
Hari ini Gery terlalu banyak mendapat kejutan. Tidak disangka jika mengundang Airin datang ke pameran itu, justru malah saling mempertemukan Ayah dan anak setelah sekian lama terpisah. Lalu, dengan Nandan yang sekarang Gery tahu jika cowok itu selain saudara Airin, ternyata Nanda lah masalah dalam hidup Airin.
Dengan rasa tidak percaya jika Nandan sang pemilik pub itu, Gery mengepalkan satu tangan yang menggantung di sisi tubuh. Sementara tangan yang lain tetap berada di belakang kepala Ghea.
“Kamu serius Nandan yang punya tempat ini?” tanya Gery. Wajahnya menunduk agar menemukan mata hitam pekat wanitanya.
Ghea menganggukkan kepala. “Iya, Mas. Kamu harus bantu Airin, ya!”
“Dah lah Ghe, kamu ngapain masih pengen ikut campur masalah hidup tuh cewek, sih? Pake segala ngebantu,” ujar Adi menyentak kuat kerah baju batender yang sudah terkulai lemah di atas lantai. Adi bangkit kemudian dari duduk di atas tubuhnya sembari memperbaiki lengan kemeja yang berantakan. Mendekat pada Ghea yang masih berdiri dalam dekapan hangan suaminya.
“Tapi Airin butuh bantuan kita, Mas.”
“Tahu gue,” ujar Adi bersama decakan malas keluar dari bibir cowok itu. Dari pertama kali juga Adi memang malas membantu wanita bernama Airin itu. “Tapi gak harus kita yang turun tangan juga, Ghe. Kita udah lapor polisi. So, tenang aja. Kamu serahin Airin sama polisi aja. Okay? Bentar lagi juga mereka bakal tiba.”
“Tapi, Mas Adi ... kalau nunggu polisi dateng kelamaan. Aku takut Airin keburu diapa-apain sama Nandan. Nandan tuh bahaya banget, Mas.”
“Syukur kalau kamu sadar Nandan bahaya, sayang.” Sumpah! Di saat seperti ini, Gery masih sempat-sempatnya meledek Ghea. Kedua tangan berotot cowok itu bersedekap dengan mata abu menatap Ghea penuh sesal serta kelembutan.
“Dah lah. Mending kita cabut aja sebelum bahaya menyusul!” Adi memberi saran. Tubuh tegapnya berbalik dan kakinya berjalan menuju pintu keluar yang terbuka lebar, sebelum suara mengerikan berasal dari belakang punggung Ghea memekik pendengaran Adi. Cowok itu berbalik lagi kemudian. Membolakan kedua matanya lalu secepat mungkin berlari ke arah Gery yang sedang memangku tubuh Ghea. Wanita Gery itu terduduk lemah di atas lantai. Bahunya mengeluarkan darah kental.
“Ghe… Sayang." Panggil Gery berusaha membangunkan kesadaran Ghea bersama satu tangan Gery memangku kepalanya serta tangan yang lain menepuk-nepuk pipi wanita itu.
“Ghea! Kamu masih denger suara aku, kan?” Kali ini Adi mengguncangkan pergelangan tangannya. Melihat bahu Ghea terluka karena sebuah tembakan sang batender.
“Ghea … please respond my voice, sayang!” Suara Gery serak penuh ketakutan.
“Cari mati emang loh, ya.” Demi apa! Adi berang. Ia bangkit dan tanpa ba bi bu langsung menendang pistol yang ujungnya masih di arahkan pada Ghea dan Gery.
Batender itu terlalu lemah sehingga tidak punya kekuatan tenaga lagi hanya untuk menarik pelatuk pistol tersebut.
Pistol itu terlempar jauh. Bagai benang yang tidak putus, Adi menghantamkan tonjokan bertubi-tubu pada sang batender sampai tidak sadarkan diri.
Selepasnya, Adi kembali pada Gery yang justru tenaganya seolah habis melihat darah yang mengalir di bahu Ghea. Dilihat luka itu oleh Adi. Satu lututnya bertumpu pada lantai. “Ini kayaknya Cuma keserempet peluru doang, Ger,” kata Adi. Tapi, tetap saja itu membuat ulu ati Gery seakan yang dihujam banyak peluru. Ketakutan membuat mulut Gery membeku. “Sekarang lo bawa Ghea ke rumah sakit!”
Saat Adi ingin membantu Gery membopong tubuh Ghea, pergelangan tangannya dicekal. “Mas Adi." Suara lembut itu memberikan seberkas harap untuk Gery serta Adi.
“Sayang,” panggil Gery mengecup dahi wanita itu.
“Selamatin Airin, Mas. Selamatin anaknya juga!” Mohonya menatap Adi sayu dan penuh harap.
Adi nampaknya berfikir. Semoga keputusannya ikut campur dalam masalah Airin tidak akan membuatnya rugi. “Oke.” Adi menganggukkan kepala. “Kamu gak usah mikir macem-macem. Fokus aja sama luka kamu! Okay, Ghe?! Aku yang akan urus Airin di sini.” Lalu Adi menatap Gery yang masih terdiam. “Lo bawa Ghea sekarang, Ger!”
**
Bersamaan Gery keluar dari pub itu dengan Ghea yang berada dalam gendongan. Polisi datang dan langsung mengepung gedung pub. Bahkan salah satu polisi sempat membantu Gery untuk membukakan pintu mobil. “Makasih, Pak. Penculik itu membawa Airin ke lantai tiga. Sepupu saya juga masih ada di dalam untuk berusaha menyelamatkan Airin.”
Polisi itu mengangguk mengerti. Selain dilaporkan atas kasus penculikan seorang pemilik pub. Ternyata terkuak juga jika usaha milik Nandan ini ternyata ilegal. Polisi itu bergerak masuk ke dalam dengan beberapa polisi yang lain. Sebagian juga mengepung tempat itu.
“Sayang, please jangan bikin aku takut!” Wajah itu sungguh panik bercampur khawatir. Setelah duduk, tangannya meraih sabik pengaman untuk kemudian memasangkan di dadanya. Sambil memandang wajah Ghea dari temptanya duduk, Gery menyalakan mesin mobil.
“Sayang, kamu denger suara aku, kan? Ghe …” Digenggam erat satu tangan Ghea oleh tangan besar Gery. Sedangkan tangan yang lainnya mengemudikan mobil yang sudah melaju cepat di jalan aspal.
“Mas…” panggil Ghea lirih. Berusaha membuka kelopak mata. Ghea sadar sedari tadi. Wanita itu terlalu lemah hanya sekedar mengeluarkan suara. mungkin shock epek dari terserempet peluru tadi. Atau—
“Ghe, kamu harus bertahan. Bentar lagi kita sampai rumah sakit, ya! Please kamu jangan bikin aku takut, sayang.”
Karena, ketakutan Gery lebih parah dari sebuah kehilangan. Ia seakan di lempar kembali pada lima tahun yang lalu. Ketika Ghea mengalami kecelakaan hingga Gery nyaris kehilangan.
Dianggukkan kepala Ghea lemah. “Aku sayang kamu, Mas,” ujarnya dengan tulus. Gery menoleh semakin menggenggam tangan Ghea lebih erat lagi. Ia takut. Hatinya tidak bisa tenang. Seolah ada gejolak api yang membakar.
“Kamu buka mata kamu, ya, Ghe! Jangan tidur!” Karena Gery benar-benar merasa takut. Jika nanti Ghea tidur Gery takut tidak bisa melihat mata indah itu terbuka lagi.
**
Ada banyak hal di dalam diri Gery saat ini. Bukan hanya rasa takut. Akan tetapi nyawanya seakan dipaksa untuk keluar dari raga, saat tubuh Ghea terbaring di atas brankar masuk ke dalam ruang IGD. Bersama selang oksigen terpasang di hidung.
Dengan perasaan gelisah, tubuhnya tidak bisa diam. Satu tangannya terlipat di atas perut sementara tangan yang lain mengepal di bawah dagu. Tidak melepaskan tatapannya dari pintu ganda berbahan kaca yang tertutup.
Mama dian dan Papa Dika belum ada di sana. Hanya Gery seorang diri.
“Suami pasien." Pintu yang diharapkannya terbuka sedari tadi kini muncul suster dari dalam.
Gery menghampiri. “Saya, sus.” Ada getaran di suara cowok itu.
“Dokter ingin bicara dengan anda. Anda dipersilahkan masuk ke dalam.”
Bukan sebuah jawaban yang Gery berikan. Melainkan anggukan di kepalanya. Di saat Gery akan masuk ke dalam, suara ranjang rumah sakit terdengar menuju ke arahnya. Gery membelikan tubuh melihat siapa di atas ranjang itu.
“Airin,” gumam Gery terlalu kaget.
“Ger, Ghea gimana?" Adi bersama nafasnya yang berantakan menghampiri. Menepuk bahu Gery.
“Itu … Airin kenapa?” tanyanya sembari mengarahkan jari telunjuk pada Airin yang sudah dibawa masuk oleh petugas kesehatan.
“Airin—“
“Mari, Pak. Dokter sudah menunggu.” Kalimat Adi desela oleh suster yang menunggu Gery tadi.
“Gue masuk dulu," kata Gery.
“Ntar gue ceritain.”
Dikedipkan Gery kelopak matanya. "Lo kabari Om Wira, Di!"
.
.
To be continued …
Dah lah, mau kabur dulu …
Perkiraan dua atau tiga bab lagi ya akak mamen. Selamat membaca di penghujung cerita.