
Flashback lagi gengs ...
“Saya mau minta tolong. Boleh?”
Mendengar satu kalimat itu Gery menyipitkan mata. “Maksud anda?”
“Eum begini…" Sebelum melanjutkan kalimatnya, Ibu Nana menolehkan wajah ke arah gordeng yang tertutup di ambang pintu yang tadi dilewati Airin. Dan Gery semakin tidak mengerti dengan itu.
Ibu Nana berdiri untuk kemudian melewati tubuh Gery. Dan gerakan itu tentu saja tidak lepas dari mata abu-abu sang pemilik wajah bak Dewa Yunani ini. Ibu Nana mengambil buku di dalam bufet persegi panjang, tepat letaknya di belakang punggung Gery. Untuk kemudian membuka lembar demi lembar kertasnya dan memberikan selembar foto yang sengaja diselip di sana pada Gery.
Gery menatap foto itu sebelum beralih pada wajah sendu Ibu Nana. Sorot matanya bagai bertanya 'apa maksudnya?’
“Itu foto Ayahnya Airin,” kata Ibu Nana. Fokus Gery kembali teralih pada selembar foto itu. Ia menautkan kedua alis hitam dan tebalnya. Sepertinya sosok di dalam foto itu begitu sangat familiar.
“Namanya Wira Adiguna.” Dan mata Gery kembali mengarah pada wajah Ibu Nana yang sedang menyeka air matanya. “Kami berpisah sewaktu Airin berumur lima belas tahun. Saya tidak tahu jika Ayah Airin sebelum menikah dengan saya, dia sudah menikahi perempuan lain. Saya kecewa. Saya benci.”
Gery mendengar dari nada suara Ibu Nana yang tidak berdaya. Ia memang tidak bisa merasakan apa yang dirasa oleh Ibunya Airin itu. Namun, ia begitu mengerti bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang begitu dicintai. Pasti sangat menyakitkan. Begitu juga dengan Gery yang tidak tahu apa maksud Ibu Nana menceritakan kepelikan
hidup padanya. Seolah beliau mempercayai cowok itu.
Gery menyentuh kedua pundak Ibu Nana untuk kemudian membawanya duduk. Lalu menyerahkan kotak tisu pada wanita bersyal merah itu.
“Terimakasih," ucap Ibu Nana lalu menyusut air matanya.
Dirasa semua perasaannya kembali membaik, Ibu Nana melanjutkan seraya menatap Gery dengan serius dan kalau Gery tidak salah melihat, sorot itu menatapnya penuh dengan tampungan harapan besar padanya.
“Istri pertamanya mendatangi kediaman kami. Mungkin saya tidak akan marah dan mengakhiri rumah tangga kami jika saja perempuan itu tidak membawa seorang putra. Wira bukan hanya membohongi saya, tapi dia juga membohongi perempuan yang dia nikahi sebelum saya.”
Gery masih bergeming ketika Ibu Nana melanjutkan lagi bersama dengan air mata yang berderai dan kedua tangan terkepal di atas pangkuan. “Walau berat, saya harus memutuskan semuanya. Memutuskan berpisah untuk masa depan Airin. Wira melarang saya membawa Airin. Tapi, saya tidak ingin jauh dari permata yang paling berharga bagi saya. Saya banting tulang, kerja keras agar kehidupan Airin cukup dan yang paling penting saya ingin Airin mendapatkan pendidikan jauh di atas apa yang Ayahnya harapkan.”
Sekarang Gery paham kemana arah dan tujuan Bu Nana membicarakan masalah kehidupan pribadinya pada Gery.
“Maka dari itu, saya minta tolong Nak Gery buat membantu Airin mencari pekerjaan yang lebih baik. Walau Airin belum ada pengalaman, saya yakin jika Airin bisa. Karena Airin termasuk mahasiswi paling aktif di kampus. Selain itu juga Airin menjadi mahasiswi lulusan terbaik.” Ibu Nana menarik tangan Gery. Menggenggam kepalan tangan cowok itu penuh dan erat. “Saya tidak ingin Akbar menjerat Airin lagi." Dan dapat Gery rasakan Ibu Nana semakin keras memegang kepalan tangan Gery atau lebih tepatnya Gery merasakan Ibu Nana mencengkram kepalan tangannya itu.
“Gara-gara laki-laki bajingan itu Airin menjadi penari di tempat terkutuk itu,” sahut Bu Nana. Matanya berkilat penuh amarah. “Jika saja waktu itu saya tidak mempercayai dan terhasut dengan omong kosongnya, hidup Airin tidak akan hancur. Tidak akan ada yang memandangnya rendah. Airin anak saya. Dan saya tahu dia seperti apa. Dia bukan wanita yang seperti apa orang luar katakan. Airin kerja di club hanya terpaksa karena keadaan dan karena Akbar. Laki-laki berengsek itu!”
Air mata Ibu Nana tidak bisa dibendung lagi. Ia terisak dan Gery membiarkan itu hanya untuk membuat perasaanya lebih puas. Tubuh Ibu Nana bergetar hebat dan kemudian Gery melepaskan tangannya lalu menarik kedua bahu Ibu Nana ke dalam pelukan.
Gery tidak tega. Ia membayangkan jika posisi yang Ibu Nana alami terjadi pada Mamanya. Dan itu sungguh sangat menyakitkan. “It’s okay, Bu. Tenang!” Gery mengusap punggung yang bergetar itu. Menenagkannya.
“Tolong bantu Airin, Nak Gery. Saya mohon! Bantu Airin lepas dari hidupnya yang sekarang. Saya akan melakukan apa saja untuk Nak Gery jika nak Gery membantu Airin.” Ibu Nana menjauh dari Gery lalu menatapnya sungguh-sungguh. “Jika perlu, saya akan memohon di kaki Nak Gery agar Nak Gery membantu Airin bebas dari kesusahan dan Nandan.” Ibu Nana hendak melakukan apa yang dikatakannya. Membungkuk dan memohon di kaki Gery.
Namun, sebelum itu terjadi. Gery sudah menahan kedua bahunya. Gery tidak akan membiarkan seorang Ibu mana pun melakukan hal hina demikian. Harusnya Gery yang melakukan itu sebagai bakti pada seorang wanita. Tentunya Mama—yang sudah melahirkannya.
“Nandan? Siapa dia, Bu?” Alih-alih menjawab ‘ya’ justru cowok itu bertanya siapa cowok yang dimaksud Ibu Nana.”
“Dia laki-laki yang dekat dengan Airin. Tapi, saya tidak pernah menyukainya karena sikapnya yang terlalu arogan dan kasar.”
“Bagaimana Ibu bisa tahu jika cowok itu kasar?”
“Di sana—“ Ibu Nana menunjuk depan teras rumahnya. “—saya melihat tangannya memukul wajah Airin. Jika masih pacaran saja berani, bagaimana jika sudah menikah? Mungkin Airin saya akan mati di tangan pria semacam Nandan ini. Dan saya tidak ingin itu terjadi. Saya tidak akan membiarkannya.”
Ini adalah ketakutan dan kekhawatiran seorang Ibu pada putrinya. Bagaimana bisa Gery tidak membantu? Untuk itu ia menenggelamkan tangannya. Mengeluarkan dompetnya kemudian menarik selembar kertas dari sana. “Ini kartu nama saya,” ucap Gery sembari menyodorkan lembar kertas persegi yang didesain mewah dan elegan dengan
lambang nama perusahaan di depan kertas itu. Kemudian Ibu Nana menerimanya. Melihat, membacanya dengan teliti. “Di situ ada nomor telepon perusahaan. Ibu bisa menghubinginya. Atau Airin sendiri yang coba datang ke perusahaan, nanti biar saya yang bantu mencarikannya. Semoga saja ada posisi yang baik yang sesuai dengan kemampuan Airin.”
Maksud Gery baik. Ia membantu Airin karena Ibunya yang memohon. Dan dengan terpaksa pula Gery melewati batasan dirinya untuk menjadi pacar pura-pura Airin agar Nandan tidak mengganggunya lagi.
**
“Pantas aja lo Cuma diem-diem taik ayam pas Airin cium lo. Gery … Gery, lo naro otak lo di mana, sih?” decak Adi kemudian menggelengkan kepala.
“Tapi, Ger. Harusnya lo gak bersikap kayak gini. Lo salah karena lo gak kasih tahu Ghea," ujar Indah memberikan komentarnya. Ia merasa tidak percaya pada sahabatnya itu. Bisa-bisanya melakukan sesuatu tanpa cerita dan memberitahu Ghea. “Harusnya lo gak usah bertindak sejauh ini. Dan sekarang lo justru malah ikut campur ama kehidupan pribadinya. Lo udah biarin Airin ngebuka pintu masalah buat hidup lo sendiri.”
“Maksud lo, In?" pertanyaan Ilham membuat Indah dan Adi memutarkan bola matanya.
Ditarik Adi nafas dalam-dalam sebelum ia mengeluarkan suara geramannya lagi. Adi bangkit dari duduk untuk kemudian mengitari sofa lalu berdiri di belakangnya. Menumpukkan kedua telapak tangan pada atas sandaran sofa. “Lo tinggal tunggu aja ada orang yang datang buat balas dendam sama lo, Ger!”
Refleks diangkat Gery tatapannya pada Adi. Ia tersenyum miring sebelum kemudian menyandarkan punggung pada sandaran sofa. “Tapi sejauh ini gak ada orang yang cari gue, kan?”
“Bukan nggak ada, Ger. Tapi, belum. Lo tinggal tunggu aja tanggal yang akan mereka mainkan!” Kali ini Adi yang memiringkan senyumnya bersama satu alis yang ditarik. Sungguh sangat menyebalkan untuk Gery melihat ekspresi itu. “Untuk itu, yang harus siap-siap itu elo, Di!” Gery membalikan kalimat.
“What?” Adi tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya. Kemudian Adi mengangkat kedua tangan ke udara. “Sorry, Ger. Kali ini gue gak bakal ikut campur, karena ini bersangkutan sama Om Wira dan Nandan—tunggu tunggu tunggu. Nandan? Nandan yang lo maksud di sini tuh, Nandan… Nandan Lesmana? Nandan putranya Om Wira?”
“Ya,” jawab Gery sembari melihat ekspresi semua wajah yang ada di ruang tamu itu. “Jika lo semua kepo kenapa gue tahu…, gue ngeriset. Karena gue sebelumnya pernah ketemu sama Nandan mantan pacar Airin dan gue samain sama Nandan anaknya Om Wira.”
“Emang berengsek lo, Ger,” kata Adi dan Gery memiringkan kepalanya ke satu sisi seolah bertanya apa maksud cowok itu.
“Heuhhh..." Dibuang Adi nafasnya kasar. “Atau jangan-jangan lo ngelakuin ini emang karena ada rasa beneran lagi sama tuh cewek?”
“Gue bilang terserah lo mau berasumsi apa pun tentang gue. Gue kagak perduli. Yang gue perduliin lo harus ban—“
“NO! Karena gue belum yakin sama nyokap si Airin. Bisa aja dia cuma manfaatin lo, kan? Kita gak tahu, Ger.”
“Lo ngomong gitu karena lo gak suka sama Airin.”
“Emang gue gak suka,” jawab Adi acuh tak acuh. Cowok itu terlalu jujur.
Gery menggerakkan bibir seksi dan tebalnya itu untuk menjawab Adi lagi. Namun, itu tidak terjadi karena Ilham segera menyela dengan cepat. “wait wait wait. Oke, guys. Lo berdua kalau dibiarin terus kayak gini, ini cerita gak bakal kelar-kelar sampai subuh. Dan lo berdua lihat ini udah jam berapa? Hem?” tanya Ilham sambil menunjuk jam
dinding di sebelah kanan dengan menggerakkan wajahnya. “Jam dua belas. Dan ini waktu istirahat gue sama Dita udah kelewat batas. So, gue bakal nginep di sini. Sekarang, tuan rumah—“ Mata Ilham tertuju pada Gery. “—tunjukin kamar tamu buat kita.”
Dita berdiri dan tersenyum. Mengaitkan tangan pada siku Ilham. “Dan jangan lupa, tuan rumah, buat mencoba kembali menghubungi istri tercintanya!” kata Dita tersenyum mengejek.
“Dan satu lagi." Sekarang Indah malah ikut-ikutan. Ia juga berdiri. “Nomor Ghea sampai sekarang masih belum aktif.” Karena sedari Gery bercerita dongeng padanya dan yang lainnya, Indah terus mencoba memanggil nomor Ghea.
“Ah… Jangan-jangan Ghea punya teman kencan baru lagi di Bandung.” Adi berjalan mendekat pada Indah lalu melingkarkan tangan di sepanjang pinggang Indah. Sengaja untuk membuat Gery panas, mungkin.
“Apa lagi cowok-cowok Bandung pada keren-keren, anjirrrr,” ujar Ilham sambil berlalu melewati Gery yang masih bergeming di tempat duduk. Dan saat Ilham sudah membelakanginya, Gery menendang bokong Ilham. Membuat cowok itu terhunyung dan terpekik. “Taik emang lo. Dasar!” Ilham berbalik sembari tersenyum. “Ghea meski hamil, tapi bodinya masih cakep. Pasti banyak tuh cowok Bandung yang naksir. Kagak kelihatan lagi hamil masalahnya.” Kemudian Ilham tertawa yang diikuti Dita, Indah dan Adi tentu saja.
“Bangsaatt. Mampuus aja lo, Ham. Dasar taik kambing!” umpat Gery seraya menaikan kedua kakinya ke sofa sebelum kemudian cowok itu membaringkan tubuhnya di sana. Gery merogoh hand phone dan memanggil nomor Ghea.
Nomor yang anda tuju sedang tidak akt—
Justru Gery mendengar suara operator di ujung sana. Menyebalkan.
“Ghe, kenapa masih gak aktif aja, sih?”