Married With Teacher

Married With Teacher
Terbakar Cemburu


Setelah mendapat pesan dari nomor yang diberi initial G di kontaknya, Ghea langsung cabut dari kantin. Dan itu tidak lepas dari kecurigaan Reza. Bahwa cewek yang pernah disukainya itu akan bertemu suami sekaligus gurunya.


Namun, tidak ada rasa sakit di hatinya lagi. Dan melihat Ghea bahagia, itu sudah mampu mengobati lukanya.


Mengedap, Ghea celingukan kanan kiri takut ada yang melihatnya masuk ke ruangan Pak Gery. Kiranya sudah aman. Barulah cewek itu memutar handle pintu lalu mendorongnya dari luar.


Hal pertama yang Ghea lihat ketika tubuhnya masuk ke dalam ruangan itu adalah Pak Gery yang sedang duduk di kursi kerjanya. Pandangannya fokus pada sebuah layar laptop yang tersimpan di atas meja. Dan yang membuat Ghea kagum tuh, kacamata antiradiasi yang bertengger manis di depan matanya. Ghea yang tadinya ingin marah-marah, gak jadi karena melihat suaminya yang makin bertambah menawan saja. Uh, Ghea pernah bilang belum, sih, kalau dia tuh gak rela membagi ketampanan Pak Gery sama orang lain? Dan perasaan itu datang lagi padanya saat ini. Rasanya Ghea ingin ngandangin Pak Gery aja deh.


"Duduk!" Pak Gery bersuara. Menyuruh siswi sekaligus istrinya itu untuk duduk di sofa sudut yang ada di ruangannya dengan dagu yang tertarik. Namun pandangannya masihlah menatap layar datar di depannya itu. Ish … membuat Ghea merasa di acuhkan saja.


Ghea berdecak sambil menghempaskan bokongnya ke atas sofa. Bibirnya mengerucut ditambah wajahnya yang memberengut. "Gue dicuekin. Lalu buat apa dia chat gue, nyuruh gue ke ruangannya? Nyebelin, ck!" Gumam Ghea dalam hati.


Setelah Ghea duduk lima menit lamanya, barulah Pak Gery melepaskan kacamatanya. Menyimpan benda itu di atas meja samping laptopnya.


Menarik kedua tangannya ke udara guna meregangkan saraf-saraf. Kemudian dia bangkit sambil meraih segelas air minum yang tersimpan di sana.


Kedua bola mata Ghea tidak lepas mengamati setiap gerakan Pak Gery. Dari bangkit, berjalan dengan satu tangan memegang gelas dan satu tangan lagi dimasukan ke dalam saku celana formal hitamnya. Uh, tambah perfect aja sih suaminya Ghea ini?


"Udah makan siang?" Pak Gery duduk di samping Ghea. Menumpangkan satu kaki ke kaki yang lain sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Wajahnya menoleh pada wajah kusut Ghea.


Iya. Ghea tuh masih sebel sama cowok tampan di sampingnya ini. Rasanya pengen jitak aja pake bibir. Tapi anehnya Ghea gak bisa marah. Karisma Pak Gery benar-benar menghancurkan pertahannya. "Belum," dan akhirnya Ghea menjawab. Belum dua kali. Tambahnya dalam hati.


"Kok belum? Tadi bukannya pas awal bel istirahat langsung ke kantin?" Karena Pak Gery melihatnya. Kening Pak Gery tertaut. Ia khawatir pada istrinya itu. Tapi ya gitu. Tau sendiri kan Pak Gery yang gak bisa nunjukin rasa khawatirnya itu dengan berlebih?


"Gak nafsu." Padahal saat tadi makan bakso di kantin Ghea abis dua mangkuk karena dari rumahnya belum sarapan. Ditambah hukuman dari Pak Ghani yang auto membuat perutnya tambah keroncongan.


"Mau dipesenin batagor? Atau makanan apa aja gitu?" Tapi ngalah juga tuh Pak Gery sama wajah memberengutnya Ghea. Gak tahan pastinya tuh cowok lihat wajah Ghea yang menurutnya lucu. Cuma gengsinya dia itu. Astaga tinggi banget. Udah kaya gunung himalaya saja.


"Mas," panggil Ghea seraya mengubah posisi duduknya menjadi miring menghadap Pak Gery yang punggungnya masih bersandar.


"Hem."


"Itu dapur belum diberesin," katanya sambil menggoyang-goyangkan lengan Pak Gery.


Ini yang jadi pertanyaan apa, yang jadi jawaban apa. Gak nyambung banget Ghea ini.


Bukan apa-apa. Karena pas tadi Ghea berangkat sekolah, itu dapur yang udah kaya kapal pecah. Belum sempat dirapiin akibat kebakaran mendadak itu. Ghea langsung saja cabut ke sekolah karena sudah telat.


"Nanti diberesin." Pak Gery menjawab sambil merogoh handphonenya yang tersimpan di kantong celana. Mengecek pesan yang masuk, kening Pak Gery tertaut. Entah pesan apa yang masuk itu hingga membuat ekspresi wajahnya sedikit berubah. Namun, sedetik kemudian ekspresinya itu segera Pak Gery ubah lagi. Takut jika Ghea menyadarinya.


"Emang di komplek ada tukang bersih-bersihnya?" tanya Ghea mencebik. Wajahnya itu memelas. Seolah sedang memohon pada Pak Gery agar, 'please jangan gue yang nantinya capek'.


"Gak ada," jawabnya seraya kedua jempolnya itu mengetikan keyboard di handphonenya.


"Ck, terus nanti diberesinnya sama siapa? Aku?" Ah, Ghea tidak mau.


"Iya."


Enteng banget, sih, tuh cowok ngomongnya. Dipikir beresin dapur yang sudah jungkir balik itu seperti membalikan tangan apa?


Refleks dong kedua mata Ghea membelalak bersama rahangnya yang terbuka lebar.


Apa tadi katanya?


Iya?


Ghea harus beresin dapur itu? Sendiri gitu? Omegatttt. Sumpah demi Thanos, Ghea gak sanggup!


Tidak mendengar respon darinya lagi, Pak Gery yang awalnya sedang bermain dengan handphonenya itu menoleh.


Menautkan kedua alisnya melihat ekspresi wajah dari istri kecilnya itu. "Kenapa?"


Ghea menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan dengan kasar. "Gak papa. Cuma shock aja."


"Shock kenapa?"


Astaga, sumpah ini Ghea berasa dipermainkan oleh Pak Gery. Cewek itu kembali menarik nafasnya. Dan menghembuskannya bersama mata yang terpejam erat. "Kamu-" saat ia membuka mata, cowok yang tadi duduk di sampingnya itu sudah tidak ada. Pak Gery sekarang berdiri di samping lemari buku-buku sambil menempelkan handphone ke telinganya. Sepertinya cowok itu sedang berbicara lewat sambungan seluler.


Yang menjadi pertanyaan Ghea.


Sejak kapan Pak Gery berdiri? Kenapa pergerakannya itu gak Ghea rasakan?


Ghea mengerucutkan bibirnya sebel. Kemudian cewek itu berdiri dari duduk sambil kedua tangan melipat di atas perutnya. Mending Ghea keluar saja. Daripada dikacangin kaya gini.


Namun saat tangan Ghea ingin memutar handle, tangan lain lebih dulu menahannya. "Mau kemana?" Itu ternyata Pak Gery yang melihat Ghea ingin keluar. Cowok itu mematikan sambungan telepon dan menyusul Ghea yang tubuhnya sudah berdiri di depan pintu.


Ghea berbalik. "Keluar," jawabnya acuh tak acuh.


Sebel banget, serius deh. Dari pas masuk ke ruangan itu kaya dicuekin mulu.


"Oh. Ya, udah," kata Pak Gery.


Astaga, sumpah, Ghea gemes banget sama suaminya ini. Maunya apa coba?


"Iihhh, kamu, tuh, ya. Maunya apa, sih?" Ghea berkata seperti orang yang geregetan. Kedua tangannya mengepal di depan wajahnya. "Nyebelin," katanya. Kemudian memutar tubuh dan tangannya kembali memegang handle. Ghea keluar dari ruangan itu.


Ah. Tapi sial beribu sial. Pas daun pintu itu Ghea buka lebar, seseorang sudah berdiri di depannya bersama tampang judes yang terpancar dari wajahnya itu.


"Bu Novi? Ngapain di sini?" Ghea bertanya setengah kesal. Wajahnya juga mendadak jadi judes melebihi judesnya Bu Novi.


"Harusnya pertanyaan itu saya berikan pada kamu …, kamu ngapain di ruangannya Pak Gery?"


Serah gue. Ini ruangan laki gue!


Ingin sekali Ghea menjawab demikian. Tapi-


"Gue-"


"Maaf, Bu, ada kepentingan apa?" tanya Pak Gery datar.


Itu Pak Gery main sela-sela aja, deh. Kan Ghea jadinya kesel. Cewek itu berdecak bersama tampangnya yang tidak bersahabat sambil mendelik ke arah Pak Gery.


Bu Novi tersenyum. Manis banget. Kalau ada semut lewat, pasti tuh semut langsung nempel saking manis senyumnya itu. Tapi itu kayaknya berlaku untuk Pak Gery aja, deh. Sebelumnya Ghea tidak pernah melihat wajah Bu Novi yang tersenyum. Malah sebaliknya. Selalu masam.


"Saya mau ngajak Pak Gery makan siang. Pasti Bapak belum makan siang kan?"


"So tahu!" Adalah Ghea yang menjawab. Masa bodo sama etika. Ghea udah pengen nyakar wajahnya Bu Novi aja. Dari pagi, tuh, Ghea udah kebakar cemburu. Rasanya jantungnya udah mau angus.


Mendengar celetukan Ghea, Pak Gery menoleh. Melihat wajah istrinya yang masam itu bersama bibirnya terlipat ke dalam. Rasanya Pak Gery ingin ketawa aja melihat Ghea yang terbakar cemburu.


"Saya tidak bicara sama kamu," ujar Bu Novi tidak suka.


"Lah, siapa juga yang lagi bicara sama Ibu? Saya bicara sama pintu." Ghea menyahut bersama wajah tanpa dosanya.


"Lagi pula-" kalimat Ghea menggantung.


"Ekhem … maaf, Bu. Saya sudah makan siang." Pak Gery menjawab demikian. Ghea gak salah denger kan? Boleh gak Ghea loncat-loncat? Seneng banget Bu Novi ditolak Pak Gery.


"Tapi, kapan Pak Gery keluarnya? Saya belum melihat Bapak ke kantin sejak selesai mengajar. Bapak juga langsung masuk ke ruangan Bapak."


Eh, itu Ibu guru judes tahu banget, sih? Mata-matain kali, ya?


Ah, Ghea tambah panas. Tambah kesel. Tambah segala-galanya.


"Saya dibekali makan siang." Terdengar datar dari suara suami Ghea ini.


"Wah, Ibu anda perhatian sekali, ya? Saya jadi kepingin bertemu beliau," kata Bu Novi bersama senyum malu-malunya.


Sumpah, centil banget. Pengen Ghea cubit aja tuh bibirnya.


"Bukan!" Ada jeda dari kalimat itu. "Bukan Mama saya. Tapi istri saya." Dusta banget, sumpah, cowok itu. Sejak kapan Ghea bikin bekal untuk Pak Gery. Masak aja hampir ngabisin dapur rumahnya sendiri.


Ghea mengkulum senyum puasnya. Boleh gak Ghea bilang 'syukurin' sama Bu Novi? Haha Ghea ingin tertawa, aslinya.


Degh!


TBC


Maaf telat aguysssss. Yang minta crazy Up. Ramein dulu. Wkaaa