
Adi menggeram kesal di depan pintu ruang pemeriksaan dokter. Ketika Airin pingsan, cowok itu langsung membawa Airin ke klinik terdekat dari lokasi pembangunan. Beruntung, dan Airin perlu berterimakasih untuknya yang kali ini Adi tidak membiarkan cewek itu tergeletak lama di atas tanah yang keras. Meski dalam hati terus merutuk.
“Gimana, Dok?" tanya Adi saat pintu ruang pemeriksaan itu dibuka dari dalam. Seorang Dokter keluar bersama satu orang perawat yang memeluk sebuah buku catatan pasien, sepertinya. Dengan perawat yang berlalu meninggalkan Dokter untuk bicara pada Adi di sana.
“Gak papa.” Dokter itu tersenyum sembari menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku jas putih kedokterannya. “Hanya kelelahan aja,” sahutnya lagi. Masih dengan senyum yang menampilkan lesung pipi di bawah tulang pipi sebelah kiri.
“Heuhhh …” cowok itu menghela. “Syukur, deh, kalau gitu. Terimakasih banyak, Dok.”
“Iya. Sama-sama.”
“Berarti udah boleh pulang dong, ya, Dok?”
“Sekarang juga udah bisa kok, Pak.” Sudut bibir dokter itu masih tertarik. Melengkung. “Tapi, saya sarankan Bapak harus extra jaga kondisi Ibunya, ya! Jangan sampai kecapean dulu. Apalagi sampai setres! Biar kondisi kandungan Ibunya stabil, ya, Pak. Tapi, tenang aja, saya udah kasih resep vitamin buat Ibu biar kondisi Ibu dan calon bayinya juga terjaga dan tetap sehat.”
Adi yakin jika sampai detik ini pendengarannya itu masih berpungsi dengan baik dan normal. Tapi, apa kali ini pendengarannya itu bermasalah? Kaki Adi tidak bisa terdiam di tempatnya berdiri. Ia gelisah. Tercengang karena mendengar kabar yang begitu mengejutkannya. Mengernyitkan dahinya hingga terlihat berlapis, Adi mengguyar
rambutnya. “Maksud Dokter apa, ya? Kandungan? Calon bayi? Apa, sih, Dok, saya kurang paham?”
“Loh Bapak tidak tahu jika Ibu sekarang sedang mengandung?” Dokter itu tertawa dan mengira jika Adi adalah suami wanita yang tadi diperiksanya. “Dan usia kandungannya akan memasuki 5 minggu. Atau Bapak nanti bisa cek lagi aja ke dokter kandungan untuk memastikan usia kandungannya, Pak!”
Adi semakin bergerak gelisah di atas kakinya berdiri. Cowok itu berkali-kali menarik nafas lalu ia embuskan secara kasar.
Apa-apaan ini? Airin hamil? Tapi dia kan belum menikah. Atau jangan-jangan … Oh Ya Tuhan.
“Tunggu tunggu tunggu, Dok. Apa dianya tahu kalau dia sedang hamil?” tanya Adi sebelum Dokter itu akan melangkah pergi.
Dokter tersenyum. Mengangguk, untuk kemudian pergi dari hadapan Adi.
Setelah sepeninggalan Dokter, ditendang Adi kaki kursi tunggu yang bersandar pada dinding. Cowok itu mengumpat tidak sadar. “Berengsek si Gery. Kalau Ghea sampai tahu gimana?” Diremat rambutnya oleh Adi dengan keras. Mengabaikan rasa sakit di kulit kepalanya. Karena rasa itu tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang ia bayangkan untuk Ghea nanti. Setelah apa yang diusahakan Adi selama ini untuk membantu Gery semuanya sia-sia dengan hasil akhirnya seperti ini.
Adi menganggap dugaannya selama ini benar. “Si bangsattt itu sudah lupa apa kalau dapetin Ghea itu gak mudah. Bangkee emang tuh anak.” Lagi. Adi mengumpat. Dan tanpa diduganya, ketika cowok itu membalikan tubuh sudah ada Airin berdiri tepat di pintu yang terbuka.
Melihat ada kemarahan di wajah Adi, Airin tidak bertanya mengapa atau pun mengeluarkan suara, walau Airin sendiri mendengar umpatan kata dari Adi. Ia takut. Sungguh. Karena sekarang ini kemarahan di wajah Adi bukan terlihat seperti biasanya. Ini sungguh luar biasa.
Jantung Airin berpukul. Dikepalkan kedua tangannya untuk menghalau rasa gugup dan takut yang secara bersamaan ia dapat sekarang. Kemudian Airin mengikuti langkah Adi dari belakang punggung cowok itu.
“Tebus obatnya sendiri!” kata Adi tanpa menghentikan langkahnya untuk sekedar menoleh pada Airin. “Ngerepotin orang aja bisanya jadi cewek,” ucap Adi lagi dengan keras seraya memasukan kedua tangan pada saku celana formal yang ia kenakan hari ini.
Setelah menebus obat dan beberapa vitamin dan sampainya di depan mobil pun, jantung Airin masih berpukul. Seakan dipecut kuat dan membekas. Ia berdiri di samping pintu mobil. Mana berani ia masuk sebelum seseorang yang sudah duduk di balik kursi kemudi itu menyuruhnya.
Adi memutar bola mata sembari berdecak. Menyimpan hand phone setelah ia mengirim pesan pada saku jasnya. Ingin sekali ia mengumpat pada cewek itu. Untuk itu Adi berdo’a pada Tuhan untuk kali ini aja hati dan dirinya disabarkan. Dibuka Adi kaca mobil itu. “Saya tuh heran sama kamu. Kalau apa-apa harus nunggu saya marah-marah dulu? Heuh?”
“Maaf, Pak.” Tanpa perinta dua kali dan menunggu kemarahan Adi semakin memuncak, Airin membuka pintu mobil dan masuk. Duduk dengan gelisah di sana. Kepalanya pun tidak berani ia angkat. Menunduk dalam.
Seraya memasang sabuk pengaman, cowok itu bertanya. “Siapa Bapak dari anak yang sedang kamu kandung itu?” Tentu tanpa melihat pada orang yang ia tanya. Pandangannya pun fokus ke depan.
Barulah Airin mengangkat kepala secara refleks. Ia menoleh dan menatap sebentar pada Adi yang sudah melajukan mobilnya. Ke luar dari area parkir klinik. “Anda tahu kalau saya—“
“Heuh.” Cowok itu berdecih. "Kenapa gak jawab aja pertanyaan saya? Siapa Bapaknya?" tanya Adi semakin geram.
Airin mengabaikan decihan tidak suka dari Adi sekaligus pertanyaan yang dilontarkan cowok itu. “Saya minta maaf, Pak.” Ia tarik nafas itu sebelum melanjutkan kalimatnya. “Saya juga tidak tahu kalau saya—“ Dan Airin kembali
menundukan kepalanya. Ia tidak berani melanjutkan karena hati dan dirinya sekarang merasa hancur, Bukan hanya itu saja. Namun, juga dengan hidup dan masa depannya. Dan Ibu … bagaimana dengan Ibu? Karena Airin benar-benar tidak tahu jika ia sedang mengandung. Selama ini tidak ada gejala apa pun yang ia rasakan sampai benih itu sekarang sudah berada 5 minggu menghuni rahimnya.
Ditautkan Airin kedua tangannya yang tersimpan di atas pangkuan. Airin tidak menyangkan jika dosa terindah yang ia lakukan akan menjadikan hasilnya seperti ini. Tertanam benih kecil di dalam rahimnya. Tanpa bisa dicegah, air mata yang ia tahan setelah dari Dokter menyatakan bahwa dirinya positif hamil kini meluncur juga.
Note seizy :
Ini tadinya aku mau update semalam. Tapi karena naskahnya ilang separoh jadi luar biasa banget gitu. Terus web aplikasi ini mendadak tidak bisa dibuka oleh akun aku. Udah panas dingin aku tuh. Tapi pas udah subuh aku coba, alhamdulillah bisa. Buru-buru aja aku lanjut ngetik naskah yang sebagian tidak ada itu. Ini naskahnya aku ketik 2k kata tapi aku bagi dua aja biar kayak updatae dua bab. Hihiii
semoga suka dan jangan berfikir negatif dulu sama Airin dan Gery. Jangan kayak Adi, ya, mamen!!!
Seizy penulis amatiran yang
semalem dapat sesuatu luar biasa dahsyatnya. sampai seregetan sendiri. Hihiii