
Tungkai Gery lemas mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium tersebut. Debaran di jantung seakan dipecut lebih kuat lagi. Kelopak mata yang sedikit berair itu terangkat dari menatap kertas bertulis tinta hitam hasil ketikan sebuah komputer, dan saling mempertemukan pandang dengan Ghea yang penasaran. Kenapa suaminya justru terdiam sambil menatapnya dengan sorot rapuh seperti itu?
“Kenapa, Mas?" tanya Ghea seraya menjalin semua jari. Tegang.
“Kenapa kamu nyembunyiin hal sebesar ini dari aku, Ghe?” Bukan sebuah jawaban yang diharapkan Ghea, justru cowok itu malah balik bertanya dengan suara beratnya. Namun, kali ini Ghea menemukan suara itu seperti rapuh untuk kemudian hancur. Sambil Gery mengangkat kertas putih setinggi wajah Ghea.
Wajah cantik dan tegang itu mengerut. “Nyembunyiin apa, sih, Mas?” Karena Ghea benar-benar tidak menyembunyikan apa pun dari suaminya.
Digelengkan Gery kepala penuh kecewa. Ia menurunkan tangan yang memegang kertas putih dan menggantungkannya di sisi tubuh.
“Okay!” suara Ghea tegas sembari menjatuhkan kedua tangan yang sedari tadi saling menjalin ke sisi paha yang terbungkus celana berwarna silver. “Aku memang melakukan pemeriksaan itu tanpa seizin kamu, Mas, selain kemarin check-up kandungan dan USG. Dan itu karena dokter Gita yang tiba-tiba nyuruh aku.” Kelopak mata indah sekaligus bulu yang lentik itu berkedip pelan sembari kepala menggeleng samar.
“Dan aku gak tahu untuk apa dokter Gita nyuruh aku melakukan pemeriksaan lebih lanjut, setelah aku ngeluh perutku selalu sakit dan keram setelah melakukan hubungan seksuall dengan kamu.” Dan sial. Wajah tegang itu kini berubah merah sesaat setelah Ghea mengucapkan hubungan ranjangnya dengan Gery.
“Dan satu hal yang perlu kamu tahu, Mas,” kata Ghea melanjutkan, tidak peduli jika semburat merah masih kentara di wajahnya. “Aku gak pernah membohongi kamu. Soal hasil pemeriksaan itu, aku juga belum tahu hasilnya seperti apa. Dan aku takut, Mas…” suara parau itu kini tercekat lalu Ghea bersusah payah menelan saliva. “Aku takut terjadi masalah serius dengan kandungan aku.”
Dan itu memang iya. Benar adanya.
Kertas putih itu dijatuhkan Gery ke lantai. Tanpa ba bi bu sekaligus membuat Ghea tersentak, satu tangan bersama ototnya yang liat menarik tengkuk Ghea untuk kemudian Gery benamkan wajah cantik itu ke dadanya.
Kini pelukan dengan satu tangan, Gery ubah menjadi dekapan kedua tangan yang erat. Seolah menyalurkan kekuatan untuk Ghea, bayi mereka, juga dirinya.
Di dalam dekapan itu dahi Ghea mengerut sembari bertanya ‘ada apa’ pada dirinya yang entah siapa akan menjawab.
Dagu Gery bertumpu di atas puncak kepala Ghea. Kelopak mata terpejam. Membenamkan kelima jari ke dalam rambut panjang wanita itu. Sedangkan tangan yang lain mendekap pundaknya. Erat namun begitu lembut Ghea merasakannya.
“Apa dugaan aku benar, Mas?” tanya Ghea pelan, masih dengan pipi menempel pada dada bidang itu. Sekaligus Ghea merasakan debar jatung Gery yang cepat dan tidak keruan.
Dibuka Gery kelopak matanya. Namun, tidak melepaskan dekapan hangat pada Ghea.
Demi apa pun. Seharusnya ini yang mereka berdua lakukan ketika pertemuan. Bukan justru terjadi salah paham.
“Aku gak percaya sama hasil sialan itu, sayang,” ujar Gery, semakin Ghea rasakan kedua tangan kekar itu lebih mendekap tubuhnya.
“Memangnya, hasil pemeriksaan itu menunjukan apa, Mas?” Ghea mendorong pelan dada Gery, sehingga terpaksa pula Gery harus mengurai pelukan.
Ghea menyimpan kedua telapak tangan di dada bidang berlapis kemeja putih yang terhalang jas hitam. Mendongakan wajah agar bersitatap dengan sang pemilik bola mata abu yang justru menunduk.
Ditekan Gery garis bibir seksi dan merah itu. Tidak ingin mengatakan hal apa pun pada Ghea untuk saat ini.
Alih-alih demikian, Ghea tidak perlu mendapat jawaban dari mulut suaminya ketika ia dapat menemukan jawaban langsung dari hasil kertas yang bersantai di lantai—di samping kaki suaminya.
Lalu dibungkukan Ghea punggung sampai sebagian ujung rambutnya terjatuh ke satu sisi wajah. Tangan berkeringat dingin itu mengambil kertas yang menangkup.
Sementara Gery sudah tidak tenang. Lagi, meraup wajah tampan meski kusut itu secara kasar. Ada sedikit rambut yang menempel di dahi lebar karena gerakan tadi, kemudian Gery menyugarnya ke belakang.
Ghea seakan tidak bernyawa. Tungkainya bagai jelly yang kenyal. Darah yang mengalir seakan berjalan menyabet setiap urat nadi kemudian begitu saja jantungnya berhenti berdetak.
Karena lemas, tubuh Ghea luruh ke lantai begitu saja. Kedua tungkai itu terlipat rapat. Ghea tersedu-sedu di sana.
Tidak ada lelaki mana pun yang akan kuat melihat hal buruk terjadi pada orang terdekat. Apa lagi itu dengan separuh jiwanya.
Bersama dengan Ghea yang luruh, Gery membalikan tubuh, membelakangi Ghea. berjalan lebih dekat ke dinding kamar, menekankan kedua telapak tangan besarnya di sana sambil kepala menunduk. Gery sama hancurnya dengan Ghea, jika hasil itu benar-benar positif mendiagnosa tumor bersemanyam di dalam dinding rahim wanitanya.
“Ini gak mungkin, kan, Mas…?” Gerakan bibir manis merah itu bergetar. “Gak mungkin ada tumor di rahim aku, kan?”
Masih dengan posisi itu, wajah Gery menoleh pada Ghea. Lambat laun, telapak yang menempel di dinding itu berubah menjadi kepalan kuat. Rasanya kepalan maut itu ingin menghantam dinding sampai hancur.
Gery menarik nafas. Menenangkan jiwa lalu mendekat pada Ghea. Tubuh rapuh namun kegagahannya tidak hilang itu bersimpuh pada lantai marmer yang menjadi tumpuan kedua lutut.
Iya. Ghea harap juga begitu. Namun, nyatanya hasil itu mendiagnosa Ghea dengan sesuatu yang menakutkan. Bagai longsor besar lalu tubuh Ghea tertimbun. Terkubur dalam dan Ghea merasa paru-parunya tidak bisa lagi bernafas, kemudian nyawanya serasa melayang.
“Jika itu benar, kamu pasti bakal ninggalin aku, Mas. Karena kamu gak mungkin hidup dengan wanita penyakitan, kan?” Kalimat tidak Gery duga itu meluncur bagai air yang jatuh bebas dari tebing sungai dari bibir merah yang selalu Gery dambakan.
Refleks Gery mengurai dekapan. Meremat kedua bahu yang merosot lemah itu lembut. Menundukan pandangan guna melihat netra Ghea yang sedikit mendongak. Ditatap wajah itu dengan sendu sekaligus mengintimidasi. “Kamu ngomong apa, sih, sayang?” Suara berat tapi lembut yang menghanyutkan Ghea. Kembali mengisi kekosongan di dalam diri.
“Kamu… dan wanita it—“ Bibir merah kering itu langsung terkatup saat telunjuk Gery meluncur di sana untuk membungkam.
Stop, Ghea! Jangan menuduh Gery dengan hal yang tidak mungkin cowok itu lakukan.
Dewi batin yang tadi selalu berontak kini mengingatkan.
“Sekali pun kamu tidak dilahirkan ke dunia, aku gak akan melihat wanita lain, Ghe. Karena hati aku sudah terisi sepenuhnya oleh nama kamu. Jauh sebelum ini.” Ditatap Gery bola mata cantik itu dalam. Begitu teduh dan penuh banyak cinta. Dengan serius, Gery mengecup kening Ghea kemudian.
“Tapi, aku takut, Mas.”
Gery menjauhkan bibir dari dahi seputih susu itu.
“Takut kenapa? Heum?” Ditangkup setiap sisi wajah Ghea hingga kedua telapak tangan besar membungkus pipi Ghea sepenuhnya. Dan jari jempol memutar di tulang pipi, menghapus jejak kristal yang tersisa di sana.
“Aku takut kehilangan kamu, Mas.”
“Gak mungkin.”
Karena justru, Gery yang merasakan demikian.
Merasa jam kematian itu mendekat terlalu cepat untuk mencekik lehernya.
“Kenapa gak mungkin?”
“Karena kamu adalah nyawa aku, Ghe. Ragaku tidak akan mungkin bernafas apa lagi hidup tanpa nyawanya.”
TO BE CONTIUED …
Jadi kesalahpahaman Ghea udah jelas dong dengan kalimat manisnya Mas Ger. Udah clear.
Dan aku mau tegasin sekali lagi. Cerita ini pasti bakal happy end kok. Aku bakal jamin itu. Tapi, sebelum happy harus ada badai dulu, kan.
Karena hidup itu berputar. Tuhan menciptakan dua jenis yang selalu bersinggungan. Seperti malam siang. Gelap terang. Sedih bahagia.
Hidup kan gak harus melulu tentang cinta. Hihiiii (Aku angkat dua jari aku sebagai tanda damai)
Aku sadar kok, setiap orang itu tidak sama. Aku gak akan maksa buat akak akak suka sama jalan dan alur cerita MWT di s2 ini. Setiap orang berbeda akan selera.
Jalan cerita Ghea dan Mas Gery gak akan bisa diubah alurnya begitu saja. Karena udah dipikir jauh sebelum sampai bab 32 ini.
Dan untuk peran Airin. Aku buat gak asal aja. Nanti juga pasti bakal tahu kenapa peran Airin ini bisa ada.
So, terus ikuti MWT sampai tamat aja. Follow Ig Seizyll_koerniawan buat tahu waktu updatenya.
Ohya, Btw jawaban untuk yang tanya 'kenapa sih kak kok gak up tiap hari'
Jawaban aku ... Aku nunggu mood aku selalu baik supaya aku bisa ngetik dari hati aku. Agar gak amburadul banget gitu. Ya meski sadar betul sih ketikan ini masih belum sesempurna ketikan penulis hebat lainnya.
Kan aku mah kang ngetik amatiran, ya... ILY