang fokus!”
“Gak bisa.” Wajah Pak Gery masih mengarah padanya. “Fokus aku hanya buat kamu.”
“Gombal banget. Masih sepagian ini, Mas.”
Pak Gery terkekeh gemas. Walau wajahnya fokus pada Ghea, namun ujung mata cowok itu masih bisa fokus ke jalan di depannya. Apalagi dengan Pak Gery yang melajukan mobilnya pelan.
“Kok gombal, sih? Serius. Gak pernah gombal aku tuh, yang.”
Bagus. Kalau Ghea sudah dipanggil dengan kata itu, bisa luluh sudah hatinya.
Lalu diam-diam cewek itu melipat kedua bibirnya. Menahan agar ia tidak tersenyum.
“Mau senyum - senyum aja, yang. Gak usah ditahan! Nanti itu pipinya kram lagi gitu mulu,” ujar Pak Gery terkekeh gemas. Sesekali pandangan cowok itu menoleh ke jalan di depannya. Hanya sesaat saja karena fokus wajahnya kembali lagi pada cewek yang kini sudah berbalik menghadapnya. Kemudian tangan kecilnya itu memberikan satu pukulan pelan di bahunya sebagai hadiah. “Ih apaan sih, Mas,” ujar Ghea bersemu. Malu.
Pak Gery kembali terkekeh. “Aduh jahat keras banget sih mukulnya?” seraya mengusap-ngusap bahu yang tadi dipukul Ghea dengan dramatis.
“Mas awas!!!” Ghea berteriak menoleh ke depan. Refleks Pak Gery menginjak pedal remnya ketika seseorang di depan mobilnya akan menyebrang jalan begitu saja.
“Mas, itu orang kena tabrak kamu nggak ya?” Wajah Ghea berubah pucat, Setengah panik. Takut jika orang itu benar-benar tertabrak mobil suaminya. Menggigit kuku jarinya bersama tubuhnya yang sedikit condong untuk melihat orang yang kini sudah dikerumuni pengguna jalan.
“Kamu jangan keluar, ya. Biar aku yang cek,” ujar Pak Gery membuka seatbeltnya.
“Tapi--”
“Pokoknya jangan keluar!” Dibukalah pintu mobil itu olehnya. Menghampiri orang yang kini sedang duduk diatas aspal dikerumuni banyak orang.
Di dalam mobil Ghea melihat tubuh Pak Gery berjongkok. Mungkin sedang menanyakan keadaannya terluka atau tidak.
“Iya. Saya akan tanggung jawab kok. Saya akan bawa dia ke rumah sakit,” sahut Pak Gery sembari memapah orang itu membantunya masuk ke dalam mobil.
Ghea menoleh ke belakang dimana seorang cewek sudah duduk di kursi penumpang. “Elo?” Wajah Ghea terkejut tentu saja saat tahu siapa orang yang tidak sengaja suaminya tabrak itu.
**
“Lo gak papa bener? Gak perlu dirawat inap gitu?” Ghea memberikan perhatian Ghea padanya. Pada cewek yang duduk di brankar rumah sakit. Beruntung saat itu Pak Gery menjalankan laju mobilnya pelan hingga lukanya tidak parah. Hanya lecet di bagian siku dan tumit sebelah kanannya saja.
“Gue gak papa, Ghe. Cuma luka kecil doang.” Dia menjawab. Memberikan senyuman sungkan pada Ghea.
Pak Gery sendiri sedang menebus obat dan membayar administrasi di depan.
Ghea mengangguk tidak ingin memaksanya untuk dirawat inap saja. Lalu memberikan pertanyaan yang membuat dia menekuk wajahnya. “Lo lagi apa di jalan sepagian ini? Maaf, ya, gara-gara gue lo jadi gak bisa sekolah lagi. Nanti gue coba bicara sama Pak gery deh biar blacklist lo dihapus. Biar lo bisa masuk sekolah lagi. Walau gak di Garuda juga. Tapi lo --”
“Gak perlu, Ghe. Mungkin ini hukuman buat gue karena udah jahat sama lo. Udah ngata-ngatain lo. Mungkin ini hukumannya yang harus gue terima.” Cindy menyela.
Cindy. Dia adalah cewek yang dulu menantang Pak Gery sampai namanya di blacklist. Hingga dia Cindy tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya. Kemudian diusir oleh orang tuanya.
Hening sesaat di dalam ruang itu. Cindy maupun Ghea sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing. Entah harus saling bicara apa.. Karena kecanggungan mendominasi keduanya. Apalagi dengan Cindy yang sama sekali tidak mengangkat wajahnya seperti kala dia saat menantang Pak Gery sewaktu itu.
“Ghe,” itu suara Cindy setelah beberapa saat diam. Lalu mendongak menatap Ghea.
“Iya.”
“Gue minta maaf karena udah ngurung lo di ruang kosong waktu itu.” Akunya yang membuat Ghea terkesiap. Ia terkejut. “Sampai lo pingsan,” lanjutnya kemudian.
Melihat wajah Ghea yang diam menatapnya nanar membuat Cindy siap mendapatkan muntahan marah darinya. Cindy siap jika saja Ghea tidak akan memaafkannya.
“Iya. Gak papa. Gue udah maafin. Lupain aja. Itu udah agak lama juga kan kejadiannya?”
Dan ternyata dugaan Cindy salah. Ghea justru tersenyum memandangnya. Mengambil kedua tangan Cindy yang saling tertaut bersama keringat dingin di sela-sela jarinya.
“Lo maafin gue, Ghe? Lo gak dendam sama gue?” tanya Cindy tidak percaya.
Kepala Ghea menggeleng. “Gak. Ngapain gue harus marah dan dendam sama lo? Orang tua gue gak ngajarin gue jadi orang kaya gitu,” ujar Ghea membuat Cindy menatapnya kagum. Pantas saja di sekolah Ghea punya banyak teman. Dari kalangan cewek maupun cowok. Dan pantas saja Pak Gery menikahinya, karena sikap dan hati Ghea yang berusaha lapang. Llau kenapa Yura tidak menyukainya? Dan pertanyaan itu tiba-tiba saja hinggap di kepala Cindy.
“Makasih, ya, Ghe.” Cindy terkekeh. “Gue jadi malu sama lo.”
“Udah lupain aja!” Ghea tersenyum ramah.
“Sorry nih Ghe gue bahas lagi. Waktu itu gue disuruh sama Yura.” Jujur Cindy lagi. “Gue dikasih duit sama tuh cewek. Dan bogoonya gue mau aja nerima gitu. Karena saat itu gue lagi butuh duit, Ghe.”
Ghea diam. Ia tidak tahu harus jawab apa atau hanya sekedar menanggapinya saja Ghea gak tahu harus gimana. Ia hanya berpikir positif saja. Tidak ingin lagi berpikir negatif kenapa Yura ngelakuin itu padanya.
Wajar. Karena Ghea tahu tidak semua orang dapat respect padanya. Karena di dunia ini memang selalu ada yang bertentangan, bukan? Sepertinya halnya ada siang dan malam. Begitu juga dengan manusia. Ada yang menyukai dan ada pula yang membenci. Itu seperti sudah lumrah di dalam sebuah kehidupan.
Jika di dalam ruang itu Ghea dan Cindy saling diam. Berbeda dengan seseorang yang sedang mengintipnya di balik celah pintu yang sedikit terbuka. Seseorang dengan perawakan tinggi, tampan dan perfect semakin mengagumi Gheanya saja.
TBC
Kebongkar nih satu lagi siapa yang udah ngurung Ghea di gudang gelap waktu itu.
Tinggal nanti yang nyebarin foto-fotonya ya. hihii
Semoga gak bosen lagi yang gengss..
Terimakasih buat kamu yang selalu ngasih aku komen disetiap bab cerita sederhana aku.
Terimakasih buat kamu yang tidak pernah absen likenya.
Terimakasih buat kamu yang sudha tersenyum untuk hari ini.
Walau lelah, tapi aku yakin kamu bisa menghadapinya dengan ukiran senyum.
Ingat, jika matahari saja tidak pernah lelah untuk selalu menyinari bumi.
Lalu kenapa kita tidak mencona seperti matahari?
Coba sinari diri kamu dengan senyuman manis yang mungkin saja tidak semua orang miliki.
Seizy
Si kang ngetik amatiran yang lagi coba buat cerita teenlit lagi. hihii doain aku ya semua!!