Married With Teacher

Married With Teacher
Misi Ghea


"Bener, nih, kamu gak mau ikut?" Pak Gery bertanya. Ia akan ke rumah Mama Dian. Bertemu dengan sang Mama yang sudah beberapa hari ini tidak dijumpainya. Ia terlalu sibuk.


Sibuk dengan membuat tanda macan tutul di leher Ghea. Uhhh...


Ghea berdiri di pintu seraya bersedekap. Menyenderkan bahunya pada sisi pintu dengan santai. "Gak!"


Oh rupanya cewek itu masih ngambek. Ok, fine. Pak Gery membiarkannya saja. Ia justru berjalan ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Mengacuhkan Ghea yang tidak ingin ikut bersamanya. Dan lagi, keacuhan Pak Gery itu membuat Ghe gedek. Ia menghentakan kakinya. Berjalan ke pelataran rumah. Menatap nanar suaminya yang sedang mengeluarkan mobil.


“Benar gak mau ikut?” tanya Pak Gery memastikan sekali lagi. Mobil itu sudah dikeluarkan dari garasi. Pak Gery duduk dibalik kemudi dengan kaca jendela mobil yang terbuka.


Ghea diam sejenak. Ragu untuk menjawab, karena sejujurnya Ghea ingin ikut, ia juga sangat merindukan Mama mertuanya. Apalagi dengan masakan sang Mama mertua yang selalu menggugah selera makannya.Namun, di sisi lain, Ghea harus menjalankan misinya. Misi, yang menurutnya sangat penting.


Memiringkan bibirnya, Ghea berujar, “gak, Mas. Aku gak mau ikut!” tegasnya. Kemudian memalingkan wajahnya ke samping, menatap bahunya sendiri. “Gak nyadar banget, sih, jadi suami. Dasar gak peka! Udah tau istri masih marah, bukannya dibujuk, dielus, dikecup, atau di apa kek. Malah cuek banget. Dasar suami tembok!” gerutunya dengan suara pelan.


“Ekhem …” Pa Gery berdehem, dan itu membuat kepala Ghea refleks kembali menoleh padanya.


“Eh, aku kira udah jalan,” katanya penuh drama, sambil menunjukan deretan giginya yang putih dan bersih.


“Belum.” Pak Gery menjawab masih dengan wajahnya yang datar. Tak lama ia kembali membuka pintu mobil dan keluar.


Ghea mengernyitkan keningnya. Dalam hati bertanya, kenapa turun lagi? Apa ada yang ketinggalan?


“Ada yang ketinggalan,” sahut Pak Gery.


“Eh,”


Tapi kok cowok itu tidak melangkah ke rumah, dan malah berdiri di depan Ghea. Bingung dong cewek itu. Dan hanya menatap nanar sang suami yang menggerakan tangan kanannya. Menyimpan telapak tangan besar itu di belakang kepala Ghea, sebelum wajahnya ia miringkan.


Eh Pak Gery mau apa? Wajahnya pake ditengengin segala lagi? Ghea hanya bergumam dalam hati. Celingukan kanan kiri, siapa tahu aja ada orang lewat dan melihat. Nanti dikatain pasangan suami istri mesum lagi, gak tau aturan dan tempat mesra-mesraan di luar rumah. Oh, ya ampun.


“Mas, katanya ada yang ketinggalan?” Ghea bertanya, mengalihkan pikiran Pak Gery yang dipikir Ghea akan menciumnya.


“Ya, ada.” Pak Gery menjawab bersama wajahnya yang sudah miring dan semakin dekat ke wajah Ghea. Bahkan sekarang hidung itu sudah menyentuh pipi mulus sang istri.


Ghea menahan nafasnya, bola matanya bergoyang. “Mas,” setelahnya Ghea memejamkan mata saat dirasa bibir Pak Gery menyentuh daun telinganya. Ghea merasa geli, darahnya berdesir dan jantungnya memompa lebih cepat. Ghea merasakan rasa aneh.


Gilaaaa ini di luar, oyyy!


Ingin sekali Ghea berteriak. Menyadarkan otak Pak Gery. Memukulnya dengan pentongan jika perlu. Namun, bodohnya, Ghea selalu menikmati dan menyukai sentuhan bibir merah dan seksi itu. Ghea baru sadar, begitu Pak Gery melepas ikatan pada rambutnya. Membuat rambut yang tadinya terjumput di atas perlahan jatuh. Menyentuh kedu pundak, sampai terurai setelahnya. Kemudian berbisik tepat di telinganya. Dan telinga Ghea merasakan bibir Pak Gery bergerak.


“Jangan kuncir rambut kamu, aku gak suka!” Karena iman Pak Gery lemah saat sudah melihat leher jenjang dan putih itu. Apalagi ketika melihat tanda-tanda hasil mahakaryanya.


Refleks Ghea membuka matanya. Tersadar dari bayangan gilanya. Yang Pak Gery akan berbuat mesum di depan rumah mereka. Oh ya ampun.


Pak Gery menyentuh ujung-ujung rambut Ghea. Menguyel-nguyel sebelum ia bawa rambut itu ke depan. Menutupi tanda-tanda merah di setiap lekuk leher Ghea.


"Begini lebih bagus." Merapikan rambut Ghea sebelum kedua tangan itu menyentuh pundaknya. "Aku pergi, ya! Baik-baik di rumah!" pamitnya. Sedetik kemudian Ghea dapat merasakan sentuhan benda kenyal pada keningnya. Pak Gery mengecup kening itu.


Ah, rasanya kok adem banget, ya? Jadi gak rela kan biarin Pak Gery pergi sendiri.


Setelah menjauhkan bibirnya dari kening Ghea. Pak Gery berbalik. Ia membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk dibalik kemudi. Sebelum menyalakan mesin kendara besi itu, ia sempat menoleh dan sedikit tersenyum pada Ghea.


Barulah selepas mobil itu menghilang dari pandangan Ghea, ia merasa tidak rela. Nyesel kenapa gak ikut? Tapi Ghea ingat dengan  misinya. Ah, ya sudahlah.


**


Suara bel rumah berbunyi. Ghea yang sedang duduk pun segera beranjak. Tahu tamu itu siapa.


"Ya. Sebentar! Gak sabaran banget, sih. Ya ampunnn!" decaknya sambil setengah berlari untuk membuka pintu.


Ghea membuka pintu berbahan jati dengan ukiran indah di tengahnya. Matanya berputar malas saat mendapati seorang cewek berdiri di depannya.


"Ck, gak abis ngapa-ngapain kali. Emang lo pikir gue abis ngapain? Heuh?" Ghea mengajak masuk kawannya itu ke dalam rumah. Ia memang menyuruh Ocy untuk datang. Memberikan alamat rumah Pak Gery sewaktu mereka chat-an.


Harum dari segar lemon langsung menyeruak ke hidung Ocy ketika ia menginjakkan kakinya di ruang tamu. Pandangannya mengedar. Menyapu seluruh sudut ruangan. "Tumben lo rajin banget beresin rumah?" Karena Ocy tahu kawan dunia akhiratnya itu seperti apa selain selebor.


Ghea memutar bola matanya malas. Ia melangkah ke ruang tengah. "Ya kali gue yang beresin. Lo duduk dulu. Gue ambilin lo minum."


"Gak usah repot-repot! Keluarin aja semua makanan dan minuman yang ada di dapur lo," canda Ocy terkekeh. Pandangannya masih mengedar seraya berdecak kagum. Mengagumi semua barang yang ada di sana. Dan itu sangat enak dipandang.


"Dasar. Kebiasaan deh lo." Menoyor pelipis Ocy kemudian berlalu.


Ocy terkekeh lagi sebelum mendudukkan bokongnya di sebuah sofa panjang berwarna merah marun. Di meja itu ada laptop yang terbuka namun tidak menyala. Ocy mengacuhkan. Tidak ingin kepo apa yang sedang dikerjakan oleh Ghea.


"Nih." Tak lama Ghea kembali dengan satu gelas air putih di tangannya. Menyuguhkan gelas itu pada Ocy yang kini menatap kagum pada sang sahabat.


"Gak salah lo, Ghe?" tanya Ocy pada Ghea setelah cewek itu duduk lesehan di atas karpet bulu yang warnanya senada dengan sofa.


Ghea mendongak. Satu tangannya menyalakan tombol laptop. Dari tadi tuh Ghea lagi riset tentang alasan mengapa suami tiba-tiba menyuruh istrinya untuk memakai jasa bodyguard di internet. Namun belum menemukan jawabannya.


"Maksud lo?" Mendelik tidak suka pada Ocy.


"Air minum yang lo suguhin ke gue?"


"Kenapa emang?"


"Cuma air putih?"


Ghea mengangguk. Bibirnya mengulllum senyum. "Air putih lebih sehat, Cy." Jawab Ghea bersamaan dengan itu pandangannya kembali ke layar laptop yang sudah menyala.


Ocy memutar bola matanya malas. Tangannya melepas sling bag yang masih tersampir. Kemudian tak urung juga untuk ia menerima suguhan dari Ghea. Ocy meneguk air putih itu.


Ghea terkekeh melihat Ocy yang sepertinya kesal. "Haus banget, lo? Sans, air putih masih banyak. Kalau kehabisan masih banyak air keran." Kemudian tergelak kencang.


"Cih! Udah, deh, lo nyuruh gue kesini mau apaan? Gue rela batal jalan sama Reza cuma karena lo, nih."


"Uluh-uluh, romantis banget, sih, lo sama gue?" Ghea terkekeh.


Ocy berdecak kesal. Kemudian menurunkan bokongnya untuk ikut duduk lesehan bersama Ghea di atas karpet. Meja persegi sebagai pembatas mereka. "Najis banget gue romance sama lo. Mending sama Reza," ujarnya. Meraih toples yang berisi keripik kentang di atas meja. Membuka tutupnya lalu memakan cemilan itu tanpa dipersilahkan sang tuan rumah.


Ghea tidak menggubris. Ia sibuk mereset sesuatu di internet.


"Udah buruan napa, sih, Ghe!"


"Gue ada misi penting, nih. Sabar dulu napa. Gue gak mau ada kesalahan soalnya," ujar Ghea tanpa mengalihkan pandangannya dari layar datar tersebut.


Ocy mengerutkan keningnya. Tangannya berada di depan mulut bersama keripik kentang yang pelan-pelan ia gigit sedikit ujungnya.


"Misi?" Ocy bertanya. Lalu bola matanya ia arahkan pada Ghea yang kini juga tengah mengarah padanya. Mereka saling pandang dalam pandangan yang sangat dramatis.


Ghea tersenyum dengan wajah menyeringai. Sedangkan Ocy menampilkan mimik wajah bingung.


Misi apa yang akan dilakukan Ghea?


Jangan sampai membuat Ocy gila!


TBC


Guys maap telat updatenya ya. Kemarin kepala aku pening banget. Doanya ya guys biar aku sehat-sehat terus. Kalean juga sehat-sehat ya. Aminnnnnnn