Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 32


Mau di updatenya aku tuh baca bismillah dulu ... Takut ada yang tersesat nanti jempolnya.


 


“GHEA!!! Jaga bicara kamu!” Suara Gery meninggi. Kedua rahangnya terkatup, mengetat sehingga membuat suara giginya bergemeletuk. Dan geraman tertahan di kerongkongan yang tidak bisa Gery lampiaskan.


Gery melepaskan simpul dasi menggunakan satu tangan dengan gerakan kasar. Ditarik dasi itu dari kerah kemejanya untuk kemudian ia lempar ke sembarang arah.


Sorot mata itu memandang Ghea sayu. Tidak percaya, bisa-bisanya Ghea menuduhnya sedemikian hina.


Dilepaskan Gery nafas itu lewat mulut. Meraup wajah lalu menatap Ghea kembali dengan tatapan teduh yang selalu Gery berikan. “Sayang … Aku—“


Gery tidak bisa melanjutkan kalimat. Bentakan tadi itu membuat Gery merasa bersalah sekaligus berdosa.


Ghea berdecih pelan. Air sebening kristal jatuh melewati pipi yang kemudian Ghea tepis menggunakan punggung tangan.


Ghea ingin tertawa saat ini untuk dirinya sendiri. Untuk nasibnya dan keadaannya yang sekarang sedang ia hadapi. Ia masih berdiri di sana. Di dekat jendela yang tentu saja sangat berjarak dengan Gery. Ghea menarik nafas guna menenangkan debar jantung yang sesak.


Menjilat bibir, sekarang Ghea maju selangkah demi selangkah. “Heuh … Kalau aku harus menjaga bicaraku, Mas… Lalu, bagaimana dengan kamu menjaga kepercayaan aku?” Sampai tubuh yang sedikit berisi itu berdiri tidak jauh dari Gery yang mengepalkan kedua tangan di sisi tubuh tegap.


“Sekarang kamu tidak lebih dari seorang suami misterius, Mas. Kamu berubah. Kamu jauh dari diri kamu yang dulu. Mungkin sekarang banyak rahasia yang kamu sembunyiin dari aku selain wanita dan kehamilannya itu.” Ghea melanjutkan. Tatapan dalamnya menusuk tepat pada bola mata abu yang kini menunjukan kilatan amarah lagi. kecewa dan segala objek rasa berkilat di sana.


Demi kehidupannya. Tidak pernah terlintas di kepala Gery untuk merahasiakan apa pun dari Ghea. Termasuk soal Airin.


Meski demikian, alasan Gery tidak memberitahu soal Airin dan segala kehidupannya pada Ghea, hanya karena Gery tidak ingin menambah beban pada istrinya itu. Dan cowok dengan segala pemikirannya, memikirkan kehamilan Ghea tentu saja.


Alih-alih apa yang menurut pemikiran Gery benar, ternyata itu justru menjadi bumerang.


Untuk yang kesekian kali Gery meraup wajah. Memijat pangkal hidung mancung menggunakan jari jempol dan jari tengah dengan kepala tertunduk.


Kepalanya sudah ingin meledak karena semua masalah yang timbul beberapa hari ini.


“Ya …” Kepala itu Gery angkat. Mempertemukan tatapannya dengan Ghea kemudian. “Soal kepercayaan—." Dilangkahkan Gery kakinya, mendekat pada Ghea hingga tubuh keduanya hanya berjarak dua langkah saja. Pun dengan kedua kepalan tangan yang tetap menggantung di sisi tubuh. “—terus, bagaimana dengan kamu yang menjaga kepercayaan aku, Ghe?”


Dahi seputih susu Ghea mengerut. “Kamu jangan balikin fakta, Mas!” Kelopak mata Ghea berkedip pelan.


“Heuh …” Gery terkekeh sembari menarik setengah alisnya. “Faktanya adalah…, kamu yang menyembunyikan sesuatu dari aku, Ghe. Justru kamu yang sekarang bukan Ghea yang aku kenal. Kamu yang sekarang jauh dari diri kamu yang dulu. Di sini orang yang seakan menyimpan rahasia itu kamu, bukan aku.”


Tatapan keduanya beradu sama-sama saling menuntun penjelasan.


Sambil lebih mendekat langkahnya hingga tidak berjarak dari Ghea, Gery melipat kedua tangan. Mata yang berkilat-kilat penuh emosi juga tekanan itu sama sekali tidak ingin lari dari wajah yang sekarang dalam kebingungan.


“Kamu… Sebelum ke Bandung, setelah check kandungan kamu, selain itu, kamu melakukan pemeriksaan apa lagi?” Gery merasakan wajah Ghea berubah tegang meski suara yang ia buat sepelan dan selembut mungkin.


Tapi, tetap saja itu tidak bisa menyamarkan ketegangan begitu kentara yang Gery lihat di wajah Ghea.


Ghea menarik bibir bawah yang menyatu dengan bibir atasnya untuk kemudian ia menelan saliva dengan ketat. Susah. Dan terasa ada yang mengganjal di sana.


Saking tegangnya Ghea menggoyangkan bola mata bersama tarikan nafas yang berubah.


“Kenapa? Hem?" tanya Gery seakan menuntun sebuah jawaban pasti.


Ghea memalingkan wajah ke satu sisi. Semua jari saling bersatu di atas paha. Dan Gery melihat itu saat menurunkan pandangan. Sadar, jika itu adalah kebiasaan Ghea ketika sedang gugup. Gery tersenyum lalu mengangkat tangan kiri. Menempelkannya pada pipi Ghea untuk kemudian membawa wajah cantik sekaligus pucat itu menghadapnya.


Gery merendahkan wajah. Pundaknya sedikit membungkuk. “Kamu gak bisa bohongin aku, Ghea." Diturunkan tangan besar berjari panjang itu dari pipi ke dagu Ghea. Gery menjepit ujung dagu lancip Ghea dengan kedua jari.


“A—aku—“ Kelopak mata Ghea berkedip cepat, seraya menggoyangkan bola mata indah itu ke segala arah. Melarikan pandangannya dari bola mata abu yang memandang tajam. Selain menusuknya, bola mata abu yang berkilat itu seakan menelanjangi hanya dengan lewat tatapan.


“Mas, kamu jangan ngalihin pembicaraan, deh!” Berusaha tenang, Ghea memberanikan menatap netra Gery.


Gery menyimpan kedua tangan di pinggang sebelum akhirnya tangan kanan itu merogoh saku jas. Amplop yang sedari tadi bersembunyi di balik jas mahal itu di ke luarkan Gery.


“Rumah sakit tempat Dokter Gita praktek, tadi ngirimin ini ke kantor,” kata Gery sembari mengangkat benda rapuh berwarna putih itu setinggi dadanya. “Hasil Pemeriksaan Labolatorium.” Kali ini, cowok itu mensejajarkan mata dengan hurup abjad besar yang tertulis di sana. Membacanya.


Debaran di jantung Ghea semakin parah. Sesak bukan lagi di dadanya, tetapi udara di dalam paru-paru seakan musnah. Ghea butuh oksigen sekarang juga untuk membantunya bernafas.


“Mas, itu—“ Ghea tidak mampu berkata-kata saat Gery akan membuka segel amplop tersebut.


Sungguh! Demi apa, ia takut. Ketakutan terjadi akan hal buruk pada kandungannya dan diketahui Gery sangatlah besar.


DERRRTTT


Getar hand phone Gery sesaat menenangkan Ghea. Cowok itu berdecak sekaligus mengumpat karena tidak jadi membuka segel amplop.


“Iya, Ma?”


Ternyata Mama Dian yang menghubungi. Dilirik Gery matanya pada Ghea sebelum memasukan amplop itu pada saku jas kemudian.


“Ger, tadi Dokter Gita neleponin Mama. Katanya, hasil pemeriksaan laboratorium Ghea udah keluar. Dan udah di kirim ke kantor kamu. Emang itu hasil laboratorium Ghea apa, sih, Ger?”


Untuk saat ini Tuhan sedang berbaik hati pada Gery. Diberikan masalah baru yang membuat kepalanya seakan meledak saat itu juga.


Kesalahpahaman dengan Ghea tentang Airin belum kelar. Lalu, hasil pemeriksaan yang Gery ingin tahu jawabannya langsung dari Ghea, kini Mama pun mengetahuinya.


Mungkin Gery sekarang tidak perlu memijat pangkal hidung yang mancung itu lagi, tapi Gery perlu menggetoknya saja dengan palu sekalian agar tidak berdenyut terus menerus.


Kepala Gery pening bukan hanya karena masalah dan kesalahapahaman saja, tetapi juga pening karena gairah yang belum tersalurkan.


“Emangnya, Ghea kenapa, Ger? Kok Mama gak dikasih tahu, sih? Mana sekarang Gheanya lagi di Bandung, kan? Aduh … Ger, kamu kok gak bisa ngurusin Ghea, sih? Gery… Gery ... Terus, tadi Dokter Gita bilang sama Mama kalau kamu dan Ghea besok harus ke rumah sakit.”


Sembari mendengarkan ocehan sang Mama dengan hand phone yang ia sedikit jauhkan dari telinga, mata Gery mengarah pada wajah Ghea yang sama sekali kentara tidak tenang, sebelum pandangan itu turun, menyapu dada Ghea, perut yang membuncit dan semua jari saling dimainkan oleh sang pemilik wanita cantik itu.


Apa kondisi Ghea seserius itu, hingga Dokter Gita menelepon Mama dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit besok?


Pertanyaan yang belum tahu jawabannya itu terkumpul di kepala Gery.


“Eumm … Ma, nanti aku telepon lagi, ya.” Sebelum Mama mengiyakan, Gery sudah menutup sambungan seluler itu lebih dulu. Ketika pun suara Mama masih dapat ia dengar.


Tidak ingin penasaran itu bersarang lebih lama lagi, Gery mengeluarkan amplop dan langsung membuka segelnya kemudian. Tanpa belas kasih, Gery membuang amplop, mengeluarkan sebuah kertas putih dari sana. Membuka lipatan tanpa ampun.


Tercengang, berdebar, sesak. Entahlah, rasa itu bercampur jadi satu ketika Gery membaca isinya.


Membaca hasil laporan pemeriksaan sang wanita terkasih yang sama sekali tidak ia ketahui itu.


TO BE CONTINUED ...


Eh aku lupa loh kalau mau update sore tadi. saking tegangnya nonton film action sampai jantung aku berkedut.


Sama berkedutnya dengan Ghea yang penasaran dengan hasilnya itu loh ...


Yuk follow ig seizyll_koerniawan untuk tahu waktu update cerita Mas Gery ini.


Berikan komentar terbaiknya. Nanti aku post di Igs aku. hihiiii


Tetap jaga silaturahmi jempolnya ya akakkk. Semoga kebaikan akak-akak dibalas lagi dengan kebaikan ...