Married With Teacher

Married With Teacher
Ghea Virnafasya (Extra Chapcer 2)


“Udah pulang?” tanya seseorang ketika suara ketukan dari sepatu pantofel itu mendekat ke arahnya. Ketika dia - seorang cewek tengah duduk santai di ruang tengah dengan layar Tv menyala di depan.


“Udah. Ajeng udah tidur?” tanya Adi padanya sambil membuka simpul dasi yang masih melingkar di kerah kemeja kerja lalu menggulung lengan kemeja itu sampai siku saja.


“Udah. Dia di kamar. Kenyang mungkin abis makan nasi goreng,” jawabnya seraya dengan kekehan kecil.


“Oke. Aku lihat Ajeng dulu.” Kemudian Adi melangkah. Menyusuri setiap undakan tangga menuju ke lantai atas.


“Indah gak ikut, Mas?” tanyanya berteriak agar Adi mendengar karena cowok itu yang sudah sampai undakan tangga atas terakhir.


“Masih ada meeting dia,” jawab Adi lalu menghilang di balik pintu salah satu kamar yang terletak di lantai dua.


Tak lama setelah itu, Adi datang sambil menggendong Ajeng. “Aku pulang, ya. Makasih loh udah jagain Ajeng,” katanya membenarkan tubuh Ajeng yang sedikit melorot.


“Kenapa Ajengnya dibawa? Gak dikasih tidur di sini aja? Kasihan loh kalau Indahnya masih ada meeting. Lagi, itu Ajengnya udah nyenyak gitu,” katanya seraya berdiri ketika Adi menghampirinya. Kemudian mengusap belakang kepala anak kecil berumur tiga tahun yang bersandar pada bahu Adi - sang papinya.


“Paling bentaran lagi kelar kok meetingnya. Ya, udah aku balik, ya. Makasih lagi loh--”


“Enak, ya. Udah tidur anaknya langsung dibawa.” Lalu seseorang muncul dengan sangat tiba-tiba dari arah ruang tamu. Berjalan sambil menggulung lengan kemejanya kemudian ketika sampai di samping cewek yang tengah berdiri di tempatnya itu, Pak Gery mengecup pipinya sekilas. “Ntar-ntar kalau mau nitip anak di sini, kalau -- Awwhh … sakit, sayang. Apa, sih, pake cubit-cubit segala?” pelotot Pak Gery padanya sambil mengusap otot lengan sebelah kiri yang mendapat cubitan keras darinya.


“Gak usah didengerin Mas Gery, Mas. Tahu nih orang kayak apa, kan, ya?” Cewek itu terkekeh malu karena kelakuan suaminya yang dari dulu sangat frontal dalam bicara pada sang sepupu.


“Apa, sih, sayang?” sahut Pak Gery padanya. “Udah sana kalau mau pulang mah!” Lanjutnya pada Adi sambil berjalan ke arah dapur. “Yang, bikinin aku minum dong!” Setelah duduk di kursi bundar mini bar dapur.


“Ya, udah. Aku pulang. Nanti gak papa kan kalau aku nitip Ajeng lagi --”


“Jangan mau, sayang, kalau gak dikasih cuan!” canda cowok itu dari dalam dapur. Membuka toples kaca lalu memasukan keripik kentang ke dalam mulutnya.


Adi terkekeh. Yang lagi membuat cewek itu malu sendiri pada kelakuan suaminya. “Iya. Kalau Mas Adi sama Indah lagi sibuk-sibuknya gak papa Ajeng aku yang ajak main. Lagian aku seneng kok. Rame. Biar gak bosen juga pas ditinggal kerja Mas Gery. Soalnya suka gak ada kerjaan juga, kan? Gak usah dengerin Mas Gery mah!”


“Sayang!!!” teriaknya lagi dari dalam dapur.


“Ya, udah. Aku pamit ya.” Cewek itu mengangguk. “Gue balik, Ger,” teriaknya Adi pada Pak Gery.


“Iya. Sono lo. Cepetan. Gue mau berduaan sama istri gue. Ganggu aja lo bisanya!” Balas Pak Gery berteriak juga sambil terus memasukan keripik itu ke dalam mulutnya.


“Sayang, mau minum dong -- aduhhh.” pekik cowok itu lagi mengusap bahunya. “Kenapa, sih, seneng banget main cubit-cubitan?” Pak Gery protes padanya yang tengah menuangkan air putih dari teko kaca yang tersimpan di meja dapur.


“Kamu gak sopan sama Mas Adi, Mas,” sahutnya seraya memberikan gelas minum itu.


Pak Gery menerima gelasnya. “Gak sopan gimana, sih, yang?” Kemudian meneguk air itu sampai habis setengahnya.


Dia duduk di depan Pak Gery. Dagunya ia topang dengan siku yang bertumpu pada meja mini bar. “Gak sopan aja,” katanya yang membuat kening Pak Gery tertaut.


Cowok itu juga lalu mengikuti gaya istrinya. Menopang dagu dengan satu tangan dan tangan yang lain ia lipat di atas meja. “Kamu makin cantik aja, sih? Jadi gemes tahu.” Kelakar cowok itu. Kedua bola mata abunya tidak lepas menatap wajah putih yang tepat di hadapannya dengan lekat.


“Ngagetin aja, sih,” ucapnya dengan wajah yang sudah merah padam. Kaki kanan dia hendak melangkah. Namun tangan besar cowok itu segera menahan bahunya. Menyandarkan punggungnya ke pintu lemari es kemudian.


“Apa, sih, Mas?” Dia menelan salivanya kelat. Menggigit bibir bawah dan tidak terasa kedua tangannya meremas kotak susu full cream itu dengan kuat.


“Aku suka kalau lihat wajah kamu yang merah kayak gini,” kata Pak Gery mengangkat satu tangan hanya untuk mengusap pipinya. Mendekatkan wajahnya. “Manis.” Ketika bibir yang sedang digigit itu Pak Gery kecup singkat.


Cewek yang memakai daster rumahan itu semakin menggigit bibir bawahnya. Mungkin darah akan keluar begitu saja dari sana jika tangan Pak Gery tidak mengusap dalam bibir bawahnya itu. “Jangan digigit!”


Debaran yang menggila.


Rasa itu yang selalu dirasakannya setiap kali Pak Gery melakukan hal semanis ini. Tidak ada yang berubah selama tiga tahun yang dilalui keduanya. Justru Pak Gery semakin romantis. dan lebih parahnya, cowok itu sekarang tidak segan-segan menunjukan sikap kemanisan di depan umum. Seakan setiap detik, Pak Gery tidak ingin melewati kebersamaan dengannya. Setelah, semenjak dia kembali dan mengukir indah lagi senyum di bibirnya untuk Pak Gery.


“Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang,” seraya menyelipkan sebagian rambut ke belakang telinga, Pak Gery kembali mengecup singkat bibirnya.


Dia. Cewek itu semakin kuat meremas kotak susu full cream. Ia harus berpegangan pada sesuatu untuk menahan debaran jantungnya itu. Kemudian tangannya memilih untuk beralih meremas pinggiran kemeja yang dikenakan Pak Gery. “Apa?” Dan kedua netra tersebut sama sekali tidak saling melepaskan.


“Kamu selalu bertanya-tanya kan, kenapa kita belum juga dikasih anak? Padahal, kita udah hampir tiga tahun lebih menikah. Tapi belum juga dikasih. Sedangkan Indah dan Adi sudah dikasih Ajeng pas di tahun pertama mereka menikah. Dan bisa dibilang itu adalah kado pernikahan mereka yang pertama. Iya kan?”


Bibir cewek itu terlipat ke dalam. Ia ingin mengatakan sesuatu pada sang suami. Namun entah kenapa bibir itu rasanya seperti terkunci saja.


“Aku gak papa, sayang. Yang penting aku bisa terus sama kamu. Masalah anak, mungkin Allah masih belum kasih kita kepercayaan itu.” Tangan Pak Gery yang menangkup sisi wajahnya, kini beralih pada belakang lehernya kemudian menjumput rambut panjang cewek itu dalam satu genggaman. Membawa rambutnya ke bahu satu sisi yang lain. Pak Gery menyerukkan wajah ke leher polos cewek itu. “Jangan pernah tinggalin aku!” gumamnya seperti sebuah bisikan.


Cewek itu menyimpan kotak susu yang sedari tadi ia genggam ke meja dapur sebelum kemudian kedua tangan itu melingkar penuh pada pinggang lebar Pak Gery. “Gak akan, Mas.”


Menegakkan kembali wajahnya, Pak Gery berujar, “janji, ya, sama aku, Ghe!”


Kepala Ghea mengangguk menatap dalam mata cowok itu. “Iya. Sampai Allah benar-benar memanggil salah satu dari kita lebih dulu.”


Ketika itu ...


"Ghe, kamu bangun dong! Buktiin ke mereka kalau kamu bisa bangun!" Saat mendengar sederet kalimat itu, Ghea ingin menganggukkan kepalanya. Membuka mata untuk bisa membuktikan jika dia juga ingin bersama dengannya. Menemaninya sampai nanti. Namun, rasanya itu terasa susah. Berat sekali Ghea untuk membuka mata lalu memanggil namanya. Sekedar menggerakan jarinya saja, Ghea terasa berat. Ia seakan lebih ditarik pada kegelapan yang entah akan membawanya kemana.


"Ghe, kamu jangan kayak gini dong! Bercanda kamu itu gak lucu. Kamu udah janji kan mau nemenin aku terus!"


Iya. Ghea juga ingin seperti itu. Ia terus berusaha untuk mengembalikan kesadaran walau rasanya sangat sulit. Ghea tidak ingin ingkar janji. Tidak juga untuk mengkhianati janji yang sudah ia buat sendiri.


"Bangun, sayang! Bangun!"


Seperti kalimat itu adalah sebuah kekuatan Ghea untuk kembali dari ruang kegelapan. Ia mencoba menarik dirinya lagi. Lalu saat itu. Di detik ketika dokter mengatakan pada suster untuk mencatat waktu kematiannya. Justru Ghea membuka mata.


Mungkin ini sangat mustahil. Tapi jika Yang Kuasa sudah menghendaki segala sesuatu itu terjadi maka tidak ada yang tidak mungkin. Atau dalam hal medis ini disebut lazarus syndrome.