
Ghea menghentikan sebuah taxi yang membawanya ke suatu tempat. Kemudian turun setelah membayarnya. Saat Ghea sudah menerima telepon dari seseorang itu, ia segera meluncur ke tempat dimana yang sudah diberitahukan padanya.
Melangkah walau terlihat sangat ragu ke arah gedung kusam tinggi yang sangat gelap. Banyak tumbuhan hijau yang merambat di dinding gedung tersebut. Juga tembok-tembok yang terasa sangat lembab. Wajah Ghea seketika menegang. Pun dengan keringat dingin yang tiba-tiba membanjiri dahinya. Padahal cuaca malam ini terlihat dingin. Apalagi Ghea sekarang memakai gaun tanpa lengan.
Ghea menatap handphone yang sedari tadi ia genggam. “Sial, mati lagi handphone gue.” umpat Ghea dengan sangat kesal. Lalu langkahnya terus berlanjut.
Saat kaki indah yang terbungkus sepatu hak tinggi itu sampai di depan pintu masuk gedung yang sudah rusak, Ghea memutar knop pintu yang ternyata tidak berfungsi. Kemudian telapak tangannya mencoba mendorong pintu tersebut lalu terbuka. Karena keadaan yang terdengar sangat sunyi, suara derit pintu pun sampai menusuk tajam ke telinga Ghea. Sumpah demi Tuhan, Ghea takut. Cewek itu lalu teringat ketika ia menonton film horor dengan Pak Gery. Persis seperti saat ini. Dirinya menegang.
“Cy, lo dimana?” Seraya tubuhnya masuk lebih dalam lagi, Ghea memanggil nama sahabatnya itu dengan bantuan cahaya temaram yang berasal dari cahaya bulan yang masuk ke dalam celah jendela ruangan yang sudah tidak berlapis kaca apalagi tirai.
Jika saja buka karena orang yang meneleponnya, memberitahunya jika Ocy sedang bersamanya, Ghea tidak akan ada berada di tempat seram dan asing seperti ini.
Kaki Ghea semakin melangkah masuk. Pelan dengan jantung yang terus bertalu berdebar kencang. Pandangannya mengedar mencari sosok Ocy yang katanya disekap.
Terdengar derap langkah kaki seseorang menuruni anak tangga sambil membawa sebuah senter. Lalu mata Ghea menyipit. Satu tangannya ia arahkan tepat di depan wajahnya bersama kepala yang miring. Untuk menghindari silau dari cahaya senter itu yang sengaja diarahkan ke wajahnya. “Lo udah datang ternyata,” sahut suara berat dari arah undakan tangga yang kelima dari lantai atas gedung tua itu.
Perlahan Ghea menurunkan tangannya lalu pandangannya menatap ke arah dimana seorang cowok berdiri dengan angkuhnya di sana. “Mana Ocy?” sengit Ghea tidak ingin basa-basi.
“Ow ow owww … sans dong, Ghe. Ocy ada di atas,” katanya terdengar sangat menyebalkan bagi Ghea. Kemudian cewek itu bergegas menaiki anak tangga. Melewati cowok itu bersama tatapannya yang sama sekali tidak bersahabat.
“Cy! Ocy!” Panggil Ghea beryeriak sambil mengedarkan pandangan sesampainya di lantai atas.. “Mana Ocy?” sarkas Ghea lagi memutari tubuhnya. Menatap Alvin dengan tatapan yang siap mengibarkan bendera peperangan. Karena Ghea melihat tidak ada orang di sana selain dirinya dan Alvin saja.
Alvin menyeringai. Menarik satu alisnya menyebalkan. “Kenapa? Lo kayaknya khawatir banget sama tuh cewek?” tanya Alvin santai sembari memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya. Berjalan melewati tubuh Ghea yang bergetar. Bukan karena takut, melainkan kemarahan Ghea yang sudah mencapai ubun-ubunnya, juga mencengkram kuat handphone yang sedang digenggam di tangan kirinya.
“Jadi lo bodohi gue dengan cara bawa-bawa nama Ocy segala? Sampai ngancem gue lagi. Murahan banget cara lo, Vin.” Dilangkahkannya kaki Ghea untuk menuruni anak tangga. Ghea akan pergi tentu saja. Karena buat apa juga? Awalnya Ghea kesini untuk menolong Ocy. Tetapi ternyata dia hanya ditipu. Apa maksudnya coba? Ghea yakin banget kalau saat ini suaminya dan yang lain pasti sedang panik mencarinya. Pun Ghea takut jika pertunangan Adi dan Indah akan batal karena dirinya tidak ada di tengah-tengah keramaian orang.
“Lo tahu, Ghe?” Alvin bersuara. Auto menghentikan langkah Ghea yang sudah akan menuruni anak tangga. “Gue benci banget sama Si Gery.” Lalu Ghea membalikan tubuhnya refleks. Mengernyitkan dahinya dalam karena tidak mengerti apa yang diucapkan Alvi barusan.
Alvin tertawa kosong. “Gara-gara tuh cowok kakak gue meninggal.” Dan Ghea merasakan ada kepedihan dari suara cowok itu. Ghea menarik nafasnya dalam. “Lo salah paham, Vin. Itu bukan salah Pak Gery. Fara meninggal karena dia yang didorong oleh Dita.” Ghea mencoba menjelaskan padanya dengan pelan. Sebagaimana waktu itu Pak Gery juga yang menjelaskan kronologi kejadiannya pada Ghea.
“Tapi tetap aja itu karena cowok sialan suami lo itu? Kalau aja Kakak gue gak jatuh cinta sama tuh cowok berengsek. Mungkin sampai sekarang Kakak gue masih hidup!”
Tunggu!
Darimana Alvin tahu tentang kejadian itu? Padahal kalau diukur dari segi umur, cowok itu pasti masih kecil, kan? Alvin seumuran dengan Ghea, bukan?
Alvin terkekeh. “Heuh, lo kaget kenapa gue bisa tahu cerita yang udah lama itu?” Kemudian Alvin mengambil tasnya yang tersimpan di atas kursi kayu yang terletak disana. “Ini,” katanya seraya mengeluarkan sebuah buku berwarna hitam. Ghea yakin jika itu adalah buku hariannya Fara. Alvin melempar buku hitam itu pada Ghea lalu refleks tangan cewek itu menangkapnya.
“Gue cuma mau Si Gery merasakan apa yang Kakak gue rasakan dulu ketika dia terus mengejarnya. Tapi suami lo yang sok kegantengan itu terus mengacuhkannya.” Alvin menghela nafasnya kasar. “Dan yang pasti, gue mau dia ngerasain apa yang selama ini gue rasa. Ditinggalkan oleh orang yang sangat gue sayang sampai gue hidup sendirian kayak gini. Si Gery harus menderita. Karena gue yakin, kelemahan dia itu elo, Ghea.”
Ghea menelan salivanya dengan sangat susah, tubuhnya bergetar merasakan tatapan membunuh dari mata Alvin. Seperti menemukan sebuah jawaban dari teka-teki silang, jadi ini alasan Alvin bercerita tentang Fara padanya? Lalu darimana Alvin tahu waktu itu kalau Ghea adalah istri Pak Gery? Padahal setahu Ghea semuanya baru terbongkar baru-baru ini, kan?
“Maksud lo …, lo mau lempar gue juga? Gitu?” tanya Ghea dengan suara yang serak, meremat buku hitam yang ada di tangannya.
“Gak!” Jawab Alvin santai.
Ghe mendengus. Lagi-lagi kepalanya menggeleng. “Kalau gitu jangan halangi gue buat pergi dari sini!” Pintanya pada Alvin dan hendak berlalu. Namun, tiba-tiba suara seseorang kembali membuatnya urung melangkah.
“Buru-buru banget, sih, Ghe?” tanyanya keluar dari balik pintu ruangan yang ada di lantai atas itu. Mungkin tadinya bekas kamar.
Kepala Ghea refleks berputar karena dia sangat kenal dengan suara yang menyahut tiba-tiba itu. “Cy … lo disini? Lo gak papa kan? Tadi Alvin nelpon gue kalau dia bakal ngapa-ngapain lo.” Ghea berjalan ke arah Ocy yang berdiri tepat di samping Alvin. Menyentuh kedua bahu Ocy. “Gue khawatir tahu gak, sih, sama elo. Gue takut elo kenapa-napa.”
Ocy menurunkan kedua tangan Ghea kemudian mengedikkan bahunya santai. “Ya, seperti apa yang lo lihat aja. Gue gak papa.” Lalu dilipatlah kedua tangannya diatas dada.
Ghea tidak mengerti kenapa Ghea merasa tatapan Ocy sangat berbeda dari biasanya? Pun dengan sikapnya yang Ghea rasa itu bukanlah sikap sahabatnya. “Lo kenapa natap gue kayak gitu?” Lalu ditanyalah Ocy oleh Ghea dengan mata yang memicik penuh curiga.
“Maksud lo apa ngomong kayak gitu ke gue?” tanya Ghea dengan kedua alisnya yang tertaut tentu saja.
Ocy tidak menjawab pertanyaan Ghea. Justru cewek itu merogoh saku celana jeansnya sebelum mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam sana. Menunjukkannya tepat di depan wajah Ghea.
“Cy …” Ghea memanggilnya lirih. “Lo mau apa?” tanyanya dengan suara yang tercekat. Terkejut dengan kedua mata yang terbuka sempurna. Lalu dengan tubuhnya yang berjalan mundur.
**
Acara pertunangan itu tetap berlangsung dengan lancar tanpa hadirnya Ghea. Walau hati Pak Gery merasa tidak tenang karena Ghea belum juga ditemukan. Namun, Pak Gery sudah menyuruh Chacha untuk membantu melacak Ghea lewat handphone nya. Namun, sayang, karena handphone cewek itu mati, Chacha jadi susah untuk melacaknya.
Sebelum pertukaran cincin pun, Adi dan Indah sudah menyuruh Pak Gery untuk pergi mencari Ghea. Tetapi Pak Gery memaksa tetap diam menyaksikan acara pertukaran cincin itu sambil terus memikirkan cara untuk menemukan Ghea.
Ia begitu sangat bodoh. Kenapa bisa Pak Gery keteteran seperti ini? Sampai Ghea pergi pun dia tidak mengetahuinya. Rasanya Pak Gery ingin berteriak sekencang-kencangnya.
entah ini sudah yang keberapa kalinya Pak Gery mengecek handphone. Memastikan jika saja ada pesan atau Ghea menghubunginya. Namun cowok itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang semakin tidak karuan. “Kamu kemana, sih, sayang?” Pak Gery mengedarkan pandangannya sebelum menautkan kedua alisnya ketika Chacha berjalan cepat ke arahnya. Di depan sana Adi baru saja selesai memasukan cincin ke jari manis Indah. Dan suara tepukan pun terdengar menggema.
“Gimana, Cha?” Pak Gery langsung memberikan pertanyaan ketika Chacha sudah ada di hadapannya dengan wajah yang menegang.
Ilham menghampiri. “Gimana-gimana? Ghea udah berhasil ditemukan?”
Chacha memutar bola matanya sedangkan Pak Gery mendengus kasar padanya.
“Elah … biasa aja dong tatapan lo, Ger. Ngeri banget sumpah dah. Gue kan cuma nanya doang.”
“Diem! Berisik!” gertak Pak Gery yang refleks membuat Ilham merapatkan kedua bibirnya.
“Cha?” Pak Gery beralih pada Chacha yang menampilkan wajah bingung.
“Saya sudah tahu Ghea dimana, Pak,” sahut Chacha tegas.
Tadi Chacha sengaja meminta bantuan teman-teman sesama bodyguardnya untuk mencari tahu dan melacak keberadaan Ghea. Lalu mereka menemukan posisi terakhir Ghea sebelum handphonenya mati.
Pak Gery tidak banyak bertanya. Cowok itu langsung melangkah cepat menuju keluar. Tidak lupa Chacha mengikutinya dari belakang.
“Woy, lo berdua gak ngajakin gue?” setengah berteriak, Ilham memanjangkan lehernya. Hanya terdiam di tempat dengan mata yang melongo takjub sebelum pundaknya ditepuk oleh seseorang. Refleks Ilham berbalik.
“Mereka mau kemana?” Adi bertanya dengan kening yang berkerut.
“Katanya Ghea udah ketemu,” sahut Ilham.
“Ketemu?” Adi mengulang perkataan Ilham. Dan cowok itu pun mengangguk. “Ya, udah.”
“Ya, uadah apa?” tanya Ilham bingung. Terlihat dari kerutan di dahinya.
“Ya, udah, kita susul mereka, ogeb!”
“Eh, kampret, ini acara tunangan lo, ya. Lo yakin mau kabur dari acara ini? mau bogoo dipikir dulu napa, Di!”
Adi menggelengkan kepalanya. Bodo amat sama acara tunangan ini yang masih berjalan. Yang pasti tukar cincinnya udah kan, ya. sekarang yang lebih penting itu Ghea. Cewek itu tidak boleh kenapa-napa.
“Terserah lo deh, Hamid. Gue mau susul Gery sama Ocy. Serah lo mau ikut atau kagak. Gue bodo amat,” decak Adi yang kemudian pergi dari depan Ilham. Namun sebelum benar-benar menyusul Pak Gery, lebih dulu Adi berpamitan pada Inda dan juga kedua orang tuanya. Tak lupa Adi meminta doa pada kedua orang tua Pak Gery. Sedangkan kedua orang tua Ghea tidak hadir karena masih berada di luar kota.
TBC